/>

Semua Tentang Reni

June 16, 2009

EDELWEIS…….

Filed under: Puisi Ku

Waktu Tuhan memintamu membungkus bulan

Ada rindu yang ikut kau sisipkan.

dari Puncak Gunung salak dan Pangrango

sang rindu kau titipkan pada cemara kemudian tersangkut di pucuk pinus

Lalu angin mengantarkannya padaku

" Ini " katanya…" genggamlah, di sini tersimpan cinta untukmu

yang bersemi sepanjang waktu

Namun ketika Tuhan memintamu mengusung matahari

Aku melihat tanganmu melambai di gerbang surga

( Ahhh, di tengah padang bunga dan gerombol cemara, aku bersimpuh

membelai dirimu dengan bunga dan air mata )

Tujuh purnama lamanya…….

Hatiku terluka…..

 

Dari Antalogi Puisi Pribadi

Karya : Reni K Asmara

( Untuk seseorang yang dulu pernah singgah dihatiku Ya Rab semoga dia diterima di sisiMu )

May 1, 2009

AKHIRNYA…SELESAI JUGA

Filed under: Curahan Kalbu

Alhamdulilah, usai sudah Ujian Nasional yang dilaksanakan selama 4 hari dari hari Senin kemarin sampai hari Kamis. Inilah resumenya, hari pertama  satu jam sebelum ujian dimulai kami kumpulkan anak-anak di lapangan basket untuk berdoa bersama, memotivasi dan mengingatkan kembali agar mereka mengerjakan soal dengan hati-hati, tenang, penuh percaya diri, cermat dan cerdas.

Hari kedua ada insiden kecil dengan tim independen(TPI )  karena pengawas ruangan lupa memasukan daftar hadir dan berita acara pada amplop. Kami ingin amplop dibuka saja untuk memasukan dokumen tersebut namun TPI menolaknya dan mengusulkan agar dokumen tersebut ditempel saja di luar amplop. Tentu saja kami menolak karena khawatir tercecer. Kami jelaskan pada TPI kalau anak-anak kami sudah belajar selama 3 tahun namun keberhasilan mereka ditentukan dalam 4 hari oleh 4 mata pelajaran. Tolong jangan diperparah lagi dengan kecerobohan pengawas dan ketidakbijakan TPI. Alhamdulilah dia mau mengerti. Di depan TPI kami  membuka dua amplop untuk memasukan dokumen yang tertinggal itu. Hari ketiga dan keempat tak ada kejadian berarti. Selain kesan dan harapan semoga anak-anak lulus semua.

Ada tanya yang tersisa dan mungkin seperti yang sudah-sudah pertanyaan itu akan tetap dijawab sama. Walau begitu takan pernah bosan hal itu kami sampaikan khususnya pada para penentu kebijakan di negri ini. Sampai kapankah UN akan tetap dijadikan sebagai syarat kriteria kelulusan?

Sampai hari ini tidak ada satu pun penelitian yang membuktikan kalau hasil UN merupakan ukuran kualitas pendidikan di negri ini. Apalagi sering kita dengar berbagai kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaannya ditambah lagi sarana dan prasarana yang belum merata di seluruh sekolah, demikian pula dengan SDM nya. Wah…sulit dimengerti apa yang mendasari pemikiran pemerintah untuk tetap menjadikan UN sebagai syarat kelulusan, lebih jauhnya lagi sebagai ukuran keberhasilan pendidikan.

Aku merasa ada ketidakadilan dalam UN. Kita semua tahu kalau kecerdasan anak itu terbagi kedalam 9 kecerdasan. Diantaranya kecerdasan linguistik, logika, emosi, sosial, kinetik, seni, budaya,religius dan lain sebagainya. UN hanya menguji dua kecerdasan saja yaitu kecerdasan logika dan linguistik. Jadi bagaimana dengan anak-anak yang memiliki 7 kecerdasan lainnya? Apakah mereka tetap dipaksa untuk melakukan hal yang sama sekali tidak mereka sukai?

Sementara menurut hasil penelitian pakar pendidikan ternyata 80% keberhasilan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosi. Bukan kecerdasan intelektual. Ini ironis! Kecerdasan emosi lebih ditentukan oleh pembentukan ahlak dan kepribadian. Dua hal ini adanya dalam mata pelajaran agama dan budi pekerti. Sementara dari jumlah beban belajar sebanyak 32 jam perminggu, pelajaran agama hanya ada 2 jam dan sama sekali tidak ada pelajaran budi pekerti. Jadi bagaimana mungkin anak-anak kita akan berhasil dan bisa membangun bangsanya di masa depan? Yup ini PR bagi para guru, pemerintah, masyarakat dan para orang tua.

February 21, 2009

HANYA SEBUAH INTERMEZO

Filed under: Curahan Kalbu

 Temanku seorang dokter spesialis kejiwaan pernah bercerita padaku, waktu secara tak sengaja kami bertemu dalam sebuah seminar. Dia mengatakan kalau di dunia ini tidak ada teman atau musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Pertemanan paling tulus hanya kita dapatkan ketika kita masih di SD. Selepas itu hanyalah persaingan dan persaingan yang kita temukan.Persaingan akan semakin terbuka ketika kita memasuki dunia kerja. Dalam kondisi seperti itu satu hal yang harus kita lakukan adalah menunjukkan kemampuan. Maka kita akan menjadi pemenang.

Ya sebuah pernyataan yang logis dan realistis. Aku pernah mengalami semua itu dan di dunia kerja semua makin terasa jelas. Ketika usiaku belum genap 22 tahun, aku sudah diangkat menjadi CPNS di sebuah SMP negri di Sukabumi. Entah alasan apa, baru satu tahun ditugaskan, Kepsek mengangkatku menjadi pembantu kepala sekolah bidang kurikulum. Aku yang masih polos dan lugu serta asing dengan lingkungan baru, betul-betul belum memahami kalau hal itu akan memicu kecemburuan yang lain khususnya guru-guru senior.

Benar saja, seorang guru senior yang sering dipanggil ‘ Shopia Loren ‘ oleh anak-anak, langsung berubah sikap bila bertemu denganku. pandangannya sins, kata-katanya tajam menusuk dan puncaknya ketika dalam rapat pleno secara terang-terangan menentang kebijakan Kepsek dengan menolak aku menjadi PKS  hanya karena aku guru baru. Sikapnya itu diembeli pula dengan kata-kata yang tak bisa kulupakan sampai saat ini. " Coba lihat Pak, pantaskah seorang PKS membawa-bawa anak ke sekolah? Memalukan!"

Sakit sekali hatiku. Saat itu aku memang punya bayi yang masih berusia 13 bulan, aku tidak bisa menitipkannya pada pembantu karena bayi seusia itu sedang butuh pengawasan ibu. Maka tiap hari anakku dan pembantu kubawa ke sekolah. Ah bisa dibayangkan, aku dipermalukan di depan teman-teman guru dalam sebuah rapat pleno. Harga diriku terasa diinjak-injak.Aku ingin menangis tapi tak bisa. Dadaku sakit dan nafasku sesak. Beberapa teman guru memelukku dan membawaku ke ruangan lain. Di sanalah dalam pelukan mereka aku menangis.

Esok paginya aku datang ke ruang Kepsek untuk meninjau kembali hak prerogatifnya sekaligus  ingin mengundurkan diri  dari jabatanku. Namun dengan tenang Kepsek menjawab, " Tak ada yang bisa mengubah keputusan saya. Ibulah orang yang tepat untuk jabatan kurikulum. Hapus air mata itu! Tunjukka kalau ibu mampu!"

Kata-kata itu, mengandung kepercayaan penuh yang secara tidak langsung menumbuhkan rasa percaya diri padaku. Akhirnya dengan ucapan Bismillah, kuterima tugas itu. Aku bekerja dengan tetap membawa anak ke sekolah. Aku sering melihat anakku bermain-main dengan Kepsek saat aku sedang mengajar. Pernah suatu kali anakku mengambil globe milik guru IPS lalu ditendang-tendang di halaman kelas. Dengan manis kepsek menggantinya dengan bola. Keduanya lalu bermain bola di halaman sekolah. Coba adakah Kepsek saat ini yang bersikap seperti itu kepada gurunya?

