AKU DI MATA ANAKKU

Ibu adalah kata yang tak asing lagi di telinga kita. Bila mendengar nama itu disebut maka akan terlintas dalam pikiran kita sesosok wanita lembut, sabar dan penuh pengertian. Ya seharusnya memang seperti itu, tapi apakah gambaran seorang ibu harus seperti itu? Sepertinya tidak juga, salah satu contohnya ya ibuku.
Ibuku bukan sosok wanita lembut dan sabar. Ibu sangat bawel, sok ngatur, sok maksa, tegas tapi cerdas. Ibuku seorang guru juga diberi kepercayaan oleh sekolah tempatnya bekerja sebagai wakasek urusan kesiswaan. Aktif pula sebagai pengurus organisasi, koprasi,tutor. Terbiasa memimpin rapat, pandai berpidato dan aktif menulis buku pelajaran yang dipesan penerbit.
Ibuku memang berbeda dengan ibu-ibu pada umumnya. Hobinya berenang, berkebun, membaca dan bermain gitar. Waktu remaja dulu ibu paling suka mendaki gunung.
Hal yang paling tidak ibu sukai adalah bermalas-malasan!
Dimataku ibu adalah “ Super Mom”, Ya karena sejak aku bias pergi ke sekolah sendiri, ibu tak membutuhkan lagi pembantu. Di sela kesibukannya yang seabrek, ibu masih sempat mengerjakan pekerjaan rumah dari mulai memasak, mencuci sampai bersih-bersih rumah. Apa itu tidak hebat? Padahal tubuh ibu kecil. Kata nenek, sejak
remaja sampai sekarang tubuh ibu tidak berubah.
Uniknya lagi walau ibu sangat sibuk, ibu sangat memahami karakter anak-anaknya, tahu teman dan sahabat anak-anaknya, hafal betul semua barang pribadi milik anaknya, sangat tahu bila anaknya berbohong, makanya tak ada satu pun dari anak ibu yang berani berbohong pada ibu, dan jangan coba-coba ada barang asing di rumah, ibu pasti tahu.
Pernah kakakku tidak diperbolehkan masuk ke rumah hanya gara-gara bertukar jaket dan sepatu dengan temannya. Kakakku nomor dua memang bandel. Kakak pernah pula protes pada ibu karena ibu mengembalikan kado dari pacarnya. Menurut ibu kado yang harganya mahal dari anak SMA itu bukan hal yang wajar. Kakak marah, mungkin malu oleh pacarnya, untung saja pacar kakak mau mengerti karena ibu menasihatinya.
Kini kedua kakakku sudah kuliah, bahkan kakaku yang terbesar di fakultas ekonomi unpad sedang menyusun skripsi. Kakakku nomor dua ingin menjadi guru olah raga yang professional. Selain kuliah ia aktif kursus bahasa Inggris dan sekolah musik. Kakak memang berbakat dalam bidang musik dan olah raga, masuk ke universitas juga melalui jalur PMDK. Kakak pernah menjadi gitaris dan striker terbaik. Itu semua berkat dukungan ayah dan ibu. Kakak juga pernah ditawari jadi model dan bintang iklan oleh sebuah agensi, sayang kakak tidak tertarik. Aku bagaimana? Tak tahulah, aku hanya ingin hidupku bahagia.
Kenangan masa kecilku bersama ibu yang selalu sibuk, banyak sekali suka dukanya. Masih segar dalam ingatanku, waktu itu aku kelas dua SD, ibu meninggalkan aku selama dua bulan lebih karena tuntutan tugas kuliahnya. Waktu itu kurasakan hari-hariku terasa hampa dan sepi. Tak ada yang bisa kuajak bicara. Aku satu-satunya anak perempuan di rumah tak mungkin bermain boneka atau masak-masakan dengan ayah, sementara kedua kakakku lebih senang bermain basket dan sepak bola. Tiap malam aku menangis ingat ibu, untunglah sebelum pergi ibu memberiku sebuah notes. Kata ibu tulislah apa yang kualami sehari-hari di buku itu. Setiap malam aku menulis dan membuat puisi untuk ibuku. Ketika ibuku pulang buku itu dibacanya,ibuku menangis dan memelukku serta berjanji takan pernah meninggalkanku lagi.
