Bali, nama itu sudah lama melekat di hati. Setiap nama itu kudengar ada kerinduan yang dalam sekaligus getir dan was-was, mengingat pengalamanku di Bali waktu aku pertama kali ke sana di tahun 2005 lalu.

Yah, aku masih ingat waktu itu. Begitu kami selesai menyebrangi Selat Bali dari Pelabuhan Gilimanuk dan tiba di Banyuwangi dalam perjalanan pulang, ponselku berdering. Seorang teman dengan penuh khawatir bertanya tentang keselamatanku. Aku tentu saja bingung. Ternyata dia memberitahukan kalau hotel tempatku menginap baru saja di bom. Padahal selepas magrib, sambil menunggu waktu check out, kami masih makan minum di hotel yang menghadap ke Pantai Kuta itu. Sontak semua terkesiap mendengar berita itu. Berita lengkapnya baru bisa kami lihat pada siaran televisi ketika kami istirahat di sebuah restoran di daerah Jawa Timur.


Tahun ini, tepatnya dalam rangka menyambut liburan tahun baru 2009, suamiku kembali mengajak kami sekeluarga libur di Bali bersama pimpinan dan seluruh rekan kerjanya. Tawaran yang disambut gembira oleh ketiga anakku, sebaliknya aku merasa ragu. Aku takut ada bom lagi, he..he..he.. untunglah suamiku memastikan kalau hal itu tak mungkin terjadi. Akhirnya aku, suami dan Si Bungsu Gita ( Dua anakku yang lain gagal ikut, karena yang satu sedang bimbingan skripsi yang satu lagi sedang mengikuti seleksi kerja tahap 3 di sebuah perusahaan Farmasi) berangkat ke Bali berbekal La haula Walakuata Illabill;ahi Aliyul adzim.
Pagi dini hari yang dingin di awal Januari 2009, perjalanan panjang dengan bus wisata Patriot pun dimulai. Pulau Jawa yang hijau dan indah kutinggalkan. dari kapal Ferry yang membawaku ke Gilimanuk aku melihat kerlap-kerlip lampu kapal yang akan merapat ke dermaga.Suara mesin motor yang parau, membawa kapal melaju dengan anggun.
Jam pun merayap begitu cepat, hari temaram berubah menjadi terang, Sang mentari tersenyum di ufuk timur, semburat sinarnya membuncah di kecipak air laut. Wangi laut menelusup, meraup semua asa dengan desir angin paginya yang lembut membawa anganku melayang menuju pulau kayangan. Tepat pukul 7 waktu Bali, kapal pun merapat di dermaga Gilimanuk.
Beriringan turun dari ferry menuju bis yang akan membawa kami untuk makan pagi, mandi dan berganti pakaian di sebuah restoran yang ada di Den Pasar. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Tanah Lot. Di sana ada air suci dan ular penunggu puri yang dipercaya oleh masyarakat Bali sebagai ular titisan dewa, walalahualam. sayangnya, saat itu laut sedang pasang jadi kami tidak dapat datang ke puri untuk diperciki air suci. Alam yang tak ramah dan mendung yang muram ikut menyelimuti Lot saat itu.
Satu jam di tanah Lot, kami berangkat lagi menuju Joger. Tentu saja setelah puas melahap pemandangan Lot yang indah dengan suvenir-suvenir cantiknya yang dijual dengan harga relatif murah. Ingin tahu? Misalnya saja, topi rajut yang lebar dijual dengan harga 15 ribu, pakaian rajut dan katun putih berenda bisa dibeli dengan harga 25 ribu rupiah tuuuhhh. Lukisan dan patung dijual dengan harga antara 5 ribu hingga satu jutaan.