Dukungan dan kepercayaan Kepsek padaku membuatku merasa nyaman dan semangat dalam bekerja. Aku tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan walaupun beban mengajarku waktu itu cukup banyak. Aku tidak hanya memegang pelajaran Bahasa Indonesia tapi memegang pula seni rupa, bahasa Sunda dan ekstra kurikuler renang. Jumlah jam mengajarku 36 jam.

Kutunjukkan prestasiku dengan mengharumkan nama sekolah di berbagai even. Seperti menjuarai berbagai kompetisi siswa dalam berbagai lomba di tingkat kota maupun tingkat provinsi, khususnya dalam uji keterampilan bahasa Indonesia. Pameran tunggal karya seni anak-anak di Gedung Juang yang disponsori langsung oleh walikota Sukabumi. Memasukkan anak-anak menjadi team inti atlet renang kota Sukabumi setelah  terlebih dahulu mereka meraih berbagai kejuaraan dalam Porseni atau Popda.

Sayangnya semua itu harus berakhir karena atas desakan kedua orang tua dan suami, aku harus pindah ke Bandung. Aku tahu semua teman-teman di Sukabumi merasa kehilangan, termasuk Ibu Shopia Loren yang berulang kali memeluk dan menangis di pelukanku.

Thn 1985, aku mutasi ke SMPN 25 Bandung tapi anehnya diterima di SMPN 4 cimahi.  Baru dua tahun aku bisa merasakan kalau keadaan sepertinya lebih rumit dari pertama aku datang ke Sukabumi. Di sini manajemen sekolah sangat tertutup. Terkesan ada sindikat antara Kepsek, wakasek dan para pembantunya. Aku yang dididik ketransparanan oleh Kepsek di Sukabumi, jelas merasa terbelenggu. Aku merasakan adanya pembunuhan karakter dengan adanya penekanan yang tidak sehat pada guru-guru. Aku tak mau jadi bagian dari semua itu. Maka jadilah aku guru yang dianggap vokal  karena paling rajin mengeritik kebijakan Kepsek dan para pembantunya.

Akibatnya, aku dihambat dalam segala hal khususnya dalam peningkatan profesi seperti tidak pernah diikutkan dalam berbagai pelatihan, penataran. Diperlambat dalam kenaikan tingkat dan ditutup rapat-rapat aktifitas di luar sekolah yang berkaitan dengan profesiku seperti kegiatan MGMP, Sanggar Bahasa dan lain sebagainya. Itu berlangsung lebih dari sepuluh tahun.

Semua itu tak berarti bagiku. Aku berprinsip seperti air, ditutup di satu tempat namun akan mengalir ke tempat lain, maka tahun 1990 aku nekad kuliah lagi di IKIP Bandung. Kusibukkan diriku di kampus dengan aktif mengikuti kegiatan perkuliahan. Tahun 1992 aku  diminta menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Penelitian Pendidikan. Di tahun itu pula aku lulus seleksi tutor PGSD swadaya yang diselenggarakan oleh Dinas Kota bertempat di SMA Santa Maria. Selain itu  aktif pula mengajar di SMA Al Istiqomah Cijerah Bandung.

Bila ada waktu senggang, kusempatkan untuk menulis buku. Tahun 1995 buku pertamaku berjudul ‘ Belajar Bahasa Indonesia ‘ diterbitkan oleh penerbit Inti Media Jakarta. Tahun itu pula aku ditawari bea siswa S2  oleh IKIP untuk kuliah di Gajah Mada, sayang sekali suamiku tak mengijinkan karena waktu itu anakku Gita masih berusia 3 tahun tak mungkin pengawasannya diserahkan kepada pembantu.

Tahun 1998 ada penggagntian pimpinan sekolah. Aku ditugaskan menjadi pembina Paskibra, dan tahun 2000 ditugaskan  menjadi wakasek urusan kesiswaan. Di tahun itu pula untuk pertama kalinya aku dikirim pelatihan guru  SMP seprovinsi di Garut, alhamdulillah jadi peserta terbaik. tahun 2001 dikirim lagi ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan guru tingkat nasional dan pada tahun 2002 mendapat predikat guru telatan eh salah, maksudku guru teladan 1 tingkat kota namun sekaligus pula diwarnai kisah duka karena adanya permainan money politik dan jegal menjegal dalam urusan pemilihan calon Kepsek.  Mungkin karena itulah aku harus kalah dalam kompetisi di tingkat provinsi atau memang aku tak pantas meraih predikat GT di tingkat provinsi, he..he..he.. walahualam bisawab. (Hal ini sudah kuceritakan dalam artikel ‘ Cerita Buat Dika ‘ )

Tahun 2003 terjadi revolusi besar-besaran di sekolahku. Kritikan-kritikan mulai didengar seiring dengan bergulirnya era reformasi dan perubahan sikap guru-guru yang lain yang mulai berani berpendapat. Ditunjang pula oleh hadirya Kepsek baru  yang berpikir maju dan demokratis yaitu Ibu Dra. Hj. Tati Artati Andaya. Beliaulah figur wanita berhati baja yang penuh perjuangan. Situasi sekolah yang kurang kondusif, dengan tenang dapat diselesaikannya.Bagai tangan seorang ibu yang bijak, semua guru diraih dan dihargai. Beliau pula lah yang selalu menjadi inpirasi bagiku untuk selalu berkarya dan berkarya. hingga tahun 2005 terbit bukuku yang kedua berjudul ‘ Dimensi Pemebelajaran Bahasa Indonesia’ diterbitkan oleh Sinergi, sayang buku itu gagal mendapat predikat terbaik di tingkat nasional. Menyusul kemudian bukuku yang ketiga ‘ Cerdas Berbahasa Indonesia’ diterbitkan oleh Sigap pada tahun 2006. Buku itu khusus kutulis untuk beliau yang purna bakti pada tahun itu. Kedudukan beliau digantikan oleh Bapak Drs. H. Tonton Rustono sampai saat ini. Beliau tidak jauh berbeda dengan Ibu Tati. Misinya yang ingin memajukan sekolah dengan  mengubah pola pikir dan pola tindak seluruh komponen sekolah mendapat dukungan penuh dari semua kmponen sekolah.

Kini tak terasa, 24 tahun sudah aku bertugas di sekolah ini. sebuah waktu yang cukup lama namun ibarat matahari yang perlahan akan tenggelam, aku harus siap kembali keharibaan malam. hanya sebelum saatnya datang aku harus berusaha menyalakan lilin-lili kecil yang kelak menjelma menjadi matahari. Tak ingin kuikuti jejak langkah para seniorku terdahulu karena  menurutku jabatan tertinggi di sekolah adalah guru dan penilai sejati adalah para siswa. hal itulah yang selalu menjadi motivasiku untuk maju dan terus mencari ilmu, sampai batas akhir pengabdianku.

Tulisan ini tak bermaksud menepuk dada sendiri tapi sesuai dengan judulnya, ini hanyalah sebuah intermezo yang pernah ada dalam hidupku. Mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi adik-adik guru di bawahku yang kini sedang meniti karir menjadi guru-guru profesional.

PERSAHABATAN BAGAI KEPOMPONG…

Filed under: Curahan Kalbu

Nama aslinya siapa ya? Ah ada ajaa dan itu tak penting karena aku sendiri kadang merasa asing dengan nama aslinya. Aku lebih suka memanggilnya ‘ DIKA’ sesuai dengan nama pada ID nya. Aneh juga ya dan aku pun tak pernah ingin tahu kenapa dia memilih nama itu untuk ID nya bukan dengan namanya sendiri seperti halnya aku.

He..he..he.. biarlah itu menjadi bagian cerita dalam dirinya yang tak perlu kutahu. Yang jelas ayah dari tiga jagoan kelahiran Jakarta ini sangat menyukai musik, puisi, dan otomotif ( walau bisanya cuma nyetir mobil miliknya doang he..he..he..)

Stillnya  dalam poto ,menurut teman-teman, seperti play boy tapi kalau sudah bertemu langsung, kesan itu sangat jauh. Ia seorang yang tenang, sopan, lembut, cerdas dan sangat bersahabat. Figur sebagai seorang ayah yang baik itulah yang menonjol. Hal itu sesuai dengan prinsip hidupnya tentang sukses yang pernah kami bicarakan. Sukses baginya adalah bila dia dapat memenuhi kebutuhan lahir batin keluarganya. Sukses baginya bila anak dan istrinya merasa nyaman dan aman  berada dalam tanggung jawabnya. Hal itulah yang membuat pribadinya jadi menarik di mataku.