Esok harinya, ibu mengirim puisi-puisiku ke majalah anak-anak kesayanganku. Eh… dimuat, aku mendapat uang dan hadiah boneka Barbie dari majalah itu. Secara tak kusadari, ibu melatihku belajarmenulis sejak aku kelas dua SD melalui kegiatan menulis buku harian.
Kini aku sudah di SMA, kenangan itu tak pernah kulupa. Kini ibu bukan lagi teman bermain boneka tapi ibu adalah tempat curhatku, pemberi solusi bila aku punya masalah, walau terkadang solusinya tak bisa kuterima tapi hatiku lega bila semua permasalahan sudah kusampaikan pada ibuku. Itu pun bila suasana hati ibu sedang tenang, bila ibu sedang banyak urusan jangan coba-coba mengganggu, langit bisa berubah gelap bila ibu sedang marah.
Ironisnya akulah yang paling sering membuat ibuku marah. Kalau sudah begitu apa pun yang kulakukan selalu salah. Aku sendiri memang kebangetan selalu melakukan
Hal-hal yang tidak ibu sukai seperti terlambat bangun, lambat pergi ke sekolah, terlalu lama di kamar mandi, ceroboh, malasku kumat atau meluruskan rambutku yang ikal.
Ibu sih segala sesuatu harus dituruti dengan segera. Menyuruhku beres-beres rumah saat aku lagi santai nonton TV, jelas bukan hal yang menyenangkan. Wajar kalau aku
ngomel. Ibu tak suka bila anaknya ngomel apalagi membangkang. Ibu ingin aku jadi anak penurut. Aku jelas tidak mau, karena aku bukan Si Ella yang dikutuk peri Lucinda dalam cerita Ella Enchanted karyanya Gail Carbon Levine. Aku adalah aku. Dan ibu sulit untuk memahami itu.
Sebenarnya hati kecilku mengatakan sikapku yang egois dan keras kepala itu menunjukkan kalau aku belum dewasa. Aku juga menyadari apa yang ibu lakukan itu untuk kebaikanku. Ibuku ingin suatu hari nanti bila aku telah dewas aku bisa melakukan tugas dan tanggung jawabku sebagai ibu. Bisakah aku? Bisakah seperti ibu? Curiga nggak bisa ya? Ah aku belum mau memikirkan itu.
Jujur kuakui. Aku sangat menyayangi dan mencintai ibuku, kejengkelanku padanya tak seujung kuku pengorbanan ibu untukku. Aku pernah mengikuti petunjuk Aa Gym, menulis semua hal yang menjengkelkan tentang ibu sekaligus pula menulis semua kebaikannya padaku. Ternyata benar kebaikan dan pengorbanannya jauh lebih besar.
Tuhan, berikan usia yang panjang untuk ibuku agar aku bisa membalas semua pengorbanannya, berikan kekuatan padaku agar aku bisa menjadi anak kebanggaan ibu seperti halnya kedua kakakku. Tulisan ini kado untuk ibu di hari ibu. Selamat hari ibu ibuku!

Surga ada di telapak kaki ibu, itulah yang Allah janjikan…..Bawelnya ibu, kerasnya ibu, sok tahunya ibu dalam mendidik putra putrinya karena mungkin beliau sayang sama anak2nya, beliau tidak mau anak2 nya menuju ke arah yg sesat, kearah yg tidak diridoi Allah. Memang waktu kita kecil kita tidak merasa, bahwa bawel, dan kerasnya ibu karena semata utuk kebaikan kita anaknya. Nah sekarang setelah kita punya anak, maka kita mersakannya bukan?, Saya percaya ibu Reni adalah seorang ibu yang baik, yang menumpahkan segala rasa kasih sayang ke putra putrinya sebagai mana ibu, bu Reni berikan ke bu Reni dan sudara2nya ketika masih kecil….Allahumag firli, waliwalidayya warhamhumma kama robayani soghiron…Saya senang sekali dengan tulisan2 artikel bu Reni..banyak kawan2 yg menyarankan saya untuk create my blog. Tapi ah nanti siapa yg akan membaca blog2 teman2 saya dan memberi komentar kalau saya nulis blog. hi hi hi.,,,,,,,saya melihat di beberapa blog teman2 saya semuanya kayanya saya saja yg jadi komentator di blog2 itu….kenapa yah?