Sekarang kita cerita tentang Joger ya…. Pukul satu siang kami tiba di Joger. Joger semacam out late yang menjual pernak-pernik khas Bali, khususnya kaos. Semua ditawarkan dengan harga standar namun untuk oleh-oleh selain kaos, aku sarankan lebih baik dibeli di Sukawati. Harganya jauh lebih murah apalagi bila kita pintar menawar. Selain itu, Joger punya daya tarik dalam hal kepiawaian mengolah kata-kata yang unik, kreatif, inovatif dan informatif. Selalu saja aku dibuat terkecoh, padahal aku guru bahasa. Ya misalnya saja, waktu itu aku mencari kaos yang harganya di bawah 70 ribu. Aku cari keliling toko sempit itu tapi tidak ada. Tiba-tiba aku melihat sebuah ruangan yang di luarnya bertuliskan " KHUSUS UNTUK ORANG KECIL" entah kenapa pikiranku langsung mengatakan kalau itulah tempat kaos yang dijual dengan harga diskon atau obral. Apalagi setelah aku melihat orang berdesakan di sana. Aku pun ikut berdesakan di sela-sela mereka. Diamput! setelah berada di dalam, ternyata aku benar- benar bego! Harga di sana tetap saja sama tak ada satu pun barang yang didiskon. Kalimat di luar itu maksudnya hanya menjelaskan kalau ruangan itu hanya untuk orang-orang dalam jumlah kecil karena ruangannya memang kecil, kira-kira berukuran 2x2 meter! Sialan! Ini kali kedua aku dibuat jadi orang bego! Joger! Joger! Awas Lo ya!


Haaahhh, mendapatkan empat kaos saja susahnya minta ampun! Berdesakan sekali terutama di dekat kasir. Sungguh bukan pengalaman belanja yang menyenangkan. Lebih-lebih lagi setelah aku tahu ponselku diambil orang di sana. Nasib…nasib! Yaahh musibah selalu datang tidak terduga, mungkin karena kecerobohanku juga padahal toor leader dan pelayan toko sudah beberapa kali mengingatkan melalui pengeras suara , kalau kita harus hati-hati karena banyak tangan-tangan jahil di saat toko sedang ramai pengunjung. Setelah ponselku hilang baru aku menyadari ketololanku!
Satu hal yang kulakukan saat itu hanyalah belajar ikhlas dan sabar dengan merelakan salah satu milik kesayanganku itu. Yaahhh kita kan tahu, jangankan ponsel, anak, suami, rumah, pekerjaan bahkan nyawaku saja bukan aku yang punya, iya kan? Hiks…hiks…hiks…tuh, aku jadi sedih lagi kalau ingat semua itu.
Selesai belanja di Joger, kami menuju hotel Thitan di Kuta. Letaknya tepat di depan Bali Super Mall. discovery mall dan Musro. Sampai di hotel kulepaskan lelah dengan berendam di bath thub ditemani nyala lilin dan rempah beraroma green tea. Kutenangkan pikiranku yang tetap saja sulit. Benakku melayang-layang ke rangkaian peristiwa hari itu. Ah betapa sulitnya mengusir rasa kehilangan. Aku memang termasuk komunitas orang yang sulit mengusir kenangan lama! Seperti halnya saat itu, bayangan ponselku terus saja menari-nari, suara deringnya, nada pesannya. Semuanya…semuanya.

Ingin rasanya aku memasang iklan di koran atau membuat sayembara berhadiah bagi siapa saja yang menemukan ponselku! Ah itu pasti terdengar konyol dan bodoh bukan? aku tersenyum setelah menyadari kalau semua itu tak mungkin, ya sekaligus aku juga menyadarai kalau mulai hari itu putuslah segala komunikasi antara aku, keluarga dan teman-teman yang kutinggalkan di Bandung. Malangnya lagi, suami dan anakku juga sedang tidak memiliki ponsel. Sebelum ke Bali, Gita baru saja menjual ponselnya dan belum mendapatkan gantinya karena menunggu tabungannya cukup untuk membeli ponsel yang diinginkan. Sementara suamiku sama sekali tidak tertarik lagi memiliki ponsel, entah kenapa. Akhirnya lelah jualah yang membawaku tidur dalam pelukan mimpi indah pulau dewata.
Pagi di subuh merah (pinjam liriknya WS. Rendra dalam puisi Gerilya, he..he..he..) Aku terbangun. Badan rasanya segar apalagi setelah sholat subuh, berlari -lari keliling kolam dan berenang enam kali putaran, dilanjutkan kemudian dengan mandi dan sarapan di loby hotel. Waahh berasa jadi Sang Permaisuri.
