/>

Semua Tentang Reni

February 28, 2006

AKU BAHAGIA MENJADI SEORANG GURU

Filed under: Curahan Kalbu

Aku kadang berpikir tentang jalan hidup yang kualami, kadang aku tidak
percaya, aku ini seorang guru, kok bisa ya? Ya…dulu aku sangat ingin menjadi seorang insinyur pertanian , hobiku bertanam bunga dan buah-buahan, membuat aku bercita-cita ingin menjadi petani sayur dan buah. Aku ingin sekali masuk SPMA. Sayang sekali ayahku memasukkan aku ke SPG dengan cara yang tidak fair. Aku dibohongi! Ayah bekerja sama dengan paman mendaftarkan aku ke sekolah guru. Aku yang waktu itu masih polos, sama sekali tidak menyadari bahwa sekolah tempatku mendaftar itu SPG. Aku nurut dan percaya saja ketika paman membawaku ke sana. Setelah testing hari keenam, waktu tes wawancara, baru aku tahu bahwa itu SPG. Itu karena sang penguji menanyai aku tentang alas an aku ingin jadi guru. Bisa dibayangkan betapa kecewanya aku waktu itu, dan tak habis-habisnya aku menyesalkan kebodohanku.

Seminggu lamanya aku tidak mau berbicara dengan ayahku, hari kedela –
pan ayahku menjelaskannya padaku. Aku sengaja dimasukkan ke sekolah guru
agar aku bisa jadi perempuan. Selama ini ayahku sudah pusing dengan tingkahku
yang selalu melakukan hal-hal yang tidak disukai ayah, seperti main sepak bola
layangan, terlibat perkelahian masal dan hal lain yang hanya pantas dilakukan oleh anak laki-laki. Ayah tidak mau anak perempuan satu-satunya ber-
perilaku seperti laki-laki. Catatan perilaku di sekolah yang sering dihukum guru
menambah profilku di depan ayah semakin ambruk. Ya kuakui, sudah tak terhitung berapa kali aku dihukum guru. Aku pernah di kurung di wc, dijemur di lapangan sambil menghormat bendera. Semua itu untuk kesalahan seperti kabur dari sekolah dengan cara menaiki benteng sekolah, mengganggu guru dan banyak lagi kelakuan yang membuat ayahku malu. Ya bagaimana tidak, ayah dan ibuku itu seorang kepala sekolah.
.
Aku tidak mau menerima alasan apa pun, aku tetap marah dan belajar seenaknya, kenakalanku di sekolah semakin menjadi-jadi. Di SPG aku sama sekali tidak mau disiplin, nilai midku hancur dan aku diancam akan dikeluarkan.
Untunglah disaat seperti itu, aku punya teman-teman yang sangat perhatian padaku. Amin Budiamin si aktifis Osis, Mamat si bodor, Ukar yang lugu, Yayu yang centil, Enny yang trendy, Ros yang melankholis, Tuti yang lembut, Wida yang sabar dan tentu saja Si Kapten Troy yang sering membuat hatiku berdebar.
Mereka semua memberi semangat padaku, mereka semua menyayangiku. Mereka yang membuktikan SPG bukan sekolah kampungan, SPG sekolah yang dijalin berdasarkan rasa kekeluargaan. SPG tempatnya orang-orang cerdas berada, jangan hancurkan reputasimu Reni! Itu yang selalu mereka katakan padaku.
Mereka mengajakku masuk organisasi. Pertama aku masuk pramuka, kemudian paduan suara, terus tari, musik dan akhirnya aku terpilih menjadi pengurus Osis. Ya aku akhirnya sadar, pilihan ayahku tidak salah. Berapa banyak orang yang mau masuk sekolah guru, tapi mereka semua kandas karena seleksi yang sangat

ketat, mereka jatuh pada tes wawancara. Betapa bodohnya aku bila aku menghacurkan semuanya.

