/>

Semua Tentang Reni

March 28, 2007

APAKAH JIN ITU ADA DI SEKITAR KITA?

Filed under: Curahan Kalbu

Pernahkah teman-teman mengalami sesuatu yang sulit diterima oleh akal kita?
Aku sering sekali mengalami hal itu. Aku sendiri bingung mengapa
semua itu bisa terjadi padaku. Pengalaman apakah gerangan?
Ini aku ceritakan ya. Pengalaman pertama, terjadi pada tahun 1976,
hari Jumat ,tanggalnya aku lupa lagi. Waktu itu aku baru duduk di SMP.

Pulang sekolah, pukul sebelas siang aku berjalan sendiri menyusuri
jalan menuju ke rumah. Jarak dari jalan raya ke rumahku kira-kira 1000 meter,
melewati pabrik sarung. Tepat di depan pabrik, datang seorang anak laki-laki,
usianya kira-kira tiga tahun lebih tua dariku. Dia langsung mendekatiku.
Wajahnya aku kenal betul, dia anak kampung sebelah yang terkenal sangat nakal.
Waktu itu pun dia menghampiriku dengan kasar kemudian mendorongku
ke dinding pabrik, sambil memegang kerah kemejaku,dan menodongkan pisau
lipat ke perutku. Mungkin maksudnya mengompas aku. Aku berteriak tapi tak satu pun
orang lewat. Anak itu betul-betul nekad, aku tak menyangka akan bertemu dia. Jadi
aku tidak siap mengambil batu.

Dalam situasi seperti itu, tiba-tiba dari belakang si anak muncul Mang Indeung
penjaga pintu pabrik, mungkin satpam kalau istilah sekarang.
Dia menarik kerah baju anak itu dari belakang. Ketika si anak melihat dia,
aku melihat dengan jelas kalau wajah si anak pucat sekali. Sepertinya
sangat ketakutan, dia melepaskan aku kemudian lari pontang-panting,
pisau di tangannya jatuh. Mang Indeung tersenyum padaku, dan berkata
” Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang mengganggu eneng, percayalah pada emang!”
. Aku pun berterimakasih padanya. (more…)

March 23, 2007

REUNI

Filed under: Curahan Kalbu

Hari Sabtu pukul 13.00, aku kedatangan tamu.
Ternyata tamu istimewa yang sudah sekitar 28 tahun tidak bertemu.
Dia sahabatku Ros! Gembira campur haru dan heran, ada apa gerangan.
Ternyata Ros menyampaikan undangan reuni kelas, untuk hari Minggu
tanggal 18 Maret pukul 08.00, kumpul di rumah Eli. Acaranya di Cikalong
di tempat kami Of Campus Teaching 28 tahun lalu. Ros, mewanti-wanti
pesan semua teman, agar aku bisa hadir, apa dan bagaimana pun caranya.
Subhanallah, ini luar biasa, tak terasa air mataku menitik, ternyata mereka
semua masih ingat aku, padahal waktu 28 tahun telah memisahkan kami.

Tak sabar,sore harinya, undangan itu kusampaikan pada suamiku, sekalian
minta izinnya karena undangan itu hanya untukku sendiri. Di luar dugaan
suamiku terlihat kurang setuju aku datang. Polemik pun terjadi dan keputu
sannya aku tidak boleh datang karena bentrok dengan arisan keluarga. Aku
beralasan, arisan keluarga itu tiap bulan tapi acara reuni tidak tiap tahun.
Aku ingin sekali bertemu dengan teman-teman sekelasku dulu. Suamiku
tetap tak mengijinkan. Kudesak alasannya apa, jawabannya singkat saja
” CARI PENYAKIT” Lho? Kok gitu sih? Haa..aaa aku tahu! Pasti dia masih
ingat pada seseorang di kelasku dulu, yaitu Si Bintang Pelajar, juara umum
sekolah sekaligus mantan ketua OSIS, yang sangat mengharapkan aku jadi
kekasihnya. Ya pasti itu alasannya.

