APAKAH JIN ITU ADA DI SEKITAR KITA?
Pernahkah teman-teman mengalami sesuatu yang sulit diterima oleh akal kita?
Aku sering sekali mengalami hal itu. Aku sendiri bingung mengapa
semua itu bisa terjadi padaku. Pengalaman apakah gerangan?
Ini aku ceritakan ya. Pengalaman pertama, terjadi pada tahun 1976,
hari Jumat ,tanggalnya aku lupa lagi. Waktu itu aku baru duduk di SMP.
Pulang sekolah, pukul sebelas siang aku berjalan sendiri menyusuri
jalan menuju ke rumah. Jarak dari jalan raya ke rumahku kira-kira 1000 meter,
melewati pabrik sarung. Tepat di depan pabrik, datang seorang anak laki-laki,
usianya kira-kira tiga tahun lebih tua dariku. Dia langsung mendekatiku.
Wajahnya aku kenal betul, dia anak kampung sebelah yang terkenal sangat nakal.
Waktu itu pun dia menghampiriku dengan kasar kemudian mendorongku
ke dinding pabrik, sambil memegang kerah kemejaku,dan menodongkan pisau
lipat ke perutku. Mungkin maksudnya mengompas aku. Aku berteriak tapi tak satu pun
orang lewat. Anak itu betul-betul nekad, aku tak menyangka akan bertemu dia. Jadi
aku tidak siap mengambil batu.
Dalam situasi seperti itu, tiba-tiba dari belakang si anak muncul Mang Indeung
penjaga pintu pabrik, mungkin satpam kalau istilah sekarang.
Dia menarik kerah baju anak itu dari belakang. Ketika si anak melihat dia,
aku melihat dengan jelas kalau wajah si anak pucat sekali. Sepertinya
sangat ketakutan, dia melepaskan aku kemudian lari pontang-panting,
pisau di tangannya jatuh. Mang Indeung tersenyum padaku, dan berkata
” Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang mengganggu eneng, percayalah pada emang!”
. Aku pun berterimakasih padanya.
Tiba di rumah, aku tidak melihat ibu, kata Si Mbok, ibu sedang melayat
orang yang meninggal. Aku tanyakan siapa tetangga yang meninggal?
Jawabannya sangat mengejutkaku, ternyata yang meninggal itu Mang Indeung.
Kok bisa begitu sih? Bukankah yang menolongku tadi itu Mang Indeung?
Kata Si Mbok Mang Indeung tertimpa pintu pabrik, jiwanya tidak tertolong
dan meninggal pada pukul 8 pagi. Mayatnya baru dibawa lagi ke rumah pada
pukul 10 siang. Dan dia menolongku pada pukul 11 siang. Mungkinkah itu?
Namun seperti apa yang dia katakan sampai hari ini aku tidak pernah
melihat lagi anak nakal itu.
Pengalaman yang kedua, terjadi pada tahun 1978.
Waktu itu aku sebagai anggota Pramuka yang ditugaskan untuk mengikuti
jambore tingkat propinsi di Gambung Ciwidey. Tepatnya di daerah perkebunan teh.
Malam pertama ketika mau tidur dengan teman-teman dari luar daerah
aku berompimpa untuk mendapatkan tempat tidur terbaik, yaitu tidur di tengah,
diapit oleh dua orang teman, kiri dan kanan.
Aku menang, jadi aku lah yang tidur di tengah.
Eh, ketika aku terbangun tengah malam, aku merasa sangat kedinginan,
ternyata aku sudah berada di bawah bukit ( tendaku berdiri di atas bukit dengan
ketinggian kira-kira 10 meter).Aku berteriak membangunkan raka dan rakanita,
mereka terkejut melihatku tidur di luar.
Aku bingung menjelaskan pada mereka karena aku sendiri tidak mengerti kenapa
aku berada di sana. Terjatuh? Masa bisa terjatuh kan aku diapit teman,
kalau pun aku terjatuh pasti tubuhku akan menggelinding dan itu pasti
membangunkanku dan teman-teman.Semua juga tidak mengerti.
Esok paginya kami melakukan acara mencari jejak.