Akhirnya aku sadar, manusia memeliki rencana, tapi Alloh yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Tiga tahun terlewati sudah dengan segala suka dan duka. Aku lulus dengan nilai bagus, bahkan masuk sepuluh besar siswa terba-
ik dari 180 orang siswa .Diberi pengharagaan dalam upacara penglepasan siswa,
sungguh aku sendiri tidak percaya itu bisa terjadi padaku.

Semua siswa yang lulus diberi SK pengangkatan pegawai negri, menjadi guru SD, tapi untuk 10 siswa terbaik, ada prioritas memilih yaitu : menjadi
guru atau memanfaatkan prioritas yang diberikan oleh PTN untuk kuliah tanpa
seleksi SPMB ( dulu istilahnya UMPTN ). Aku dan sepuluh orang temanku yang lain memilih masuk PTN, maklum waktu itu dari sekolah kejuruan tidak diperbo- lehkan langsung kuliah, karena harus ada masa kerja dulu, dua tahun. Nah dari pa-
da nunggu dua tahun, lebih baik mengambil kesempatan yang ada.

Alhamdulillah, inilah aku sekarang menjadi guru seperti harapan kedua orang tuaku. Aku pernah mengajar dari TK, SD, SLB, SMA, PT dan kini tercatat sebagai guru SMP. Tentu saja aku sudah lama berubah menjadi perempuan, ya sejak satu tahun setengah aku menjadi siswa di sekolah guru, aku tidak lagi senang bermain layangan, sepak bola, berkelahi, atau membawa sesuatu yang
aneh ke sekolah seperti katak, kecoa, ular, kelelawar, ulat bulu atau apa saja
yang bisa membuat anak perempuan takut. Kurasa saat ini sulit sekali mencari anak perempuan yang nakalnya seperti aku, tapi keuntungannya adalah selama hidup aku belum pernah diganggu oleh anak laki-laki. Mereka justru jadi sahabat aku. Aku kan pernah jadi sekretaris geng terkenal di SMP. Pengalaman itu sangat
berharga bagi tugasku sebagai guru. Aku sama sekali tidak mengalami kesulitan
dalam mengatasi senakal apa pun muridku. Apalagi bila mereka adalah murid laki-laki. Makanya dari pada punya masalah denganku, sepertinya murid-murid lebih baik bersahabat dan menjadi murid terbaik. Ya sejak aku jadi guru aku tak pernah melihat murid-muridku tidak hadir dalam pelajaranku, kecuali sakit atau ijin. Ah semoga dunia tahu, betapa bahagianya nya aku menjadi seorang guru

February 22, 2006

MENGERTILAH PAPA

Filed under: Opini

MENGERTILAH PAPA

Aku hanya bisa diam ketika semalam suamiku mengomeli Gita, karenapulang terlambat. Aku sudah menjelaskan, sebenarnya dia sudah pulang sekolah sejak pukul 13.00. Setelah selesai sholat ashar dia pergi lagi, katanya ada janji dengan seorang teman. Pukul 18.30 aku telpon ke Hpnya, dia ada di musholaIstana Plaza sedang sholat magrib. Jadi apa yang musti dikhawatirkan? Pukul20.00 dia baru pulang diantar temannya.

Suamiku tidak mau tahu dan tak mau mendengar alasan apa pun. DiaIngin Gita ada di rumah sebelum magrib. Shalat berjamaah dan mengaji seperti biasanya. Anak perempuan tidak boleh ke luar malam, apa pun alasannya.Ya, aku mengerti, untuk Gita perhatian suamiku sangat berbeda dari kedua
kakaknya. Mungkin karena dia anak perempuan. Khawatir terjadi sesuatuyang tidak diinginkan di zaman yang penuh dengan ranjau-ranjau kemaksiatan.

Ya, aku juga sering merasa khawatir, tapi di sisi lain kita juga sebagai orang tua harus bersikap bijaksana. Mereka anak-anak kita, tetapi bukan milikkita. Mereka milik sang waktu yang akan ikut mewarnai jaman. Merah atauhitam warna yang akan mereka poleskan, itu bergantung bagaimana kita memberi dasar arahan, perhatian dan pengertian.

