NONI
Malam itu di ruang TV aku seolah merasa jadi terdakwa ketika Gita
bertanya kepadaku kenapa aku sekarang lebih betah duduk
di depan komputer dari pada ikut pengajian ibu-ibu ke mesjid
atau aktif kembali sebagai pengurus organisasi wanita di daerahku.
Kenapa aku lebih banyak menghabiskan waktuku di sekolah, padahal tak ada
sedikitpun kontribusi sekolah pada kehidupan keluarga. Itu kata Gita anakku.
” Ingat usia mama sudah kepala empat, mama harus lebih banyak berpikir
untuk bekal hidup nanti, bukan hanya menghabiskan waktu di sekolah,
main internet sampai pulang harus dijemput papa” sambungnya lagi
dengan penuh semangat.
Dilanjutkan kemudian oleh suamiku. Kata suamiku aku sudah bukan
aku yang dulu lagi Aku sekarang sudah menjadi cyber man. Lupa ngaji,
lupa berdawah,lupa kegiatan sosial. ” Tuh Si Elin yang dulu
mama tolong, sekarang jantungnya kumat lagi dan perlu dioprasi”.
“Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta sudah nggak sanggup lagi!”
katanya kemudian mengingatkan aku pada Ellin anak tetangga,
balita lucu yang klep jantungnya rusak. Ayahnya sopir angkot,
ibunya penjual kue keliling. Waktu itu Elin perlu uang banyak
untuk berobat, orang tuanya hanya bisa menangis. Aku sebagai
ketua PKK merasa berkewajiban untuk menolongnya.
Dalam rapat pengurus kukemukakan masalahnya, semua sepakat
untuk membantu. Akhirnya dibuatlah edaran untuk warga khususnya
yang mampu terutama untuk para pemilik toko swalayan dan salon
serta bengkel di depan rumah. Alhamdulillah terkumpullah uang
untuk pengobatan Ellin. Ellin pun sehat kembali dan sekarang sudah kelas 3 SD.
Bayangan Elin memudar, muncul Noni. Noni anak berusia 4
Kulitnya putih bersih badannya gemuk, rambutnya keriting,
matanya bulat indah dan mulutnya tidak berhenti berceloteh.
Tiap pukul 1 siang dia berdiri di depan pagar rumahku.
Menungguku pulang lalu minta kugendong. Sampai di dalam rumah,
mulutnya tak henti berceloteh menceritakan apa yag dialaminya hari itu,
sambil terus mengikutiku yang mondar mandir antara dapur dan
ruang makan untuk menyiapkan makan siang. Waktu aku solat dia ikutan juga.
Noni memanggilku dengan sebutan Mama Noni Atik, katanya
diajari oleh Wa Endu tetangga depan rumahku yang artinya
Mama Noni yang cantik. Ah dasar Si Uwa.
Siapakah Noni? Dia anak tetangga dari Flores.
Ayah Noni tak ada seorangpun yang tahu. Ya karena ibunya
yang menjadi tulang punggung keluarga bekerja sebagai PSK
( Penjaja Seks Komersil ) yang harus membiayai kedua orang tuanya
dan adik-adiknya. Sehari-hari Noni diasuh oleh kakek da neneknya.
Ibunya yang jarang pulang membuat dia tidak dekat dengan Sang Ibu.
Dia sering main ke rumahku karena rumahku selalu menjadi pusat kumpul
bocah. Maklum anakku kan tiga orang , masing-masing bawa teman jadinya rame.
Malangnya tak ada yang mau berteman dengan Noni karena dia terkecil usianya
paling dia bermain dengan Gita yang waktu itu baru berusia 2 tahun
tapi sepertinya Gita belum bisa diajak bermain.
Aku sering melihat Noni berdiri di sudut garasi rumahku
sambil memandang anak-anak lain yang sedang bermain.
Aku menghampirinya, mengajaknya ngobrol, menggendongnya,
memberinya kue atau makanan kesukaannya. Sejak itulah aku dekat
dengan Noni. Dia benar-benar tidak bisa lepas dariku
Mungkin dia menemukan pengganti ibunya. Aku pun menganggap dia
seperti anakku sendiri. Aku masih ingat lagu pertama yang kuajarkan padanya
lyriknya begini:
Kring kring kring ada sepeda
Sepedaku roda tiga
Kudapat dari mama karena rajin ke gereja.
Anehnya, dia tidak pernah mau menyanyikan lagu itu.
Dia lebih suka menyanyikan lagu yang lyriknya seperti ini
Iman dibangun di atas enam sendi. Iman pertama antum mina billahi
Wamalaikati, wakutubihi, warosullihi, wabilminal bil basri, watumina bil qodar.
