MENGERTILAH PAPA
MENGERTILAH PAPA
Aku hanya bisa diam ketika semalam suamiku mengomeli Gita, karenapulang terlambat. Aku sudah menjelaskan, sebenarnya dia sudah pulang sekolah sejak pukul 13.00. Setelah selesai sholat ashar dia pergi lagi, katanya ada janji dengan seorang teman. Pukul 18.30 aku telpon ke Hpnya, dia ada di musholaIstana Plaza sedang sholat magrib. Jadi apa yang musti dikhawatirkan? Pukul20.00 dia baru pulang diantar temannya.
Suamiku tidak mau tahu dan tak mau mendengar alasan apa pun. DiaIngin Gita ada di rumah sebelum magrib. Shalat berjamaah dan mengaji seperti biasanya. Anak perempuan tidak boleh ke luar malam, apa pun alasannya.Ya, aku mengerti, untuk Gita perhatian suamiku sangat berbeda dari kedua
kakaknya. Mungkin karena dia anak perempuan. Khawatir terjadi sesuatuyang tidak diinginkan di zaman yang penuh dengan ranjau-ranjau kemaksiatan.
Ya, aku juga sering merasa khawatir, tapi di sisi lain kita juga sebagai orang tua harus bersikap bijaksana. Mereka anak-anak kita, tetapi bukan milikkita. Mereka milik sang waktu yang akan ikut mewarnai jaman. Merah atauhitam warna yang akan mereka poleskan, itu bergantung bagaimana kita memberi dasar arahan, perhatian dan pengertian.
Aku setuju, pendidikan agama menjadi dasar yang kuat dalam pembinaanahlak, tapi tidak boleh bersifat dogmatis. Agama untuk dipahami bukan untukditakuti. Itu yang ingin kutanamkan pada anak-anakku. Alhamdullillah sampai sejauh ini ketiganya tumbuh menjadi anak-anak yang kubanggakan.
Khusus buat Gita, seharusnya suamiku tahu. Dia kini sudah 17 tahun.Ibarat bunga ia adalah kuncup yang mulai mekar. Lihat di kamarnya, puluhanboneka beruang lucu, mawar-mawar kristal merah jambu, surat-surat indahpenuh sanjungan, semua itu dari teman-temannya yang menyayanginya.Wajar dan alamiah kan? Kenapa harus dimarahi? Apakah papa tidak tahuakhir-akhir ini wajah gita selau berseri-seri? Mungkinkah sudah ada tambatanhati atau apalah namanya, yang penting kita harus mencoba untuk mengertiberikan kepercayaan dan tanggung jawab padanya. Kita hanya bisa berdoadan menyerahkannya kepada Illahi untuk menjaganya. Semoga papa maumengerti.

Aku seorang laki-laki, bapak dari 3 anak perempuanku. Kehadiran (bukan memiliki) anak perempuan di jaman mana pun, selalu seperti “memegang barang yg mudah pecah”. Penuh kekhawatiran. Lalu bagaimana dengan mempunya anak laki-laki…? Demi Tuhan aku tak tahu gimana rasanya, sampai sekarang aku belum diberi kesempatan memiliki anak kandung laki-laki.
Anak emang bukan milik kita sebagai orang tua, bagi kita sebagai orang tua, anak adalah “kesempatan dan kemungkinan….”.
Comment by gibson — September 29, 2007 @ 7:44 am
aku anak yang kini berumur 19 tahun. ayahku belum pernah aku dapati memarahiku karena aku telat pulang karena selama ini alhamdulillah ayah masih percaya padaku dan mama juga demikian. namun kadang aku merasa, mengapa ayah tidak pernah marah jika aku sedikit bertingkah?aku kadang merasa tidak diperhatikan oleh mereka berdua. namun ketika ada sedikit perlakuakn yang berbeda dari biasanya, aku jadi merasa ditekan oleh orang tuaku yang membuatku ingin lari dari segalanya. kasih sayang yang mereka berikan padaku benar-benar tak bisa aku hargai dan tak bisa aku maknai karena aku selalu merasa kurang. ketika aku harus jauh dari orang tua, aku merasa kehilangan namun ternyata,disini aku menemukan pengganti orang tuaku. aku sering merasa bahwa apa yang kakak itu berikan padaku melengkapi apa yang tidak pernah orang tuaku berikan. kakak itu sering mengingatkanku untuk shalat, sebelum maghrib sudah harus ada di asrama, dan lain-lain. aku merasa semua itu orang tuaku belum pernah berikan. maaf jika apa yang aku utarakan melenceng dari apa yang telah ditulis diatas. aku hanya ingin sedikit berbagi dengan orang lain. bahwa aku ada di dunia ini.(ternyata…)
Comment by lily — November 27, 2008 @ 3:14 pm