/>

Semua Tentang Reni

March 7, 2007

AKHIRNYA AKU MENYERAH

Filed under: Curahan Kalbu

Pengalaman ini pada dasarnya kutulis untuk mengisahkan ketololanku.
Sangat konyol untuk ditulis, tapi sekonyol apa pun sebuah pengalaman
mudah-mudahan akan menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang
membacanya. Khususnya aku agar tidak lagi mengulangi ketololan yang
sama.

Aku benci sebuah kata yaitu “oprasi”. Dalam kata itu terbayang, selang infus
pisau bedah, tabung oksigen, anestesi dan radio perekam denyut jantung.
Kebencianku itu pun dilatarbelakangi oleh beberapa pengalaman pahit
orang-orang yang kucintai, yang meninggal di meja oprasi. Mulai dari paman,
bibi, mama, sahabatku Adi dan terakhir kakakku Maria Christina Dewanti.

Maka ketika 18 tahun lalu, aku menemukan sesuatu yang tidak beres di bagian
dalam samping kiri Miss Virginku yaitu sebuah benjolan kecil sebesar biji
kacang hijau, aku tak mau memikirkannya dan kuanggap itu bukan apa-apa.

Delapan belas tahun kemudian, benjolan itu membesar menjadi sebesar
kelereng. Bentuknya bulat lembek tapi tidak mengurangi kecantikan Miss
Virgin apalagi mengganggu kerja suami. Aku juga jadi menyukai si Benjol
entah kenapa dan itu kuanggap sebagai anugrah sekaligus asesoris. Hanya
akhir-akhir ini suamiku sering cerewet menyuruh aku segera ke dokter, ia
sangat khawatir terjadi apa-apa padaku. Tapi ya itulah, semuanya
kuanggap angin lalu.

Sampai suatu hari aku merasakan ada yang aneh dari Si Benjolku,
ia jadi menimbulkan rasa gatal tetapi hanya sebentar, karena setelah
aku membersihkannya dengan betadine vaginal douche semua biasa lagi.

Nah, ceritanya hari Sabtu, 24 Februari kemarin kepsek mengajak semua
guru gerak jalan ke Lembang. Aku dan teman-teman berjalan kaki dari
Parongpong menuju lembang. Biasa saja hanya pegal-pegal sedikit
maklum dah lama banget nggak jalan-jalan. Namun malam harinya
aku merasa seluruh tubuhku sakit, terutama bagian paha dan betis.
Minggu pagi nya aku merasakan sakit pada miss Virginku, setelah
kulihat ternyata rasa sakit itu berasal dari si benjol yang membesar
menjadi sebesar bola pingpong. Ya.. Tuhan aku terkejut, rasanya
sakit sekali tapi sakit itu segera reda setelah aku makan obat penawar
sakit yang kubeli di apotek.

Hari senin pagi aku masih bisa ke sekolah dalam keadaan sakit dan sulit
duduk. Pukul sebelas siang aku sudah pulang. Sampai di rumah si benjol
membesar lagi, sore harinya ketika suamiku pulang kerja, dia melihatnya,
tanpa kompromi lagi dia langsung membawaku ke dokter di jalan dago.
Suamiku benar-benar panik.

Dokter terkejut melihatnya, hari itu juga aku harus masuk ruang oprasi.
Aku mohon agar tidak dioprasi, suami sebaliknya minta dokter segera
mengoprasiku tapi dokter tidak akan mau mengoprasi tanpa persetujuanku.
Suamiku terus membujuk aku agar mau dioprasi, akhirnya kusetujui kepu-
tusannya hari Kamis. Selanjutnya dokter menyuntik si benjol tiga kali
setelah terlebih dahulu dibius lokal. kemudian aku diberinya resep.

Malamnya aku menahan sakit luar biasa, salat pun tak bisa sambil
berdiri. telentang salah, miring juga sakit, padahal aku sudah minum obat.
Aku menangis saja dipelukan suamiku yang tidak henti-hentinya berdoa
sambil mengelus rambutku, sampai akhirnya aku tertidur.

