CERITA BUAT DHIKA
Hallo Dika, nggak sangka kita bertemu di dunia cyber. Kamu mantan ketua Hima kampusku yang menertawakanku waktu aku dihukum senior disuruh merayu pohon cemara yang berjejer di kampus kita. Awas ya!O, ya Dik, ini cerita yang kujanjikan, baca saja tak perlu kau komentari, karena permasalahannya telah kita bahas dalam setiap percakapan kita.
Ceritaku dimulai tahun 2002, ketika ada pemilihan guru teladan(GT ) di kotaku. Aku adalah orang terakhir yang ditawari kepsek untuk mengikuti kompetisi itu. Hasilnya ternyata aku mampu menyisihkan36 orang pesaing dengan seleksi yang sangat ketat.
Selanjutnya aku ditunjuk oleh Kadis Kota untuk mewakili kotaku dalam pemilihan GT di tingkat Propinsi. Anehnya Kepsek tidak senang aku jadi juara. Ya perasaanku mengatakan demikian, itu bisa kulihat dari sikapnya ketika menerima berita itu. Dia juga tidak hadir ketika aku diundang untuk menerima penghargaan dari walikota pada peringatan hardiknas di balai kota. Aku hanya hadir berdua dengan muridku Achmad Ahyari yang juga menjadi murid teladan.
Seminggu menjelang pemberangkatan ke propinsi, aku dan teman-
teman sesama GT dari TK, SD dan SMA di undang Kadis ke ruang kerjanya
untuk diberi arahan dan juknis. Ada ucapan Kadis waktu itu pada kami
yaitu bila kami berhasil meraih juara 1 s.d. 3 di tingkat propinsi
kami akan diangkat Kepsek tanpa seleksi.Kata-kata Kadis kusampaikan
pada Kepsek. Dia hanya tersenyum dan aku tidak diijinkan cuti dua hari dari tugasku untuk mempersiapkan segalanya.
Aku benar-benar heran atas sikap Kepsek, puncaknya ketika aku
menyerahkan surat kelakuan baik untuk ditandatangani, dia uring-uringan
terus bicara begini “ Mudah-mudahan kelakuanmu di sana sesuai dengan
surat keterangan ini.” Dika, aku tersentak,terus terang kata-katanya
bagaikan petir di siang hari bagiku. Ya Tuhan, beribu pertanyaan
kuajukan pada diriku, apa gerangan yang telah kulakukan? Perasaan kelakuanku selama ini tidak ada yang salah. Sikapku di luar sekolah pun tidak ada yang salah. Sejak usiaku 25 tahun aku dipercaya masyarakat
Untuk menjadi ketua PKK, koordinator pengajian, dan Pembina remaja
Karang Taruna. Jadi GT juga sama sekali bukan keinginanku.
Ah, waktu itu aku ingin marah dan menampar Kepsek, tapi yang keluar dari mulutku hanyalah kata-kata” Kalau Bapak merasa saya ini
berkelakuan buruk, kenapa diusulkan jadi GT? Sekarang terserah Bapak
kalau ragu pada kelakuan saya, saya tak akan pergi.” Dia hanya diam.
Aku pun pergi meninggalkan ruangannya dan bertekad takan pergi ke
Propinsi. Untunglah para senior dan para sahabat menyadarkanku untuk terus maju, karena tugasku sudah bukan tugas sekolah lagi tapi tugas
Kota.
Akhirnya aku pergi dengan hati yang gundah. Aku pergi dian-
tar Kabid Budaya setelah selesai mengikuti upacara pelepasan.Pak Kadis berpesan jadilah Sang Juara! Bawa nama baik kota Cimahi!
Dika, aku mengikuti kompetisi itu betul-betul dengan perasa-
an yang resah karena sikap Kepsek! Selama di karantina perasaanku
gelisah dan serba salah, mana kompetisi di tingkat propinsi lebih
ketat, terutama disiplin diri dan kepribadian. Wahh ketawa keras
nggak boleh, marah-marah nggak boleh, makan dan berjalan harus anggun
sabar dan toleran antar teman harus selalu terbina,sementara aku mera-
sa mentalku sedang ngedrop. Aku benar-benar stress!
Walau pun begitu aku berusaha untuk tampil sebaik mungkin.
Dialog interaktifku dengan Kadis Propinsi berjalan lancar, demikian
pula permainan gitarku pada pentas seni berjalan sukses. Seminggu
lamanya aku dikarantina bersama 98 orang guru dari TK s.d. SMA se-
Jabar, sampai akhirnya saat pengumuman pemenang, aku hanya keluar sebagai guru faforit pilihan para peserta saja.
Aku sudah cukup senang dengan hasil seperti itu, tapi semua
peserta merasa heran atas kekalahanku. Mereka protes pada panitia,
tapi keputusan juri tidak bisa diganggu gugat. Yaa menurutku wajar
dong aku kalah, toh teman-teman sekamarku juga dari Sukabumi, Bogor
Bekasi, Cianjur dan Garut tidak ada yang menang, padahal reputasi
Mmreka sudah tingkat nasional. Aku nggak ada apa-apanya dibanding
mereka. Apalagi temanku yang namanya Kristina dia tuh koordinator
pelaksana upacara bendera di istana negara.
