AKU DAN MONYET
Pernahkah teman-teman punya kenangan manis dengan monyet?
Mahluk yang satu itu, menurutku sangat menyenangkan, perilakunya yang lucu mengingatkan kita pada tingkah laku anak-anak yang nakal, dan keserakahannya sering dijadikan perumpamaan untuk orang yang selalu ingin memiliki semuanya tanpa memikirkan orang lain.
Aku punya beberapa kenangan dengan monyet. Waktu aku masih remaja dulu, aku pergi ke Goa Jatijajar yang ada di Gombong itu, nah waktu itu Goa Jatijajar belum ditata seperti sekarang, kondisinya masih asli , tangganya saja masih tanah.
Di dalam goa terdapat sendang ( telaga ) ada dua sendang di sana, Sendang Mawar dan Sendang Kantil. Konon kata orang kedua sendang itu memiliki khasiat. Khasiat nya adalah bisa membuat orang tambah cantik, awet muda dan enteng jodoh he..he..he.. Itu kata para orang tua di sana lho, bukan kata aku. Ya itu pun, bila kita mencuci muka atau mandi di sendang itu.
Nah waktu itu aku juga mencobanya, aku berwudlu di kedua sendang itu. Benar saja, begitu aku keluar dari goa, dua ekor monyet jantan yang besar mengejar-ngejar aku, aku berlari sambil teriak-teriak ketakutan, sementara teman-teman malah menertawakan bukannya menolong. Yaa..dasar lagi apes, kok yang didapat malah monyet sih bukan cowok cakep. Untung saja salah satu dari monyet itu bukan jodohku he..he..he….
Pengalaman berikutnya adalah ketika aku suami dan anak-anak ke Pasir Putih Pangandaran ( Waktu belum tsunami lho ) dari Pasir Putih masuk ke Cagar alam Pananjung . Nah supaya nggak jajan di jalan, aku bawa sebungkus besar kacang
Asin. Eh pas lagi asyik makan kacang asin, beberapa ekor monyet kecil imut melihat kami, mereka duduk manis di depan kami, dengan senang hati kami membagi makanan dengan mereka. Eh tiba-tiba tiga ekor monyet jantan besar datang, mereka mengintip dari balik pohon. Aku melihatnya, kupanggil tapi tidak mau datang, ya sudah aku berikan saja sisa kacang asin yang masih banyak itu kepada monyet-monyet kecil. Ehh tiba-tiba saja tiga ekor monyet jantan yang besar itu datang dan langsung merebut bungkus kacang asin dari para monyet kecil. Monyet kecil hanya diam memandang, tidak berani berbuat apa-apa. Aku kasihan, lalu aku hampiri si monyet-monyet besar itu, aku lupa mereka itu hanya monyet. Aku tegur mereka.” Hei! Jangan serakah dong! Ayo kasih saudara-saudaramu itu!” Bukannya mengerti malah monyet-monyet besar itu memperlihatkan taring-taringnya padaku, kemudian bersiap hendak menerkamku. Nyaliku jadi ciut juga. Dalam kondisi seperti itu suamiku mengambil inisiatif untuk lari dari tempat itu, kami pun lari. Akibatnya malah lebih fatal, berpuluh-puluh monyet besar turun dari atas pohon serempak mengejar kami, Kejar-kejaranpun terjadilah di hutan itu, Kami lari sampai ke pinggir pantai. Alhamdulillah mereka tidak mengejar sampai ke pinggir pantai, mungkin karena melihat banyak orang. Ah dasar monyet!
Eh, di Sangeh Bali lain lagi ceritanya. Ternyata monyet-monyet di sana manis-manis, ramah, baik hati dan tidak sombong ( Aku nggak tahu ya apa mereka juga rajin menabung atau nggak ) Aku senang bercanda dengan mereka. Tuh lihat aku berfoto dengan seekor monyet betina di Sangeh. Hayooo lihat cantik siapa? Kata si Kang Waw k aku cantik kalau foto bareng monyet. Ya iya lah, kan saingannya nggak berat!