AKU BAHAGIA MENJADI SEORANG GURU
Aku kadang berpikir tentang jalan hidup yang kualami, kadang aku tidak
percaya, aku ini seorang guru, kok bisa ya? Ya…dulu aku sangat ingin menjadi seorang insinyur pertanian , hobiku bertanam bunga dan buah-buahan, membuat aku bercita-cita ingin menjadi petani sayur dan buah. Aku ingin sekali masuk SPMA. Sayang sekali ayahku memasukkan aku ke SPG dengan cara yang tidak fair. Aku dibohongi! Ayah bekerja sama dengan paman mendaftarkan aku ke sekolah guru. Aku yang waktu itu masih polos, sama sekali tidak menyadari bahwa sekolah tempatku mendaftar itu SPG. Aku nurut dan percaya saja ketika paman membawaku ke sana. Setelah testing hari keenam, waktu tes wawancara, baru aku tahu bahwa itu SPG. Itu karena sang penguji menanyai aku tentang alas an aku ingin jadi guru. Bisa dibayangkan betapa kecewanya aku waktu itu, dan tak habis-habisnya aku menyesalkan kebodohanku.
Seminggu lamanya aku tidak mau berbicara dengan ayahku, hari kedela –
pan ayahku menjelaskannya padaku. Aku sengaja dimasukkan ke sekolah guru
agar aku bisa jadi perempuan. Selama ini ayahku sudah pusing dengan tingkahku
yang selalu melakukan hal-hal yang tidak disukai ayah, seperti main sepak bola
layangan, terlibat perkelahian masal dan hal lain yang hanya pantas dilakukan oleh anak laki-laki. Ayah tidak mau anak perempuan satu-satunya ber-
perilaku seperti laki-laki. Catatan perilaku di sekolah yang sering dihukum guru
menambah profilku di depan ayah semakin ambruk. Ya kuakui, sudah tak terhitung berapa kali aku dihukum guru. Aku pernah di kurung di wc, dijemur di lapangan sambil menghormat bendera. Semua itu untuk kesalahan seperti kabur dari sekolah dengan cara menaiki benteng sekolah, mengganggu guru dan banyak lagi kelakuan yang membuat ayahku malu. Ya bagaimana tidak, ayah dan ibuku itu seorang kepala sekolah.
.
Aku tidak mau menerima alasan apa pun, aku tetap marah dan belajar seenaknya, kenakalanku di sekolah semakin menjadi-jadi. Di SPG aku sama sekali tidak mau disiplin, nilai midku hancur dan aku diancam akan dikeluarkan.
Untunglah disaat seperti itu, aku punya teman-teman yang sangat perhatian padaku. Amin Budiamin si aktifis Osis, Mamat si bodor, Ukar yang lugu, Yayu yang centil, Enny yang trendy, Ros yang melankholis, Tuti yang lembut, Wida yang sabar dan tentu saja Si Kapten Troy yang sering membuat hatiku berdebar.
Mereka semua memberi semangat padaku, mereka semua menyayangiku. Mereka yang membuktikan SPG bukan sekolah kampungan, SPG sekolah yang dijalin berdasarkan rasa kekeluargaan. SPG tempatnya orang-orang cerdas berada, jangan hancurkan reputasimu Reni! Itu yang selalu mereka katakan padaku.
Mereka mengajakku masuk organisasi. Pertama aku masuk pramuka, kemudian paduan suara, terus tari, musik dan akhirnya aku terpilih menjadi pengurus Osis. Ya aku akhirnya sadar, pilihan ayahku tidak salah. Berapa banyak orang yang mau masuk sekolah guru, tapi mereka semua kandas karena seleksi yang sangat
ketat, mereka jatuh pada tes wawancara. Betapa bodohnya aku bila aku menghacurkan semuanya.
Akhirnya aku sadar, manusia memeliki rencana, tapi Alloh yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Tiga tahun terlewati sudah dengan segala suka dan duka. Aku lulus dengan nilai bagus, bahkan masuk sepuluh besar siswa terba-
ik dari 180 orang siswa .Diberi pengharagaan dalam upacara penglepasan siswa,
sungguh aku sendiri tidak percaya itu bisa terjadi padaku.
Semua siswa yang lulus diberi SK pengangkatan pegawai negri, menjadi guru SD, tapi untuk 10 siswa terbaik, ada prioritas memilih yaitu : menjadi
guru atau memanfaatkan prioritas yang diberikan oleh PTN untuk kuliah tanpa
seleksi SPMB ( dulu istilahnya UMPTN ). Aku dan sepuluh orang temanku yang lain memilih masuk PTN, maklum waktu itu dari sekolah kejuruan tidak diperbo- lehkan langsung kuliah, karena harus ada masa kerja dulu, dua tahun. Nah dari pa-
da nunggu dua tahun, lebih baik mengambil kesempatan yang ada.
Alhamdulillah, inilah aku sekarang menjadi guru seperti harapan kedua orang tuaku. Aku pernah mengajar dari TK, SD, SLB, SMA, PT dan kini tercatat sebagai guru SMP. Tentu saja aku sudah lama berubah menjadi perempuan, ya sejak satu tahun setengah aku menjadi siswa di sekolah guru, aku tidak lagi senang bermain layangan, sepak bola, berkelahi, atau membawa sesuatu yang
aneh ke sekolah seperti katak, kecoa, ular, kelelawar, ulat bulu atau apa saja
yang bisa membuat anak perempuan takut. Kurasa saat ini sulit sekali mencari anak perempuan yang nakalnya seperti aku, tapi keuntungannya adalah selama hidup aku belum pernah diganggu oleh anak laki-laki. Mereka justru jadi sahabat aku. Aku kan pernah jadi sekretaris geng terkenal di SMP. Pengalaman itu sangat
berharga bagi tugasku sebagai guru. Aku sama sekali tidak mengalami kesulitan
dalam mengatasi senakal apa pun muridku. Apalagi bila mereka adalah murid laki-laki. Makanya dari pada punya masalah denganku, sepertinya murid-murid lebih baik bersahabat dan menjadi murid terbaik. Ya sejak aku jadi guru aku tak pernah melihat murid-muridku tidak hadir dalam pelajaranku, kecuali sakit atau ijin. Ah semoga dunia tahu, betapa bahagianya nya aku menjadi seorang guru