He..he…he…, itu sisi positifnya, sisi jeleknya adalah dia kadang jutek! Bila kejutekannya itu kambuh disaat emosiku sedang kurang stabil, maka pastilah akan terjadi pertengkaran yang seru di antara kami. Disitulah uniknya bersahabat dengan dia. Aku merasa menjadi diriku sendiri. Aku bisa marah, bisa tenang, bisa bertengkar atau apa saja sesuai topik yang menjadi pembicaraan kami. Semuanya pasti nyambung. Dia pun merasakan hal yang sama pula.

Suatu hari dia mengatakan kalau aku adalah aset yang sangat berharga baginya.  Sayangnya aku tidak suka disebut aset karena konotasi aset menurutku adalah barang berharga yang berkaitan dengan usaha bukan dengan persahabatan. Aku tidak suka diibaratkan barang. Dia menyangkal dan mengatakan kalau persepsiku salah besar. Justru aset baginya adalah sesuatu yang berharga, contohnya anak adalah aset. Jadi aku merupakan salah satu bagian yang berharga dalam hidupnya.

Namun aku tetap bertahan pada persepsiku dan itu membuat dia jadi tersinggung lalu berbalik memarahiku. Dia kecewa atas sikapku yang tidak pernah mau mengerti. Ujung-ujungnya dia menuduhku kalau aku telah menganggapnya memanfaatkanku. Dia berkata ," Jadi begitulah aku dalam pandanganmu selama ini? Aku sungguh kecewa Reni! Persahabatanku yang tulus bagimu tidak berarti. Coba jawab! Telah berbuat apa aku padamu selama ini? Pernahkah aku meminta sesuatu darimu? Aku lebih baik jadi gembel dari pada harus meminta!"

Aku baru tersadar kalau sikapku salah. Aku menyesal dan cepat meminta maaf tapi dia hanya menulis dua kata saja di screen " Aku balik!" Aku tahu dia marah padaku. Untuk meredakan kemarahannya, aku sengaja menghindar dengan menahan diri tidak chat untuk beberapa lama sampai suatu hari aku OL dia menyapaku dengan hangat dan penuh persahabatan. Ah senangnya hatiku karena sahabatku telah kembali.

Percakapan panjang pun berlanjut lagi dengan topik yang selalu ada saja untuk jadi bahan pembicaraan. Ya tentang politik, ekonomi, budaya, seni, pendidikan, keluarga, masa remaja, agama, kebijakan pemerintah, olah raga, otomotif atau apa saja  semuanya membuat hari-hari sibuk kami terasa menyenangkan. Walau semua itu hanya lewat layar komputer.

Waktu terus berlalu tak terasa tiga tahun sudah kami bersahabat. Suatu hari dia mengeluh padaku tentang tugasnya yang dipindah ke bagian kurikulum dan itu membuatnya sangat sibuk. Dia bimbang untuk meneruskan tugas itu. Dia ingin menikmati hidup tanpa direcoki oleh tugas-tugas yang membuatnya stress apalagi hal itu membuat beberapa orang rekan kerjanya merasa kurang senang atas kepercayaan yang diberikan atasan padanya.

Aku katakan padanya, jangan sia-siakan masa mudamu! Kepercayaan atasan jangan diabaikan karena kesempatan tidak akan datang dua kali. Itu jalan terbaik untuk meningkatkan karir. Tak perlu melihat lirikan iri orang lain di sekitarmu karena hidup adalah persaingan. Jadilah orang terdepan dan berusahalah untuk menikmati dan mensyukuri apa pun yang diberikan Tuhan padamu. Atur waktumu dengan baik agar kamu bisa bersikap bijak kepada karir dan keluarga yang kamu cintai. Aku yakin anak dan istrimu akan bangga padamu.

Beberapa hari kemudian dia mengatakan kalau dia sudah bisa menerima tugas itu. Dia berterimakasih padaku atas motivasi dan dukungan yang kuberikan. Ya setulus hati aku mendukungnya walau untuk itu aku harus membayarnya dengan mahal yaitu kehilangannya. Tugasnya di bidang kurikulum akan sangat menyita seluruh waktu kerjanya dan tentu saja kami tak mungkin lagi bisa sering berkomunikasi. Aku tahu bagaimana repotnya orang-orang di kurikulum karena aku pun pernah bertugas dibagian itu. Apalagi Jakarta yang mengharuskan seluruh administrasi dikerjakan secara On Line.

Benar saja, kini aku dan dia jarang sekali bertemu karena kami sama-sama disibukkan oleh pekerjaan kami masing-masing. Saat ini aku juga disibukkan oleh tugasku di kesiswaan dan  team inti pengembang sekolah rintisan SSN yang banyak menyita waktuku. Namun begitu apa pun masalahnya, dia  dan keluarganya akan tetap menjadi sahabatku sampai kapanpun.

 

 

 

 

February 1, 2009

BUNGA RAMPAI DARI BALI

Filed under: Curahan Kalbu

Bali, nama itu sudah lama melekat di hati. Setiap nama itu kudengar ada kerinduan yang dalam sekaligus getir dan was-was, mengingat pengalamanku di Bali waktu aku pertama kali ke sana di tahun 2005 lalu.

 

 

Yah, aku masih ingat waktu itu. Begitu kami selesai menyebrangi Selat Bali dari Pelabuhan Gilimanuk dan tiba di Banyuwangi dalam perjalanan pulang, ponselku berdering. Seorang teman dengan penuh khawatir bertanya tentang keselamatanku. Aku tentu saja bingung. Ternyata dia memberitahukan  kalau hotel tempatku menginap baru saja di bom. Padahal selepas  magrib, sambil menunggu waktu check out, kami masih makan minum di hotel yang menghadap ke Pantai Kuta itu. Sontak semua terkesiap mendengar berita itu. Berita lengkapnya baru bisa kami lihat pada siaran televisi ketika kami istirahat di sebuah restoran di daerah Jawa Timur.

 

Tahun ini, tepatnya dalam rangka menyambut liburan tahun baru 2009, suamiku kembali mengajak kami sekeluarga libur di Bali bersama pimpinan dan seluruh rekan kerjanya. Tawaran yang disambut gembira oleh ketiga anakku, sebaliknya aku merasa ragu. Aku takut ada bom lagi, he..he..he.. untunglah suamiku memastikan kalau hal itu tak mungkin terjadi. Akhirnya aku, suami dan Si Bungsu Gita ( Dua anakku yang lain gagal ikut, karena yang satu sedang bimbingan skripsi yang satu lagi sedang mengikuti seleksi kerja tahap 3 di sebuah perusahaan Farmasi) berangkat ke Bali berbekal La haula Walakuata Illabill;ahi Aliyul adzim.

Pagi dini hari yang dingin di awal Januari 2009, perjalanan panjang dengan bus wisata Patriot pun dimulai. Pulau Jawa yang hijau dan indah kutinggalkan. dari kapal Ferry yang membawaku ke Gilimanuk aku melihat kerlap-kerlip lampu kapal yang akan merapat ke dermaga.Suara mesin motor yang parau, membawa kapal melaju dengan anggun.

Jam pun merayap begitu cepat, hari temaram berubah menjadi terang, Sang mentari tersenyum di ufuk timur, semburat sinarnya membuncah di kecipak air laut. Wangi laut menelusup, meraup semua asa dengan desir angin paginya yang lembut membawa anganku melayang menuju pulau kayangan. Tepat pukul 7 waktu Bali, kapal pun merapat di dermaga Gilimanuk. 

Beriringan turun dari ferry menuju bis yang akan membawa kami untuk makan pagi, mandi dan berganti pakaian di sebuah restoran yang ada di Den Pasar. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Tanah Lot. Di sana ada air suci dan ular penunggu puri yang dipercaya oleh masyarakat Bali sebagai ular titisan dewa, walalahualam. sayangnya, saat itu laut sedang pasang jadi kami tidak dapat datang ke puri untuk diperciki air suci. Alam yang tak ramah dan mendung yang muram ikut menyelimuti Lot saat itu.

Satu jam di tanah Lot, kami berangkat lagi menuju Joger. Tentu saja setelah puas melahap pemandangan Lot yang indah dengan suvenir-suvenir cantiknya yang dijual dengan harga relatif murah. Ingin tahu? Misalnya saja, topi rajut yang lebar dijual dengan harga 15 ribu, pakaian rajut dan katun putih berenda bisa dibeli dengan harga 25 ribu rupiah tuuuhhh. Lukisan dan patung dijual dengan harga antara 5 ribu hingga satu jutaan.