Comment by Fz — June 8, 2006 @ 9:50 pm
saya dah nyoba berkali-kali ngasih komentar, tapi kok ga pernah berhasil…
Comment by coba — June 10, 2006 @ 4:01 am
assalamu’alaikum
ehh..sekarang comment dah bisa masuk…alhamdulillah, abdi jadi bisa ngasih komentar di blog Ibu..:-) waduh..ternyata Ibu galak banget yah..duuh.,,kalo saya ketemu Ibu, pasti Ibu bisa marah besar dong. Bis gimana lagi, semua hal yang bikin Ibu kesel ada di saya..hiks..hiks..Gimana nih Bu..???
————>>
Emm,, syukurlah cita2 Ibu yang ingin putrinya berhijab sudah terwujud…dan dia jadi lebih sejuk untuk dipandang(maaf ya Bu). Oya, gimana hasil tes neng Gita??? dah siap ikut SPMB belum…yaahh, semoga saja apa yang jadi cita2nya bisa terwujud…
————>>
Kembali lagi ke Ibu,..eemm jika saya baca tulisan tentang seorang Ibu..saya jadi kangen ma Ibu dan keluarga di Solo. Bersyukurlah Ibu bisa melihat perasaan putra dan putrinya. Ibu tau tumpahan cinta dan sayang mereka kepada Ibu. Hal itu bisa menjadikan Ibu lebih bijak kepada mereka. Ibu jadi tau sela dan waktu yang tepat untuk memberikan pada mereka canda, petuah, atau sedikit hukuman yang bisa membuat mereka semakin maju tanpa merasa dipaksa. Di samping itu, Ibu juga bisa sedikit mengoreksi diri..karena ternyata (mungkin) ada hal2 sepele yang tidak pernah terlintas dalam benak Ibu ternyata memberi pengaruh yang besar kepada putra dan putri Ibu. Bukankah kita tidak bisa melihat salah kita..??? dan orang lain yang berinterakasi dengan kitalah yang menjadi cermin tentang perilaku dan sikap kita..hmm., dengan begitu,Ibu akan semakin bisa merengkuh cinta dan sayang mereka…(maaf ya Bu, bukan maksud saya menggurui..)
————>>
Bersyukurlah Ibu karena semua keluarga masih berkumpul jadi satu. Tetapi mungkin suatu saat nanti, bila sudah kerja atau berkeluarga, mereka juga (mungkin)akan merantau dan jauh dari Ibu. Tetapi jangan khawatir Bu, justru ketika jasad saling berjauhan, kedekatan hati akan semakin erat..dan kecintaan mereka akan semakin kuat.insya 4JJI..:-)
Bukan maksud saya bikin Ibu sedih, tapi cuma mencoba menggambarkan kemungkinan tentang masa depan. So, ga salah kan bila kita mempersiapkan semua kemungkinan yang bakal terjadi. Jadi bila 4JJI menghendaki semua terjadi, hati sudah siap dan ikhlas menerimanya..
————>>
emm..sampai di sini dulu komen saya ya Bu..maaf jika banyak kata dan kalimat yang membuat Ibu tidak berkenan dan doakan semoga 4JJI mengampuni saya. Semoga Ibu dan Keluarga selalu dirahmati 4JJI swt.
wassalamu’alaikum
dikaris “bedosithikrapopoya”
Comment by dikaris — June 10, 2006 @ 4:47 am