Hari kedua kami mengunjungi SMA 5 di Tabanan. Sebuah sekolah negeri yang dijadikan tujuan studi banding. sekolah itu asalnya hanya sebuah sekolah desa biasa. Namun atas kerja keras para guru dan pimpinan sekolahnya, sekolah pun berkembang menjadi SBI (sekolah Berstandar Nasional ). Hal itulah yang mendorong pimpinan sekolah di tempat suamiku bertugas, berkeinginan untuk meningkatkan sekolah yang dipimpinnya menjadi SBI. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Tanjung Benoa. Ini sebuah tempat wisata pantai yang indah tapi panas. Di sana kita dapat menikmati beberapa fasilitas pantai yang ditawarkan seperti paraseeling, flying fish, banana boat, jet ski. Semua ditawarkan dengan harga yang relatif murah bagi orang berduit tapi cukup mahal bagi kantongku. Ya misalnya saja paraseeling dan flying fish tiketnya 150 ribu, jet ski 250 ribu, banana boat 80 ribu, semua hanya untuk waktu 15 menit. Waaahh kubayangkan kalau uang sebesar itu dibelikan kerupuk kesukaanku, berapa banyak ya….. oh ya di Benoa ini kita ke Pulau Penyu naik perahu boat dengan membayar 50 ribu rupiah. Di sini banyak juga dijual mutiara ternakan. Satu set kalung, giwang, cincin dan gelang bisa kita beli seharga 100 ribu rupiah. Murah kan?
Berikutnya perjalanan dilanjutkan ke Garuda Wisnu Kancana. Sebuah mahakarya I Nyoman Nuarta. GWK berupa lokasi monumen patung perunggu Kresna, yang tertinggi di dunia. Diharapkan patung itu akan lebih memberikan karakteristik Bali. Pembuatan patungnya menelan biaya lebih dari 2,3 triliun. Coba…kalau dibelikan kerupuk lagi, dunia pasti penuh dengan kerupuk he..he..he..Dari GWK, kami semua dibawa ke Dream Land, sebuah pantai yang sangat cantik tempat bersemayamnya para artis kalau liburan di Bali. wow, saat itu pun banyak kulihat bintang-bintang sinetron bertaburan di sana dengan pakaian sangat minim.
Menurut Toor Leader kami, Dream land itu milik Tomy Suharto luasnya ratusan hektar berada di daerah yang tandus dan sulit air. Tomy membuat sumber air buatan di sana dengan mengubah air laut menjadi air tawar. Wuiihh nggak kebayang berapa besar dana yang harus dikeluarkan ya..Dari Dream Land, pulang menuju hotel setelah makan malam terlebih dahulu di sebuah restoran bergaya eropa.
Hari berikutnya ke Bird Park, sebuah taman burung yang indah dan alamiah. Di sana banyak terdapat burung aneka jenis dan warna. Ada juga kita lihat pertunjukan burung elang yang dengan patuhnya mengikuti intruksi pelatih. Kita juga bisa menonton film 4 dimensi yang semuanya bercerita tentang burung. Ini sangat menarik terutama bagi orang tua yang memiliki anak kecil. ya sebagai pendidikan yang paling efektif untuk menanamkan rasa cinta terhadap satwa dan alam. Selain burung, berjenis reptil juga banyak tersedia di sini. Ya semacam marga satawa begitulah. tempatnya lumayan bersih tertata. Kita seolah berjalan-jalan di hutan. Aku dan Gita sempat difoto pula dengan burung-burung yang cantik. Asyiikk lhooo.
Dari Bird Park, perjalanan dilanjutka ke Kintamani.Sebuah daerah hijau berlembah. Di sini kita melihat telaga warna karena bias permainan cahaya. sayangnya saat itu hujan deras dan cuaca berkabut mjadi telaga itu tidak b isa kami lihat. kami hanya makan siang saja di sebuah restoran yang ada di sana sambil menikmati pemandangan lembah berkabut tebal. Aku jadi teringat warung Cikajang, sebuah tempat istirahat makan siang bila aku pergi ke Pameungpeuk, persis seperti itu pemandangannya, tak kurang tak lebih, bedanya di Cikajang tidak ada telaga. Nggak percaya? Buktikan saja!
