ELEGI NEGRIKU DALAM SEBUAH SATIRE
Hari ini telah terbaca, tentang banjir dan gajah mati.
Gempa bumi dan marak korupsi, harga-harga tinggi!
Berita-berita selalu, berkisar pada bencana
Dimanakah kebahagiaan, katakana padaku!
Halaman pertama penderitaan dan perang saudara
Mana halaman kita.
Buang saja semua Koran, kuncikan pintu-pintu
Bukalah catatan diri sendiri, di sanalah hati nurani.
Selamat pagi negriku! Kamu pasti tahu, kalimat di atas adalah lirik lagu
yang sering kudengar di tehun 80-an. Itu lagunya Franky sahilatua. Aku suka
Franky yang selalu cermat membidik masalah social dengan irama countrynya.
Ia sangat intuitif.
Saat ini lagu itu sudah tidak terdengar lagi, tapi isi liriknya tetap ada
dalam kenyataan hidup negriku. Berarti sudah 26 tahun, Engkau ini tanpa peru-
bahan. Ya, itu bila kuhitung dari mencuatnya lagu itu. Bencana demi bencana
penderitaan demi penderitaan terus menderamu, bagai derasnya air hujan di
bulan April ini. Ironisnya, rakyat kecil lah yang selalu menjadi obyek penderita,
sementara para penentu kebijakan di negri ini hanya bias berpolemik di layar
kaca atau media massa, sambil tak henti berkata “ Kami ikut berduka cita “.
Lalu apa hubungannya denganmu? ( Itu mungkin pertanyaan yang
kauajukan padaku, negriku ) Jelas ada! Aku seorang guru, tiap hari berdiri di
depan kelas memberi setumpuk ilmu untuk murid-muridku. Setiap waktu ku-
lihat wajah-wajah lugu mereka dalam tawa, canda dan duka. Setiap waktu pula
selalu muncul sebuah tanya di kelasku “ Ibu, benarkah negriku ini kaya?”
Apa coba yang harus kujawab pada mereka? Sementara aku tahu, banyak
muridku yang tak mampu membeli buku, tak mampu membeli baju, bahkan
makan pun kadang berselang waktu.
Negriku, negriku! Apa gerangan yang terjadi padamu? Haruskah aku
berbohong pada muridku? Haruskah kukatakan Engkau tak mampu? Padahal
mereka juga tahu ada emas di Freeport, ada minyak di Cepu dan kekayaan lainnya
yang tersebar dipelosokmu.
Mereka bertanya, kemana semua itu? Kucoba memberi jawaban sebatas
Pengertianku.
“ Anak-anak, semua itu ada dalam gedung sekolahmu, buku – buku perpustakaan
laboratorium, lapang basketmu, ya singkatnya semua itu ada di dalam semua
sarana dan prasarana sekolahmu yang selalu kalian gunakan setiap waktu!”
“ Lho, bukankah itu dari orang tua kami Bu?”
Tuh! Aku jadi bingung lagi! Apa yang harus kujelaskan? Mereka terlalu
lugu untuk menerima cerita sesungguhnya tentangmu. Aku takut bila semua itu
kukatakan, mereka akan bercerita pada dunia tentang ‘ Malu aku jadi orang indo-
nesia’ Seperti yang tertulis dalam puisinya Pak Taufik Ismail itu.
Coba kalau hal itu terjadi, mau jadi apa negri ini, padahal di pundak me-
rekalah tersimpan masa depan bangsa. Merekalah nanti yang akan menjadi
nakhoda di negri ini. Kita tentu tidak mau kapal karam sebelum nakhoda datang.
Untuk itulah, aku dengan segenap kemampuanku berusaha mempersiapkan
mereka, menjadi nakhoda tangguh yang siap menghadapi gelombang.
Namun aku ragu, siapa saat ini yang akan menjaga kapal? Agar tidak
karam karena lapuk dimakan rayap dan tikus nakal. Memang aku mendengar
saat ini sedang gencar-gencarnya pemberantasan rayap dan tikus di tubuhmu.
tapi benarkah rayap-rayap dan tikus-tikus perusak kapal akan bisa dimusnahkan?
Bisakah gigi-giginya yang runcing ditumpulkan? Sepertinya mereka terlalu kuat!
Mereka yang hanya menganggap Sang Pemberantas sebagai kucing-kucing
ompong yang tak sanggup menggigitnya, apalagi menghancurkannya.
Lalu kita harus bagaimana? “ Berdoa saja “ ( Kamu membisikkan itu
ke telingaku ) Berdoa? Masih maukah Tuhan mendengar doa kita? Dikala
petunjuk dan hukumNya tak lagi jadi acuan? Dikala semua hati telah berpaling?
‘Ajak saja semua muridmu untuk berdoa! Mudah-mudahan kesucian
hati mereka dapat mempercepat sampainya doa ke arsy “ ( Kembali suaramu
terdengar ) Ya, baiklah akan kucoba lakukan itu! ( Tapi belum sempat semua
Itu kuutarakan, tiba-tiba seluruh murid kudengar bernyanyi untukku)
Terimakasihku kuucapkan, pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti
Setiap hariku, dibimbingnya, agar tumbuhlah bakatku
Kan kuingat selalu, nasehat guruku
Terimakasihku bu guru
Aku betul-betul terharu, itu adalah lagu terindah untukku, cetusan hati
yang tulus dari murid-muridku. Bagiku itu jauh lebih berharga dari terbitnya
Undang-Undang Guru atau apapun yang berhubungan dengan kesejahteraan
guru, yang konon katanya tinggal menunggu waktu. Waaahhh kalau berbicara
soal guru, kamu pasti lebih tahu! Tak ada waktu yang pasti untuk guru! Guru
di negri ini hanyalah bagian dari elegimu! Elegi negriku!
Eh, mengapa kamu menangis negriku? Apa yang terjadi padamu?
Tak kuatkah Engkau mendengar cerita tentang guru? Hei jangan cengeng!
Bagaimana bisa kusandarkan hidupku padamu kalau kamu cengeng?
Berhenti! Berhentilah menangis negriku! Tatap aku dengan berani!
( Dari kejauhan sayup kudengar sebuah lagu mengalun merdu…, syahdu..
Namun …..pilu ! )
Kulihat ibu pertiwi, sedang besusah hati
Air matanya berlinang, mas intan yang kau kenang
Hutan gunung sawah lautan, timbunan kekayaan
Kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa
