INI TULISAN GITA ANAKKU
SURAT IMAGINER BUAT IBU KARTINI
Ibu Kartini yang kucintai, malam ini di tengah mumetnya kepalaku oleh rumus
rumus kimia, fisika dan matematika, aku teringat padamu. Kucoba menulis
surat untukmu. Mudah-mudahan ini jadi pengobat rindumu padaku.
Apa kabar Ibu?
Seabad jarakmu dariku, namun tak membuat aku lupa dirimu yang kukenal
lewat sebuah buku sejarah bangsaku dan sebuah lagu tentangmu di masa kecilku.
Ibu, aku merasa semakin dekat denganmu ketika kukenal lagi Engkau lewat
kumpulan suratmu ” Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ah, ada satu surat yang menarik hatiku.Ya, sebuah surat yang kaukirimkan untuk Nyonya Abendanon. Di situ Ibu menulis kalimat sepereti ini, ” Aku renungkan tenang-tenang dan di luar sekelilingku,amatlah banyaknya orang yang menderita dan sengsara hidupnya! Seolah tiba-tiba udara gemetar karena
suara menjerit mengerang dan mengeluh. Suara manusia yang menderita itu dan lebih keras lagi dari pada mengerang dan mengeluhitu, meribut, menderas bunyi suara kedalam telingaku.
Ikhtiar! Ikhtiar! Belajarlah membebaskan diri” ( Armyn Pane : 118 )
Aku bayangkan, bagaimana hebatnya gejolak hatimu untuk menolong kaummu di masa itu.
Ibu, ikhtiar itu kini telah menjelma menjadi hasil.
Lihatlah, apa yang tidak bisa dilakukan oleh kaum wanita saat ini?
dari sopir bus kota sampai presiden, wanita bisa melakukannya.
Tapi Bu, ada satu hal yang tidak kumengerti, ternyata masih ada kaum wanita yang ingin tetap hidup dalam kegelapan! Mereka tenggelam dalam era megapolitan. Mode dan hura-hura jadi acuan hidupnya.
Duh Ibu, pernah kubaca pula dalam Undercover Jakarta karyanya Muhamad Emka,di sana kulihat wanita tak lebih dari sepotong kue black forres atau brownis aneka rasayang dipajang dan dijual aneka harga.
Belum lagi di sebuah media cetak khusus pria, di sanakulihat wanita dipajang bak boneka tanpa busana.
ibu, aku percaya, itu pasti bukan bagian dari harapanmu. Itu mungkin hanya sebuah kontraindikasi dari emansipasi. Iya kan Bu?
Ah Ibu, malam telah begioni larut, rupanya aku harus mengakhiri suratku. Hanya ini yang bisa kutulis untukmu. Maafkan bila aku mengganggu tidur tenangmu. Selamat malam Ibu.
Insya Allah kan kuteruskan perjuanganmu.
Peluk cium nanda
