/>

Semua Tentang Reni

April 26, 2006

ELEGI NEGRIKU DALAM SEBUAH SATIRE

Filed under: Curahan Kalbu

Hari ini telah terbaca, tentang banjir dan gajah mati.
Gempa bumi dan marak korupsi, harga-harga tinggi!
Berita-berita selalu, berkisar pada bencana
Dimanakah kebahagiaan, katakana padaku!
Halaman pertama penderitaan dan perang saudara
Mana halaman kita.
Buang saja semua Koran, kuncikan pintu-pintu
Bukalah catatan diri sendiri, di sanalah hati nurani.

Selamat pagi negriku! Kamu pasti tahu, kalimat di atas adalah lirik lagu
yang sering kudengar di tehun 80-an. Itu lagunya Franky sahilatua. Aku suka
Franky yang selalu cermat membidik masalah social dengan irama countrynya.
Ia sangat intuitif.

Saat ini lagu itu sudah tidak terdengar lagi, tapi isi liriknya tetap ada
dalam kenyataan hidup negriku. Berarti sudah 26 tahun, Engkau ini tanpa peru-
bahan. Ya, itu bila kuhitung dari mencuatnya lagu itu. Bencana demi bencana
penderitaan demi penderitaan terus menderamu, bagai derasnya air hujan di
bulan April ini. Ironisnya, rakyat kecil lah yang selalu menjadi obyek penderita,
sementara para penentu kebijakan di negri ini hanya bias berpolemik di layar
kaca atau media massa, sambil tak henti berkata “ Kami ikut berduka cita “.

Lalu apa hubungannya denganmu? ( Itu mungkin pertanyaan yang
kauajukan padaku, negriku ) Jelas ada! Aku seorang guru, tiap hari berdiri di
depan kelas memberi setumpuk ilmu untuk murid-muridku. Setiap waktu ku-
lihat wajah-wajah lugu mereka dalam tawa, canda dan duka. Setiap waktu pula
selalu muncul sebuah tanya di kelasku “ Ibu, benarkah negriku ini kaya?”

Apa coba yang harus kujawab pada mereka? Sementara aku tahu, banyak
muridku yang tak mampu membeli buku, tak mampu membeli baju, bahkan
makan pun kadang berselang waktu.

Negriku, negriku! Apa gerangan yang terjadi padamu? Haruskah aku
berbohong pada muridku? Haruskah kukatakan Engkau tak mampu? Padahal
mereka juga tahu ada emas di Freeport, ada minyak di Cepu dan kekayaan lainnya
yang tersebar dipelosokmu.

Mereka bertanya, kemana semua itu? Kucoba memberi jawaban sebatas
Pengertianku.
“ Anak-anak, semua itu ada dalam gedung sekolahmu, buku – buku perpustakaan
laboratorium, lapang basketmu, ya singkatnya semua itu ada di dalam semua
sarana dan prasarana sekolahmu yang selalu kalian gunakan setiap waktu!”
“ Lho, bukankah itu dari orang tua kami Bu?”

Tuh! Aku jadi bingung lagi! Apa yang harus kujelaskan? Mereka terlalu
lugu untuk menerima cerita sesungguhnya tentangmu. Aku takut bila semua itu
kukatakan, mereka akan bercerita pada dunia tentang ‘ Malu aku jadi orang indo-
nesia’ Seperti yang tertulis dalam puisinya Pak Taufik Ismail itu.

Coba kalau hal itu terjadi, mau jadi apa negri ini, padahal di pundak me-
rekalah tersimpan masa depan bangsa. Merekalah nanti yang akan menjadi
nakhoda di negri ini. Kita tentu tidak mau kapal karam sebelum nakhoda datang.
Untuk itulah, aku dengan segenap kemampuanku berusaha mempersiapkan
mereka, menjadi nakhoda tangguh yang siap menghadapi gelombang.

Namun aku ragu, siapa saat ini yang akan menjaga kapal? Agar tidak
karam karena lapuk dimakan rayap dan tikus nakal. Memang aku mendengar
saat ini sedang gencar-gencarnya pemberantasan rayap dan tikus di tubuhmu.
tapi benarkah rayap-rayap dan tikus-tikus perusak kapal akan bisa dimusnahkan?
Bisakah gigi-giginya yang runcing ditumpulkan? Sepertinya mereka terlalu kuat!
Mereka yang hanya menganggap Sang Pemberantas sebagai kucing-kucing
ompong yang tak sanggup menggigitnya, apalagi menghancurkannya.