 

 

 

Sekarang kita cerita tentang Joger ya…. Pukul satu siang kami tiba di Joger. Joger semacam out late yang menjual pernak-pernik khas Bali, khususnya kaos. Semua ditawarkan dengan harga standar namun untuk oleh-oleh selain kaos, aku sarankan lebih baik dibeli di Sukawati. Harganya jauh lebih murah apalagi bila kita pintar menawar. Selain itu, Joger punya daya tarik dalam hal kepiawaian mengolah kata-kata yang unik, kreatif, inovatif dan informatif. Selalu saja aku dibuat terkecoh, padahal aku guru bahasa. Ya misalnya saja, waktu itu aku mencari kaos yang harganya di bawah 70 ribu. Aku cari keliling toko sempit itu tapi tidak ada. Tiba-tiba aku melihat sebuah ruangan yang di luarnya bertuliskan " KHUSUS UNTUK ORANG KECIL" entah kenapa pikiranku langsung mengatakan kalau itulah tempat kaos yang dijual dengan harga diskon atau obral. Apalagi setelah aku melihat orang berdesakan di sana. Aku pun ikut berdesakan di sela-sela mereka. Diamput! setelah berada di dalam, ternyata aku benar- benar bego! Harga di sana tetap saja sama tak ada satu pun barang yang didiskon. Kalimat di luar itu maksudnya hanya menjelaskan kalau ruangan itu hanya untuk orang-orang dalam jumlah kecil karena ruangannya memang kecil, kira-kira berukuran 2x2 meter! Sialan! Ini kali kedua aku dibuat jadi orang bego! Joger! Joger! Awas Lo ya!

Haaahhh, mendapatkan empat kaos saja susahnya minta ampun! Berdesakan sekali terutama di dekat kasir. Sungguh bukan pengalaman belanja yang menyenangkan. Lebih-lebih lagi setelah aku tahu ponselku diambil orang di sana. Nasib…nasib! Yaahh musibah selalu datang tidak terduga, mungkin karena kecerobohanku juga padahal toor leader dan pelayan toko sudah beberapa kali mengingatkan melalui pengeras suara , kalau kita harus hati-hati karena banyak tangan-tangan jahil di saat toko sedang ramai pengunjung. Setelah ponselku hilang baru aku menyadari ketololanku!

Satu hal yang kulakukan saat itu hanyalah belajar ikhlas dan sabar dengan merelakan salah satu milik kesayanganku itu. Yaahhh kita kan tahu, jangankan ponsel, anak, suami, rumah, pekerjaan bahkan nyawaku saja bukan aku yang punya, iya kan? Hiks…hiks…hiks…tuh, aku jadi sedih lagi kalau ingat semua itu.

Selesai belanja di Joger, kami menuju hotel Thitan di Kuta. Letaknya tepat di depan Bali Super Mall. discovery mall dan Musro. Sampai di hotel kulepaskan lelah dengan berendam di bath thub  ditemani nyala lilin dan rempah beraroma green tea. Kutenangkan pikiranku yang tetap saja sulit. Benakku melayang-layang ke rangkaian peristiwa hari itu. Ah betapa sulitnya mengusir rasa kehilangan. Aku memang termasuk komunitas orang yang sulit mengusir kenangan lama! Seperti halnya saat itu, bayangan ponselku terus saja menari-nari, suara deringnya, nada pesannya. Semuanya…semuanya.

 

Ingin rasanya aku memasang iklan di koran atau membuat sayembara berhadiah bagi siapa saja yang menemukan ponselku! Ah itu pasti terdengar konyol dan bodoh bukan? aku tersenyum setelah menyadari kalau semua itu tak mungkin, ya sekaligus aku juga menyadarai kalau mulai hari itu putuslah segala komunikasi antara aku, keluarga dan teman-teman yang kutinggalkan di Bandung. Malangnya lagi, suami dan anakku juga sedang tidak memiliki ponsel. Sebelum ke Bali, Gita baru saja menjual ponselnya dan belum mendapatkan gantinya karena menunggu tabungannya cukup untuk membeli ponsel yang diinginkan. Sementara suamiku sama sekali tidak tertarik lagi memiliki ponsel, entah kenapa. Akhirnya lelah jualah yang membawaku tidur dalam pelukan mimpi indah pulau dewata. 

Pagi di subuh merah (pinjam liriknya WS. Rendra dalam puisi Gerilya, he..he..he..) Aku terbangun. Badan rasanya segar apalagi setelah sholat subuh, berlari -lari keliling kolam dan berenang enam kali putaran, dilanjutkan kemudian dengan mandi dan sarapan di loby hotel. Waahh berasa jadi Sang Permaisuri.

 

Hari kedua kami mengunjungi SMA 5 di Tabanan. Sebuah sekolah negeri yang dijadikan tujuan studi banding. sekolah itu asalnya hanya sebuah sekolah desa biasa. Namun atas kerja keras para guru dan pimpinan sekolahnya, sekolah pun berkembang menjadi SBI (sekolah Berstandar Nasional ). Hal itulah yang mendorong pimpinan sekolah di tempat suamiku bertugas, berkeinginan untuk meningkatkan sekolah yang dipimpinnya menjadi SBI. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Tanjung Benoa. Ini sebuah tempat wisata pantai yang indah tapi panas. Di sana kita dapat menikmati beberapa fasilitas pantai yang ditawarkan seperti paraseeling, flying fish, banana boat, jet ski. Semua ditawarkan dengan harga yang relatif murah bagi orang berduit tapi cukup mahal bagi kantongku. Ya misalnya saja paraseeling dan flying fish tiketnya 150 ribu, jet ski 250 ribu, banana boat 80 ribu, semua hanya untuk waktu 15 menit. Waaahh kubayangkan kalau uang sebesar itu dibelikan kerupuk kesukaanku, berapa banyak ya….. oh ya di Benoa ini kita ke Pulau Penyu naik perahu boat dengan membayar 50 ribu rupiah. Di sini banyak juga dijual mutiara ternakan. Satu set kalung, giwang, cincin dan gelang bisa kita beli seharga 100 ribu rupiah. Murah kan?

Berikutnya perjalanan dilanjutkan ke Garuda Wisnu Kancana. Sebuah mahakarya I Nyoman Nuarta. GWK berupa lokasi monumen patung perunggu Kresna, yang tertinggi di dunia. Diharapkan patung itu akan lebih memberikan karakteristik Bali. Pembuatan patungnya menelan biaya lebih dari 2,3 triliun. Coba…kalau dibelikan kerupuk lagi, dunia pasti penuh dengan kerupuk he..he..he..Dari GWK, kami semua dibawa ke Dream Land, sebuah pantai yang sangat cantik tempat bersemayamnya para artis kalau liburan di Bali. wow, saat itu pun banyak kulihat bintang-bintang sinetron bertaburan di sana dengan pakaian sangat minim.

Menurut Toor Leader kami, Dream land itu milik Tomy Suharto luasnya ratusan hektar berada di daerah yang tandus dan sulit air. Tomy membuat sumber air buatan di sana dengan mengubah air laut menjadi air tawar. Wuiihh nggak kebayang berapa besar dana yang harus dikeluarkan ya..Dari Dream Land, pulang menuju hotel setelah makan malam terlebih dahulu di sebuah restoran bergaya eropa.

 

Hari berikutnya ke Bird Park, sebuah taman burung yang indah dan alamiah. Di sana banyak terdapat burung aneka jenis dan warna. Ada juga kita lihat pertunjukan burung elang yang dengan patuhnya mengikuti intruksi pelatih. Kita juga bisa menonton film 4 dimensi yang semuanya bercerita tentang burung. Ini sangat menarik terutama bagi orang tua yang memiliki anak kecil. ya sebagai pendidikan yang paling efektif untuk menanamkan rasa cinta terhadap satwa dan alam. Selain burung, berjenis reptil juga banyak tersedia di sini. Ya semacam marga satawa begitulah. tempatnya lumayan bersih tertata. Kita seolah berjalan-jalan di hutan. Aku dan Gita sempat difoto pula dengan burung-burung yang cantik. Asyiikk lhooo.

