MARHABAN YA RAMADHAN
THE LETTER FOR SOME BODY IN CYBER….
Telah kuterima, suratmu itu
Penuh sanjungan kata merayu
Syair dan pantun tersusun rapi, kawan
Bagaikan fatwa para pujangga
Telah kusimpan suratmu itu
Bak pusaka, yang sangat berharga
Walau kita tak pernah berjumpa, kawan
Cukup sudah tandamu setia…….
Heu…heu…heu….siapa dirimu ya, yang selalu setia mengirimi aku surat tanpa tahu di mana dan ke mana balasannya harus kualamatkan. Aneh….dunia cyber memang aneh…….walau begitu terimakasih atas semuanya semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu. Terimakasih pula atas ucapan selamat ultahnya juga kadonya. Hanya Allah lah yang bisa membalasnya karena saya tidak tahu ke mana balasannya harus dialamatkan.
AKU MERINDUKANMU IPIN
Siang itu aku dan sahabatku Yoshephin ( Ipin ), asyik berbincang-bincang di atas pohon jambu. Aku bercerita padanya tentang kebahagianku menjadi pemenang lomba panjat dinding jembatan di Batas Kota yang baru saja selesai dibangun. Tinggi dinding itu kira-kira 6 meter dari permukaan sungai.
Ya bagaimana tidak bangga, peserta panjat dinding jembatan kebanyakan laki-laki, hanya aku dan Tatat perempuannya. Teknik permainannya adalah, semua peserta berlomba untuk lebih dahulu sampai di atas, hanya dengan cara berpijak pada tepian dinding yang licin. Sementara teman-teman di atas menyorakinya sambil berjoget diiringi lagu" Eleketek jambe ngora…, eleketek jambe ngora" riuh sekali, kadang ditambah dengan memukul kaleng. Tak heran bila acara itu sering jadi tontonan orang-orang yang lalu lalang di jalan raya. Mereka ikut-ikutan memberi semangat pada para peserta. Wajar kan bila aku bangga menjadi juaranya? Perjuangannya kan sulit sekali dan sangat berbahaya kalau jatuh, bisa bonyok kepala.
Anehnya Ipin tidak tertarik pada ceritaku, dia lebih tertarik bercerita tentang laki-laki. Aneh! Usia kami baru 14 tahun saat itu, kok dia sudah bercerita tentang laki-laki? Aku masih ingat apa yang dia katakan padaku waktu itu.
" Ren, bila dewasa nanti, kamu ingin menikah dengan siapa?" katanya serius sekali. Aku langsung terdiam. Aku tidak menyangka dia akan bertanya seperti itu, ya karena sedikit pun tidak terbayang olehku aku akan menikah dengan siapa? Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Apalagi saat itu aku hanya memandang kalau laki-laki itu hanyalah spesies aneh yang kehadirannya di dunia ini tak lebih dari sebuah gulma atau parasit. Kadang bisa bersifat simbiosis mutualisme hanya dalam hal tertentu saja. Makanya aku bingung sekali ditanya seperti itu.
" Kalau kamu?" aku malah balik bertanya pada Ipin
" Siang malam aku berdoa agar kelak aku menikah dengan Husen Gumbira" katanya mantap. Husen Gumbira itu salah seorang Kakak kelas sekaligus teman bermain kami.
" Si Husen yang selalu melempari ayamku? Yang selalu memborbardir sarang burungku? Ah, mendingan kamu kawin sama kambingnya Mang Uli aja..dari pada sama dia". protesku
" Gila kamu Ren, masa Si Husen disamakan dengan kambing? Dia itu baik. cakep, pinter, bapaknya juga kolonel!" Ipin sewot.
" Kalau gitu ya udah, kamu kawin aja sama bapaknya"
" Hai Cinut! Aku serius! Kamu kelak mau menikah dengan siapa?" Ipin kembali bertanya tentang hal yang sama sekali tak kusukai.
" Aduuhhh..Ipin, aku tak tahu. Aku sama sekali lom kepikiran"
" Harus kamu pikirkan dari sekarang! Setahun lagi kita lulus SMP!" egoisme Ipin mulai muncul. Aku benar-benar bingung. Saat itu aku sama sekali tidak tertarik pada laki-laki, ini malah ditanya mau menikah dengan siapa. Mengerikan sekali.Ipin terus memaksa, Ia mulai menyebutkan nama-nama teman laki-laki dan menghitung dengan jari tangannya.
" Ada lebih dari dua puluh anak laki-laki teman kita, mana yang akan kamu pilih Ren? Ayo jangan malu sebutkan saja" pintanya
" Tidak! Tak ada satu pun di antara mereka yang akan menikah denganku!" jawabku pasti.
" Oooo, jadi kambing Mang Uli sepertinya lebih menarik hatimu ya? Kamu nggak takut jadi perawan tua Reni?" Ipin makin serius dan pembicaraannya makin tak kumengerti. Aku sungguh tak tahu, apa yang ada dalam kepalanya saat itu. Tak biasanya dia begitu. Biasanya Ipin paling suka berbicara tentang lukisan. Ia kan jago melukis. Sekarang kok laki-laki yang jadi pokok pembicaraannya. Apa sih menariknya membicarakan laki-laki? Atau jangan-jangan Ipin sedang jatuh cinta. Cinta? Apa itu cinta?
" Pin, coba kamu lihat burung yang terbang di atas awan itu, berlatarlangit biru bening, sepertinya indah ya kalau dilukis?" kataku mengalihkan pembicaraan.