Lalu kita harus bagaimana? “ Berdoa saja “ ( Kamu membisikkan itu
ke telingaku ) Berdoa? Masih maukah Tuhan mendengar doa kita? Dikala
petunjuk dan hukumNya tak lagi jadi acuan? Dikala semua hati telah berpaling?

‘Ajak saja semua muridmu untuk berdoa! Mudah-mudahan kesucian
hati mereka dapat mempercepat sampainya doa ke arsy “ ( Kembali suaramu
terdengar ) Ya, baiklah akan kucoba lakukan itu! ( Tapi belum sempat semua
Itu kuutarakan, tiba-tiba seluruh murid kudengar bernyanyi untukku)

Terimakasihku kuucapkan, pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti

Setiap hariku, dibimbingnya, agar tumbuhlah bakatku
Kan kuingat selalu, nasehat guruku
Terimakasihku bu guru

Aku betul-betul terharu, itu adalah lagu terindah untukku, cetusan hati
yang tulus dari murid-muridku. Bagiku itu jauh lebih berharga dari terbitnya
Undang-Undang Guru atau apapun yang berhubungan dengan kesejahteraan
guru, yang konon katanya tinggal menunggu waktu. Waaahhh kalau berbicara
soal guru, kamu pasti lebih tahu! Tak ada waktu yang pasti untuk guru! Guru
di negri ini hanyalah bagian dari elegimu! Elegi negriku!

Eh, mengapa kamu menangis negriku? Apa yang terjadi padamu?
Tak kuatkah Engkau mendengar cerita tentang guru? Hei jangan cengeng!
Bagaimana bisa kusandarkan hidupku padamu kalau kamu cengeng?
Berhenti! Berhentilah menangis negriku! Tatap aku dengan berani!
( Dari kejauhan sayup kudengar sebuah lagu mengalun merdu…, syahdu..
Namun …..pilu ! )
Kulihat ibu pertiwi, sedang besusah hati
Air matanya berlinang, mas intan yang kau kenang

Hutan gunung sawah lautan, timbunan kekayaan
Kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa

April 25, 2006

PUISI-PUISI KEUR NU DI AUSSI

Filed under: Curahan Kalbu

CARITA DINA SAJAK

Aya hariring na hate kuring
Galindengna parat mapay peuting
Mepende hate nu simpe

Duh jungjunan
Naha anjeun, mentangkeun jamparing asih lain wanci

Ulah kitu, urang ulah nyieun carita dina sajak
Bisi aya cak-cak bodas,nguar-nguar jadi sasakala
Malum sifatna jalma
Padahal urang mah maya

CEUK ANJEUN

Kuring kungsi tumanya
Kunaon kecap cinta jeung deudeuh
Sok murudul di dunya maya?

Ih, atuda naon hesena, tiba nulis!
Kitu ceuk anjeun harita

Eta jawaban, natrat pageuh dina hate
Nepi ka ayeuna, keun keur sampeureun jaga
Bisi hiji waktu aya jamparing asih
Nu nyasar nembus ka kuring
Tah eta teh, tiba carita
Sakumaha ceuk anjeun tea

SAJAK KURING

Sajak kuring sajak keur anjeun
Nu kaluar tina galura rasa
Pek ku anjeun gera titenan

Sajak kuring sajak keur anjeun
Nu didangding na jemplingna peuting
Na gelikna sora suling jeung jentrengna kacapi asih

Sajak kuring sajak keur anjeun
Haturan tilam katineung
Keur maturan nu teuneung ludeung
Ngumbara di nagara deungeun
Sajak kuring sajak keur anjeun
Teundeun dina handeuleum, tunda dina hanjuang
Bisi anjeun pareng ninggalkeun

KEBAHAGIAANKU

Dulu, waktu aku jadi anak
Kebahagiaan, ketenangan dan kedamaianku
Ada pada pada senyum ibu, di senyum itu
Ada rumah yang kubersihkan, ada adik yang kumandikan
Ada makanan yang kusiapkan,ada bunga yang kutanam
Dan kusirami
Tanpa semua itu, ibuku takan tersenyum

Kini setelah aku jadi ibu
Kebahagiaan, ketenangan dan kedamaianku
Ada pada senyum anak-anak dan suamiku
Di senyum itu
Ada pengertian yang kuberikan, ada kesabaran
Yang kusiapkan
Ada makanan dimeja makan dan sedap malam di kamar
Tanpa semua itu, anak dan suamiku takan tersenyum

Ah, mengapa kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian
Tidak ada pada senyumku sendiri?