Konyol! Itu kan 28 tahun lalu dan kini aku juga sudah tua, masa masih dicemburui!
Akhirnya karena aku maksa terus, aku pun diijinkan pergi, dengan syarat pukul
3 sore sudah harus pulang. Ooo bahagianya, kucium tangan suamiku.

Minggu pagi, dengan diantar Dika, aku pergi ke rumah Eli. Aku datang
terlambat setengah jam. Begitu tiba, yang pertama memberi senyuman dan
pelukan hangat adalah dia si mantan ketua osis, yang sekarang sudah menjadi
orang penting di sebuah perguruan tinggi negri di kota Bandung. Kata teman
teman, dia sangat gelisah sampai-sampai menungguku di pinggir jalan.

Tak bisa kuceritakan, jerit dan tangis bahagia tercurah dalam pelukan teman-
teman yang sekian puluh tahun berpisah. Rusmiati, Yuyu, Ike, Yeti, Eny, Ratna
Cucu, Ros, Abdul, Eli , Yani, dan Si Mantan Ketua Osis, Budiamin. Mereka semua
menjerit ketika melihat aku ” Si Reni, teu kaci siah! Reni mah meni teu robah!”

Oh, benarkah aku tidak berubah? Benarkah Sang waktu tak sanggup menjadikanku
teletubis seperti teman-temanku yang lain? Aaahhh…senangnya aku.

Selesai acara kangen-kangenan, kami pun menuju lokasi pertemuan di Cikalong.
Dua mobil membawa kami ke sana, mobil Abdul dan Budiamin. Sepanjang jalan
ramai oleh cerita dan lagu nostalgia Ebiet G Ade yang mengalun merdu dari
tape mobil. Duuuuhhh senangnya serasa waktu mundur kembali ke 28 tahun
silam.

Pukul 10.30, kami sampai di lokasi. ternyata di sana sudah menunggu pula teman
teman lain. Rohyani, Nani, Een, Mae, asep dan banyak lagi yang lainnya. peluk
cium pun terjadi lagi. Semua larut dalam kebahagiaan nostalgia masa remaja.

Selanjutnya acara curhat cerita dan doa bersama untuk para guru dan 6 orang
teman sekelas kami yang sudah tiada. Yaitu Dedi, Ikin, Adang, Rina, Euis, dan
Dadan. Sementara guru yang yang sudah tiada adalah Pak Nana Gunawan, Pak
Candrawan, Ibu Mimin, Pak Syaban, Pak suwarsa, Pak Dudu, dan banyak lagi.
Acara dilanjutkan dengan musik dan lagu yang diiringi keyboard.

Teman-teman memintaku menyanyikan lagu Es Lilin. Itu lagu kesayanganku
dulu.Dari lagu itu kurancang sebuah tarian yang dimainkan oleh anak-anak SD
kelas 6. Lalu mereka kuikutkan dalam festifal tari antar desa dan menang.
Bahagianya akui, betapa tidak, semua kulakukan sendiri dari merancang tari
busana dan make up. Aku jadi menangis mengingat semua itu.

Selanjutnya, Rohyani yang memandu acara sekaligus menyanyi. Suaranya
masih bagus seperti dulu waktu kami sering nyanyi di wc sekolah kalau
sedang dihukum guru. Sang mantan ketua Osis, minta Yani menyanyikan lagu
Benci tapi Rindu sampai tiga kali berturut-turut. Aku bertanya kenapa dia me-
minta lagu itu sampai tiga kali? Eh jawabannya mengejutkanku, katanya lagu itu
lagu kenangan kita. Kita? Berarti aku dan dia? Kapan dan di mana ya?

Dia memandangku, terlihat kekecewaan di wajahnya. Sungguh, aku tidak main
main, aku lupa. sementara baginya kenangan itu tidak bisa dilupakan sampai
mati sekali pun, begitu katanya.

Dia tidak bisa melupakan kenangan waktu kami berdua pergi ke kolam renang.
Berenang bersama, adu cepat. setelah itu mein kejar-kejaran di taman. Aku
berpakaian renang warna hijau lumut, waktu kejar-kejaran kakiku terpeleset
dia mengurutnya. kemudian dia menyisir rambutku yang panjang dengan
jari tangannya. Dari cafe kolam renang terdengar sayup-sayup lagu Benci
tapi Rindu. Itu ceritanya.