" Saat ini aku hanya ingin melukis wajah Husen Gumbira di hatiku! Namun aku ingin tahu dulu apa yang ada dalam hatimu tentang siapa yang akan kau pilih untuk menikah denganmu kelak!" ia kembali mengajukan pertanyaan konyolnya.
" Ipin, apa sih gunanya kamu tanyakan itu? Kenapa kamu memaksaku untuk menjawab sesuatu yang tak kutahu bahkan tak kumengerti!" aku mulai kesal.
" Baiklah, kalau tak mau menjawab, aku mau turun!" Ipin mengancamku dan aku pun akhirnya menyerah, semua demi menjaga perasaannya dan persahabatan kami.
" Baiklah kalau begitu. Ipin, bila kelak aku dewasa, aku ingin menikah dengan siapa saja asal dia harus lebih segalanya dariku. Bila aku jadi perawat, aku harus menikah dengan dokter, bila aku jadi sekretaris aku harus menikah dengan direktur. Naahh bila aku jadi guru SD, aku harus menikah dengan guru SMP, bila aku jadi guru SMP maka tentu saja aku harus menikah dengan guru SMA" jawabku pasti.
" Ha…ha…ha.., apa? Kudengar kamu mau jadi guru? Guru apa? Guru main gundu? Guru ngejar layangan? Guru pencak silat? Guru berkelahi?atau guru panjat dinding? Ya sebab langit akan runtuh bila kamu menjadi guru seperti Bu Aminah guru kita itu" Ipin menertawakanku.
"Aku tidak mau jadi guru! Itu kan hanya misal! Ngerti nggak sih kamu? dijawab malah ngejek!"jawabku tak enak.
" Ooo iya, maaf, terus gimana lagi?"
" Aku ingin punya anak tiga, punya rumah mungil yang halamannya kutanami bunga-bunga dan buah-buahan." kataku sok yakin. Ipin hanya tersenyum dan memelukku.
Cerita di atas terjadi 33 tahun yang lalu. Ipin, kini aku duduk sendiri di atas perahu,di tepi pantai indah Pangandaran, bukan di atas pohon jambu di depan rumahku seperti dulu. Memandang jauh ke langit biru, mencoba mencarimu, adakah dirimu di sebrang sana Ipin?"
Selepas SMP kau pergi tak tentu rimbanya. Kata orang kau kembali ke tanah kelahiranmu Palembang. Benarkah Engkau di sana? Ah betapa banyak cerita yang ingin aku sampaikan. Tentang pujaan hatimu Ir.Husen Gumbira yang telah meninggal dunia karena sakit. Tentang aku yang kini menjadi guru SMP bersuami guru SMA. Tentang rumah mungilku yang penuh cinta. Penuh bunga dan selalu hangat oleh canda dan tawa ketiga anak-anakku. Aku pun selalu berdoa setiap hari agar langit tidak runtuh karena aku menjadi guru. Ah Ipin aku ingin ceritakan semua itu padamu. Di sini di atas perahuku.
Namun Ipin, di mana dirimu kini? Adakah sampai salamku untukmu yang selalu kukirim lewat angin yang berlalu? Atau kutitipkan lewat derai daun bambu yang selalu setia menemani kita mandi di sungai tempo dulu. Aku merindukanmu Ipin. Sungguh!
BU ELIS…..BU ELIS

Naaahhh, di atas itu adalah kelompok guru-guru IPA, yang tak berkerudung itulah Bu Elis.
Di SMPN 4 Cimahi, siapa yang tidak kenal dengan Bu Elis? Dia asli orang Aceh. Satu-satunya guru biangusil, cerewet, gokil abis namun sangat baik hati dan paling ramah. Di matanya selalu ada saja yang harus dikomentari baik cara berpakaian, tingkah laku atau apa pun. Tidak pandang bulu mulai dari penjaga sekolah, karyawan, guru sampai kepada kepala sekolah bahkan ketua komite.
Bawaannya selalu kocak. Tertawanya ngakak, keras sekali. aku kadang berpikir waktu ibunya hamil dia, ngidam apa ya. Lucunya bila musim karya wisata tiba, sudah bisa dipastikan se bis dengan Bu Elis pasti takan bisa tidur.Aku pernah dari Yogya ke bandung tak tidur sekejap pun di bis. Begitu turun pipi rasanya sakit karena terus menerus tertawa sepanjang perjalanan. Semua itu gara-gara Bu Elis. ah pokoknya selalu saja ada yang jadi bahan cerita bagi Bu Elis.
Kemarin misalnya, waktu acara perpisahan kelas 9, baru saja aku datang dan masuk ke ruang guru. Spontan dia menegur" Hei Ren, ngapain pake kebaya? Aturan kan hari ini nuansa batik. Kok kamu tuh salah kostum melulu!"
" Ah, kata siapa salah kostum, ke bawahnya kan batik! Emang di mana salahnya?"
" Allaaahhh susah banget ngomong sama guru bahasa Indonesia" katanya lagi dengan mimik yang lucu.
Aku ikut tersenyum, memang iya hari itu aku satu-satunya guru yang berkebaya, sementara yang lain memakai batik semuanya. Eh tiba-tiba saja datang Bu Lisbeth. lenggak-lenggok di depan kami. Berbaju merah marun, kainnya motif ulos. rambutnya digerai, bagian atas disasak sedikit, manis sekali. Semua orang memujinya dan mengatakan kalau Bu Lisbeth cantik sekali hari itu.