April 21, 2006

INI TULISAN GITA ANAKKU

Filed under: Curahan Kalbu

SURAT IMAGINER BUAT IBU KARTINI

Ibu Kartini yang kucintai, malam ini di tengah mumetnya kepalaku oleh rumus
rumus kimia, fisika dan matematika, aku teringat padamu. Kucoba menulis
surat untukmu. Mudah-mudahan ini jadi pengobat rindumu padaku.

Apa kabar Ibu?
Seabad jarakmu dariku, namun tak membuat aku lupa dirimu yang kukenal
lewat sebuah buku sejarah bangsaku dan sebuah lagu tentangmu di masa kecilku.

Ibu, aku merasa semakin dekat denganmu ketika kukenal lagi Engkau lewat
kumpulan suratmu ” Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ah, ada satu surat yang menarik hatiku.Ya, sebuah surat yang kaukirimkan untuk Nyonya Abendanon. Di situ Ibu menulis kalimat sepereti ini, ” Aku renungkan tenang-tenang dan di luar sekelilingku,amatlah banyaknya orang yang menderita dan sengsara hidupnya! Seolah tiba-tiba udara gemetar karena
suara menjerit mengerang dan mengeluh. Suara manusia yang menderita itu dan lebih keras lagi dari pada mengerang dan mengeluhitu, meribut, menderas bunyi suara kedalam telingaku.
Ikhtiar! Ikhtiar! Belajarlah membebaskan diri” ( Armyn Pane : 118 )
Aku bayangkan, bagaimana hebatnya gejolak hatimu untuk menolong kaummu di masa itu.

Ibu, ikhtiar itu kini telah menjelma menjadi hasil.
Lihatlah, apa yang tidak bisa dilakukan oleh kaum wanita saat ini?
dari sopir bus kota sampai presiden, wanita bisa melakukannya.
Tapi Bu, ada satu hal yang tidak kumengerti, ternyata masih ada kaum wanita yang ingin tetap hidup dalam kegelapan! Mereka tenggelam dalam era megapolitan. Mode dan hura-hura jadi acuan hidupnya.

Duh Ibu, pernah kubaca pula dalam Undercover Jakarta karyanya Muhamad Emka,di sana kulihat wanita tak lebih dari sepotong kue black forres atau brownis aneka rasayang dipajang dan dijual aneka harga.
Belum lagi di sebuah media cetak khusus pria, di sanakulihat wanita dipajang bak boneka tanpa busana.

ibu, aku percaya, itu pasti bukan bagian dari harapanmu. Itu mungkin hanya sebuah kontraindikasi dari emansipasi. Iya kan Bu?

Ah Ibu, malam telah begioni larut, rupanya aku harus mengakhiri suratku. Hanya ini yang bisa kutulis untukmu. Maafkan bila aku mengganggu tidur tenangmu. Selamat malam Ibu.
Insya Allah kan kuteruskan perjuanganmu.

Peluk cium nanda

April 18, 2006

MY FAFORIT SONG

Filed under: Curahan Kalbu

Setiap guru di sekolahku, punya lagu kebangsaan yang biasa dinyanyikan
pada even-even tertentu, seperti perpisahan atau acara silaturahmi. Cucokrowo misalnya itu lagunya kepsek, Goyang Dombret itu punya Bu Sri,
Kisah sedih di Hari Minggu itu lagunya Bu Eni, Widuri itu lagunya Pak Edeng. Naahhh lagu kebangsaanku adalah ‘Ling-Ling’ sebuah lagu berirama mandarin.Ya itu lagu wajib yang harus aku nyanyikan dengan diiringi keyboard oleh Kang Amas, Kang Ate Atau Kang Yanto.