Ah, kenangan itu bagi dia begitu berkesan tapi aku sama sekali tidak mengi-
ngatnya karena dari dulu sampai saat ini, aku hanya menganggap dia sebagai
sahabat saja. Tidak lebih.

Aku jadi malu, kenapa dia punya kenangan denganku kala aku pakai baju renang?
Aku masih ingat model baju renangku minim semua. Duh malunya aku bila me-
ngingat semua itu.

Acara demi acara berlalu sudah. Sebelum berakhir teman-teman meminta aku
dan dia menyanyikan lagu Sepanjang Jalan Kenangan. Entah kenapa waktu kami
menyanyikan lagu itu, semua hening. ada yang menangis, tertunduk dan melamun.
Kami menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Mataku pun berkaca-kaca
terbayang bentangan jalan antara Jayagiri, Tangkuban Perahu dan Maribaya. Di
jalan itu kami semua beriringan dewngan ransel di punggung, tongkat di tangan,
Aku dan dia berjalan paling belakang, kubiarkan tangannya menggenggam tanganku.
Ada rintik hujan yang membasahi rambut dan ransel kami. Semua itu menambah
kebahagiaan dan kegembiraan acara kebut gunung antar kelas. Duh indahnya masa
remaja yang sudah 28 tahun direnggut waktu.

Tak terasa waktu telah sampai di ujung acara. Acara pun ditutup dengan sebuah
lagu Kemesraan. Kami pun pulang membawa kesan yang mendalam. Aku sampai
di rumah terlambat satu jam. Tak ada satu pun yang bertanya , bagaimana acara
temu kangenku. Mungkin tak perlu bertanya karena dari wajahku sudah terlukis
kebahagiaan. Aku bahagia dan bersyukur dapat hadir di acara itu. Semoga di lain
waktu kita bisa berkumpul lagi.

March 16, 2007

KUTULIS DALAM PUISI

Filed under: Curahan Kalbu

TANGAN

Apa arti sebuah tangan
mungkin tak ada
tapi bagiku, ada tangan dalam bayangan
yang selalu hadir dalam kenangan
tangan itu pernah kugenggam, kupegang erat takut terlepas
karena
di tangan itu aku melihat, kekuatan untuk menggenggam dunia
di tangan itu aku melihat, kelembutan dan kasih sayang
walau mungkin bukan untukku

AKU INGIN MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA

Kekasih…………..
Harusnya aku memanggilmu begitu,
tapi tak bisa
walau beribu kali kucoba
walau beribu kali kueja
tetap tak bisa
Bukan tak ada rasa, atau aku kehilangan kosa kata
tapi hanya ada satu kata
yang sangat sederhana
yaitu… cinta!

March 11, 2007

SURAT TERBUKA UNTUK NEGRIKU

Filed under: Curahan Kalbu

Selamat pagi negriku. Kukirim peluk ciumku untukmu.
Peluk cium keprihatinan, atas musibah yang terus-terusan menimpamu.
dalam tiga tahun terakhir ini.

Bencana alam di mana-mana,gunung meletus, angin ribut, tanah longsor,
banjir dan gempa bumi. Tak cukup hanya itu kapal jatuh dan tenggelam
di lautanmu. Jerit tangis dan air mata tak terbendung lagi. Ibu pertiwi
benar-benar sedang berduka.

Ya Alloh, adakah sesuatu yang ingin Engkau ungkapkan di balik semua
ini? Negri yang elok bak jamrud khatulistiwa kini hilang tiada makna.
Padang meradang, Bandung mengeluh, Jakarta hampa, Kalimantan
merana, Sumatra sengsara. Negriku kini kelam tanpa makna.

Merah putih hanya tinggal warna, burung garuda tak lagi berwibawa
Seakan hilang ditelan masa. Di mana harga diri bangsa? benarkah tercampak
dikaki amerika? Atau semua terjadi karena banyaknya dosa?

