ANAKKU YA ANAKKU
Tulisan dengan latar pengalamanku ini, lahir karena terinpirasi oleh kasus Raju yang akhir-akhir ini mencuat di berbagai media massa kita. Yaa…melihat Raju yang me-
nangis ketakutan sambil memeluk ayahnya, sewaktu akan disidangkan, aku betul-
betul terharu. Aku jadi teringat anakku yang nomer dua ( sekarang sudah kuliah di
sebuah perguruan tinggi negri di kota Bandung ) Ya, kelakuan anakku waktu kecil
persis seperti Raju. Dia hiper aktif, gemar sepak bola dan berkelahi.
Sejak usia empat tahun rasa ingin tahunya mulai terlihat, dia ingin bisa membaca seperti kakaknya, tapi aku tidak menghiraukannya. Menurutku usia empat tahun
belum waktunya untuk belajar efektif. Aku ingin anakku berkembang secara alamiah.
Sampai pada suatu hari, ketika aku sedang asyik memasak di dapur, anakku duduk di kursi makan sambil membuka-buka buku bacaan milik kakaknya. Kudengar diamem
baca ‘Ini Budi ‘, ‘Ini ibu Budi’, Ini rumah Budi’ ‘Ini bapak Budi’. Akui heran dari
mana dia belajar membaca, belum habis rasa heranku tiba-tiba terdengar lagi suara anakku “ Budi dagang tahu”, Lho! Kok seperti itu membacanya? Perasaan kalimat itu tidak ada dalam buku. Penasaran kudekati dia, ternyata dia membaca dengan melihat gambar yang ada, bukan mengeja hurufnya. Dalam buku ada gambar orang yang sedang memikul jualannya, nah dalam pikiran anakku pasti itu gambar Budi,
kemudian menghubungkannya dengan tukang tahu yang sering lewat di depan rumah. Sementara dia tahu kata Budi, karena sering mendengar dari kakaknya ketika sedang belajar membaca. Akhirnya muncullah kalimat” Budi dagang tahu”
Usia 5 tahun aku memasukkannya ke TK yang jaraknya sekitar satu blok dari rumah.
Hanya butuh satu hari untuk diantar jemput. Selanjutnya dia ingin berangkat sendiri
Sayangnya dia hanya kuat satu bulan, setelah itu dia mogok sekolah. Aku tidak tahu
Apa sebenarnya yang terjadi pada anakku, maklum aku sibuk bekerja. Akhirnya de-
ngan segala kesabaran aku mencoba membujuk anakku agar mau bercerita. Alhamdullillah berhasil, inilah kata anakku.
Kata anakku, waktu gurunya menjelaskan tentang fungsi alat-alat tubuh seperti tangan
kaki, mata dsb, anakku bertanya tentang fungsi pantat, ibu guru tidak mau menjawab,
Akhirnya anakku bertanya pada teman-temannya, teman-temannya menjawab fungsi
pantat itu untuk kenttuuuuutttt. Bu guru marah dan anakku dibilang ngomong jorok.
Cerita yang kedua ketika guru mengajarkan tentang berhitung, anakku bertanya
mengapa berhitung itu harus dimulai dari satu bukan dari nol. Ibu guru tidak bisa
menjawab dengan baik malah membentak anakku untuk diam. Akhirnya anakku me-
nyimpulkan gurunya bodoh dan dia merasa diperlakukan tidak adil, akhirnya sekolah
bukan lagi tempat yang menyenangkan. Setiap aku bujuk untuk masuk lagi ke sekolah jawabannya selalu saja “ Aku tak mau belajar di TK, sebab gurunya centil
dan bodoh, aku tidak mau jadi anak yang bodoh”. Lebih dari sepuluh kali gurunya
juga datang ke rumah membujuk dia agar mau sekolah, tetapi dia tetap pada keputusannya tidak mau sekolah, malah jadi takut dan tidak mau bertemu dengan gurunya.
Akhirnya dia lah satu-satunya anakku yang tidak memiliki izajah TK.
Selama dia tidak sekolah, kerjanya hanya nongkrong di depan rumah, mengganggu
anak SMP dan SMA yang lewat untuk dikejar-kejar dan disingkapkan roknya. Atau
mengganggu anak-anak tetangga sebayanya agar mau berkelahi. Aku benar-benar harus ekstra ketat menjaganya, karena setiap kali dia keluar rumah pasti ada anak
tetangga yang jadi korban. Sudah lebih dari delapan orang anak tetangga yang kubawa ke dokter karena ulah anakku. Ada yang ditinju hidungnya, dipukul dadanya
bahkan di dorong ke kali. Untung tetanggaku baik semua.
Aku sering pusing dibuatnya, tapi tak sedikitpun terpikir untuk membawanya ke psikiater, sampai akhirnya aku bisa melihat sisi baik dalam dirinya, yaitu dia sangat
sayang pada anak-anak yang usianya di bawah dia. Akhirnya aku punya ide, kuundang anak-anak usia 2 s.d 4 tahun untuk bermain di rumah menemani dia. Alhamdullillah selesai sudah perjuangan ku membawa anak-anak tetangga ke dokter.