Hari Selasa pagi aku terbangun, rasa sakit itu telah hilang. badanku terasa
nyaman. namun ada sesuatu yang kurasakan ya ada yang basah, iya basah
Pipiskah aku? Ah masa iya sih? Penasaran kulihat, Ya Alloh…darah tergenang
di sana. darah merah bercampur darah putih kekuningan dengan bau betadine
dan anti biotik yang menyengat. Aku langsung bangun dan berlalri ke kamar
mandi.

Pagi itu semua sibuk. Dika anakku yang pertama menyiapkan air hangat untuk
mandiku, padahal dia dah mau berangkat kerja. Ninoy anakku yang kedua mem
bersihkan lantai kamar sebelum berangkat kuliah dan Si bungsu Gita mengganti
kain sprei, sementara suamiku memandikan aku di kamar mandi. Si Suster
pembantu rumah malah bengong. Setelah semuanya berlalu ternyata darah itu
berasal dari Si Benjolku yang kulihat mengecil lagi sebesar buah duku. Pagi
itu pula kutelepon dokter, kukatakan padanya kalau aku siap dioprasi esok.
Aku pasrah, Si Benjol harus dibuang, dia telah menyusahkan semua orang.

Akhirnya Rabu pagi, 28 Februari pukul 06.00 aku terbaring di meja oprasi. Ada
tiga dokter yang menanganiku. Dokter kandungan, bedah dan anestesi. ketika
Dokter anestesi akan membiusku, kupasrahkan hidup dan matiku kepada Alloh.
Aku ikhlas bila harus mengalami nasib yang sama seperti orang -orang yang
kucintai. Aku ikhlas kalau nasibku harus seperti itu.

Waktu obat bius itu dimasukkan ke tubuhku lewat jarum suntik, aku merasa
seperti kesemutan dan langsung kubaca dua kalimah syahadat. selanjutnya aku
melihat dua mahluk bersayap membawaku terbang ke atas awan dan menidurkan
aku di sana. Semua serba putih, lembut, empuk dan wangi bunga. sampai akhirnya
wangi bunga itu menghilang, berganti dengan bau obat yang membuat perutku
mual. Aku muntah-muntah, bersamaan dengan itu aku melihat bayangan wajah
suamiku yang memegang erat tanganku, disampaingnya ketiga anakku. Semua
tersenyum dan mengucapkan Alhamdulillah. Ternyata mereka semua cemas
karena tiga jam setelah oprasi, aku baru sadar. Aku langsung minta pulang
saat itu juga. Dokter dan perawat melarang, tapi aku memaksa, aku ingin dirawat
di rumah saja. Aku tidak kuat bau obat.

Siangnya dan tiga hari berturut-turut, semua teman-teman, keluarga dan tetangga
datang menjenguk. Teman-teman heran karena aku tidak pernah sakit. Ya Alloh,
kenapa aku jadi merepotkan semua orang? Duh.. seandainya rumahku sebuah
istana, ingin kubingkai nama-nama mereka dalam pigura emas. Mereka semua
termasuk teman-temanku yang begitu besar perhatiannya padaku. Ah aku hanya
dapat membingakainya di dalam hatiku dan doaku. Semoga Alloh yang Maha
Kuasa membalas amal kebaikan mereka dengan pahala yang berlipat ganda.

Kini kumulai lagi hari-hariku di sekolah. Terimakasih Ya Alloh, terimakasih Pak
Tonton yang telah mengajakku jalan-jalan dan menjadi jalan aku mau dioprasi.
Coba kalau tidak, pastilah aktivitas si Benjol itu tidak akan terdeteksi. Aku masih
ingat kata-kata dokter Widia kalau dua minggu saja aku telat ke dokter, maka
si benjol yang punya nama cantik ” KIsta” itu akan berubah menjadi kanker.
Ya kanker yang siap membunuhku perlahan-lahan.

Sekarang semuanya telah berakhir, si benjol telah tercabut ke akar-akarnya,
dokter memperlihatkan si benjol yang sudah berada dalam botol. Hiiiyy
bentuknya mengerikan seperti ubur-ubur yang banyak selnya. Ah.. selamat
tinggal benjol, biarkan Miss Virginku cantik kembali seperti semula tanpa
asesoris yang membahayakan hidupku.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com