ADA APA DENGANMU ANAKKU
Tahun ini aku kembali mengajar di kelas tiga, setelah dua tahun lamanya mengajar di kelas 7. Ya dua tahun lalu aku meminta kepada pimpinan sekolah untuk mengajar di kelas 7, aku ingin mencoba menerapkan kurikulum 2004, kepada para siswa dan mencoba pula untuk menghilangkan imge teman-teman tentang aku yang dijuluki spesialis guru kelas 3.
Tadi di kelas aku aku mengajak murid-muridku untuk menganalisis unsur intrinsik cerpen. Mereka memilih sebuah cerpen yang berjudul sungai karya Nugroho Notosusanto. Seperti biasa sebelum menganalisis anak-anak diwajibkan membacanya terlebih dahulu. kuberi waktu untuk membaca sebanyak 10 menit. Selesai membaca aku menugaskan mereka untuk menceritakan kembali isi cerpen tersebut dengan bahasanya sendiri.
Empat orang anak mengangkat tangannya, bergiliran mereka menyampaikan kembali isi cerita, sementara yang lain memperhatikan tanpa ekspresi. Ada sesuatu yang membuatku heran, kenapa di antara ke empat anak itu tak satu pun yang bisa menyampaikan isi cerita dengan benar, anak yang lain pun tak ada yang berkomentar seolah membenarkan cerita temannya. Aku sampai menyuruh mereka membaca lebih dari dua kali.Setelah itu, barulah anak yang bernama Dewi bisa menjawab dengan benar.
Aneh! Ini sungguh aneh! Biasanya tidak seperti itu. Puluhan tahun aku mengajar di kelas tiga, biasanya ekspresi anak-anak langsung terlihat setelah membaca cerpen itu. Anak laki-laki terdiam, anak perempuannya
banyak yang menangis. Kali ini lain sekali, ekspresi anak-anak biasa saja malah ada yang cengengesan segala.
Ada sedikit kekecewaan di hati ini, gagalkah aku jadi guru? Gagalkah aku mengajak mereka mengapresiasi karya sastra? Atau kepekaan anak-anak sudah tidak ada? Apakah itu terjadi karena pengaruh jaman dan lingkungan? Padahal isi cerpen itu bagus sekali, berkisah tentang seorang prajurit berpangkat sersan yang rela mengorbankan nyawa anak semata wayangnya untuk keselamata seluruh kompi. Konflik batin pelaku dalam cerita itu sangat menarik dan menyentuh hati nurani, tapi kenapa anak-anakku tidak tersentuh? Ada apa dengan mereka?