Sayangnya Bu Elis tidak sependapat, dia malah langsung ngakak keras sekali sambil berkata " Adduuuhhh Beeethh kau ini gimana sih? Kok keliatan banget Bataknya! Gila Kau, memangnya ini hajatan Amang Borumu?" kami semua kontan tertawa, Bu Lisbeth tampak bingung, aku langsung menggandeng lengannya dan kukatakan" Jangan dengarkan Bu Elis, biarkan saja. Aku juga pakai pakaian khas Sunda, Bu Lisbeth khas Batak, maching kan? Yu kita foto bareng!" ( he..he..he.. sayang fotonya belum di save) Wajah Bu Lisbeth pun kembali ceria penuh percaya diri.
Acara perpisahan pun berlangsung makin siang makin seru. hingar bingar parade band yang digelar anak-anak makin tak karuan lagunya. Maklum namanya juga pesta anak-anak. Tiba-tiba dari tengah penonton,ada teman guru berteriak, " Bu Reenn….ke sini!’ Aku langsung lari, tak sadar pakai kebaya dan selop tinggi tapi nggak masalah, bagiku itu dah biasa he.he..he..itulah keuntungan berbadan kecil, siap berlari dalam situasi apa pun. Sesampai di sana, ternyata ada anak berkelahi. Salah seorang siswa kami dipukuli oleh segerombolan anak dari luar. mereka semua dibawa ke ruang Wakasek Humas, aku langsung telepon polisi.
Ah.., hari itu rasanya cape sekali, terutama bapak-bapak guru yang semalaman tidak tidur karena mendekor panggung dan ruang acara, ehh sekarang malah ditambah acara berkelahi. Sudah begitu ada lagi yang nyeletuk " Wah, kurang profesional nih kinerjanya." Aku hanya tersenyum saja tapi bapa-bapa guru yang ada di sana langsung menjawab " Justru inilah kinerja profesional. inilah sukses yang sebenarnya. Di mana-mana juga kalau ada band, nggak ada perkelahian ya kurang afdol."
Belum selesai bapa-bapa itu bicara, entah dari mana datangnya tiba-tiba saja Bu Elis ikut nimbrung " Apa? Sukses? Sukses apaan! Baru berkelahi dibilang sukses! Yang disebut sukses itu bila ada yang tewas!"
Akhirnya kami semua jadi tertawa, ah dasar Bu Elis! Ada-ada saja!
AKHIRNYA DATANG JUA
Saat yang dinanti akhirnya datang jua. Hari sabtu tanggal 21 kemarin merupakan hari yang bersejarah bagi semua siswa kelas 9. Hari itu merupakan penentuan akhir dari sebuah perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Penentuan yang ditentukan oleh sebuah kata berhasil atau belum berhasil.
Pukul 7 pagi aku sudah berada di sekolah yang masih terlihat sepi karena pengumuman kelulusan kepada para orang tua siswa dimulai pada pukul 9 pagi. aku langsung saja menuju ruanganku. Tak disangka di dalam sudah ada seorang teman guru yang sedang menangis. Ada apa? Salah seorang siswa asuhannya tidak lulus. Aku ikut prihatin dan mencoba menenangkannya." Kenapa harus dia? Dia anak yang baik dan rajin" kalimat itulah yang diucapkannya berulang-ulang padaku di sela isak tangisnya.
Cerita sendu yang selalu berulang dari tahun ke tahun. Selalu saja ada anak yang baik yang tidak lulus. Sementara anak yang seharusnya tidak lulus malah berhasil, padahal di sekolah, kami sudah menerapkan sistem seselektif mungkin, ditunjang oleh sikap guru-guru yang idealismenya tinggi. Tak boleh ada sedikitpun kecurangan dalam Ujian Nasional. Namun selalu saja ada hal yang tidak sesuai dengan hati nurani. Apakah itu karena nasib?Sistem? Atau teknis? Walallahualam, yang jelas sejak UN diberlakukan sebagai syarat kelulusan, cerita tentang kelulusan di sekolahku khususnya selalu saja tidak pernah berakhir dengan happy ending.
Aku beralih pada data kelulusan global.Wah dari 393 siswa ada 8 orang siswa yang belum berhasil, tepatnya 5 orang karena tiga siswa lainnya sudah keluar sebelum ujian dilaksanakan. Hanya namanya sudah tanggung terdaftar di US1 jadi mempengaruhi persentase kelulusan pada akhirnya. Berlanjut kemudian pada mata pelajaran. Alhamdulillah dari empat mata pelajaran yang di UN kan yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan Matematika, sekolah kami mendapat predikat A. Setelah itu barulah aku melihat tiga kelas yang menjadi tanggung jawabku khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Satu demi satu kulihat, 132 siswa semuanya lulus dengan nilai terendah 6,20 dan tertinggi 9,10 dan nilai rata-rata kelas 8,10.
Tak terasa air mata tertumpah di pipi. Terimakasih Ya Allah Engkau telah mengabulkan doa kami.Terbayang dibenakku perjuangan mereka dalam lelah, dalam malas, dalam perut kelaparan, mereka mengikuti kegiatan tambahan pelajaran selepas pulang sekolah. Di saat orang lain lelap tidur siang, mereka harus mengasah otak untuk sebuah kelulusan. Tak heran bila di kelas ada yang tidur, ada yang bermain-main sambil usil, ada pula canda dan tawa yang membahana. Semua berpadu dalam satu tujuan mulia.