Pornografi di mana-mana, benar salah menjadi samar, zinah dan aib
merajalela. Hukum tak lagi padu karena berpihak pada yang mampu.
Para pemuka negri lantang berteriak membela rakyat, tapi gemanya tidak ada.
Kandas tenggelam diteln nafsu angkara. Harta dan jabatan menjadi dewa.
Jihad hilang dari jiwa, yang ada hanya haus dahaga untuk mendapatkan
harta,tahta dan wanita.

Ya Tuhan, bila begini jadinya, pantaslah Engkau murka. Negriku yang subur
makmur Kaujadikan hancur lebur. Itu kan janjiMu dalam Alquran.
Kaumusnahkan umat durhaka dan menggantinya dengan yang lebih baik.
Ya Alloh apakah aku termasuk umatmu yang salah juga?
Ampuni aku Ya Robb, lindungi aku dan keluargaku dari panasnya api
neraka.

AKU SEMBUH

Filed under: Curahan Kalbu

Malas rasanya untuk kontrol paska oprasi, karena pasti aku diberi obat lagi.Sudah sepuluh hari ini aku tersiksa harus minum obat setiap hari! Obat bagiku musuh
nomor dua setelah kata oprasi. Tapi yang namanya paska oprasi pasti ada luka
jadi mau tak mau aku harus kontrol dan harus ihkla diberi obat.

Maka hari rabu kemarin aku kontrol ke dokter, hasilnya bagus. Aku sudah
sembuh dan berat badanku pun nambah 2 kg tapi aku masih harus minum obat
selama lima hari lagi. Ya Tuhan semoga obat-obat itu tidak meracuni tubuhku.

Sakit memang menjengkelkan dan sehat adalah sesuatu yang berharga.
Sangat berharga, walau begitu sakitku membawa hikmah.Aku merasa betapa
sayang dan perhatiannya keluarga serta teman-teman padaku. Apalagi Gita.
Aku merasa beruntung sekali punya dia. Dia begitu sayang padaku. Selama
aku sakit dia tidak mau jauh dariku. Sampai bolos kuliah dua hari. Setiap hari
berdoa untuk kesembuhanku. Dia tidak ingin aku meninggalkannya. Aku
semakin yakin akan kebesaran Yang Mahakuasa, selalu ada hikmah di balik
musibah.

Penasaran, kutanyakan ke dokter, bagaimana kista itu ada di tubuhku?
Ternyata hampir 95% wanita di dunia memilikinya. Aku termasuk
yang beruntung karena tumbuh di luar. Biasanya tumbuh di mulut atau
di dinding rahim. Penyebabnya beragam, bisa dari kucing, binatang peli
haraan lain atau pola hidup dan pola makan yang nggak sehat.

Khusus untuk kasusku, sepertinya dulu aku pernah mengalami iritasi
mungkin dari pembalut atau dari CD yang terlalu ketat. Ditambah lagi
dari kecil sampai dewasa, hinga saat ini lebih senang memakai celana
pendek, panjang dari pada rok. Itu membuat kelembaban yang tinggi
di daerah Miss Virgin. Sehingga bakteri mudah tersimpan di sana.
Akibatnya iritasi sedikit saja bisa menimbulkan penyakit.

Aku bisa bertahan sampai 18 tahun, itu karena aku kebetulan
rajin merawat tubuhku, coba kalau aku jorok. Pastilah kista itu
akan berubah menjadi tumor ganas. mengerikan ya?
Untunglah semuanya kini telah berlalu. saran dokter aku jangan
terlalu sering memakai celana panjang.

Bukannya aku takut mati tapi aku tidak ingin mati dalam keadaan
sakit terbaring di rumah sakit dengan selang infus dan tabung
oksigen di tubuhku. Ih aku tak mau. Aku ingin mati dalam sujudku,
dalam jihadku dan dalam imanku. Semoga Alloh ,mengabulkan doaku.