 

Dari Bird Park, perjalanan dilanjutka ke Kintamani.Sebuah daerah hijau berlembah. Di sini kita melihat telaga warna karena bias permainan cahaya. sayangnya saat itu hujan deras dan cuaca berkabut mjadi telaga itu tidak b isa kami lihat. kami hanya makan siang saja  di sebuah restoran yang ada di sana sambil menikmati pemandangan lembah berkabut tebal. Aku jadi teringat warung Cikajang, sebuah tempat istirahat makan siang bila aku pergi ke Pameungpeuk, persis seperti itu pemandangannya, tak kurang tak lebih, bedanya di Cikajang tidak ada telaga. Nggak percaya? Buktikan saja!

 

Selesai makan siang kami meninggalkan Kintamani yang muram. Bis melaju menuju pusat belanja oleh-oleh Krisna dan pusat penjualan bad cover yang terkenal itu. Bagi teman-teman yang berkunjung kle sini jangan heran kalau di sini ada perbedaan yang unik  untuk wisatawan. Bagi kita wisatawan domestik diberi potongan harga 50 persen. Selesai belanja kami semua makan malam di restoran Korea dengan tabel mener lengkap ala eropa dan menu gabungan Korea eropa. Unik kan? Wuiiihhh masakan yang dihidangkan sungguh di luar dugaanku. Ya semuanya masakan kesuakaanku, ah seolah Tuhan ingin menghibur kesedihanku yang kehilangan ponsel..he..he..he..( ponsel lagi ponsel lagi…) Iya coba saja, makanan pembukanya sup kepiting jagung manis dan roti cream tar-tar. Dilanjutkan kemudian dengan makanan utama cah sawi hijau saus wijen, cah pak cay saus jamur suiseki, kerapu besar saus tiram, udang asam manis, cumi crispy, ayam ho kia an dan banyak lagi semuanya uenak tenan. Ditutup dengan makanan penutup pudding jeruk dan buah semangka. Itulah makan malam terakhir di Bali karena esok pagi pukul sepuluh kami semua harus check out dari hotel untuk melanjutkan perjalanan wisata kami ke Bromo, Tengger dan Semeru. Rabu pagi tanggal 7 Januari,  usai mengepak barang-barang, berenang dan sarapan pagi di hotel kami masih memiliki waktu kurang lebih 2 jam untuk berpamitan pada Bali. Kugunakan waktu yang singkat itu untuk keliling kota naik taksi. tempat yang pertama kujtuju adalah monumen legian. ada kepedihan di sana ketika kubaca nama-nama korban Bom Bali yang tewas. Benar, kebanyakan orang Australia yang menjadi korban. Jumnlah seluruhnya ada 220 orang dari berbagai negara termasuk Indonesia. titik air mata jatuh dipipiku ketika kubaca sebuah pesan di bawah dua buah poto gadis belia bernama Dimmy dan Lizzy. di situ tertulis " Love and miss u for ever. From Mom, dad, Maria, family and friends". Entah kenapa, aku seolah membayangkan bagaimana perasaan keluarganya terutama ibunya ketika kehilangan mereka berdua. Aku saja baru kehilangan ponsel yang harganya tidak seebrapa, sudah begitu sedih. Aku bayangkan keluarganya menantikan mereka pulang dengan cerita libutran dan keindahan Pulau Dewat, tapi berita yang didapat malah tentang petaka kematian mereka. Ya Tuhan semoga semua keluarga yang ditinggalkan diberi ekkuatan lahir dan batin.

 

Dari Legian kueteruskan perjalan ke musium Lee Meyyer di sanur. tempat itu mengingatkanku pada sebuah cerita novel yang kubaca berjuduyl Tarian Bumi. Novel itu bercerita tentang Bali khususnya dunia penari. Wah benar saja, banyak sekali lukisan Ni Poloh di sana. Ni Poloh adalah seorang gadis penari Bali yang berambisi menjadi orang kaya dengan menggaet seorang bule. keinginannya kesampaian, Lee Meyer seorangf pelukjis handal orang jerman tertarik padanya dan menikahinya. namun belakangan ia tahu kalau Lee ternyata hanya memanfaatkan dia sebagai obyek lukisan-likisannya saja, khususnya lukisan telanjangnya. Di akhir cerita dikisahkan kalau Ni Poloh akhirnya mati bunuh diri di studio lukisnya. Walalahualam…itu hanya menurut cerita yang kubaca dalam Tarian Bumi.

 

Setengah jam berada di museum, kami kembali ke Kuta dan menikmati Pantai Kuta yang berada di belakang Discoverry Mall, Bali Mall dan Musro. Waahh di sini ada kesedihan lagi. Pantai terlihat kotor merana karena banyak sampah bertebaran. Di sana-sini terlihat banyak ikan berbagai jenis mati terdampar. Bau bangkai ikan bercampur dengan udara pantai, membuat suasan jadi kurang nyaman. tak seperti biasanya, kali ini kami tidak melihat sumur ( susu dijemur) entah kenapa, mungkin karena masih pagi. Para turis asing belum pada bangun setelah semalam suntuk mereka mabuk di Musro sambil melihat adegan tari telanjang, atau mungkin juga karena pantai yang kotor. Kami hanya jalan-jalan saja di tepi pantai sambil berpoto-poto, bermain dan menari bersama ombak. pukul sepuluh kami pun meninggalkan pantai menuju tempat parkir bus di Water Boom.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Pasar Sukawati dan Danau Bedugul. Nah, bila teman-teman ingin belanja oleh-oleh Bali, di Pasar Sukawati lah tempatnya. di sini semua yang kita butuhkan ada. Harganya pun realtif murah dan sangat murah kalau kita pandai menawar. Tawarlah barang semurah mungkin. Misalnya saja seorang penjual menawarkan padaku tiga potong baju dengan harga 395 ribu, aku tawar 60 ribu. Dia marah dengan memakai bahasa Bali, aku balas lagi emmarahi dia dengan bahasa Sunda. Ketika dia bertanya padaku apa artinya, kujawab saja" Aku tak berani nawar karena harganya terlalu tinggi". Eh di penjual lain ternyata tiga baju itu bisa kubeli dengan harga 60 ribu. Murah kan?

Dari Sukawati, perjalanan dilanjutkan ke Bedugul, sebuah danau dengan panorama yang indah. Sebelum ke bedugul kita akan melewati Desa Sesetan. Desa ini memiliki adat unik yaitu upacara med-medan atau berciuman antar gadis dan pemuda desa sebagai ajang mencari jodoh. sayang sekali saat itu tidak sedang ada upacara seperti itu, jadi tidak bisa meliput. he..he..he.. coba kalau ada pasti seru ya…

Bedugul yang indah dengan airnya yang jernih tenang. Di sinbi tersedia pula permaiann wisata air seperti di Benoa. Bedanya tarif di sini lebih murah. Aku mencoba naik perahu boat dengan membayar 150 ribu per perahu berisi 5 orang. Naahh keliling danau memberiku pengalaman yang eksotis. Alam yang masih murni, burung beraneka jenis beterbangan dengan bebas. Di ujung danau terlihat sebuah Vila. Kita bisa berhenti dan melihat vila itu dengan terlebih dahulu memberi tip kepada si pengemudi boat. Kita pun bisa berpoto di puri yang ada di tengah danau.

Bedugul adalah tempat terakhir yang kami kunjungi di Bali. Selanjutnya  dengan berat hati kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada Bali, kepada toor leader kami yang ramah dan ceria Beli Ketut Sumarta dan kepada Danau Bedugul yang indah mempesona untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bromo.

Hari Kamis dini hari yang dingin kami tiba di Bromo Asri. Bis berhenti samapi di sana, selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan elef untuk menuju Pananjakan. Pananjakan merupakan kaki gunung Bromo, tengger dan Semeru. Tempat kita tempuh dalam waktu 2 jam dari Bromo Asri.. Di sana kita berkumpul menyaksikan matahari terbit dari balik gunung. Sungguh pemandangan alam yang menakjubkan. dari Pananjakan kami dibawa lagi ke arah timur menuju Gunung Bromo, melewati jalanan kecil berliku dengan tebing curam dan jurang yang dalam di kanan kiri jalan. Sungguh petualangan yang mendebarkan.