Tidak semua orang tahu, kenapa aku menyukai lagu itu. Ah pokoknya special banget. Bagiku lagu itu seolah menyimpan kisahku di masa lalu.
Ya, ceritanya waktu aku berusia 15 tahun, aku jatuh cinta pada seorang
yang bernama Lieng, dia anak keluarga Liem tetanggaku. Om Liem adalah teman baik keluargaku. Ia sangat akrab dengan ayah, mungkin karena rekanan bisnis dan sama-sama suka bridge. Om Liem sangat baik, waktu
rumah kami terbakar, Om Liem lah yang meminta kami tinggal di rumahnya yang besar sampai rumah kami selesai diperbaiki.

Naahh, Lieng teman bermainku sejak kecil ( sejak usia 7 s.d. 15 aku tinggal di Jln. Jen. Sudirman ) temanku yang lain adalah : Devi, Li Mey, Grace, Fu Hau dan Stefanie (Noni) adiknya Lieng. Lieng di mataku adalah seorang yang sangat tampan. Ia atletis, tinggi, putih, berhidung mancung, mata agak sipit, dan berbibir tipis. Sayang sekali, tidak hanya aku yang naksir dia, Li Mey, Devi dan Grace juga ngebet. Akhirnya cintaku pada Lieng kusimpan
saja di dalam hati.

Ya, aku nyerah deh. Aku nyadar diri bila dibanding mereka bertiga yang feminin, cantik dan modis, aku tuh nggak ada apa-apanya. Aku tuh udah tomboy, nakal lagi, mana mau Lieng padaku. Aku hanyalah seekor itik buruk rupa dimatanya.

Aku sering iri pada mereka bertiga, yang bila pedekate ma Lieng, mereka selalu memberi hadiah cantik seperti: kue-kue lezat buatan sendiri, saputangan yang disulam sendiri, gantungan kunci cantik dan apa saja
yang sifatnya hasil keterampilan cewek. Aku kan nggak bisa bikin semua itu. Aku hanya bisa ngasih Lieng, seekor anak ayam atau ikan manfis dan
ganggang air yang kuambil dari sebuah lubuk sungai di ujung kampung.

Untunglan Noni sangat senang berteman denganku. Karena dia aku jadi bisa dekat dengan Lieng. Aku sering main ke rumah Noni dan tentu saja jadi bisa
melihat Lieng lebih dekat. Suatu hari aku, Noni dan Lieng bermain di kamar Lieng. Eh, aku melihat ikan manfis dan ganggang air pemberianku
disimpan khusus oleh Lieng di dalam aquarium bundar yang ditempatkan
di atas meja belajarnya. Ah ternyata Lieng suka hadiahku. Duh senengnya
aku. Tak sia-sia aku menyelam ke dasar lubuk buat dapetin ikan itu. Thanks Lieng.

Suatu hari aku dapat kejutan. Lieng mengundangku ke pesta ultahnya yang ke-17 yang diadakan malam hari di rumahnya.Seharian aku memilih baju,
ayah dan ibuku tak henti menertawakanku. Ya aku kan tak punya gaun!
Akhirnya kupakai celana cutbray kuning senada dengan blousnya yang ber-
kerah baby, bertangan balon. Rambut dikepang dua pake pita kuning,
Kuperhatikan diriku di cermin, he..he..he.. persis dakocan! Tapi ya mo
diapakan lagi. Itulah pertama kali aku ke pesta. usiaku 15 tahun kurang.

Di pesta, aku benar-benar ingin nangis! Semua teman Lieng berdandan
begitu cantik dan anggun. Aku benar-benar si itik buruk rupa! Tak ada
satu pun yang berpakaian seperti aku! Aku ingin pulang! Tapi tante, Om Liem, Noni dan Lieng begitu ramah menerimaku.

Ketika acara pesta dimulai, aku tak percaya Lieng memilihku menjadi teman pertama yang berdansa dengannya! Sebuah kejutan yang membuatku hampir pingsan! Aku melihat tatapan penuh cemburu teman- teman Lieng.
Aku berdansa dengannya, tinggiku yang hanya sedadanya membuatku membenamkan kepalaku ke dadanya, aku menangis di sana! Itulah
pertama kali aku dipeluk cowok!

