APA KABAR MAS JOKO
Serasa mimpi aku bisa bertemu lagi dengan Mas Joko, setelah beberapa tahun tidak bertemu. Mas Joko pegawai tatausaha jurusan di IKIP
Bandung, yang sekarang namanya menjadi UPI.
Dia masih tetap seperti dulu, ramah dan bersahabat. Pertama berjumpa langsung aku bertanya, ” Masih ingat aku nggak?” Dia dengan tersenyum lebar
berkata, ” Siapa yang bisa melupakan Ibu “. Kami pun tertawa. Mas Joko
adalah sahabat semua mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,terutama para mahasiswa lanjutan. Ya segala urusan menghubungi dosen, meminta FNUB, ngintip nilai ujian, nego rekap absen
pokoknya segala yang berhubungan dengan urusan perkuliahan, Mas Joko
lah dewa penolongnya.
Aku adalah orang yang paling sering meminta bantuannya. Hal yang tak pernah aku lupakan adalah ketika aku mengikuti MKDU Kewiraan. Wah
dosen mata kuliah itu disiplinnya setengah mati. Maklum dia seorang perwira ABRI. Semua mahasiswa dia tidak boleh terlambat masuk walau
satu menit sekalipun. Sementara aku, sudah terkenal sebagai ratunya terlambat. Ya namanya juga mahasiswa tingkat lanjutan yang sudah punya anak tiga pasti tidak sesantai teman-teman yang masih singel. Apalagi
waktu itu usia Gita anakku yang bungsu masih berusia 2 tahun.
Mata kuliah kewiraan membuatku harus selalu memutar otak, agar aku bisa masuk kelas walau terlambat. Nahh si Mas Joko inilah orang yang paling
bisa diajak kompromi. Setiap aku terlambat, aku langsung ke ruangannya
menitipkan tasku padanya, dan meminta beberapa lembar kertas HVS.
Untuk apa semua itu? Untuk mengelabui sang dosen! Aku katakan aku sebenarnya sudah datang pagi-pagi sekali, tapi dosen menyuruhku untuk mendata nilai.Biasanya sang dosen akan balik bertanya kepada para mahasiswa tentang kebenaran ucapanku, yahh namanya anak-anak ya pasti pro aku. Sang Dosen bertanya ke jurusan, pasti yang pertama dihadapi adalah Mas Joko, dan Si Mas sudah pasti akan menjawab sesuai pesanku.
Mungkin itu bukan contoh yang baik buat ditiru murid-muridku, tapi
mau apalagi namanya juga usaha. Aku ingin kuliah beres, rumah tangga
rapi , pekerjaan teratasi. Hasilnya? Alhamdulillah, aku bisa menyelesaikan
kuliah tepat waktu. Bahkan sempat ditawari beasiswa ke S2, sayang waktu itu
suami kurang berkenan atau mungkin nasibku saja harus sampai S1.

Memang bu Reni ini hebat. Bisa menaklukan hatinya dosen killer……….ha ha ha, bisa mengelabui dosen yg perwira yang di siplin,,,,,,,really u r something……….wah pak Asep is the lucky man to have u….u r the best………Gimana setuju kalau Gita mengikuti jejak ibunya?….ha ha ha
Comment by Uwa — August 16, 2006 @ 9:38 am
Bu Reni hebat!! dosen killer bisa di taklukkan! tapi tetap saja itu tidak baik kalau di tiru oleh murid-murid ibu, keterlambatan tetaplah sebuah kesalahan yang harus di perbaiki oleh kita
Comment by Neng Sumiati 9B — October 13, 2006 @ 5:07 am