Ternyata bermain dengan anak-anak di bawah usianya membuat dia menjadi seorang pemimpin yang disegani dan dituruti semua kemauannya. Hal itu membuat dia merasa dihargai, sehingga dia membalasnya dengan perhatian dan kasih sayang pada
teman-teman kecilnya itu.
Menginjak usia tujuh tahun, kumasukkan dia ke SD, kebetulan pamanku yang menjadi kepseknya. Sengaja kumasukkan ke situ agar bisa terawasi. Ternyata dugaanku meleset, tiga tahun sekolah di situ, anakku malah semakin nakal. Semua
guru sudah angkat tangan menghadapinya. Anakku sering tidak mengikuti pelajaran.
Dia pergi ke tenganh sawah dengan mengajak teman-temannya untuk mencari belut
atau kodok buat menakut-nakuti anak perempuan. Pamanku menyarankan agar aku
memindahkannya.
Aku benar-benar bingung, kemana aku harus memindahkan dia. Beruntung aku jadi
guru SMP, aku mengadakan analisis kasus di sekolahku.Sampel populasinya kuarah-
kan pada murid-muridku yang rajin, pintar, disiplin dan bertanggung jawab. Aku
data semuanya dengan cermat, dari SD mana anak-anak itu berasal.
Alhamdullillah aku menemukan hasil yang signifikan antara sikap murid dan asal sekolah. Aku menemukan ada sejumlah muridku yang berasal dari sebuah SD, selama
tiga tahun bersekolah di SMP tidak memiliki catatan kasus negatif, bahkan anak
anak itu berprestasi semua, padahal anak-anak itu bukan anak terbaik di SD nya.
Akhirnya kuputuskan sekolah itulah yang kupilih.
Pilihanku ternyata tepat! Baru dua bulan anakku sekolah di sana, terjadi perubahan drastis. Bahasa kasarnya perlahan mulai hilang, sikapnya berubah terutama dalam disiplin belajar. Pulang sekolah tanpa disuruh dia mengerjakan PR, tidur siang teratur
Pakaiannya selalu bersih padahal sebelumnya tiap bulan aku harus membeli lebih dari lima stel seragam, karena tiap pulang sekolah selalu saja seragam itu kotor atau robek
Ya, aku bangga pada pimpinan sekolah itu yang menerapkan penekanan ahlaq, seni,
budaya dan agama pada para siswanya, yang semuanya diimplementasikan dalam
perilaku seluruh komponen sekolah. Akibatnya kepala sekolah dan guru-guru di sana
menjadi idola murid-murid. Anak-anak pun memiliki tanggung jawab yang besar
pada almamaternya. Tak heran bila SD Tunas Harapan menjadi sekolah terbaik di
Kota Bandung.
Sarana sekolah yang memadai, dari alat-alat kesenian, laboratorium bahasa sampai
pada multi media pembelajaran tersedia di sana. Anakku aktif di bidang seni, dia sering muncul di acara TV. Ahh aku terharu ketika di hari perpisahan sekolah,
Anakku menjadi perwakilan siswa untuk berpidato di depan teman-teman sebayanya,
para kepala sekolah dan kepala dinas. Dia mewakili teman-temannya menyampaikan
kesan dan pesan serta ucapan perpisahan. Aku betul-betul menangis karena bahagia.
SMP dan SMA dilaluinya dengan lancar. Di SMA bakat seni dan olah raganya sema-
kin menonjol. Dia tercatat sebagai personil band terbaik di sekolah yang banyak
menyumbangkan berbagai piala kejuaraan. Dia juga menjadi team inti sepak bola
yang mewakili sekolahnya ke Popda. Dia bisa masuk ke perguruan tinggi pun melalui
jalur PMDK ( Penelusuran Minat dan Bakat )
Kini dia sudah duduk di semester lima, tumbuh menjadi pemuda yang ganteng, berprestasi dengan IPK 3,75, dewasa dalam bertindak, tidak merokok, tetap eksis
di musik dan olah raga dan tentu saja taat pada agama.
Prestasi yang sudah diraihnya antara lain : juara debat dalam bahasa inggris,
Juara 2 gitaris terbaik tingkat Jabar, Stricker terbaik ketiga tingkat Jabar hasil
penilaian Indra Tohir mantan pelatuh Persib itu.
Yaa tulisan ini kutulis tanpa sedikitpun ingin menonjolkan diri, tapi ini hanya illustrasi
Mudah-mudahan terbaca oleh orang tua Raju, atau siapa saja yang memiliki anak dengan perilaku hiper aktif. Kita tak perlu kecil hati, anak adalah pribadi unik yang harus kita
hadapi dengan penuh kasih sayang, pengertian dan kesabaran. Jangan dengar apa kata
Hakim sialan itu mama Raju, anak Anda bukan anak yang nakal. Percayalah itu!