Selesai makan siang kami meninggalkan Kintamani yang muram. Bis melaju menuju pusat belanja oleh-oleh Krisna dan pusat penjualan bad cover yang terkenal itu. Bagi teman-teman yang berkunjung kle sini jangan heran kalau di sini ada perbedaan yang unik untuk wisatawan. Bagi kita wisatawan domestik diberi potongan harga 50 persen. Selesai belanja kami semua makan malam di restoran Korea dengan tabel mener lengkap ala eropa dan menu gabungan Korea eropa. Unik kan? Wuiiihhh masakan yang dihidangkan sungguh di luar dugaanku. Ya semuanya masakan kesuakaanku, ah seolah Tuhan ingin menghibur kesedihanku yang kehilangan ponsel..he..he..he..( ponsel lagi ponsel lagi…) Iya coba saja, makanan pembukanya sup kepiting jagung manis dan roti cream tar-tar. Dilanjutkan kemudian dengan makanan utama cah sawi hijau saus wijen, cah pak cay saus jamur suiseki, kerapu besar saus tiram, udang asam manis, cumi crispy, ayam ho kia an dan banyak lagi semuanya uenak tenan. Ditutup dengan makanan penutup pudding jeruk dan buah semangka. Itulah makan malam terakhir di Bali karena esok pagi pukul sepuluh kami semua harus check out dari hotel untuk melanjutkan perjalanan wisata kami ke Bromo, Tengger dan Semeru. Rabu pagi tanggal 7 Januari, usai mengepak barang-barang, berenang dan sarapan pagi di hotel kami masih memiliki waktu kurang lebih 2 jam untuk berpamitan pada Bali. Kugunakan waktu yang singkat itu untuk keliling kota naik taksi. tempat yang pertama kujtuju adalah monumen legian. ada kepedihan di sana ketika kubaca nama-nama korban Bom Bali yang tewas. Benar, kebanyakan orang Australia yang menjadi korban. Jumnlah seluruhnya ada 220 orang dari berbagai negara termasuk Indonesia. titik air mata jatuh dipipiku ketika kubaca sebuah pesan di bawah dua buah poto gadis belia bernama Dimmy dan Lizzy. di situ tertulis " Love and miss u for ever. From Mom, dad, Maria, family and friends". Entah kenapa, aku seolah membayangkan bagaimana perasaan keluarganya terutama ibunya ketika kehilangan mereka berdua. Aku saja baru kehilangan ponsel yang harganya tidak seebrapa, sudah begitu sedih. Aku bayangkan keluarganya menantikan mereka pulang dengan cerita libutran dan keindahan Pulau Dewat, tapi berita yang didapat malah tentang petaka kematian mereka. Ya Tuhan semoga semua keluarga yang ditinggalkan diberi ekkuatan lahir dan batin.
Dari Legian kueteruskan perjalan ke musium Lee Meyyer di sanur. tempat itu mengingatkanku pada sebuah cerita novel yang kubaca berjuduyl Tarian Bumi. Novel itu bercerita tentang Bali khususnya dunia penari. Wah benar saja, banyak sekali lukisan Ni Poloh di sana. Ni Poloh adalah seorang gadis penari Bali yang berambisi menjadi orang kaya dengan menggaet seorang bule. keinginannya kesampaian, Lee Meyer seorangf pelukjis handal orang jerman tertarik padanya dan menikahinya. namun belakangan ia tahu kalau Lee ternyata hanya memanfaatkan dia sebagai obyek lukisan-likisannya saja, khususnya lukisan telanjangnya. Di akhir cerita dikisahkan kalau Ni Poloh akhirnya mati bunuh diri di studio lukisnya. Walalahualam…itu hanya menurut cerita yang kubaca dalam Tarian Bumi.
Setengah jam berada di museum, kami kembali ke Kuta dan menikmati Pantai Kuta yang berada di belakang Discoverry Mall, Bali Mall dan Musro. Waahh di sini ada kesedihan lagi. Pantai terlihat kotor merana karena banyak sampah bertebaran. Di sana-sini terlihat banyak ikan berbagai jenis mati terdampar. Bau bangkai ikan bercampur dengan udara pantai, membuat suasan jadi kurang nyaman. tak seperti biasanya, kali ini kami tidak melihat sumur ( susu dijemur) entah kenapa, mungkin karena masih pagi. Para turis asing belum pada bangun setelah semalam suntuk mereka mabuk di Musro sambil melihat adegan tari telanjang, atau mungkin juga karena pantai yang kotor. Kami hanya jalan-jalan saja di tepi pantai sambil berpoto-poto, bermain dan menari bersama ombak. pukul sepuluh kami pun meninggalkan pantai menuju tempat parkir bus di Water Boom.
Perjalanan selanjutnya adalah menuju Pasar Sukawati dan Danau Bedugul. Nah, bila teman-teman ingin belanja oleh-oleh Bali, di Pasar Sukawati lah tempatnya. di sini semua yang kita butuhkan ada. Harganya pun realtif murah dan sangat murah kalau kita pandai menawar. Tawarlah barang semurah mungkin. Misalnya saja seorang penjual menawarkan padaku tiga potong baju dengan harga 395 ribu, aku tawar 60 ribu. Dia marah dengan memakai bahasa Bali, aku balas lagi emmarahi dia dengan bahasa Sunda. Ketika dia bertanya padaku apa artinya, kujawab saja" Aku tak berani nawar karena harganya terlalu tinggi". Eh di penjual lain ternyata tiga baju itu bisa kubeli dengan harga 60 ribu. Murah kan?