Aneh ya, padahal itu lagu yang kuajarkan untuk anak-anakku
dan muridku yang muslim. Noni bukan muslim, dia protestan
tapi dia tidak pernah mau ikut neneknya ke gereja.
Dia lebih suka ikut aku ke pengajian. Aku sering membujuknya
dengan menyanyikan lagu sepeda roda tiga. Aku akan membelikan dia sepeda
kalau dia mau ikut ke gereja bersama keluarganya. Dia tetap tidak mau.
Ah, Noni tak terasa air mataku berlinang mengingat dia.
Dia kini telah tiada. Tepat diusianya yang kelima,
Tuhan memanggilnya. Aku masih ingat saat itu, pukul 3 pagi
kakeknya menggedor pintu rumahku, dengan terhuyung
aku membukanya. Waktu itu aku baru saja pulang penataran
selama satu minggu. Tidur ku pun baru saja beberapa jam.
Kakeknya mengabarkan Noni pingsan. Setengah berlari aku datang
ke rumahnya. Ya Tuhan anak itu tergolek lemah, wajahnya pucat
dari hidungnya keluar darah. Aku dan keluarganya segera membawa
dia ke rumah sakit Rajawali.Terlambat! Tranfusi darah dan infus sudah
tak bisa masuk. Pukul 5 pagi Noni meninggal. Demam berdarah
telah merenggut nyawanya.Aku menyalahkan kakeknya kenapa tidak segera
dibawa ke dokter? Kenapa harus menunggu sampai satu minggu?
Jawabannya tak ada uang karena ibunya tak pulang-pulang. Sementara
aku lagi di garut dan suamiku lagi penataran pula di lembang.
Siangnya, aku melihat Noni seperti bidadari kecil bergaun putih
yang tidur di peti mati. Di samping kiri peti berdiri ibunya dengan
tatapan kosong, tak terlihat air mata di pipinya. Di samping kanan peti,
aku erat memegang tangan Noni. Air mataku tak henti mengalir
Hatiku menjerit pada Tuhanku : Ya Alloh, dia bukan anakku tapi
terimalah dia sebagai anakku, sebagai muslim umat Muhammad.
Jadikan dia Gilman dan Wildan di surgamu.
Dia masih kecil belum mengerti apa-apa, terimalah dia ya Alloh.
” Naaahh, mama menangis berarti nyadar kan?
Suara GIta menyadarkanku. “Nyadar apa?
Memangnya mama nggak waras?” kataku. Suamiku menengahi,
” Ya sudah, mudah-mudahan mama berubah setelah kita ingatkan!”
Aku jadi merenung, benarkah yang kulakukan selama ini salah?
Aku bangun pukul 4 pagi menyiapkan sarapan, beres-beres rumah.
Jam 6.30 pergi ke sekolah, pulang pukul 4 sore,terus mandi
dan menyiapkan makan malam. Sholat magrib berjamaah terus ngaji bareng
sampai pukul 7. Pukul 7 sampai pukul 10 aku menulis, terus begitu setiap hari.
Salahkah aku ? Ah jangan-jangan aku seperti si kakek penjaga surau
yang kecewa karena mendengar cerita Ajo Sidi dalam cerpen Robohnya Surau Kami.
Atau jangan-jangan aku dalah surau yang roboh? Atau aku telah jadi Cyber man
seperti yang dikatakan suamiku? Jalan hidupku memang telah berubah, sekarang
aku sangat memerlukan internet, untuk referensi tulisanku, salahkan aku browsing?
Urusan chatting, anggaplah itu sebagai ajang silaturahmi di dunia maya.
Ah kenapa aku sok membela diri?

Hidup memang tidak selalu seperti yang kita inginkan. Dan, apa yang kita inginkan tidak selalu merupakan sesuatu yang kita butuhkan.
Kehidupan manusia tidak berada dalam satu titik kendali, melainkan banyak sekali titik kendali yang menggerakkan kita. Kendali dalam diri, masyarakat dengan berbagai aspeknya, alam, dan Tuhan tentunya. Bahkan dalam diri kita sendiri bukanlah merupakan pengendali tunggal, ada yg disebut akal, nurani dan nafsu dan belum lagi kendali biologis.
Seperti kematian, sebagai salah satu kejadian yg sering dianggap “istimewa” dalam siklus kehidupan manusia, kalau pun ia multak merupakan kehendak Tuhan (tak bisa tolak dan tak bisa diminta), Tuhan selalu memperlihatkan prosesnya dalam jaring-jarimg sistem yang saling berhubungan dalam kehidupan manusia dan mekanisme alamiahnya. Tak ada yang dominan dalam mekanisme-sistemik itu dan tidak ada yang tidak dominan, semua berada dalam posisi yang sama, tak berdaya, hanya berusaha. Apakah kehadiran seseorang bakal menghentikan matinya seseorang, atau tidak hadirnya seseorang akan mempercepat kematian seseorang? rasanya tidak!! Pemahaman bahwa kehadiran seseorang bakal menghentikan matinya seseorang, atau tidak hadirnya seseorang akan mempercepat kematian seseorang hanyalah upaya rasionalisasi dari sebuah peristiwa, supaya kita tidak merasa penasaran dan berusaha mengambil makna serta hikmah dari suatu kejadian.