Akhirnya walau aku tidak jadi juara, teman-teman sepakat
menunjukku menjadi wakil mereka untuk menyampaikan kesan dan pesan
pada malam perpisahan. Wahhh Dik, jadinya aku pidato deh di depan
Bapak Gubernur, Para wali kota, bupati dan puluhan wartawan.
Kata teman-teman wajahku muncul di TV dan Koran-koran, he..he..he
Jadi artis ceritanya. Oh ya apa coba pesan yang kusampaikan di depan para pejabat yang terhormat? Ya hanya tiga” Hargai jasa guru, ganti
Istilah GT, jadikan pemilihan GT sebagai momentum peningkatan kualitas SDM dan jadikan bahasa Sunda sebagai salah satu alat seleksi GT di Jabar.”
Selesai acara aku pulang,eh baru saja mau naik ke mobil, koordinator pelaksana menjabat tanganku dan berkata”Bu, maafkan saya, seharusnya Ibu jadi juara, sekali lagi maafkan saya” Aku hanya tersenyum, kuanggap itu hanya guarauan semata untuk menghiburku.Aku sama sekali tidak memikirkannya.
Belakangan muncul isue-isue, Kepsek telah mengatur segalanya
menghandel orang-orang tertentu untuk menjatuhkan aku. Dia tak mau aku
menang. Alasannya karena aku termasuk salah seorang guru yang berani
mengeritik dia di sekolah. Jadi di matanya mengeritik kebijakan Kepsek
Jauh lebih besar dosanya dari pada mengganggu istri orang, memanipulasi
uang sekolah, melakukan kolusi dan nepotisme dalam pemilihan Kepsek.
Menurut isue pula, kalau aku menang maka satu dari empat calon yang ada
harus ada yang gugur, padahal mereka semua sudah keluar uang puluhan juta rupiah dan semua itu kepsekku yang mengurusnya.
Aku tidak percaya pada isue murahan seperti itu Dik. Masa seorang ayah tega menghancurkan karier anaknya. Dia kan guruku
Waktu aku SMP dulu.
O..ya , lalu apa yang kulakukan mendengar semua itu? Tidak ada, karena memang aku tidak percaya. Tapi sebagai manusia aku tentu ada rasa ragu, jalan keluarnya ya hanya bisa berdoa saja. Aku minta pada Tuhanku, bila isue itu benar mohon Tuhan memperlihatkannya padaku dan memberiku ketabahan.Bila isue Itu salah aku mohon Tuhan memaafkan para penyebar isue dan aku yang selalu ragu.
Tak kusangka, enam bulan setelah peristiwa itu, Kepsekku terusir
dari sekolah karena didemo terus-terusan oleh para guru yang sudah muak dengan kebijakan dan sikapnya yang arogan. Di sekolah baru dia pun
tak henti ditimpa masalah. Dika pernah dengar tentang bocornya UAN di kota Cimahi pada tahun 2004? Nahh.. SMP yang dipimpinnya itu lah yang
menjadi sumber permasalahannya. Aku dengar dia bolak-balik DPR, Dinas dan kepolisian untuk membereskannya.Puluhan juta katanya habis untuk
mengurus semua itu dan membeli nama baik. Belum lagi kelakuannya yang
membuat namanya semakin jatuh di mata sesama Kepsek. Apakah aku senang
mendengar semua itu? Tidak Dika, justru tiap waktu aku berdoa agar dia
diberi kekuatan lahir dan batin menghadapi cobaan itu. Ya seburuk-buruknya dia, dia sudah kuanggap ortuku sendiri.Dia kan pernah jadi guruku.
Bagaimana dengan aku? Ah sebagai gantinya Tuhan memberi seorang
Ibu untuk memimpin sekolah ini. Ya Ibu Hj. Tati Artati Andaya. Dia idolaku, sumber infirasiku, guruku dalam kehidupan. Dia wanita yang
Cerdas, tegas dan berpandangan maju, sayang kini dia telah pensiun.
Atas dorongannya bukuku yang pertama berjudul “ DIMENSI PEMBELAJARANBAHASA INDONESIA UNTUK SMP “ terbit. Kini sudah cetakan yang ketiga Dik.
Itulah ceritaku Dik,kini walau aku tak jadi kepsek, aku bahagia
punya pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku. Pengalaman jadi GT
berpidato di depan para pejabat di atas podium yang penuh dengan kehormatan, bergaul dengan guru-guru terbaik sejabar. Aku yakin tidak
Semua guru bahkan kepsek mengalami hal itu. Subhanallah betapa sayangnya Tuhan padaku.

Hidup memang tidak selalu berjalan sebagaimana yang diangankan. Akan tetapi sikap lapang dada dan jiwa besar dan berpikir positif (positive thinking) dalam menerima apa yang kita peroleh akan membuat semuanya terasa nikmat dan berharga. Sikap dan cara berpikir yang dalam istilah agama, disebut dengan syukur.
Comment by gibson — September 30, 2007 @ 5:53 pm