Dari Sukawati, perjalanan dilanjutkan ke Bedugul, sebuah danau dengan panorama yang indah. Sebelum ke bedugul kita akan melewati Desa Sesetan. Desa ini memiliki adat unik yaitu upacara med-medan atau berciuman antar gadis dan pemuda desa sebagai ajang mencari jodoh. sayang sekali saat itu tidak sedang ada upacara seperti itu, jadi tidak bisa meliput. he..he..he.. coba kalau ada pasti seru ya…
Bedugul yang indah dengan airnya yang jernih tenang. Di sinbi tersedia pula permaiann wisata air seperti di Benoa. Bedanya tarif di sini lebih murah. Aku mencoba naik perahu boat dengan membayar 150 ribu per perahu berisi 5 orang. Naahh keliling danau memberiku pengalaman yang eksotis. Alam yang masih murni, burung beraneka jenis beterbangan dengan bebas. Di ujung danau terlihat sebuah Vila. Kita bisa berhenti dan melihat vila itu dengan terlebih dahulu memberi tip kepada si pengemudi boat. Kita pun bisa berpoto di puri yang ada di tengah danau.
Bedugul adalah tempat terakhir yang kami kunjungi di Bali. Selanjutnya dengan berat hati kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada Bali, kepada toor leader kami yang ramah dan ceria Beli Ketut Sumarta dan kepada Danau Bedugul yang indah mempesona untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bromo.
Hari Kamis dini hari yang dingin kami tiba di Bromo Asri. Bis berhenti samapi di sana, selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan elef untuk menuju Pananjakan. Pananjakan merupakan kaki gunung Bromo, tengger dan Semeru. Tempat kita tempuh dalam waktu 2 jam dari Bromo Asri.. Di sana kita berkumpul menyaksikan matahari terbit dari balik gunung. Sungguh pemandangan alam yang menakjubkan. dari Pananjakan kami dibawa lagi ke arah timur menuju Gunung Bromo, melewati jalanan kecil berliku dengan tebing curam dan jurang yang dalam di kanan kiri jalan. Sungguh petualangan yang mendebarkan.
Petualangan yang mendebarkan itu berakhir di lautan pasir yang tandus di lereng Gunung Bromo. Kami semua turun dari mobil dan berjalan kurang lebih 2,5 KM menuju arah pendakian. Sampai di tempata pendakian, kita disambut oleh sekitar 250 anak tangga yang menjadi jalan menuju puncak gunung. Pendakian pun dimulai. Ini benar-benar sangat melelahkan namun begitu, ketika sampai di puncak gunung, Subhanallaahhh…keindahannya sulit untuk dilukiskan. Semua rasa lelah hilang musnah diganti oleh pesona lukisan alam yang bnegitu menakjubkan. Asap mengepul dari kepundan,lukisan leremng gunung yang indah, awan yang berarak-arak, padang edelweis yang terhampar. Waahh serasa jadi pendaki sejati. Sayang sekali semua keindahan itu tak bisa lama kunikmati karena sang waktu menyuruhku segera kembali. Sebelum kutinggalkan Bromo, kusempatkan mengelilingi lautan pasir dengan mengendarai kuda. Ceileee… berasa jadi seorang kafilah di padang pasir. Bedanya kafilah naik unta, aku naik kuda, he..he..he.. ditambah lagi di padang pasir panas menyengat kalau di lautan pasir, dingin menggigil. Itu saja.
Pukul 3 sore, selepas makan siang, bis meninggalkan Bromo Asri, pulang menuju Bandung dengan sejuta kesan dan kenangan. Jumata pukul 9 pagi kami semua tiba kembali di Bandung. Seelsai sudah acara wisata di awal tahun baru 2009. Terimakasih Mba Westy dari Cemerlang juga pak Tomy dan istrinya yang selama seminggu lebih menjadi toor leader kami. ah semoga semua akan menjadi awal yang baik untuk menjalani tugas yang menghadang di tahun yang akan kami lewati. akhirnay selamat tahun baru untuk semua teman-teman dimana pun berada. Mudah-mudaha tahun yang baru membawa kebahagiaan bagi kita semua. Salaaaammmmmmmmm.