Aku setuju, pendidikan agama menjadi dasar yang kuat dalam pembinaanahlak, tapi tidak boleh bersifat dogmatis. Agama untuk dipahami bukan untukditakuti. Itu yang ingin kutanamkan pada anak-anakku. Alhamdullillah sampai sejauh ini ketiganya tumbuh menjadi anak-anak yang kubanggakan.

Khusus buat Gita, seharusnya suamiku tahu. Dia kini sudah 17 tahun.Ibarat bunga ia adalah kuncup yang mulai mekar. Lihat di kamarnya, puluhanboneka beruang lucu, mawar-mawar kristal merah jambu, surat-surat indahpenuh sanjungan, semua itu dari teman-temannya yang menyayanginya.Wajar dan alamiah kan? Kenapa harus dimarahi? Apakah papa tidak tahuakhir-akhir ini wajah gita selau berseri-seri? Mungkinkah sudah ada tambatanhati atau apalah namanya, yang penting kita harus mencoba untuk mengertiberikan kepercayaan dan tanggung jawab padanya. Kita hanya bisa berdoadan menyerahkannya kepada Illahi untuk menjaganya. Semoga papa maumengerti.

February 21, 2006

Ini Anakku Yang Ingin Jadi Lelaki Sejati

Filed under: Curahan Kalbu

LELAKI SEJATI

Filed under: Curahan Kalbu

IKHWAN SEJATI

Suatu hari anakku yang nomer dua bertanya padaku,” Ma, ceritakan padaku
tentang lelaki sejati.” Aku jadi bingung apa yang harus kujawab. Merenung beberapa lama, akhirnya kudapatkan juga jawabannya.

Anakku, lelaki sejati bukan dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih
sayangnya pada orang di sekitarnya. Lelaki sejati bukan dilihat dari suaranya
yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran, bukan pula
dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya
pada generasi muda bangsa.

Lelaki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempat kerja,
tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah, bukan pula dilihat dari
kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan. Lelaki
sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada
dibalik itu.

Lelaki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja, tetapi
komitmennya terhadap wanita yang dicintainya, bukan pula dilihat dari
jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi
liku-liku kehidupan. Lelaki sejati bukan dilihat dari kerasnya dia mem-
baca alqur’an, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang dia baca.

Anakku terdiam, kemudian ia bertanya lagi, “ Bisakah aku menjadi
lelaki sejati? Siapa lelaki di dunia ini yang memiliki kriteria seperti
itu ?” Aku tersenyum, iya siapa ya adakah itu? Ada pasti ada!
Jawabku pasti. Ini, pelajari tentang Dia. Kuberikan pada anakku
sebuah buku berjudul “ Mengenal Muhammad SAW”

Lepas

Filed under: Puisi Ku

Yang terhempas dan kandas
Yang terkikis dan habis
Semua hilang terbang
Asa pun melayang dalam diam

Kupeluk malam tanpa bintang
Luluh lantak dalam kenangan
Selamat tinggal bayangan
Biar kuhitung hari-hariku
dan kusimpan dalam kabut biru langitku

Apa Itu Cinta

Filed under: Puisi Ku

Minami
Kau katakan cinta itu universal
Tak terbatas agama, budaya, bangsa dan usia
Itu benar
tapi menurutku
Cinta tak boleh lepas dari logika dan etika
Cinta tak boleh menghalalkan segala cara
Satu nama terpatri di hati
Tetap saja sebuah penghianatan
Apa pun wujudnya itu
Ah sudahlah jangan berdiskusi tentang cinta
Karena pandangan kita berbeda
Biar kita simpan saja semua cerita kita
Di batas cakrawala