Petualangan yang mendebarkan itu berakhir di lautan pasir yang tandus di lereng Gunung Bromo. Kami semua turun dari mobil dan berjalan kurang lebih 2,5 KM menuju arah pendakian. Sampai di tempata pendakian, kita disambut oleh sekitar 250 anak tangga yang menjadi jalan menuju puncak gunung. Pendakian pun dimulai. Ini benar-benar sangat melelahkan namun begitu, ketika sampai di puncak gunung, Subhanallaahhh…keindahannya sulit untuk dilukiskan. Semua rasa lelah hilang musnah diganti oleh pesona lukisan alam  yang bnegitu menakjubkan. Asap mengepul dari kepundan,lukisan leremng gunung yang indah, awan yang berarak-arak, padang edelweis yang terhampar. Waahh serasa jadi pendaki sejati. Sayang sekali semua keindahan itu tak bisa lama kunikmati karena sang waktu menyuruhku segera kembali. Sebelum kutinggalkan Bromo, kusempatkan mengelilingi lautan pasir dengan mengendarai kuda. Ceileee… berasa jadi seorang kafilah di padang pasir. Bedanya kafilah naik unta, aku naik kuda, he..he..he.. ditambah lagi di padang pasir panas menyengat kalau di lautan pasir, dingin menggigil. Itu saja.

Pukul 3 sore, selepas makan siang, bis meninggalkan Bromo Asri, pulang menuju Bandung dengan sejuta kesan dan kenangan. Jumata pukul 9 pagi kami semua tiba kembali di Bandung. Seelsai sudah acara wisata di awal tahun baru 2009. Terimakasih Mba Westy dari Cemerlang juga pak Tomy dan istrinya yang selama seminggu lebih menjadi toor leader kami. ah semoga semua akan menjadi awal yang baik untuk menjalani tugas yang menghadang di tahun yang akan kami lewati. akhirnay selamat tahun baru untuk semua teman-teman dimana pun berada. Mudah-mudaha tahun yang baru membawa kebahagiaan bagi kita semua. Salaaaammmmmmmmm.

December 25, 2008

SINDASARI SEMOGA ABADI DI HATI

Filed under: Curahan Kalbu

Aku tidak menyangka kalau hari Sabtu 15 November lalu merupakan awal pertemuanku di dunia nyata dengan teman mayaku  Sinda Sari alias Tika( Tini Kartini ) yang selama ini hanya kukenal di dunia maya.

Berawal dari obrolan kami di PM, aku bercerita tentang keindahan Pantai Sayang Heulang di Pameungpeuk Garut dan rencanaku pergi ke sana melihat Si Ijun dan Si Inov sapiku yang sudah cukup umur untuk dikurbankan tahun ini. Aku mengajak tika untuk ikut bersamaku ke sana. Eh tak kusangka dia antusias sekali karena dia juga berencana ingin membeli sapi dan bertemu dengan Ma Toah. Dia tertarik pada salah satu artikelku yang ditulis di blog Sunda. Artikel itu bercerita tentang Ma Toah pengurus kebun sekaligus penunggu gubukku. Rencana semula, selain dengan Tika aku pun mengajak pula salah seorang teman guru yang kebetulan memiliki kebun di sana. sayangnya pada hari yang ditentukan Sang Teman tidak bisa ikut karena ayahnya meninggal dunia.

Esoknya pagi-pagi sekali aku dan suami terlebih dahulu melayat dulu ke rumah duka di Banjaran, pulangnya langsung menuju Garut dengan terlebih dahulu sms Tika agar bersiap-siap karena aku akan menjemputnya pada pukul 12.30 di gerbang tol Kopo sesuai kesepakatan. Waktu mobilku akan memasuki gerbang tol, suamiku bertanya, " Ma, serius mengajak teman mayamu? Sudah tahu kah wajahnya? Pribadinya? Terus bagaimana bisa tahu kalau itu temanmu kan belum pernah jumpa dan belum pernah melihatnya?" Aku hanya menjawab, " Kita lihat saja nanti!"

Ya, aku sendiri juga bingung saat itu, kami dekat hanya melalui komunikasi tertulis saja lewat PM. Tanpa pernah melihat pic  apalagi web cam. Aneh ya? Namun kami merasa begitu dekat. Suamiku juga hanya tersenyum, ia sangat tahu kalau aku sering melakukan  hal yang menurut orang lain mungkin konyol. Bagaimana tidak disebut konyol, berjanji dengan seseorang yang sama sekali belum pernah bertatap muka, belum tahu secara jelas bagaimana pribadinya. Namun bagiku semua itu tidak konyol, dari komunikasi kami selama ini aku yakin Tika orang yang baik, hangat, bersahabat dan menyenangkan walau kadang sedikit narsis he..he..he.. tapi itu nggak aneh, itu kan penyakit chater! Dalam chat aku selalu melibatkan hati kecilku dalam menilai orang dan dari bahasa yang disampaikan lewat tulisan di screen, aku tahu mana teman yang benar-benar ingin bersahabat, ingin menggoda, ingin menjadi saudara atau hanya sekedar iseng. Satu lagi, aku selalu melibatkan suami dalam berinteraksi di dunia maya maupun nyata karena prinsip kami adalah temanku temannya juga atau sebaliknya,dengan moto cinta kasih kami adalah jangan ada dusta diantara kita…  Itulah kenapa 26 tahun pernikahan nyaris tak pernah ada masalah berarti…….ceileeee. 

Kita teruskan lagi ya…, hujan yang turun dengan deras, saat mobilku memasuki gerbang tol, membuat pandangan jadi kabur. Aku minta suamiku memperlambat laju mobil sementara mataku menyapu pinggir kiri jalan dengan jejeran warung-warungnya. Tiba-tiba seseorang berdiri dan keluar dari salah satu warung, tersenyum dan melambaikan tangannya padaku, hatiku berkata itu pasti Tika!

Benar saja, dia sudah 15 menit menungguku di sana bersama suami dan seorang anaknya. Pertemuan yang manis, aku segera turun menghampirinya, kami berpelukan lalu kuajak masuk ke mobil. Aku minta suaminya duduk di depan di samping suamiku sementara aku dan Tika di jok tengah dan Rizki anaknya duduk di jok belakang.

Tika tak jauh dari bayanganku. Dia seorang yang manis, ramah dan bersahabat. Pribadinya tak berbeda dengan tulisannya. Kami langsung terlibat pembicaraan akrab layaknya sahabat lama. Sepanjang jalan tak henti bercerita tentang teman maya yang jadi sahabat kami atau tentang anak-anak kami dan apa saja yang biasa kami ceritakan di PM. 

Ada yang menarik dari dirinya yaitu cara dia mendidik anaknya Rizki. Aku dan suamiku jatuh cinta pada anak berusia 13 tahun itu. Anak yang cerdas, sopan, periang, supel dan sangat menyenangkan. Aku minta Iki memanggilku uwa tapi dia tetap memanggilku ibu karena aku guru katanya, sementara kepada suamiku dia memanggil Pak Arab. Itu karena suamiku mirip orang Arab. Dasar Iki.

Sepanjang jalan Iki tak henti bercerita tentang sekolah,guru, teman-teman dan cerita lucu yang dialaminya. Sifatnya itu mengingatkan aku pada Ninoy, anakku yang nomor 2.Sewaktu kecil Ninoy sangat lucu dan hiper aktif seperti Iki. Satu lagi yang membuat aku kagum adalah kedekatan Iki dengan ayahnya, yang kukira itu ayah kandungnya tapi ternyata ayah tiri. Aku tak percaya ini kalau Tika tidak menceritakannya padaku. Apalagi sepintas tak ada yang menyangka kalau itu bukan ayahnya karena ada kemiripan dari keduanya. Wajah mirip ibunya sementara kulit ke ayahnya. Aku kagum pada Tika. Dia ibu yang bijak dan cerdas dalam memilih pengganti ayah untuk anaknya.

Pukul tiga sore mobil berhenti di sebuah warung di Cikajang. Kami beristirahat sambil makan mie rebus,ada juga yang makan nasi dan karedok karena Tika membawa banyak makanan. Cuaca yang dingin pun terasa menjadi hangat dengan ditemani secangkir kopi dan canda tawa kami sekeluarga. waktu sedang makan terlihat ada dua orang gadis manis, usianya sekitar 2 tahun di atas Iki. Dengan tingkahnya yang supel Iki berkenalan dengan mereka. sebentar saja sudah terlibat pembicaraan yang akrab di antara ketiganya. Mulai dari main tebak-tebakan sampai ke nyanyi lagu terbaru. Aku dan Tika asyik makan karedok, begitu juga dengan para suami asyik bercakap-cakap sambil minum kopi. tiba-tiba aku mendengar salah seorang gadis bertanya pada Iki

"Ki, kamu asli mana sih?"

