HANYA SEBUAH KENANGAN
Melihat kau berdiri dihadapanku, dengan gaya seperti dulu
Terlintas kembali kenangan indah bersamamu
Senjaitu kau mengantarku pulang, kuberikan senyuman tulus
sebagai tanda ucapan terimakasihku
Tak kusangka, semua itu membuatmu menghitung panjangnya malam
Esoknya kau datang lagi dengan sekuntum mawar, aku tersenyum lagi
Kukatakan padamu ” Lihat, mawarku telah banyak, nih untukmu kuberi setangkai
mawar kuning, sebagai balasan mawar merahmu” Kau tersenyum manis sekali.
Kau katakan mawarku itu kau simpan di bawah bantalmu, agar aku selalu hadir
dalam mimpimu. Lucunya kamu.
Aku masih teringat satu kenangan manis denganmu
Sore itu kamu mengajakku nonton di braga sky
Aku tak tahu, kenapa kau pilih bioskop itu
Itu kan untuk orang-orang elit, sedangkan kita?
Kamu hanya seorang mahasiswa akademi maritim, yang masih dikirim
uang oleh orang tua sedangkan aku hanya seorang siswa kelas 3 SLA yang lugu
Kau masih ingat film apa yang kita tonton? Private Teacher !
Keluar dari bioskop, hari telah senja, kau ajak aku ke lobby savoy homan
untuk sholat magrib di musholanya. Kau yang jadi imam.
Ah ketika kita selesai sholat magrib dan akan pulang, seorang pelayan loby mempersilakan kita
untuk duduk di meja loby, dan menghidangkan menu makan malam
setangkai mawar kembali kau berikan padaku.
Kau tahu, selama aku makan, aku selalu berpikir, dari mana kau bisa traktir aku?
Itu terlalu mewah. Kau masih ingat? Tamu-tamu di loby? Mereka semua berpakaian mewah
para wanitanya bergaun sutra leher sabrina, sedangkan kita?
Kau memakai kaos oblong putih, celana jean lusuh dan sepatu cat. Aku? blouse putih
dan over all blue jeans, he..he..he… mereka semua memandang kita.
Kita tak peduli, selesai makan kita pulang naik bis kota, di dalam bis kita bernyanyi
tapi bukan lagu cinta, lagu tentang bis kota gubahan franky sahilatua.
Serasa kemarin semua itu terjadi, kini kau ada lagi di hadapanku, setelah sekian puluh tahun
kita tidak bertemu, ada senyum di sudut bibirmu, kamu masih seperti dulu.
Ah kenangan, hanya sebuah kenangan, kamu harus tahu itu.
Kita kini telah bahagia, apakah aku perlu menjawab pertanyaanmu padaku?
Jangan salahkan aku memilih dia, itu bukan masalah pertimbangan, tapi dia
yang datang pertama memintaku pada ayah dan aku tak tahu setelah itu
kau datang dengan maksud yang sama. Maafkan aku.
Kau memang kau, yang pandai memilih teman hidupmu, istrimu begitu cantik
dan anggun. Hanya satu yang membuat aku kecewa atas pertemuan kita kemarin
Ternyata kau masih mencintaiku. Gila kamu! Hanya itu jawabanku.
Bagiku semua itu tetap hanya sebuah kenangan, sekali lagi hanya sebuah kenangan.
Tak lebih dari itu.
