/>

Semua Tentang Reni

February 4, 2006

SELAMAT ULANG TAHUN AYAH

Filed under: Curahan Kalbu

Hari ini 4 Februari, ayahku berulang tahun yang ke-70. Sebuah perjalanan yang sangat panjang telah ayah lalui. Penuh suka dan duka. Ayah bagiku engkaulah lelaki sejati dan figur yang sangat kudambakan di dunia ini.
Engkau cerminan jiwa yang penuh semangat dan cita-cita yang luhur. Kau besarkan aku dengan cinta,kasih sayang dan pengorbanan yang tiada taranya.

Aku masih ingat ayah, masa kecil yang indah bersama ayah. Aku yang sejak kecil tidak mengenal ibu, tumbuh bersama nenek yang cintanya begitu dalam. Rumah kita yang hampir roboh bagiku adalah istana yang terindah yang kumiliki. Aku bahagia di dalamnya, walau kau jarang ada di rumah. Setiap aku menyukai sesuatu
kau ajari aku untuk bisa melakukannya. Itu agar aku terbiasa hidup mandiri.

Suatu hari, kau bawa seorang wanita ke rumah, wanita mungil yang terlihat sangat intelek. Kau suruh aku untuk memanggilnya ibu, kalau tidak salah, lima tahun usiaku waktu itu. Aku tidak mengerti apa-apa aku senang saja memiliki seorang ibu. Esoknya aku dibawa pergi, dan tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama
ayah serta ibu. Ibu ternyata seorang guru, teman kerja ayah. Ibu sangat menyayangi aku. Masa berganti masa,
ayah bekerja keras tak kenal lelah, sampai akhirnya ayah bisa membangun sebuah rumah yang besar, rumah
kita yang hampir roboh itu pun, ayah bangun menjadi sebuah istana yang indah.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan pun menjelma tahun. Aku tumbuh menjadi gadis yang akhirnya dewasa dan harus menikah. Setelah menikah barulah aku tahu cerita yang sebenarnya. Ternyata
wanita yang selama ini merawat dan membesarkan aku itu bukan ibu kandungku sendiri. Ibuku berada jauh
entah di mana. Ayah berpesan janganlah membenci ibu kandungku, karena semua ini bukan salahnya. Tuhan
telah menggariskan setiap jalan hidup manusia.

Ya ayah, aku sangat mengerti, tapi setelah aku mendengar cerita ayah dan cerita mama yang datang ketika hari
pernikahanku, aku bisa menyimpulkan, kalian berdua saling mencintai. Mama dan ayah adalah dua sejoli yang tidak dapat terpisahkan. Perbedaannya hanyalah mama anak dari keluarga terkaya di desa kita, sedangkan ayah sebaliknya. Ayah hanya seorang guru yang harus membiayai dua saudara, dan satu orang ibu yang sudah tua. Keadaan seperti itu mungkin yang memicunya. Tidak ada yang salah. Kalian berdua harus berpisah. Aku dibawa oleh ayah waktu usiaku 6 bulan, diasuh dengan penuh kasih sayang oleh nenek dan saudara-saudara ayah yang lain.

Tragis, benar-benar tragis, tapi ayah kuat bagaikan batu karang. Peristiwa itu ayah jadikan cambuk untuk berjuang mengubah kehidupan. Lima tahun lebih ayah hidup sendiri membesarkan aku , sampai akhirnya ayah bisa menemukan seorang ibu untukku. Untukku kata ayah, bukan untuk ayah. Ayah, pasti ayah masih ingat, waktu kita berdua menjenguk mama yang sedang coma di rumah sakit. Ya mama mengalami kecelakaan, mobil yang ditumpanginya terguling ketika mama akan membagikan sumbangan kepada para korban Gunung Galunggung, dalam tugasnya sebagai ketua Persit. Waktu itu aku melihat ayah menangis, selama hidupku bahkan sampai detik ini baru kali itu aku melihat aya menitikkan air mata.

Di dalam mobil, waktu perjalanan pulang, sambil menyetir ayah berkata padaku, dalam hidup ayah hanya mama satu-satunya wanita yang ayah cintai. Ayah tahulah aku, kekecewaan selama ini telah ayah tumpahkan
pada kerja keras yang hasilnya luar biasa. Dari keluarga termiskin ayah berhasil menjadi keluarga terpandang
di desa kita. Ayah berprestasi pesat dalam karier, bahkan sempat menjadi kepala dinas, dan ketua diberbagai organisasi terutama koprasi. Aku ingatkan ayah waktu itu, ayah tak boleh lupa, ibu pun ikut berperan dalam kesuksesan ayah.

Ayah, aku bangga padamu! Kini di usiamu yang semakin senja, sering kudengar kau bangun tengah malam
bertafakur di atas sajadah panjang yang kuhadiahkan untukmu tahun lalu. Alquran, selalu setia menemanimu
Aku berjanji ayah, kisahmu tak akan terulang pada anak-anakmu. Aku sudah membuktikannya bukan? Betapa
bahagianya aku hidup bersama suamiku lebih dari 24 tahun. Dia sangat menyayangiku ayah, dia menjadikan aku sebagai belahan jiwanya, nafas hidupnya dan dia membuat aku menjadi diriku sendiri. Terimakasih ayah
ayah telah merestui dia sebagai suamiku. Akhirnya kuakhiri tulisanku ini dengan ucapan selamat ulang tahun ayah, semoga ayah panjang umur, tetap sehat, tetap berkarya dan tetap semangat. Satu nasihat ayah yang tak akan pernah aku lupa ” JANGAN PERNAH MENINGGALKAN SHALAT LIMA WAKTU ” . Sukses selalu buat ayah.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://renik.blogsome.com/2006/02/04/selamat-ulang-tahun-ayah/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com