" Coba aja tebak, aku dari mana?’ jawab Iki malah balik bertanya.

" Kalau dilihat dari kulitmu yang hitam, kamu pasti dari Ambon" jawab si gadis

" Haaaa…., benar sekali. Bapakku yang dari Ambon, tuh lihat kulitnya hitam kan?" jawab Iki stell yakin sambil menunjuk pada ayahnya. Sang ayah pun tersenyum.

" Ohhh, jadi ayahmu orang Ambon Ki?" kata si gadis tak lepas senyum.

" Betuulll, ayahku orang Ambon! Nggak percaya tanyakan saja pada guruku Bu Reni, iya kan Bu?" jawabnya sambil mengedipkan matanya padaku. Aku tersenyum tapi tidak mengiyakan karena aku tahu persis Mas Ton suami Tika bukan orang Ambon tapi asli dari Jawa.

Yaaa…..jadi Ambon maniseeee doooong! canda kedua gadis serempak.

" Bukan, ayahku bukan Ambon manise tapi Ambon pahiteee" ayahnya yang sedang minum kopi hampir saja tersedak dan membelalakan matanya pada Iki, tapi Iki hanya tertawa terpingkal-pingkal, kami semua juga tertawa.

" Awas ya Ki…!" kata ayahnya sambil mencubit sayang.

Ah, Iki….Iki, dengan hadirnya kamu perjalanan jadi lebih menyenangkan.  Kopdar pertama yang menyenangkan. Terimakasih Tuhan yang telah menambahkan seorang sahabat dalam hidupku. Semoga tali silaturahmi yang terjalin lewat dunia maya ini akan terus abadi di hati.

November 6, 2008

Catatan Harian Seorang Guru

Filed under: Curahan Kalbu

 upacara

Kerja..kerja mari kita kerja, aahhh libur hari raya selama 20 hari membuatku jadi lebih betah tinggal di rumah, yah back to nature, kembali ke habitat jadi ibu rumah tangga yang manis. Waktu libur kuhabiskan bersama keluarga secara total, menyenangkan sekali. Aku bisa tidur siang, baca buku, ke bioskop bersama anak dan suami, mamasak makanan kesukaan keluarga, mengajari anakku yang bungsu memasak dan membuat kue, menata rumah, berenang, luluran dan banyak lagi, satu hal saja yang tidak kulakukan yaitu, menyentuh komputer.

Tanggal 13 Oktober, semua harus kembali seperti biasa, kembali memulai berpacu dengan waktu. setumpuk kegiatan di sekolah menungguku. Menyusun RKAS2, musyawarah dan pembentukan panitia karyawisata siswa, pekan apresiasi sastra dalam rangka memperingati bulan  bahasa, even lomba tahunan yang harus disiapkan dari sekarang, dan seabrek pekerjaan lainnya di luar tugas mengajar tentunya.

Nah, pada hari Senin tgl 20 Oktober, ada sedikit waktu luang, aku punya rencana setelah selesai mengajar akan membalas beberapa email dari teman-teman dan bersilaturahmi dengan teman-teman maya. namun baru saja keluar, beberapa teman guru yang menjadi wali kelas menemuiku. semuanya punya masalah tentang anak yang tidak mau sekolah. Mereka sebagai wali kelas sudah mencoba untuk mengatasinya namun hasilnya belum ada, maka urusannya sekarang tinggal denganku. Bila aku pun tak berhasil juga maka keputusan akhir ada pada Kepsek. Bila masalah sudah sampai kepada Kepsek maka hasil ahirnya adalah " pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku…"

Menulis email tidak jadi karena aku harus menangani tiga kasus. kasus pertama seorang anak kelas 9, kita sebut saja namanya B. menurut catatan wali kelasnya, anak ini sering tidak masuk sekolah, senang mengganggu ketertiban belajar dan kurang ajar kepada wali kelas. selebihnya dari itu sejak kelas dua anak ini sudah masuk ke dalam catatan siswa bermasalah. bahkan hanya diberi kesempatan bersekolah hanya sampai akhir bulan Oktober ini tapi belum sampai bulan ini berakhir dia sudah bermasalah lagi, jadi secara formal dia berhak di PHS(pemutusan hubungan sekolah he..he..he..) sayangnya tak semudah itu karena orang tuanya bukan termasuk orang tua yang mampu. Ternyata dari studi kasus, kali ini si anak tidak mau sekolah karena tidak juga dibelikan motor oleh kedua orang tuanya.

 

Keputusan pun jadi mudah dibuat. Bila B masih ingin tetap sekolah maka syaratnya dia harus melaksanakan aturan sekolah secara konsekuen dan tidak boleh dibelikan motor. Kalau ketahuan dibelikan motor oleh orang tuanya maka sama dengan mengundurkan diri dari sekolah. sederhana bukan? Ya karena kebijakan sekolah menerima dia kembali didasari oleh kondisi orang tuanya yang tidak sanggup menyediakan uang mutasi buat dia. kesepakatan antara B, orang tuanya, wali kelas,BK dan wakasek urusan kesiswaan pun disepakati bersama di atas surat perjanjian bermaterai. Alhamdulillah sampai hari ini si anak sudah kembali rajin ke sekolah. Mudah-mudahan untuk selamanya.

Dua kasus lagi menunggu untuk segera diselesaikan, Ya Tuhan beri aku kekuatan untuk menyelesaikan semua urusanku. Duh blog maafkan aku bila selama ini dirimu  kutelantarkan…..

September 27, 2008

DASAR NINOY

Filed under: Curahan Kalbu

Dua tahun lalu Ninoy anakku yang nomer dua terserang demam tinggi. Aku segera membawanya ke rumah sakit swasta terdekat dari rumahku. Hasil diagnosa dokter berdasarkan hasil tes laboratorium, anakku positif terkena demam berdarah. Trombositnya saja hanya 70.000, jadi dia harus segera dirawat. Mendengar itu anakku langsung berbicara pada dokter

“ Dok, yang benar saja, apa betul saya ini demam berdarah dan harus dirawat?”

“ Ya, jelas! Kalau tidak percaya lihat saja hasil lab nya! Memangnya kenapa? Tak percaya pada diagnosa saya?” Tanya dokter heran

“ Bukan begitu Dok, saya kan anak guru!”

“ Lho apa hubungannya?”

“ Waahh dokter tidak tahu ya, anak guru itu tidak boleh sakit!” dokter terlihat bingung

“ Maksudmu?” Tanya dokter lagi

“ Tak ada dananya untuk membayar biaya obat dan rumah sakit serta dokter yang mahal di rumah sakit swasta seperti ini. Paling juga pakai askes ke rumah sakit pemerintah yang pelayanannya asal-asalan. Jadi saya minta rawat jalan aja ya Dok, kasihan mama saya.”

Dokter tertawa, duh malunya aku saat itu. Aku sama sekali tidak menyangka anakku akan berbicara seperti itu. Dalam keadaan sakit masih saja bisa bercanda. Anakku yang satu ini memang mudah akrab dengan siapa saja.Hal itu membuat dia disenangi semua orang, termasuk saat itu. Sepertinya dokter tertarik pada anakku, mereka berdua terlibat pembicaraan yang akrab dari masalah penyakit dan cara pengobatannya kalau dirawat di rumah, sampai pada urusan ponsel terbaru, cara mendapatkan pulsa gratis, kuliah, dosen konyol dan banyak lagi. Mereka berdua tertawa lepas, seandainya tidak kuingatkan kalau pasen yang lain menunggu, mungkin mereka berdua takan berhenti bicara. Sebelum pulang, keduanya melakukan cas dua tangan laksana dua orang sahabat lama yang sekian tahun tidak berjumpa. Padahal keduanya baru kenal hari itu.

Selanjutnya tiga kali kontrol, anakku gratis periksa dokter. Dia pun diberi hak istimewa tidak usah ngantri karena sudah tercatat sebagai sahabat sang dokter padahal semua orang tahu, berapa harga tarif untuk dokter senior spesialis penyakit dalam di rumah sakit swasta terkenal itu. Ngantrinya pun minta ampun. Subhanallah Ninoy mendapatkan semua itu dengan mudah.