Kejutan yang kedua adalah ketika aku mengundang dia di ultahku yang ke-15. Ya waktu itu ayahku mengadakan syukuran, bisnisnya sukses, bertepatan dengan hari ultahku tanggal 26 juli. Ibu memakaikan aku gaun
yang namanya longdress. Model draverry, berwarna kuning emas. Rambutku digulung ke belakang, diberi hiasan bunga sakura. Seluruh keluarga dan teman-teman mengatakan aku cantik sekali! Tapi sumpah!
Aku sendiri merasa aneh dengan gaun seperti itu, serasa bukan diriku.

Lieng datang dengan tuxedo hitam berdasi kupu-kupu, ditangannya ada
kado dan seikat bunga anyelir merah. Dia datang tepat ketika aku akan meniup lilinku. Dia menjabat tanganku, mencium kedua pipi dan keningku
di depan semua orang dan berkata “ Happy birth day honey” kontan semua
orang tercengang, termasuk ayah dan ibuku! Kulihat wajah ayah geram
menahan marah! Itu peristiwa langka di masa itu! Anehnya aku sangat
bahagia. Dia cowok pertama yang mencium pipiku ( cowok kedua dan seterusnya ya suamiku!).

Lieng tidak pernah sekali pun mengatakan suka atau sayang padaku. Aku rasa, sikapnya selama ini hanyalah tata cara karena pribadinya sangat sederhana. Mungkin itu karena latar budaya yang diterapkan keluarganya.
Walau begitu aku sangat menyayanginya.
Ketika keluarga Liem mengadakan acara perpisahan karena Om Liem se-
keluarga akan kembali ke negrinya di Hongkong, Lieng berkata seperti ini padaku “ Satu-satunya yang berat kutinggalkan di negri ini hanya kamu Ren!” Aku tidak tahu apakah kata-kata itu berarti cinta atau hanya persahabatan saja. Yang jelas Lieng pernah ada di hatiku dan lagu Ling-Ling selalu membuatku ingat padanya. Yu kita nyanyi lagunya yu?

Ling Ling Ling Ling oh kekasihku
Pria tampan tetanggaku
Dia telah menawan hatiku
Kekasihku Oh Ling Ling Ku

Di suatu hari yang indah
Di saat ulang tahunku
Diam-diam dia menciumku
Hadiah ulang tahunku

Kini Ling Ling telah pergi dariku
Ia kembali kenegrinya
Tinggallah kini aku seorang diri
Cinta bersemi dihatiku
……………………………………………………..
Tuh kan lirik lagunya mirip banget dengan kisahku ya?
Ah indahnya nostalgia cinta monyetku!

WHO IS HE?

Filed under: Curahan Kalbu

Berawal dari sebuah komentar di blogku, aku mengenalnya. Selanjutnya dia menyapaku ketika aku on line. Ya dia teman sahabatku yang kini jadi temanku
juga di dunia maya, di batas cakrawala yang tak tergapai mata.
Dia ramah, bersahabat, sekian lama tinggal di negri Kangguru tapi
masih pasih berbahasa Sunda. Aku benar-benar mengaguminya. Semakin lama
kukenal, aku semakin tahu dia lelaki yang tegar, ayah yang baik, bertanggung
jawab dan berwawasan luas.
Kemarin dia curhat padaku tentang kekhawatiran pada putrinya yang
senang merokok. Aku merasakan ada getar kecemasan seorang ibu dalam tulisannya. Aku mengerti, betapa rumit mencari solusi baginya untuk hal
sederhana seperti itu, ya maklumlah dia ada dalam dua budaya. Hanya aku
yakin dia pasti bisa mengatasinya.
Doa, itu merupakan bagian dari kehidupannya. Aku yakin apa yang
dikatakan Rasullulloh S.A.W. bahwa doa tulus seorang ayah ibarat doa Nabi
Adam A.S. Jadi aku yakin usahanya pasti berhasil. Dalam doa,Tuhan begitu
dekat dengan kita bahkan ada dalam urat nadi kita. Tuhan tidak akan membatasi
diri dengan adat, budaya apalagi negara.
Kemarin aku juga baru tahu profil verbal dirinya dalam sebuah pic
yang dia tampilkan. Tak jauh dari bayanganku, ia macho tapi lembut hatinya.
mengingatkanku pada seorang sahabat waktu aku tugas di Sukabumi. Ya dia
mirip Kang Adang Abdurahman. Tinggi, berhidung mancung berkacamata hitam.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com