Teringat pula saat-saat pertama aku bertemu dengan mereka di kelas di awal kegiatan pembelajaran ketika pertama mereka naik ke kelas 9. Kami bersama merancang kontrak belajar yang didalamnya terdapat visi, misi, strategi dan target yang harus dicapai oleh siswa dan guru, sekaligus pula prediksi kendala yang harus dihadapi termasuk solusi apa bila semua itu gagal. Ah mirip strategi perang saja yaa… memang saat itu kami sedang merencanakan perang melawan kebodohan, kemalasan dan ketidak berhasilan. Waktu itu kukatakan pada mereka " Malu kiita jadi bangsa Indonesia bila nilai UN Bahasa Indonesia harus di bawah 6, siapkah kalian melawan nilai di bawah 6?" Anak-anak serempak menjawab " Siap!"
Kini semua itu hanya tinggal kenangan, besok di akhir kegiatan mereka di sekolah ini, kami akan melepas mereka dalam acara ‘ Paturay Tineung ‘. Besok akan kukembalikan apa yang telah mereka tulis setahun lalu,esok mereka akan tahu apakah targetnya tercapai atau tidak. Ah sudah kubayangkan wajah ceria di mata mereka. selamat anak-anakku! Kalian pantas menjadi anak-anak Indonesia.
AKU DAN PROFESIKU
Menjadi guru pada awalnya bukan cita-citaku tapi cita-cita kedua orang tuaku, khususnya ayah yang sangat berharap anak perempuan satu-satunya menjadi guru meneruskan perjuangannya. Aku sendiri waktu itu bercita-cita jadi insinyur pertanian. Namun ayah yang pada waktu itu sebagai Kadisdik dan ibuku Kepsek, sama sekali tidak setuju. Alasannya sangat sederhana, ayah khawatir aku yang tomboy akan semakin kacau bila aku masuk ke SPMA karena di sekolah itu kebanyakan muridnya laki-laki. Ayahku ingin aku menjadi perempuan sesuai kodratku.
Alhasil aku dipaksa masuk ke sekolah guru yaitu SPG. Di SPG, kubiarkan hidupku mengalir seperti banjir, menyusahkan banyak orang termasuk ayah dan guru-guru. Aku sangat sering membuat ulah sebagai bentuk protes atas ketidak setujuanku sekolah di sana. Kesabaran ayah, guru-guru dan kasih sayang serta persahabatan teman-teman lah yang akhirnya meluluhkan hatiku dan pada akhirnya pasrah untuk terus menuntut ilmu di sekolah itu. Luar biasa, Ya mereka semua adalah orang-orang luar biasa yang sangat perhatian padaku. Itulah SPG!
SPG, benar-benar mencetak para muridnya menjadi guru. Aku masih ingat tahun pertama semester satu kami diberi teori tentang didaktik, metodik dan psikologi anak. Semester dua melakukan kegiatan membuat resume kegiatan pembelajaran ke SD terdekat. Dalam kegiatan ini kami ditugaskan untuk mengamati dan menilai guru-guru SD atau senior kami yang sedang mengajar di kelas. Tahun kedua atau pada semester tiga, kami dilatih untuk mengembangkan kurikulum beserta perangkatnya, semacam program semester, satuan pelajaran dan yang berkaitan dengan itu. Semester empat, diberi tugas untuk praktek mengajar setiap bulan selama setahun. Tahun ketiga semester lima kami wajib melaksanakan praktek mengajar dua kali seminggu di SD yang ditunjuk. Semester enam kami diwajibkan mengikuti OCT ( Off campus Teaching ) yaitu mengabdi menjadi guru di desa terpencil yang berada jauh dari luar kampus dan selama empat bulan penuh kami memegang kelas. Tak hanya itu, kami pun diharuskan mengikuti kegiatan kemasyarakatan seperti bekerja sama dengan aparat desa membantu warga melaksanakan kerja bakti, perayaan hari kemerdekaan, porseni desa dan tidak hanya itu, kita pun dituntut pula untuk merancang acara kenaikan kelas di sekolah tempat kita mengajar. Bisa dibayangkan betapa sibuknya para siswa SPG di akhir tahun pembelajaran. Semua kegiatan itu diakhiri oleh ujian dan yang paling berat ujiannya adalah ujian praktek mengajar di bawah bimbingan dan penilaian guru-guru senior kami yang profesional, idealis, berdedikasi dan tidak mengenal kata kompromi.
Alhamdulillah, tamat SPG aku meraih sepuluh besar murid terbaik, itu semua berkat kerja keras yang dipicu keinginan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Ya karena aturan pada waktu itu, siswa dari sekolah kejuruan tidak dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi negri sebelum memiliki masa kerja minimal dua tahun, kecuali bagi siswa berprestasi. Aku termasuk siswa yang beruntung karena masuk ke peringkat sepuluh besar. Dengan begitu aku boleh melanjutkan ke perguruan tinggi negri tanpa testing. PT yang bisa menerimaku saat itu adalah :IKIP, IAIN, dan UNPAD. Aku sendiri heran bagaimana guru-guru menentukan kriteria itu untukku sebab jujur saja di sekolah, aku paling banyak bermasalah walaupun nilai-nilaiku tak pernah buruk, bahkan nilai ujian akhir hampir semuanya di atas 7, sementara di kelasku saja lebih dari enam orang tidak lulus.
Aku memilih Unpad jurusan biologi, sayang sekali di Unpad hanya boleh memilih fakultas sastra. Aku tidak tertarik. Selanjutnya pergi ke IKIP, di sana pun aku memilih jurusan biologi. Ternyata IKIP juga menerapkan sistem yang sama, bagi siswa kejuruan yang masuk melalui jalur prestasi hanya disediakan dua fakultas yaitu fakultas pendidikan dan bahasa. Menyedihkan sekali, dua fakultas itu sama sekali bukan fakultas impianku. Tak ada pilihan di sana. Aku tidak menyukai bahasa, sastra apalagi yang berkaitan dengan metodik, didaktik dan psikologi. Akhirnya, ya sudah aku masuk ke jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia padahal mata pelajaran itu, salah satu dari tiga mata pelajaran yang tidak kusukai setelah Olah Raga dan Bahasa Inggris. Ironis ya. Namun itulah kehidupan, semua berjalan bukan atas suka atau tidaknya kita.
Menimba ilmu di SPG dilanjutkan kemudian ke IKIP, sedikit banyak mulai mengubah kepribadianku. Namun sebenarnya ada hal penting yang membuatku mengubah sikap.Itu tiada lain adalah muridku!
Murid pertama yang menjadikanku guru idola adalah Lili. Lili murid kelas 2 SD yang kukenal waktu aku melaksanakan praktek mengajar. Lili anak keturunan Tionghoa, matanya sipit, tubuhnya gemuk namun senyumnya manis sekali. Sayangnya di kelas, dia termasuk anak yang minder karena selalu diejek teman-temannya dengan sebutan anak gajah.
Suatu hari, aku memberikan pelajaran bercerita. Cerita yang kusampaikan, aku ambil dari sebuah majalah anak-anak. Cerita itu berjudul " Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang". Anak-anak di kelas sangat tertarik dengan cerita itu, mungkin karena aku memvisualisasikannya dalam bentuk gambar-gambar yang menarik yang kubuat sendiri ditambah lagi dengan kemampuanku bercerita dan menirukan suara-suara binatang. Dalam cerita itu, aku mengisahkan kebaikan hati Bona.
Tak kusangka, efeknya begitu kuat. Cerita itu melekat dalam hati anak-anak dan lebih dari itu, sikap mereka pada Lili jadi berubah. Mereka jadi menyukai Lili. Mungkin di benak mereka ada kesamaan antara Lili yang sering dipanggil gajah kecil dengan tokoh Bona sebagai gajah kecil yang baik hati dan heroik.
Lili pun berubah menjadi anak yang penuh percaya diri dan sejak itu dia tidak bisa lepas dariku. Dia juga minta guru lesnya diganti olehku. jadilah aku guru les di usia 17 tahun. Murid berikutnya adalah Yuyu, anak kelas 4 SD. Aku mengenalnya ketika OCT di desa terpencil Cikalong Wetan. Kedekatanku dengan Yuyu dimulai ketika dia kuajari membuat roti sarikaya. Ternyata dia anak yang cerdas, cantik, aktif dan kreatif. Dia sangat berbeda dengan anak-anak lainnya. Salah satu kecerdasannya adalah ketika aku memberikan pelajaran tentang singkong dengan metode unit. Dialah yang paling cemerlang nilainya.
Sebulan menjelang tugasku berakhir, Yuyu minta ijin pada ayah ibunya untuktinggal bersamaku di rumah Pak Lurah. Setiap akhir minggu aku pulang ke bandung, Yuyu selalu kuajak. Kubawa dia jalan-jalan ke kebun binatang atau ke taman lalu lintas. Yuyu sangat senang.
Waktu OCT berakhir, Yuyu memegang erat tanganku, matanya bengkak karena tak mau kutinggalkan.Dia mengikutiku menuju mobil jemputan. Di sana telah menunggu pula kedua orang tuanya yang menyerahkan begitu banyak bingkisan dan makanan serta buah-buahan untukku diperjalanan. Mereka memelukku bergantian, terakhir YUyu yang terus menangis di pelukanku.
Aku pulang ke Bandung dengan membawa begitu banyak kenangan. Tiga minggu lamanya mataku bengkak karena selalu menangisi perpisahan dengan semua muridku terutama Yuyu. Yuyu dan Lili adalah dua orang murid yang selalu menjadi sumber inspirasiku sebagai guru sampai saat ini. Merekalah yang menyadarkanku kalau jiwa, darah dan ragaku adalah guru. Mereka juga yang membuatku memaafkan ayah atas dosanya memasukkan aku ke sekolah guru.
NEGERIKU…..NEGERIKU
Wajah negeriku kembali merona karena ulah beberapa kelompok manusia yang kita sendiri tidak tahu apa maunya. Tugu Monas yang berdiri tegar menjadi saksi bisu siang itu tanggal 1 Juni 2008. Sang tugu, kaku tersenyum malu melihat tingkah polah anak bangsa yang seiring berjalannya waktu semakin terlihat tidak bisa bersikap dewasa.
Dua kubu bertikai, persis dua anak kecil yang berebut permen. Memalukan! Ada yang luka ada yang teraniaya. Sesama saudara bertengkar, sungguh semua itu mengoyak hati ibu pertiwi. Di manakah hati nurani? Di manakah logika berpikir mereka? Tak sadarkah mereka kalau semua itu adalah alat untuk mengalihkan perhatian dunia pada bangsa yang saat ini sedang terpuruk menghadapi krisis ekonomi, yang terasa semakin memberatkan. Kelakuan mereka membungkam semua aspirasi yang sedang hangat didengungkan yaitu gencarnya KPK membongkar kasus korupsi, maraknya aksi mahasiswa menolak kenaikan BBM, ketidak efektifan BLT dan tentu saja tingginya harga sembilan bahan pokok yang saat ini sudah sulit dijangkau oleh masyarakat kecil.
Politik negriku! Sungguh sangat menyakitkan. Di saat seperti ini masih saja dibicarakan tentang agama dan kepercayaan. Coba lihatlah lebih jauh, ada yang lebih penting dari semua itu. Anak-anak yang kelaparan dan kekurangan gizi, pengangguran yang semakin menumpuk, tuna wisma yang semakin marak,anak-anak putus sekolah yang semakin banyak jumlahnya. Itu semua lebih penting untuk diperjuangkan.