Naahh sebulan lalu, aku dikejutkan oleh telepon dari temannya yang mengatakan Ninoy berada di ruang emergensi. Dia kejang-kejang ketika sedang mengendarai motor, teman yang diboncengnya membawanya ke rumahsakit. Aku dan suami panik waktu itu, namun ketika tiba di rumah sakit, anakku sudah sadar kembali dan diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan. Kata dokter yang merawatnya anakku kecapaian.

Dua hari di rumah, dia bukan membaik malah mual-mual dan muntah, aku pun kembali membawanya ke rumah sakit swasta terdekat dan diperiksa oleh dokter yang dulu lagi. Baru saja ketemu, dokter itu menyapa anakku dengan panggilan sobat. Sejak awal aku sudah mengingatkan anakku agar tidak bicara macam-macam lagi dengan dokter itu. Dokter memeriksa anakku dengan cermat menggunakan USG. Hasil diagnosanya, anakku terserang angin duduk dan asam lambungnya tinggi. Itu akibat terlalu banyak aktifitas yang melelahkan dan menyita konsentrasi. Memang benar, selama lima bulan terakhir ini, anakku sibuk menyelesaikan album rekaman band nya, dilanjutkan kemudian dengan promosi album perdananya itu melalui pensi-pensi SMA se kota Bandung dan cimahi. Belum lagi harus mengikuti konser tunggal di beberapa kota. Sementara dia juga sedang menyusun skripsi.

Dokter pun memeriksanya lagi. Pemeriksaan dan obat menghabiskan biaya sebesar 800 ribu lebih. Sebuah jumlah yang cukup besar untuk kantong seorang guru sepertiku. Aku pun berbicara pada anakku, uang sebesar itu hanya untuk membayar ketidakpatuhannya pada orang tua yang selalu cerewet mengingatkan dia agar disiplin makan dan tidak memforsir tenaga untuk kegiatan yang begitu banyak. Dia hanya diam saja. Dua minggu kemudian dia kontrol lagi, kali ini diantar temannya. Aku memberinya uang dengan jumlah yang sama ketika pertama diperiksa.Namun pulangnya ia mengembalikan uang padaku sejumlah 700 ribu rupiah. Aku bingung dibuatnya. “ Kok uangnya masih banyak?” “ Iya Ma, beli obatnya kan murah hanya 20 ribu!” “ Kenapa bisa semurah itu? Kemarin kan sampai 600 ribu untuk obat saja” “ Kan aku bilang lagi pada dokternya, agar jangan ngasih obat yang mahal, nanti mama ngomel-ngomel lagi karena uangnya habis!” “ Yaaa….ampun Ninoy, kamu tuh suka malu-maluin mama ya? Trus apa obatnya bagus nggak?” “ Ma, kata dokter, itu obat generik. Insyaallah bagus. Tapi kan urusan sembuh bukan oleh obat atau dokter Ma, tapi Allah lah yang Mahapenyembuh” katanya penuh percaya diri. Benar kata anakku, alhamdulllah kini anakku sehat kembali.

September 18, 2008

ASTAGFIRULLAHH

Filed under: Curahan Kalbu

Kemarin dan hari ini, terbaca kisah duka

Duka di negeri tercinta, tentang kaum duafa

Mereka terhimpit luka, mati dalam dekapan derita

Bertarung nyawa untuk sebuah sedekah dari si kaya

Itulah yang terjadi di negeri kita

Satu luka  tercatat dalam sejarah nestapa

Selalu saja tentang air mata

 

 

September 17, 2008

TUHAN SEMBILAN SENTI

Filed under: Puisi Ku

 

Karya : TAUFIK ISMAIL

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok

Tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tek merokok

Di sawah petani merokok Di pabrik pekerja merokok

Di kantor pegawai merokok

Di kabinet menteri merokok

Di reses parlemen anggota DPR merokok

Di Mahkamah Agung para hakim yang bergaun toga merokok

Hansip-bintara-perwira nongkrong merokok

Di perahu nelayan penjaring ikan merokok

Di pabrik petasan pemilik modalnya merokok

Di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok

 

Indonesia adalah semacam firdaus- jannatu-naim

Sangat ramah bagi perokok, tapi siksa kubur hidup-hidup

Bagi orang yang tak merokok

Di balik pagar SMP murid-murid mencuri-curi merokok

Di ruang kepala sekolah ada guru merokok

Di kampus mahasiswa merokok

Di ruang kuliah dosen merokok

Di rapat POMG orang tua murid merokok

Di perpustakaan kecamatan ada siwa bertanya

Apakah ada buku tuntunan cara merokok?

 

Di angkot Kijang penumpang merokok

Di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk

Orang bertanding merokok

Di loket penjualan karcis orang merokok

Di kereta api penuh sesak orang festival merokok

Di kapal penyebrangan antarpulau penumpang merokok

Di andong Yogya kusirnya merokok

Sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok

 

Negeri kita ini sungguh nirwana

Kayangan para dewa-dewa bagi perokok

Tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru Diam-diam menguasai kita Di pasar orang merokok Di warung tegal pengunjung merokok Di restoran, di toko buku orang merokok Di kafe, di diskotik para pengunjung merokok Bercakap-cakap kita jarak setengah meter Tak tertahankan asap rokok Bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun Menderita di kamar tidur Ketika melayani para suami Yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok

Duduk kita di tepi tempat tidur bekas dua orang bergumul Saling menularkan HIV-AIDS sesamanya Tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita di sebelah orang yang dengan cueknya Mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus Kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin Paling subur di dunia Dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun Asap tembakau itu bisa ketularan kena Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok Di apotek yang antri obat merokok Di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok Dan ada juga dokter-dokter merokok Istirahat main tennis orang merokok Di pinggir lapangan voli orang merokok Menyandang raket badminton orang merokok Pemain bola persib sembunyi-sembunyi merokok Panitia pertandingan balap mobil Pertandingan bulu tangkis, Turnamen sepak bola mengemis-ngemis. Mencium kaki sponsor perusahaan rokok

Di kamar kecil 12 meter kubik sambil ‘ek-ek’ orang goblok merokok. Di dalam lift gedung 15 tingkat Dengan tak acuh orang goblok merokok. Di ruang siding ber-ac penuh Dengan cueknya pakai dasi Orang-orang goblok merokok Indonesia adalah semacam firdaus jannatun naim Sangat ramah bagi orang perokok Tapi tempat siksa kubur hidup-hidup Bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru Diam-diam menguasai kita Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, Duduk sejumlah ulama terhormat Merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa Mereka ulama ahli hisap.

Hassaba, yuhaasibu, hisaaban

Bukan ahli hisab ilmu falak

Tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka Terselip berhala-berjala kecil, Sembilan senti panjangnya, putih warnanya Ke mana-mana dibawa dengan setia Satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya, Mengintip kita dari balik jendela ruang siding Tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, Cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.

Mamnuu’ut tadkhiin, ya ustadz.

Permisi Kyai Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz…jangan meroko di sini, Kyai

Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.

Haadzihi al ghurfati maallii’atun bi mukayyafi al hawwa’i

Nanti udarannya jadi jelek

Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum.

Jangan menyiksa diri sendiri

Min fadhlik, ya ustadz.

Permisi sekali, Kyai.

 

25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan

15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi) Daging khinzir diharamkan

4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok

Patutnya rokok diapakan?

 

Tak perlu dijawab sekarang ya ustadz.

Wa yuharrimu’alayhimul khabaaith.

Tak usah tergesa-gesa.

Mohon ini direnungkan Karena pada zaman Rasulullah dahulu Sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok Jadi ini PR untuk para ulama Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan. Jangan Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil Yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan siang hari ini,

Sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati.

Karena penyakit rokok

Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas. Lebih gawat ketimbang bencana banjir, Gempa bumi dan longsor. Cuma setingkat di bawah korban narkoba. Pada saat sajak ini dibacakan. Berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di Negara kita. Jutaan jumlahnya Bersembunyi di dalam kantong baju dan celana. Dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna. Diiklankan dengan indah dan cerdasnya . Tidak perlu wudhu atau tayamum menyucikan diri. Tidak perlu ruku dan sujud untuk taqarub pada tuhan-tuhan ini. Karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana,

Beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com