February 20, 2006

Untuk Minami

Filed under: Puisi Ku

KAU DAN AKU BUKAN KITA

Minami
Biarkan mereka berbicara tentang cinta dan masa depan
Bukan kita
Karena kau adalah kau, aku adalah aku
Bukan kita dan tak akan menjadi kita
Aku tahu
Pada bulan di atas apartemenmu, kamu bertanya
Dimanakah aku berada?
Pada angin yang berhembus dikaca jendelamu, kamu berpesan
Sampaikan salam rinduku
Pada burung yang bertengger di dahan bunga sakuramu
Kamu berkata
Sampaikan peluk ciumku
Di sini aku, di sana kamu, bukan kita
Tidak ada kita antara kau dan aku
Aku ingin menjadi burung di langit Osaka
Dan katakan semua ini padamu
Tapi apa katamu, ketika hal itu kusampaikan?
“ Baguslah kan kujadikan kamu santapan makan malamku”
Dasar kamu! Keras kepala!
Tapi baguslah, kan kututup saja catatan tentang kamu dihatiku!

February 15, 2006

Bumi Yang Luka

Filed under: Puisi Ku

BUMI YANG LUKA

Bulan di atas sana
tersenyum nyinyir melihat kita
bumi pun tampak kusam berjelaga

Bulan di atas sana
lelah membaca cerita tentang kita
lelah berharap ada lembar kasih yang tersisa
tetapi yang ada, hanya torehan luka berbalut dusta

Bulan di atas sana
mendekap bumi yang luka
pilu menangis di langit malam

Kerlip bintang memandangnya dengan iba
dengan sinarnya ia mencoba
bercerita tentang cinta
tapi bumi yang luka, bumi yang duka
hanya diam seribu bahasa

February 14, 2006

What’ s Valentine?

Filed under: Curahan Kalbu

Hari ini tanggal 14 Februari, anak-anak pada ribut ini hari valentine. Dasar ABG.
Aku sendiri nggak tahu kenapa valentine bisa marak di negri kita. Di mana-mana
serba merah jambu.

Yang jelas momen ini bagus banget buat dijadikan komoditi bisnis yang sasarannya ABG.
Peluang bisnisnya memang terbuka, sampai-sampai si Gita anakku ikut-ikutan menangkap
peluang ini. Seharian dia bikin coklat-coklat cantik. Dibungkus dengan unik pake pita merah
jambu atau merah, cantik sekali. Kata dia itu semua pesenan teman-temannya. jiwa bisnisnya
patut kuacungi jempol. tahun kemarin dia mendapat untung lebih dari 500 ribu rupiah
dari berjualan coklat. Lumayan lah buat nambah uang jajan katanya.
Tahun ini entah berapa keuntungannya. Anehnya aku sendiri tidak pernah mengajari dia
membuat coklat, entah tahu dari mana dia. Maju terus deh buat kamu Ta!

Kang Waw

Filed under: Curahan Kalbu

Nah ini dia teman baikku juga, tapi aku dan dia nggak pernah akur. Kalau deket pasti bawaannya ribut
melulu. Dimatanya aku tuh nggak ada bagusnya. Walau begitu dia guru IT ku yang paling sabar. Blog ini
juga dibuat atas bimbingannya.

Aneh ya, kita berdua nggak pernah akur, tapi kalau urusan kerja bisa kompak. Sayangnya untuk urusan
pribadi kami selalu memiliki persepsi yang berbeda. Itulah yang membuat aku dan dia sering beradu
argumen. Kang Waw menyebutku si bawel, aku sendiri memanggilnya Si Tukang Ngibul.

Ya dia kan guru sejarah. Menurutku semua guru sejarah ya tukang ngibul. Coba saja mereka sok iye men-
jelaskan tentang perang kemerdekaan, diponegoro, dunia 1 dan 2, kayak yang tahu aja, lihat aja nggak.
Makanya aku sarankan agar guru-guru sejarah ada dalam naungan Departemen Percenahan. Wah Kang
Waw marah besar kalo dikatain gitu ma aku. He…he…he… sory kawan, emang kenyataannya sih.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com