NOSTALGIA DESEMBER ( DIMUAT DI MAJALAH BASIS EDISI 4 TAHUN
Pagi yang dingin di bulan Desember. Aku berjalan berjinjit. Tas kugendong di punggung seperti tentara yang akan perang, , Sebentar kulirik jam tangan kecil yang selalu setia menemani langkahku. Wah pukul tujuh kurang lima menit. Diamput! Aku hanya punya waktu lima menit lagi untuk tiba di sekolah. mana harus bertugas sebagai pengerek bendera lagi, ya ini kan hari Senin ada upacara rutin.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana wajah pembina upacara kalau melihat aku terlambat. Aku jadi ngeri sendiri. Kupercepat langkahku, jalanan becek dan berlubang sangat menghambat langkahku, tapi aku sedikit lega, gerbang sekolah telah terlihat olehku. Tapi…tiba-tiba crass…..sesuatu yang basah mengguyur semua pakaian putihku. Ya..Tuhan apa ini, aku hampir tak percaya , bajuku yang putih tersiram air lumpur dari kubangan jalan, tepat ketika sebuah sedan putih lewat. Sialan ! Pastilah mobil putih itu pelakunya. Kulambaikan tanganku agar mobil itu berhenti, tetapi pengemudinya malah cengar-cengir sambil tancap gas. Hatiku panas, secepat kilat kuambil batu sebesar kepalan tangan, kulemparkan tepat ke arah mobil itu. Prang! Terdengar bunyi kaca pecah. Kaca belakang mobil hancur berantakan, mobil pun berhenti. Pengemudinya turun dengan wajah merah padam. Sambil berkacak pinggang kusambut kedatangannya.
“ Apa-apaan kamu?” tanyanya ketus sekali.
“Sombong kamu! Lihat bajuku!” jawabku tak kalah ketus.
“ Ohh gara-gara itu kau lempar mobilku? Dasar kampungan! Salah sendiri kenapa jalan tak hati-hati!”
“ Ehhh dibilangin malah ngelunjak ya! Aku berjalan, itu bukan urusanmu! Ini jalan sekolah bukan jalan tol Kalau tahu ada orang, kenapa nggak kamu bunyikan klakson? Kenapa seenaknya
menjalankan mobil? Kamu baru belajar nyetir ya?” umpatku tak mau kalah.
“ Kau menasehati aku ya? Apa hakmu menasehati aku?” katanya jengkel, matanya memandang garang padaku.
“ Ooohhh, aku sama sekali tak menasehati kamu! Orang dablek sepertimu takan butuh nasehat! Aku hanya mengingatkanmu! Ini bukan jalan nenek moyangmu! Dan yang punya mobil
Bukan hanya kamu!”
“ Lancang benar mulutmu, kalau kau laki-laki sudah kusumpal tahu!”
“ Apa? Dasar banci! Kau kira aku takut padamu? Ayo lawan aku!” kataku tak kalah marah.
“ Kurang ajar kamu!” umpatnya sambil melayangkan tangannya hendak menampar pipiku, tapi tap! Sang tangan ada yang menangkap.Ternyata Pak Uju Satpam sekolah yang entah
kapan datangnya melerai pertengkaran kami dan menanyakan duduk persoalan yang sebenarnya. Setelah semua jelas, Pak Uju menyuruh kami bersalaman. Aku menolak bersalaman
dengannya karena perbuatannya telah melukai hatiku. Coba saja, bajuku kotor, hatiku sakit, aku gagal jadi petugas upacara, belum lagi hukuman yang harus kuterima dari wali kelasku
Karena ketidakhadiranku. I tu semua gara-gara orang gila ini. Haruskah dia kumaafkan? Urusan kaca mobilnya hancur,itu salahnya sendiri.