March 7, 2007

AKHIRNYA AKU MENYERAH

Filed under: Curahan Kalbu

Pengalaman ini pada dasarnya kutulis untuk mengisahkan ketololanku.
Sangat konyol untuk ditulis, tapi sekonyol apa pun sebuah pengalaman
mudah-mudahan akan menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang
membacanya. Khususnya aku agar tidak lagi mengulangi ketololan yang
sama.

Aku benci sebuah kata yaitu “oprasi”. Dalam kata itu terbayang, selang infus
pisau bedah, tabung oksigen, anestesi dan radio perekam denyut jantung.
Kebencianku itu pun dilatarbelakangi oleh beberapa pengalaman pahit
orang-orang yang kucintai, yang meninggal di meja oprasi. Mulai dari paman,
bibi, mama, sahabatku Adi dan terakhir kakakku Maria Christina Dewanti.

Maka ketika 18 tahun lalu, aku menemukan sesuatu yang tidak beres di bagian
dalam samping kiri Miss Virginku yaitu sebuah benjolan kecil sebesar biji
kacang hijau, aku tak mau memikirkannya dan kuanggap itu bukan apa-apa.

Delapan belas tahun kemudian, benjolan itu membesar menjadi sebesar
kelereng. Bentuknya bulat lembek tapi tidak mengurangi kecantikan Miss
Virgin apalagi mengganggu kerja suami. Aku juga jadi menyukai si Benjol
entah kenapa dan itu kuanggap sebagai anugrah sekaligus asesoris. Hanya
akhir-akhir ini suamiku sering cerewet menyuruh aku segera ke dokter, ia
sangat khawatir terjadi apa-apa padaku. Tapi ya itulah, semuanya
kuanggap angin lalu.

Sampai suatu hari aku merasakan ada yang aneh dari Si Benjolku,
ia jadi menimbulkan rasa gatal tetapi hanya sebentar, karena setelah
aku membersihkannya dengan betadine vaginal douche semua biasa lagi.

Nah, ceritanya hari Sabtu, 24 Februari kemarin kepsek mengajak semua
guru gerak jalan ke Lembang. Aku dan teman-teman berjalan kaki dari
Parongpong menuju lembang. Biasa saja hanya pegal-pegal sedikit
maklum dah lama banget nggak jalan-jalan. Namun malam harinya
aku merasa seluruh tubuhku sakit, terutama bagian paha dan betis.
Minggu pagi nya aku merasakan sakit pada miss Virginku, setelah
kulihat ternyata rasa sakit itu berasal dari si benjol yang membesar
menjadi sebesar bola pingpong. Ya.. Tuhan aku terkejut, rasanya
sakit sekali tapi sakit itu segera reda setelah aku makan obat penawar
sakit yang kubeli di apotek.

Hari senin pagi aku masih bisa ke sekolah dalam keadaan sakit dan sulit
duduk. Pukul sebelas siang aku sudah pulang. Sampai di rumah si benjol
membesar lagi, sore harinya ketika suamiku pulang kerja, dia melihatnya,
tanpa kompromi lagi dia langsung membawaku ke dokter di jalan dago.
Suamiku benar-benar panik.

Dokter terkejut melihatnya, hari itu juga aku harus masuk ruang oprasi.
Aku mohon agar tidak dioprasi, suami sebaliknya minta dokter segera
mengoprasiku tapi dokter tidak akan mau mengoprasi tanpa persetujuanku.
Suamiku terus membujuk aku agar mau dioprasi, akhirnya kusetujui kepu-
tusannya hari Kamis. Selanjutnya dokter menyuntik si benjol tiga kali
setelah terlebih dahulu dibius lokal. kemudian aku diberinya resep.

Malamnya aku menahan sakit luar biasa, salat pun tak bisa sambil
berdiri. telentang salah, miring juga sakit, padahal aku sudah minum obat.
Aku menangis saja dipelukan suamiku yang tidak henti-hentinya berdoa
sambil mengelus rambutku, sampai akhirnya aku tertidur.

