MY FAFORIT SONG
Setiap guru di sekolahku, punya lagu kebangsaan yang biasa dinyanyikan
pada even-even tertentu, seperti perpisahan atau acara silaturahmi. Cucokrowo misalnya itu lagunya kepsek, Goyang Dombret itu punya Bu Sri,
Kisah sedih di Hari Minggu itu lagunya Bu Eni, Widuri itu lagunya Pak Edeng. Naahhh lagu kebangsaanku adalah ‘Ling-Ling’ sebuah lagu berirama mandarin.Ya itu lagu wajib yang harus aku nyanyikan dengan diiringi keyboard oleh Kang Amas, Kang Ate Atau Kang Yanto.
Tidak semua orang tahu, kenapa aku menyukai lagu itu. Ah pokoknya special banget. Bagiku lagu itu seolah menyimpan kisahku di masa lalu.
Ya, ceritanya waktu aku berusia 15 tahun, aku jatuh cinta pada seorang
yang bernama Lieng, dia anak keluarga Liem tetanggaku. Om Liem adalah teman baik keluargaku. Ia sangat akrab dengan ayah, mungkin karena rekanan bisnis dan sama-sama suka bridge. Om Liem sangat baik, waktu
rumah kami terbakar, Om Liem lah yang meminta kami tinggal di rumahnya yang besar sampai rumah kami selesai diperbaiki.
Naahh, Lieng teman bermainku sejak kecil ( sejak usia 7 s.d. 15 aku tinggal di Jln. Jen. Sudirman ) temanku yang lain adalah : Devi, Li Mey, Grace, Fu Hau dan Stefanie (Noni) adiknya Lieng. Lieng di mataku adalah seorang yang sangat tampan. Ia atletis, tinggi, putih, berhidung mancung, mata agak sipit, dan berbibir tipis. Sayang sekali, tidak hanya aku yang naksir dia, Li Mey, Devi dan Grace juga ngebet. Akhirnya cintaku pada Lieng kusimpan
saja di dalam hati.
Ya, aku nyerah deh. Aku nyadar diri bila dibanding mereka bertiga yang feminin, cantik dan modis, aku tuh nggak ada apa-apanya. Aku tuh udah tomboy, nakal lagi, mana mau Lieng padaku. Aku hanyalah seekor itik buruk rupa dimatanya.
Aku sering iri pada mereka bertiga, yang bila pedekate ma Lieng, mereka selalu memberi hadiah cantik seperti: kue-kue lezat buatan sendiri, saputangan yang disulam sendiri, gantungan kunci cantik dan apa saja
yang sifatnya hasil keterampilan cewek. Aku kan nggak bisa bikin semua itu. Aku hanya bisa ngasih Lieng, seekor anak ayam atau ikan manfis dan
ganggang air yang kuambil dari sebuah lubuk sungai di ujung kampung.
Untunglan Noni sangat senang berteman denganku. Karena dia aku jadi bisa dekat dengan Lieng. Aku sering main ke rumah Noni dan tentu saja jadi bisa
melihat Lieng lebih dekat. Suatu hari aku, Noni dan Lieng bermain di kamar Lieng. Eh, aku melihat ikan manfis dan ganggang air pemberianku
disimpan khusus oleh Lieng di dalam aquarium bundar yang ditempatkan
di atas meja belajarnya. Ah ternyata Lieng suka hadiahku. Duh senengnya
aku. Tak sia-sia aku menyelam ke dasar lubuk buat dapetin ikan itu. Thanks Lieng.
Suatu hari aku dapat kejutan. Lieng mengundangku ke pesta ultahnya yang ke-17 yang diadakan malam hari di rumahnya.Seharian aku memilih baju,
ayah dan ibuku tak henti menertawakanku. Ya aku kan tak punya gaun!
Akhirnya kupakai celana cutbray kuning senada dengan blousnya yang ber-
kerah baby, bertangan balon. Rambut dikepang dua pake pita kuning,
Kuperhatikan diriku di cermin, he..he..he.. persis dakocan! Tapi ya mo
diapakan lagi. Itulah pertama kali aku ke pesta. usiaku 15 tahun kurang.
Di pesta, aku benar-benar ingin nangis! Semua teman Lieng berdandan
begitu cantik dan anggun. Aku benar-benar si itik buruk rupa! Tak ada
satu pun yang berpakaian seperti aku! Aku ingin pulang! Tapi tante, Om Liem, Noni dan Lieng begitu ramah menerimaku.
Ketika acara pesta dimulai, aku tak percaya Lieng memilihku menjadi teman pertama yang berdansa dengannya! Sebuah kejutan yang membuatku hampir pingsan! Aku melihat tatapan penuh cemburu teman- teman Lieng.
Aku berdansa dengannya, tinggiku yang hanya sedadanya membuatku membenamkan kepalaku ke dadanya, aku menangis di sana! Itulah
pertama kali aku dipeluk cowok!
Kejutan yang kedua adalah ketika aku mengundang dia di ultahku yang ke-15. Ya waktu itu ayahku mengadakan syukuran, bisnisnya sukses, bertepatan dengan hari ultahku tanggal 26 juli. Ibu memakaikan aku gaun
yang namanya longdress. Model draverry, berwarna kuning emas. Rambutku digulung ke belakang, diberi hiasan bunga sakura. Seluruh keluarga dan teman-teman mengatakan aku cantik sekali! Tapi sumpah!
Aku sendiri merasa aneh dengan gaun seperti itu, serasa bukan diriku.
Lieng datang dengan tuxedo hitam berdasi kupu-kupu, ditangannya ada
kado dan seikat bunga anyelir merah. Dia datang tepat ketika aku akan meniup lilinku. Dia menjabat tanganku, mencium kedua pipi dan keningku
di depan semua orang dan berkata “ Happy birth day honey” kontan semua
orang tercengang, termasuk ayah dan ibuku! Kulihat wajah ayah geram
menahan marah! Itu peristiwa langka di masa itu! Anehnya aku sangat
bahagia. Dia cowok pertama yang mencium pipiku ( cowok kedua dan seterusnya ya suamiku!).
Lieng tidak pernah sekali pun mengatakan suka atau sayang padaku. Aku rasa, sikapnya selama ini hanyalah tata cara karena pribadinya sangat sederhana. Mungkin itu karena latar budaya yang diterapkan keluarganya.
Walau begitu aku sangat menyayanginya.
Ketika keluarga Liem mengadakan acara perpisahan karena Om Liem se-
keluarga akan kembali ke negrinya di Hongkong, Lieng berkata seperti ini padaku “ Satu-satunya yang berat kutinggalkan di negri ini hanya kamu Ren!” Aku tidak tahu apakah kata-kata itu berarti cinta atau hanya persahabatan saja. Yang jelas Lieng pernah ada di hatiku dan lagu Ling-Ling selalu membuatku ingat padanya. Yu kita nyanyi lagunya yu?
Ling Ling Ling Ling oh kekasihku
Pria tampan tetanggaku
Dia telah menawan hatiku
Kekasihku Oh Ling Ling Ku
Di suatu hari yang indah
Di saat ulang tahunku
Diam-diam dia menciumku
Hadiah ulang tahunku
Kini Ling Ling telah pergi dariku
Ia kembali kenegrinya
Tinggallah kini aku seorang diri
Cinta bersemi dihatiku
……………………………………………………..
Tuh kan lirik lagunya mirip banget dengan kisahku ya?
Ah indahnya nostalgia cinta monyetku!