*
Seminggu peristiwa itu telah berlalu. Suatu hari ketika aku pulang sekolah, kulihat sebuah mobil sedan putih parkir di depan gerbang sekolah. Beberapa anak perempuan berebut menghampirinya, kemudian mereka ramai bercanda. Aku merasa pernah melihat mobil itu, sialan! Ternyata pemuda gila itu! Sekilas kulihat dia melihatku, cepat kupalingkan wajah dan aku segera pergi dari
Situ. Baru saja kakiku melangkah, Wida temanku menarik lenganku. Aku tak mengerti apa maksudnya, dan sesuatu yang tak kuharapkan pun terjadilah. Aku dibawanya menghampiri pemuda sombong itu.
Ini benar-benar gila, sekali lagi ini benar-benar gila! Wida memperkenalkan pemuda itu padaku, ternyata dia pacar baru Wida. Sungguh aku tak percaya tapi itulah kenyataan yang terjadi. Demi Wida kami pun berjabat tangan. Kuketahui namanya Budi. Wida mengajakku pulang bersama naik mobil Budi, dengan susah payah kutolak ajakannya.
Sejak itu Wida sering bercerita tentang pacar barunya. Dia mahasiswa tingkat akhir dari sebuah PTN di kotaku, supel, anak seorang direktur, gebetan para cewek dan sebagainya, dan sebagai
nya, sampai aku mual mendengarnya, tapi tak sepatah kata pun aku bercerita pada Wida bahwa aku dan dia pernah bertengkar. Tiga bulan tak terasa telah berlalu. Siang itu aku pulang sendiri dari sekolah.
Aku berjalan tertunduk, tiba-tiba sebuah sedan putih berhenti, tepat di sisiku. Aku mencoba menghindar dengan lebih menepikan tubuhku dari badan jalan.
“ Pulang Rani?” dari dalam mobil kudengar kata sapaan, aku celingukan mencari suara. Huh ternyata dia lagi Ya Tuhan kenapa dia Kau pertemukan lagi denganku. Ah cepat kupalingkan
Wajahku. “ Ya “ jawabku pendek dan ketus.
“ Jealesnya, kita kan telah berkenalan? “ katanya sok jaim, aku benar-benar ingin menampar wajahnya.
“ Aku tak mau kenal dengan orang sombong sepertimu! Kita musuh tujuh turunan, terserah kamu mo bilang apa!” bentakku, aku benar-benar kesal, pasti ini hari sialku.
“ Rani, kau masih marah padaku? Kamu tak mau memaafkanku? Aku kan sudah lama memaafkanmu”
“ Marah? Apa urusanku harus marah padamu! Sudahlah, lupakan segalanya, kita tak pernah berteman, sekali lagi , kita tak pernah berteman! Kalau pun pernah berjabat tangan,
Itu kulakukan demi Wida temanku, yang juga pacarmu! Sudah aku mo pulang, selamat siang!” kataku ketus sambil berlari mengejar angkot. Kudengar dia berteriak dari dalam mobil
“Dasar cewek sombong! Memangnya kamu cantik apa? Ditukar sama botol cuka juga, kamu nggak bakalan laku, sialan lo! ‘ makinya, dia marah sekali, aku tak peduli, emang aku pikirin.
*
Tahun ini aku naik ke kelas tiga dengan nilai bagus. Aneh justru, biasanya nilaiku kacau melulu. Aku punya sahabat baru Dewi namanya. Ia teman sebangku, pindahan dari kota kabupaten.
Tinggal di Bandung bersama uwaknya yang rumahnya tidak jauh dari sekolah. Suatu hari sehabis pelajaran olah raga, aku dan teman-teman di ajak ke rumah uwaknya. Rumah yang besar dengan pekarangan yang luas dan asri. Pekarangan itu banyak di tanami bunga-bunga dan buah-buahan. Semua ditata demikian indah. Di sudut taman ada air terjun buatan,airnya mengalir bening, menambah tenangnya suasana
Ada kolam ikan kecil di bawahnya. Ikan itu dengan gembira berkejar-kejaran di air yang bening mengalir. Belum puas aku memandang sekeliling, kulihat wanita setengah baya menghampiri kami, dengan ramah dia tersenyum dan menyapa kami. Dia lah uwaknya dewi, ia menerima kami dengan ramah seperti menerima keluarganya sendiri, kami ditemaninya ngobrol dan diajaknya makan siang.