Orang menyebut bahwa cara pandangku ini sebagai sikap deterministik atau jabariyah. itu kalau pandangan ini dilihat sebagai realitas linier. Akan tetapi bila kita melihatnya secara integral, dimana setiap entitas meupakan bagian integral dari setiap entitas yang ada di dalam keseluruhan realitas ini, kita dengan terpaksa harus meng-IYA-kan. Kalau kita melihat secarik kertas yng menyala karena didekatkan ke api lilin, kita akan secara langsung mengatakan bahwa api lilin itulah satu-satunya yg menjadi sebab terbakarnya kertas itu. Kita tidak pernah secara sadar untuk menghubungkan hal itu dengan hal-hal lain, katakanlah dengan banjir lumpur di Sidoarjo. Seperti juga kematian Noni kita tak pernah mau menghubungkannya dengan bajir lumpur di Sidoarjo, atau dengan ketidakpedulian kepala desa atau camat, kita cenderung untuk mentakakan gara2 Noni tidak cepat dibawa ke rumah sakit yang disebabkan tidak adanya uang untuk membayar biaya rumah sakit, dan itu disebabkan Mama Noni Atik (teh Reni) tidak ada di rumah demikian juga dengan akang-nya. Pertanyaannya kalau saja dana pengobatan itu tersedia terlepas dana dari siapa pun, apakah Nonik tidak akan jadi dipanggil Tuhan? Atau kenapi tadak ada pertanyaan, “kenapa matinya Noni bersamaan dengan tidak adanya Mamah Noni Atik (teh Reni) dan akangnya? atau… kenapa-kenapa yang lainnya….??? bila semua kenapa itu pun terjawab, apakah Noni sekarang masih ada? dan tersenyum mendengar jawaban dari sejumput pertanyaan kenapa itu?
Salah dan benar yang hadir dalam penilaian manusia tentang seseorang atau suatu persitiwa hanyalah memperlihatkan kebodohan dan kenaifan kita tentang hakikat sebuah peristiwa….. Wallahualam….
Comment by Ahmad Gibson — July 7, 2007 @ 11:16 am
Aduh comment nya pak Ahmad harusnya di postingkan ke dalam blognya bu Reni. Karena disamping bagus panjang lagi. Dan banyak pembaca yang dapat membacanya. Tuh geuning kanyahoan ayeuna mah, cenah chatting teu ngaganggu kana kehidupan bu Reni di dunya nyata, geuning tah aya kaganjilan nana sabarang mengenal dunia chatting teh. aya nu ilang kegiatan nana. sok ayeuna mah kudu bisa ngatur waktu, aya waktu keur chatting jeung fz tah eta mah kudu. da bisi fz kaleungitan ku bu Reni…..he he he maunya…terus aya waktu kegiatan keur tatangga, komo kulawarga mah kudu priority number one…..
Comment by fz — July 13, 2007 @ 5:56 am
Luar biasa. Kehidupan memang terlalu sulit untuk dipahami dan mencari jawabannya. Tetapi, memaknai kehidupan itu sendiri adalah hal yang terpenting. Salut untuk Mba Reni. Semoga Tuhan selalu memberkati Mba Reni dan keluarganya. Amin.
Comment by aandheeka — July 13, 2007 @ 10:05 am
Terimakasih kepada semua sahabat yang telah memberikan komentar pada tulisanku. Semua sangat berharga. Usul Fz bagus sekali, insyaalloh akan dibuat lagi kategori di blog ini khusus buat komentar. Nanti komentar yang terbaik harus ada hadiahnya ya? Gimana kalau Fz yang jadi sponsor untuk urusan hadiah, setuju? ( He..he..he. just kidding ! ) Buat Kang Ahmad Gibson juga terimakasih, duuhhh asa kurang PD kalau ketemu akang di dunia maya teh, malum atuh da akang mah sudah jadi penulis kahot. Terimakasih sekali atas komentarnya,di tengah kesibukan akang sebagai dosen, masih sempat menulis untuk teh reni. Terimakasih ya Kang. Buat Kang Dika juga makasih, mudah-mudahan nggak bosan baca blog teteh yang sangat sederhana ini, maklum belum sempat di update.
Comment by reni — July 17, 2007 @ 7:45 am