Satu kelompok ditangkap karena dianggap telah melakukan kekerasan, semua menghujat bahkan tidak sedikit yang meminta agar kelompok itu dibubarkan saja.Lucu! Sebuah dagelan basi yang ceritanya terus sambung menyambung di negeri ini, apalagi saat ini menjelang pelaksanaan pemilu. Bisa kita pastikan, setelah cerita ini berlalu pastilah muncul para orator-orator profesional yang akan meneriakan tentang pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan gratis, pembukaan lapangan kerja. Yah dari tahun ke tahun dan sudah berlangsung puluhan tahun hal semacam itu seolah menjadi icon politik negri ini yang tidak pernah ada realisasinya.
Kemiskinan, kebodohan seolah hal yang harus abadi di negri ini karena itu merupakan iklan yang paling bermutu untuk pemilu. Tak sadarkah mereka? Ada hal yang lebih dari hanya sekedar kekerasan yang dikukan FPI di negri kita tercinta ini. Coba tengok kolusi, korupsi yang sulit diberantas dalangnya, itu jauh lebih jahat. Ratusan juta rakyat Indonesia dibuat menderita dan mati secara perlahan-lahan. ratusan jiwa mengalami stabilitas emosi yang labil. pernahkah kawan berkunjung ke rumah-rumah sakit jiwa lalu mencoba mendata siapa saja yang paling banyak menghuni tempat itu? Sungguh sangat mencengangkan karena pasien yang dirawat di sana kebanyakan berada dalam usia produktif! Mereka para generasi muda yang menghabiskan waktunya dalam karantina RSJ yang muram, kusam dan sunyi.
Anehnya semua mulut seakan terkunci untuk semua itu.
Kita di sini berjuang untuk hidup secara layak. Beruntung bagi kita yang memiliki pekerjaan tetap walaupun kecil masih ada harapan yang bisa kita nantikan di akhir bulan. Bagaimana dengan pedagang asongan, penarik becak, sopir angkot, penjual gorengan di pinggir jalan dan banyak lagi profesi lain yang hidupnya dari mengundi nasib dan rizki dari Allah SWT.
Ah, negri ini harus bangkit! Kita butuh seorang pemimpin sekelas Abu Bakar Asyidik. Adakah hal itu akan terjadi? Walalahu alam bissawab!
ADA APA YA?
Hari Senin kemarin, aku ke sekolah pukul 10 siang. Yaahh hari itu agak santai karena tidak ada jam mengajar hanya ada janji dengan bagian tatalaksana untuk menyelesaikan usulan data siswa calon peserta beasiswa yang semuanya berjumlah 43 orang. Data itu harus segera diserahkan ke dinas pukul 12 siang ini. Setelah itu pada pukul 12 ada janji pula dengan seluruh perwakilan kelas 9 dan pengurus OSIS beserta MPK untuk mengadakan rapat OSIS, membicarakan masalah perpisahan kelas 9. Hasil dari musyawarah OSIS, MPK dan perwakilan kelas itu akan dibawa ke dalam rapat panitia perpisahan yang akan dilaksanakan pukul 14 hari ini juga.
Baru saja aku tiba di sekolah dan masuk ke ruang guru, seorang rekan kerja menyapaku dan mengatakan kalau tadi pagi pukul 8 ada tamu mencariku. Aku tanyakan siapa dari mana dan ada keperluan apa. Kata temanku tamu itu adalah guru SD, ingin bertemu denganku katanya sangat penting dan bukan urusan dinas namun urusan pribadi. Aku bingung, dan menerka-nerka siapa gerangan guru SD itu? Seingatku aku tidak punya urusan pribadi dengan siapa pun. Aku pun bertanya lagi dari SD mana? Temanku mengatakan kalau guru itu dari SD SBI ( Sekolah Berstandar Internasional ) Wah itu lebih tidak kumengerti lagi. Ada urusan apa ya?
Untunglah sedang bingung begitu ada salah seorang sahabatku, dia ngajar siang namun kebetulan hari itu datang pagi. Dia aku tanya karena dia bendahara komite sekolah tersebut dan saat itu kebetulan akan berangkat ke sana. Aku pesan padanya, kalau kebetulan bertemu dengan guru-guru dari SD tersebut, tolong katakan siapa nama guru yang mencariku itu dan ada keperluan apa, kalau mau bertemu, aku sekarang ada di sekolah sampai pukul 4 sore. Aku tunggu.
Setelah itu aku pun menemui petugas tatalaksana untuk membereskan data siswa yang harus segera dikirim ke dinas kota. Ditunggu sampai sore tamu itu tak juga datang. Pukul 4 sore aku pun pulang.
Pukul 7 malam telepon rumah berdering. Sahabatku yang menelepon ke rumah. Dia mengatakan kalau guru yang mencariku ke sekolah itu adalah salah seorang ibu guru sebut saja Bu Santi. Dia ingin bertemu aku karena ingin mengklearkan masalah yang saat ini menimpanya. Sahabatku juga mengatakan kalau aku harus menolong guru iru membersihkan namanya. Aku semakin bingung dan tak mengerti. Sungguh! Aku minta sahabatku menceritakan permasalahannya dengan jelas.