Aku sangat terkesan dengan keramahannya. Beliau benar-benar seorang figure ibu yang selalu kudambakan. Jauh berbeda dengan ibuku yang selalu sibuk dan sibuk mengurus karir. Setelah selesai makan siang, kami pun ngobrol di loteng. Sambil menunggu waktu les di sekolah tiba, aku mencoba menyetrika pakaian seragamku yang kusut. Ketika aku mau menyetrika , aku sedikit bingung, sementara aku menyetrika aku memakai apa ya? Baju olah ragaku sudah dipinjam teman. Untunglah aku melihat sebuah celana jeans tergantung di kapstok. Tanpa berpikir panjang kupakai celana itu, badannya pas, tapi agak kepanjangan tapi tak apalah pikirku, hanya sebentar ini saja kok.
Sedang asyik aku menyetrika, Dewi datang, ia sangat terkejut melihat aku memakai celana panjang yang kukira miliknya. Ia menyuruhku membuka celana itu. Aku tak mau. Ia terus memaksa dan memohon padaku agar aku membuka celana itu, katanya itu celana milik Mas Firman. Aku tak tahu siapa Mas Firman yang kata Dewi terkenal sangat peka kalau pakaiannya dipakai orang.
Pasti nanti Dewi yang disalahkan. Aku mencoba menenangkan Dewi. Kukatakan padanya “ Tenang, Dew, ntar aku kok yang bilang pada Mas Firman” aku memang keras kepala. Selesai menyetrika kupakai
Seragamku kembali dan celana jeans itu pun kusimpan kembali di tempatnya. Iseng kuambil secarik kertas yang kusobek dari lembaran diaryku, kemudian kutulisi kertas itu. Isinya “ Mas Firman, maaf ya
Celananya tadi kupakai, hanya sebentar kok kujamin tak akan bau, karena aku rajin mandi , trim’s ya ‘ dari Reni teman Dewi.
Setelah semua berdandan rapi, kami pun siap pergi ke sekolah, tak lupa kami pamit pada uwaknya Dewi. Dia mengantar kami sampai halaman rumah. Tiba-tiba di depan rumah berhenti sebuah mobil sedan putih. Aku hapal betul mobil itu. Benar saja kulihat si cowok sialan itu keluar dari mobilnya, langsung masuk ke rumah dan ketika berpapasan dengan uwaknya Dewi, dia mencium tangannya dengan sopan. Sekilas ia melihat padaku, tapi secepat itu pula dia membuang muka.
Aku tak mengerti, kenapa ia datang ke rumah itu. Di jalan, aku bertanya pada dewi, tentang cowok yang mencium tangan budenya tadi. Jawaban Dewi bagai petir menyambar di siang hari bagiku. Ternyata cowok itu adalah orang yang dipanggil Mas Firman oleh Dewi, dia salah seorang anak uwaknya. Wajahku langsung pucat dan tubuhku gemetar. Jantungku pun berdegup kencang, dia yang disebut Mas Firman, ternyata si Budi sialan itu, yang kumusuhi tujuh turunan. Lalu kenapa aku makan di rumahnya? Kenapa celana jeansnya kupakai? Kumasukkan lagi surat ke dalam celananya. Tuhan… oh… Tuhan, kenapa jadi begini? Aku tak tahu harus berkata apa pada Dewi saat itu, kepalaku tiba-tiba saja jadi pusing. Aku juga tidak mau mengatakan tentang surat yang kutulis untuk dia.