Hari Selasa pagi aku terbangun, rasa sakit itu telah hilang. badanku terasa
nyaman. namun ada sesuatu yang kurasakan ya ada yang basah, iya basah
Pipiskah aku? Ah masa iya sih? Penasaran kulihat, Ya Alloh…darah tergenang
di sana. darah merah bercampur darah putih kekuningan dengan bau betadine
dan anti biotik yang menyengat. Aku langsung bangun dan berlalri ke kamar
mandi.

Pagi itu semua sibuk. Dika anakku yang pertama menyiapkan air hangat untuk
mandiku, padahal dia dah mau berangkat kerja. Ninoy anakku yang kedua mem
bersihkan lantai kamar sebelum berangkat kuliah dan Si bungsu Gita mengganti
kain sprei, sementara suamiku memandikan aku di kamar mandi. Si Suster
pembantu rumah malah bengong. Setelah semuanya berlalu ternyata darah itu
berasal dari Si Benjolku yang kulihat mengecil lagi sebesar buah duku. Pagi
itu pula kutelepon dokter, kukatakan padanya kalau aku siap dioprasi esok.
Aku pasrah, Si Benjol harus dibuang, dia telah menyusahkan semua orang.

Akhirnya Rabu pagi, 28 Februari pukul 06.00 aku terbaring di meja oprasi. Ada
tiga dokter yang menanganiku. Dokter kandungan, bedah dan anestesi. ketika
Dokter anestesi akan membiusku, kupasrahkan hidup dan matiku kepada Alloh.
Aku ikhlas bila harus mengalami nasib yang sama seperti orang -orang yang
kucintai. Aku ikhlas kalau nasibku harus seperti itu.

Waktu obat bius itu dimasukkan ke tubuhku lewat jarum suntik, aku merasa
seperti kesemutan dan langsung kubaca dua kalimah syahadat. selanjutnya aku
melihat dua mahluk bersayap membawaku terbang ke atas awan dan menidurkan
aku di sana. Semua serba putih, lembut, empuk dan wangi bunga. sampai akhirnya
wangi bunga itu menghilang, berganti dengan bau obat yang membuat perutku
mual. Aku muntah-muntah, bersamaan dengan itu aku melihat bayangan wajah
suamiku yang memegang erat tanganku, disampaingnya ketiga anakku. Semua
tersenyum dan mengucapkan Alhamdulillah. Ternyata mereka semua cemas
karena tiga jam setelah oprasi, aku baru sadar. Aku langsung minta pulang
saat itu juga. Dokter dan perawat melarang, tapi aku memaksa, aku ingin dirawat
di rumah saja. Aku tidak kuat bau obat.

Siangnya dan tiga hari berturut-turut, semua teman-teman, keluarga dan tetangga
datang menjenguk. Teman-teman heran karena aku tidak pernah sakit. Ya Alloh,
kenapa aku jadi merepotkan semua orang? Duh.. seandainya rumahku sebuah
istana, ingin kubingkai nama-nama mereka dalam pigura emas. Mereka semua
termasuk teman-temanku yang begitu besar perhatiannya padaku. Ah aku hanya
dapat membingakainya di dalam hatiku dan doaku. Semoga Alloh yang Maha
Kuasa membalas amal kebaikan mereka dengan pahala yang berlipat ganda.

Kini kumulai lagi hari-hariku di sekolah. Terimakasih Ya Alloh, terimakasih Pak
Tonton yang telah mengajakku jalan-jalan dan menjadi jalan aku mau dioprasi.
Coba kalau tidak, pastilah aktivitas si Benjol itu tidak akan terdeteksi. Aku masih
ingat kata-kata dokter Widia kalau dua minggu saja aku telat ke dokter, maka
si benjol yang punya nama cantik ” KIsta” itu akan berubah menjadi kanker.
Ya kanker yang siap membunuhku perlahan-lahan.

Sekarang semuanya telah berakhir, si benjol telah tercabut ke akar-akarnya,
dokter memperlihatkan si benjol yang sudah berada dalam botol. Hiiiyy
bentuknya mengerikan seperti ubur-ubur yang banyak selnya. Ah.. selamat
tinggal benjol, biarkan Miss Virginku cantik kembali seperti semula tanpa
asesoris yang membahayakan hidupku.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com