Aku dan empat orang temanku yaitu Astri, Tini, Dian, dan Fitri.
Mereka dari Bogor, Garut , Cicalengka dan Bekasi. Satu kelompok.
Kami berjalan jauh menyusuri perkebunan teh. Tak terasa hari telah sore,
hujan rintik tapi cukup membuat tubuh kami basah, kami menggigil kedinginan.
Seharusnya jam segitu kami sudah tiba di posko terakhir
ini masih di tengah kebun teh.
Pukul 5 sore kami masih di sana, tiba-tiba kami melihat sebuah rumah.
Hujan membesar kami berlari menuju rumah itu untuk sekedar berteduh.
Baru saja sampai di halaman tiba tiba ada seseorang dengan ramahnya
menyapa kami, dia orang asing. Seorang Nyonya Belanda yang cantik.
Kami dipersilakan duduk di beranda rumahnya yang nyaman. Ada sice
di sana, kami juga diperkenalkan pada suaminya dan ketiga anak mereka
yang lucu. Setelah itu kami diberi minuman susu coklat hangat dan rogout
creakers yang gurih dan renyah. Masih terasa wanginya piterseli di lidahku.
Aku bercerita pada keluarga bule itu dengan bahasa inggris yang terbata-bata,
intinya kami tersesat. Mereka mengerti dan dengan tulus mau mengantarkan
kami dengan mobilnya. Setelah hujan reda, kami pun di antar ke jalan raya.
Kira-kira 100 meter jaraknya dari arena perkemahan, kami turun.
Waktu itu pukul 7 malam. Kami bertemu dengan rombongan raka dan rakanita
yang ternyata sedang mencari kami. Kami dihukum karena tidak disiplin.
Kami membela diri dengan menceritakan semua yang terjadi.
Mereka terlihat kaget, hukuman kami ditambah karena kami dikira berbohong.
Kata mereka, tidak ada rumah di tengan kebun teh. Kami membantahnya.
Esok harinya kami ingin membuktikan pada mereka kalau rumah itu ada.
Bersama mereka kami mencarinya di tengah perkebunan teh.
Ternyata sudah sekian lama berjalan kami tidak menemukan rumah.
Tiba-tiba temanku melihat ada bekas-bekas bangunan yang tinggal pondasinya saja.
Kemudian kami melihat sebuah mobil tua yang sudah karatan dan rongsok
teronggok di samping puing bangunan. Kami masih hapal itulah mobil
yang mengantarkan kami. Aneh bukan?
Pengalaman ketiga, ini terjadi pada tahun 1983, waktu itu aku sudah punya anak satu.
Aku tinggal di Sukabumi. Seperti biasa tiap minggu aku pulang ke rumah ibu. Seperti
waktu itu aku, suami dan anakku Dika yang masih kecil pergi ke rumah ibu. Kami
kemalaman di jalan karena macet. Pukul 12 malam kami masih diperjalanan menuju
rumah. Suamiku berjalan duluan karena sambil menggendong anakku, aku di belakang
membawa koper kecil isi pakaian. Santai saja, tiba di kelokan jalan, aku bertemu
dengan sahabat masa kecilku, Neni. Kami berpelukan karena sudah lama tidak bertemu.
Aku juga bertanya kenapa dia keluar malam-malam sendirian. Dia menjawab, ingin mem
beli salak di warung uwaknya,dia kan sedang ngidam. Trus dia juga bercerita kalau
suaminya dirawat di rumah sakit karena kecelakaan.
Aku panggil suamiku tapi dia terus saja berjalan. Ya sudah aku pun pamit saja.
sampai di rumah ayahku terkejut melihat kami pulang kemalaman, tidak seperti
biasanya. Esok paginya ketika kami sarapan, aku bercerita pada ayah dan ibu
kalau aku akan menemui Neni siang nanti, semalam aku dah janji ma dia.
Ayah ibuku tidak menjawab, mereka hanya berpandangan saja kemudian
mengatakan kalau Neni sudah meninggal seminggu yang lalu, karena kecelakaan
waktu dibonceng motor oleh suaminya. Suaminya sendiri masih dirawat di rumah
sakit.