Akhirnya aku tahu masalahnya. Beberapa waktu yang lalu, aku ngobrol dengan sahabatku masalah manajemen sekolah, entah bagaimana obrolan jadi menukik ke masalah SBI, ya karena dia bercerita tentang sekolah yang sedang dikelolanya saat ini dengan penuh kebanggaan. Waktu dia berbicara begitu aku jadi teringat beberapa orang guru dari sekolah SBI yang mengeluh karena merasa terbebani oleh tugas-tugas yang berat demi mempertahankan reputasi sekolah. Misalnya saja dalam pembuatan soal-soal, untuk SBI tidak cukup hanya sampai pada tingkat pemahaman tapi harus sampai pada tingkat analisis. belum lagi tugas lainnya sementara kesejahteraan yang diterimanya tidak jauh berbeda dengan guru yang bukan dari SBI. Akhirnya mereka beranggapan kalau adanya SBI itu hanya ambisi pimpinan sekolahnya saja untuk mendapatkan proyek yang cukup besar jumlahnya, bukan didasari oleh tujuan meningkatkan kualitas anak didik dan kesejahteraan guru.
Saat itu aku merasa hal itu harus disampaikan kepada sahabatku. Bukan apa-apa tapi hanya sebagai masukan saja untuk dijadikan bahan evaluasi.Dia kan berkecimpung di dalamnya. Ternyata sahabatku membawa masalah itu dalam rapat komite yang dihadiri oleh Kepsek. Kepsek merasa tidak menerima lalu mendesak sahabatku untuk mengatakan dari mana sumber berita itu. Eh dasar kurang bijak, sahabatku mengatakan kalau berita itu datangnya dari aku. Entah dengan alasan apa tiba-tiba saja Kepsek dan beberapa orang guru yang ada di sana menuding kepada salah seorang guru yang dicurigai berbicara seperti itu padaku. Kontan saja guru itu merasa tidak nyaman dan merasa difitnah. Makanya tidak heran kalau si guru mencariku untuk menerima penjelasanku.
Aku katakan pada sahabatku kalau dia sudah melakukan kebodohan sebagai pengurus komite. Dia sama sekali tidak bisa bersikap profesional. Seharusnya pihak sekolah bukan mencari siapa yang menyampaikan berita itu tapi mencoba menganalisisnya dengan evaluasi kasus untuk mengetahui kebenaran berita. Misalnya saja dengan menyebar angket ke guru-guru, mengadakan dialog interakktif, atau studi kasus. Ini malah secara tidak etis menuduh salah seorang guru yang mengajar di sekolah itu sebagai penyebar berita. Aku jadi berkesimpulan kalau SDM di sekolah itu memang benar-benar belum siap untuk menjadi SBI. Terutama sekali pimpinan sekolahnya. Waahh gawat ya…, jangan-jangan isue itu benar adanya. Semoga hal ini bisa dijadikan cermin bagi kita semua. Ternyata jauh lebih mudah medirikan sekolah berstandar internasional dari pada bersikap secara profesional. Ner nggak?
ADA-ADA SAJA………..
Hari ini sekolah kedatangan dua even oganiser dari dua studio radio yaitu CBL dan 99fm. Tentu saja kegiatan pembelajaran agak sedikit terganggu. Aku yang harusnya masuk ke kelas untuk memberikan tambahan pelajaran pukul 13 tepat, jadi mulur ke pukul 14. Ya karena harus memberikan beberapa hal yang berkaitan dengan gegiatan kesiswaan dan juga kegiatan persiapan menghadapi ujian nasional kepada personil penyiaran untuk disiarkan secara langsung.
Pukul 14 anak-anak kusuruh masuk dan langsung diberi soal setelah sebelumnya ada pembahasan soal yang belum jelas. Selanjutnya aku tinggalkan mereka sebentar untuk menemui tamu. Baru saja 20 menit ditinggalkan, aku melihat beberapa anak ada di ruang guru. Aku mencoba melihat ada masalah apa, biasanya kalau ada anak di ruang guru ketika sedang jam belajar pasti ada masalah.
Benar saja, di sana ada beberapa anak yang dipanggil guru. Dua anak laki-laki di antaranya adalah anak dari kelas yang sedang kutinggalkan dan dua anak lainnya anak kelas 7. Salah seorang dari mereka sedang menangis. Aku tanyakan masalahnya ternyata anak yang menangis itu dipukul oleh Saeful, anak kelas 9. Gara-gara si anak itu bersikap tidak sopan pada kakak kelas.
Pemecahan dan pembahasan masalah pun segera digelar. Ternyata masalahnya bukan seperti itu. Si anak kelas 7 mengingatkan pada kakak kelasnya agar tidak berpacaran dengan teman sekelasnya. Saat itu pun kebetulan teman sekelasnya ada di sana. Aku tanya siapa yang berpacaran? Si anak menunjuk kepada salah seorang anak kelas 9 teman Saeful. Aku tanyakan pada anak itu benarkah anak perempuan yang duduk di hadapannya itu adalah pacarnya? Spontan si anak menjawab " Betul Bu, tapi tadi kami tidak pacaran, kami hanya mengobrol saja".
Selanjutnya aku bertanya kepada anak kelas 7 yang mengingatkan kakak kelasnya untuk tidak pacaran, apa yang membuat dia melakukan hal itu? Jawabannya spontan juga " Karena dia pacar saya Bu, saya tidak suka dia ngobrol dengan kakak kelas". Mendengar pernyataan itu kontan saja sang kakak kelas mendelik matanya. " Bu, sudah saja masalahnya sudah selesai. Sekarang juga, jam ini detik ini, saya putuskan dia. Dah ya kita putus saja sampai di sini" kata si anak kelas 9 diplomatis sekali sambil menjabat tangan si anak perempuan yang dari tadi hanya senyum-senyum saja. Aku pun jadi ikut tersenyum juga. Yah…bagaimana pun aku sangat menghargai kejujuran mereka.
