Masa SLA adalah masa yang paling indah dalam hidup kita. Ya aku pun mengalaminya.
waktu itu aku kelas 3 SPG ( setingkat SMA/SMK ) usiaku 18 tahun saat itu. Layaknya
gadis remaja. Dunianya pastilah musik, dansa dan romantika! Aku termasuk gadis
yang mudah terpesona. Ya seperti saat itu, aku terpesona sekali pada guru matematikaku
yang ganteng abis.
Kalau dia sedang menerangkan di depan kelas, dia meletakkan tangan kirinya di pinggir
papan tulis, tangan kanannya memegang kapur, badannya sedikit agak menyender, nah
yang ada dalam benakku bukan pelajaran yang dia ajarkan, tapi hayalanku tentang dia
duh…sepertinya nyaman sekali bila ada dalam pelukannya, he..he..he…, makanya
nilai matematikaku selalu dodol.
Eh, suatu hari, di kelas tak ada guru, kepsek mengunci kelas dari luar. Kami disuruh
menulis tugas resume. Duh males banget, akhirnya aku dan teman-teman cari akal untuk
kabur, jadilah kami keluar lewat jendela kelas dan langsung mabur ke warung baso Mang Ade di Jalan Raya Barat. Di warung baso, sambil makan kami bercerita tentang
keberhasilan kami mengelabui guru, rasanya senaaaaang banget. Eh selesai makan
tiba-tiba orang yang dari tadi duduk di belakang kami berdiri, kemudian datang
menghampiri sambil berkata,” Kalian sudah kenyang makannya? Ayo semua ikut de-
ngan bapa ke sekolah!” Duuuhh biung! Hampir saja jantung kami copot, ternyata orang
itu adalah guru matematika kami yang ganteng itu! Waaahh pasti dia mendengar semua
percakapan kami!
Akhirnya kami berenam digiring ke sekolah, dijemur di lapang basket sampai pukul
satu siang. Dalam hati aku berteriak, “ Tega nian guruku saying, membalas cintaku
dengan menjemurku sampai gosong, hiks…hiks..hiks…!”
Satu lagi pengalaman yang tak terlupakan adalah kenanganku dengan guru Super Killer.
Ya, dia guru keterampilan. Salah satu materi pelajaran yang paling kusukai dari dia
adalah fotografi. Wajah guruku ini mirip banget Alain Dellon tapi sikapnya seperti
Hitler! Dia dapat gelar keren “ Mister Killer”. Walau begitu , dia jadi idola murid
perempuan dan pusat kebencian murid laki-laki, maklum karena ada dia, anak laki-laki
terutama yang berwajah pas-pasan, jadi kehilangan pasaran.
Penampilan Mister Killer sangat rapi, dia tampan, modis, ngajar pun selalu berdasi.
Sikapnya kepada siswa yang tidak disiplin sangat keras. Aku adalah salah seorang
siswanya yang sangat sering dihukum! Aku sudah pernah dikurung di wc, membersih
kan kebun sekolah, ngepel ruang guru, digunting rok seragam dan banyak lagi!
Suatu hari, ketika aku sedang asyik bercanda di kelas, KM memanggilku, katanya
aku dipanggil Mister Killer. Sontak jantungku berhenti berdetak! Mati aku! Hari ini
aku sedang tidak disiplin! Aku tidak pakai kaos kaki putih,lengan seragamku digulung
dan rokku kependekan. Maka dengan wajah memelas aku minta temanku Ros memin-
jamkan bajunya padaku, kami pun bertukar pakaian di wc.
Aku pergi menghadap guruku di ruang guru. Ruangan tampak sepi. Kulihat Mister
Killer tampak sedang menulis. Wajahnya yang tampan dan dingin, begitu tenang
namun menyeramkan. “ Duduk!” katanya, ketika aku sudah berdiri dihadapannya.
Dia berhenti menulis, aku yang duduk dihadapannya, dipandangnya tanpa berkedip.
Aku takut dan kikuk sekali. Aku seolah-olah merasa jadi terdakwa, tanpa tahu
salahku apa.
Di ruang guru itu hanya ada aku dan dia. Semua terasa hening. Tiba-tiba dia
membuka laci mejanya dan mengeluarkan beberapa amplop surat, disodorkannya
surat-surat itu padaku, “ Ini surat-suratmu !” katanya dingin.
Aku terkejut, surat untukku? Kenapa ada padanya? Ya, semua surat itu semuanya
untukku dari para sahabat penaku dan juga teman-temanku yang jauh. Aku selalu
memakai alamat sekolah untuk semua suratku, maklum kalau pakai alamat rumah
sering disensor oleh satpam rumah yaitu ibuku.
“ Jelaskan padaku, dari siapa saja surat-surat itu!” katanya mengejutkanku, aku pun
menjelaskan padanya. Kami berdua diam lagi, aku lihat Mister Killer memandangku
terus.
“ Ren, “ tiba-tiba kudengar lagi suaranya
“ Kamu tahu, untuk apa saya memanggilmu? “
“ Tidak tahu Pak!” jawabku
“ Kamu manis sekali! Aku suka tahi lalat di dagumu,bibirmu, rambutmu yang panjang ikal. Ah aku mencintaimu, sudah lama aku mencintaimu!”
Tak salah dengarkah aku? Seorang guru killer yang terhormat berbicara padaku,
muridnya yang tidak disiplin? Dia berbicara begitu tenang, tatapannya berubah
menjadi teduh, aku bingung harus menjawab apa.
“ Bebicaralah padaku” katanya lagi
“ Terimakasih Pak, tapi aku sudah punya pacar dan Bapak sudah beristri!”
Dia tersenyum! Ya..,Tuhan, baru kali ini kulihat dia tersenyum! Hanya untukku!
Selama ini bibirnya selalu terkatup rapat. Oh.., seandainya Pak Killer tahu, betapa
manis senyumnya dan seandainya dia tahu, dia lebih tampan tersenyum dari pada
terkatup. Dia pun kudengar berbicara lagi.
“ Ren, salahkah bila seorang pria beristri mencintai seorang gadis yang sudah punya
kekasih? Cintaku untukmu adalah cinta yang tulus dari lubuk hatiku, aku tidak ber-
harap untuk dibalas. Aku hanya ingin mengatakannya saja padamu agar tidak menjadi beban dihatiku! Nah..Ren, itulah maksudku memanggilmu, sekarang silakan kembali
ke kelas”.
Aku pun berlalu dari ruangan itu dengan sejuta perasaan dan tanda tanya yang tidak
terjawab, tapi ada satu pelajaran berharga yang kudapatkan di hari itu. Pelajaran
tentang cinta laki-laki! Ternyata seorang istri bagi laki-laki bukanlah pelabuhan
cinta terakhir! Kemudian satu lagi pertanyaan buat diriku, ya Tuhan, kenapa hidupku
selalu penuh kejutan?
( Tulisan ini kupersembahkan untuk guru-guruku tercinta di SPG, semoga Pak Killer
yang sekarang mungkin sudah pensiun, membaca tulisan ini. Salam hormatku selalu
buat Bapak.