Hanya saja sejak saat itu, kulihat Mas Firman sering memarkir mobilnya di depan gerbang sekolahku. Entah untuk menjemput siapa, aku pun sudah lama tidak melihat dia berhubungan dengan Wida, teman-teman bilang mereka dah lama bubar. Aku juga tidak melihat Fani, Wanti, Sisca atau siapa pun yang menghampirinya. Entah aku yang tidak melihat atau aku yang berjalan menunduk terus, aku jadi malu, malu pada diriku sendiri. Aku pulang sendiri menyusuri jalan sekolah yang lengang. Tiba-tiba mobil putih itu datang lagi dan berhenti disampingku. Kulirik dia lagi!
Dia tersenyum dan berkata “ Sudah sebulan ini celana panjangku tak kucuci, dan aku takan mencucinya sampai kapan pun, tetapi aku akan selalu memakainya”
Aneh aku tak berani lagi mengumpatnya, lidahku kelu, aku seolah jadi bisu Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk menerima jabatan tangannya. Aku pun hanya diam ketika dia berkata “ Aku harap kamu bisa memaafkanku! “ aku hanya tersenyum mendengar dia berkata seperti itu.
“ Selamat siang”hanya itu yang bisa kukatakan padanya sambil berlari mengejar angkot yang kebetulan datang.
Ahhh, serasa kemarin pagi peristiwa itu terjadi, padahal telah 23 kali Desember, dan kini Desember yang ke 24 akan kusobek lagi.
“ Besok tahun baru lagi ya Ma, kemana acara kita? “ kucari dari mana arah suara itu, ah ternyata Mas Budi alias Mas Firman bersama tiga orang anak-anak kami.
Tuhan 22 tahun sudah usia pernikahan kami. Engkau Maha Kuasa, Maha mengetahui segala sesuatu yang tidak kuketahui. Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan kebahagiaan. Memberiku seorang suami yang baik dan anak-anak manis yang sehat. Semoga di tahun-tahun mendatang hari-hariku semakin indah.

Nice story… Hahahaha… kabayang….
Hidup emang penuh kejutan, dan kejutan pula yang membuat sebuah cerita menjadi menarik. Duh hanjakal abdi mah sanes kritikus sastra…
Kalo diibaratkan dengan teknik perfilm-an hehehe, mirip film Amerika, berbeda dengan film-film Eropa yang alur dan aliran ceritanya lambat berliku-liku.
Comment by gibson — September 29, 2007 @ 7:17 am
Terimakasih atas komentar akang untuk cerpenku yang memang merupakan pengalaman pribadi yang kutuangkan ke dalam tulisan. Terlalu sederhana mungkin ya? maklum baru belajar he..he..he…
Comment by reni — September 29, 2007 @ 8:39 am
Saya hanya mengomentari gaya penuturannya, entah apa istilahnya: setiap moment disampaikan secara ringkas, dan hubungan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya dipersilahkan pada pembaca untuk menduga-duga. Jadi bukan masalah sederhana atau tidaknya. Yang menarik dari cerita ini pada kejutan-kejutannya yang tak terduga, terutama pada endingnya. Namun sayang agak “menggantung”, sehingga pesan dari cerita ini pun jadi terkesan sederhana dan “klasik” : Jodoh di tangan Tuhan, atau cinta itu buta, atau sejenisnya.
Comment by gibson — September 30, 2007 @ 5:41 pm
Sekali lagi terimakasih Kang atas komentarnya. Itulah yang teteh harapkan. Ada sesuatu yang harus teteh perbaiki dari cerpen ini. memang seperti teteh katakan, bagi teteh sulit sekali merekayasa suatu cerita berdasarkan imajinasi yang teteh miliki. Teteh terlalu terpaku pada kisah nyata yang memang pada dasarnya seperti itu ” Jodoh ada di Tangan Tuhan” Namun untuk di angkat ke dalam sebuah cerita sepertinya harus ada sesuatu yang yang bisa memperkaya batin pembaca agar tidak terkesan klasik dan sederhana ya Kang? Terimakasih atas waktu akang mau membaca cerpen ini.Komentar akang sangat membantu untuk penulisan karya teteh yang lainnya yang sekarang sedang dalam proses penyelesaian.
Comment by reni — October 2, 2007 @ 4:53 am