" Baik, masalahmu dengan kedua adik kelasmu sudah beres. Sekarang tinggal masalah kita.Coba jawab yang jujur, berikan ibu argumentasi yang kuat, kenapa kalian berdua meninggalkan kelas? Bukankah ibu sudah berpesan agar kalian berada di dalam kelas sementara ibu harus menemui tamu?" Mereka berdua tidak menjawab. Sebagai jawabannya mereka harus meresensi dua buah buku yang ada di perpustakaan dan membuat soal beserta isinya sebanyak 50 soal.
Sementara untuk kedua anak kelas 7, aku serahkan dia kepada wali kelas dan guru BK untuk dibimbing dan diberi pengertian tentang tugas mereka di sekolah. Ah ada-ada saja, dasar anak-anak tetap saja anak-anak.
UJIAN SEBENTAR LAGI UJIAN
Ujian nasional tinggal menghitung hari. Anak-anak sudah terlihat gelisah, mungkin mereka sudah mulai jenuh dengan segala macam tambahan pelajaran yang membuat mereka harus mengurangi waktu bermain.Yah bagaimana tidak, sejak ujian ini diberlakukan dan dijadikan sebagai penentu kelulusan para siswa, maka semua guru, orang tua dan juga siswa banyak yang gelisah. Semua itu didasari kekhawatiran tidak dapat berhasil meraih kelulusan.
Dilematik memang, di satu sisi pemerintah ingin meningkatkan kualitas SDM, di sisi lain, hal yang mendukung semua itu tidak tersedia dengan merata. Ditambah lagi kondisi sekolah, sarana prasarana yang ada di negri kita ini masih banyak yang memprihatinkan. Kita juga tidak menutup mata, kalau tiap sekolah memiliki kualitas yang berebeda, bahkan ada beberapa sekolah yang dikategorikan sebagai sekolah paforit oleh masyarakat. Sekolah dengan predikat paforit ini lah yang umumnya menjadi sekolah tujuan masyarakat. Mereka dengan berbagai cara berusaha memasukkan anaknya untuk diterima di sekolah tersebut. Bisa dibayangkan anak-anak yang bagaimana yang berada di sekolah seperti itu. Ya umumnya mereka adalah anak-anak yang berotak cemerlang, orang tuanya mapan karena mereka masuk melalui saringan yang ketat. Malangnya urusan kelulusan ujian nasional diberlakukan dengan kriteria nilai yang sama untuk semua siswa, baik di sekolah paforit maupun di sekolah terpencil yang letaknya jauh di tengah hutan atau di kaki gunung, dengan fasilitas apa adanya dan tenaga guru serta kemampuannya yang minim.
Kriteria nilai yang diberlakukan saat ini masih mengacu kepada kriteria nilai tahun lalu yaitu tidak boleh ada nilai dibawah 4,25 dengan rata-rata nilai 5,25. Kriteria kedua, boleh ada nilai 4 namun nilai mata pelajaran lainnya harus minimal 6. Mata pelajaran yang saat ini diujikan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Ingris, Matematika dan IPA. Terbagi kedalam dua kode soal yang berbeda. Kode soal A untuk nomor ganjil dan kode soal B untuk nomor genap.
Bila dilihat sepintas, kriteria tersebut tidak memberatkan siswa, namun setelah diuji di lapangan, terasa sekali ketidak adilannya. Kriteria nilai seperti itu seakan memaksa siswa untuk memaksakan diri menyukai danmenguasai pelajaran yang diujikan. Hal ini bisa kita lihat pada deskripsi berikut. Bila seorang siswa memiliki nilai bahasa indonesia 9,90, bahasa inggris 9,80, IPA 9,00 dan matematika 3,99, maka jumlah nilai yang didapat adalah32,89 dengan nilai rata-rata 8,22. Sebuah nilai yang cukup besar, sayangnya siswa dengan nilai demikian dinyatakan tidak lulus, karena ada nilai di bawah 4. Bisa dibayangkan bila yang mendapat nilai seperti itu adalah anak kita. Apakah hal itu tidak akan membuat siswa prustasi? Demikian juga dengan siswa yang mendapat nilai sebagai berikut: Bahasa Indonesia 7, bahasa inggris 8, matematika 4 dan IPA 5,59.
Menyedihkan bukan? Akankah hal itu perlu ditinjau kembali? Ah sepertinya semua suara sudah serak untuk menyerukan hal itu. Semua dianggap angin lalu.Guru bukan lagi penentu hasil. Ujung tombak pendidikan saat ini telah beralih kepada sistem. Padahal, masalah kelulusan adalah hak prerogatif guru. Gurulah yang lebih tahu, mana siswa yang pantas lulus dan mana yang tidak. Namun itulah Indonesia, kelulusan diserahkan kepada mesin yang sama sekali tidak mengenal kata bijak atau tenggang rasa. Siswa dipaksa untuk menjadi objek bukan lagi subjek. Guru diberangus kreativitasnya. banyak rekan-rekan guru yang merasa tidak puas dalam KBM di kelas karena dikejar-kejar SKL. sejujurnya aku pun merasakan hal yang sama. Aku merasa masih banyak keterampilan yang belum dikuasai siswa, masih banyak pengalaman belajar yang belum didapatkan siswa. ilmu yang seharusnya kuberikan sebanyak mungkin,ternyata tak sempat karena dikejar waktu. Semua waktu seolah tersita untuk persiapan ujian nasional. yang dikejar adalah target dan target yang sifatnya hasil bukan proses.
Menyedihkan ya? Namun mau dibagaimanakan lagi…..
