HARI YANG MELELAHKAN
Hari Rabu tanggal 26 September kemarin, bertepatan dengan hari ke-15 Ramadhan,
merupakan hari yang sangat melelahkan bagiku. Sejak bangun sahur aku tidak bisa tidur
lagi karena harus menyelesaikan penulisan proposal kegiatan pelatihan peningkatan
kompetensi guru Bahasa Indonesia di Kota Cimahi yang rencananya akan dilak-
sanakan pada tanggal 25 Oktober mendatang.
Tepat pukul 7.30 pagi proposal itu kelar. Dengan terburu-buru aku pergi ke sekolah.
Orang yang pertama kucari adalah Kang UU, aku katakan padanya agar mengetik
proposal itu dan harus selesai pukul 13 siang. Setelah itu aku langsung masuk kelas,
mengajar sampai pukul 12 siang. Beres mengajar ke mushola dulu, setelah itu menge
dit buku panduan pesantren kilat. Buku itu harus segera dicetak danharus selesai hari
Jumat lusa. Selesai menu lis buku aku menulis email untuk seorang teman yang sudah
beberapa kali menanyakan tentang emailnya yang belum dibalas. Sambil menulis aku
membuka YM, wah ternyata teman-teman banyak yang sedang Ol. Mereka me-nyapaku,
aku pun haus menjawab lebih dari 10 PM yang muncul di layar monitor. Puyeng juga,
tiga orang teman langsung sign out ketika aku telat menjawab.
Sedang asyik chatt, hp ku berbunyi, Kang Aep ketua MGMP memintaku segera datang
ke pertemuan pengurus untuk presentasi proposal dalam musyawarah kegiatan.
Aku pun pamit pada semua teman mayaku. Pukul 14 akusudah berada di tengah-tengah mereka.
Pertemuan pun selesai pukul 15.30 dengan hasil akhir isi proposalku dterima.
Selesai pertemuan aku pun pulang.
Sampai di rumah pukul 16.30. Badan terasa cape. Istirahat sebentar, mandi terus sholat.
Aku tak melihat anak-anak di rumah katanya mereka semua ada acara buka bersama
dengan teman-temannya. Sementara makanan untuk ayah sudah ada yang menyiapkan.
Tinggal suamiku yang sulit makan kalau bukan aku yang masak tapi sepertinya suamiku
tak tega memintaku memasak untuknya dalam kondisi lelah seperti itu.
Akhirnya kami sepakat makan di luar.
Tempat yang kami pilih adalah warung Bu Imas di Jln. Kebon Kelapa tapi ternyata sudah penuh.
Kendaraan pun sulit parkir. Jadinya ya ke Ampera saja. Itu pun harus antri. Beres makan langsung
menuju Masjid Agung Bandung untuk sholat magrib.
Selalu ada kerinduan setiap memasuki Masjid Agung yang sekarang bernama Masjid Raya Bandung,
tempat dulu aku dan teman-teman ngabuburit. Masjid yang besar dan megah. Inilah rumah Tuhanku.
Sambil berjalan menuju ruang khusus wanita, mataku tak lepas memandang sekeliling,
tiba-tiba terpaku pada dinding masjid. Ada banyak kertas tertempel di sana. Penasaran kubaca,
di kertas-kertas itu tertulis : ” Hormatilah Kesucian Tempat Ini “, sementara tulisan yang paling
banyak adalah ” Dilarang Berpacaran di Dalam Masjid ” atau ” Mohon Tidak Berpacaran di
Dalam Masjid ‘ Aku jadi merenung , rasanya tak pantas tulisan seperti itu di pasang di masjid,
bagaimana kalau di baca umat lain? Sudah separah itukah moral remaja Kota Bandung?
Sampai-sampai masjid dijadikan tempat pacaran.
Ah , sampai juga di tempat sholat wanita, aku pun tersungkur di atas sajadah.
Tak terasa air mataku membasahi pipi, entah kenapa setiap salat di masjid itu
dan di atas sajadah hijaunya itu aku merasa ada di dalam pelukan Tuhanku.
Aku merasa betapa tak berartinya diriku di hadapanNya. Kuadukan semua
keluh kesahku, kumohonkan ampunan untuk semua dosaku. Aneh, ada rasa
enggan beranjak dari tempat itu, padahal dua kali sholat sunat bada dan qobla
magrib sudah kulakukan tapi aku belum mau beranjak juga kalau tak ingat suamiku
pasti sudah selesai solatnya dan menungguku di luar.
Benar saja, sederet omelan dan pertanyaan ditujukan padaku ketika aku sudah berada
di hadapan suamiku tapi aku pura-pura tidak mendengarnya, aku hanya tersenyum saja.
Aku tak peduli, aku hanya mendengar suara hatiku bernyanyi………………………………
DUHAI TUHAN, KU TAK PANTAS KE SURGAMU, NAMUN AKU PUN TAK KAN KUAT KE NERAKAMU
DOSA - DOSAKU BAGAI PEPASIR DI PANTAI, DENGAN RAHMATMU AMPUNKANLAH YA TUHANKU.
Marhaban Ya Ramadhan Bulan suci yang lama kunanti kini datang lagi, terimakasih Ya Rob kami dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Walaupun Ramadhan tahun ini tak seindah tahun kemarin karena ibu tak bisa hadir lagi bersama kami. Ibu telah berpulang memenuhi panggilan-Mu di akhir bulan Juli kemarin, tepatnya pada tanggal 23. Rutinitas ramadhan yang selalu kurindukan adalah saat menyiapkan makanan untuk berbuka. Di saat itu kami menyatukan hati karena seluruh anggota keluarga terlibat langsung dalam urusan persiapan buka puasa. Suami bertugas membuat sambal dan sayur. Aku memasak makanan lainnya, membuat makanan pembuka dan Gita membuat makanan penutup. Dika dan Ninoy menyiapkan peralatan makan dan menata meja. Tamu kehormatan kami setiap hari yang harus kami jamu tiada lain adalah ayah. Satu-satunya orang tua kami yang masih ada dan tinggal di rumah kami. Beres berbuka puasa, dilanjutkan dengan solat isya dan tarawih berjamaah. Setiap hari ayah,suami dan anak-anak bergantian menjadi imam. Satu minggu sekali baru kami pergi ke masjid untuk berjamaah dengan tetangga karena satu minggu sekali suami mendapat jadwal menjadi imam di masjid. Ah semua berjalan begitu indah, terimakasih Ya Rob atas semua anugrah yang telah Kau berikan. Ramadhan kali ini ada anggota baru di rumah yang ikut mewarnai kebahagiaan kami yaitu hadirnya Miu yang kini usianya sudah 8 bulan. Miu, seekor kucing Persia yang sejak kecil hanya tahu kami sebagai keluarganya. Lucunya di bulan puasa ini dia ikut-ikutan berpuasa. Dia hanya mau makan kalau magrib dan sahur saja. Awalnya tidak kami perhatikan kelakuan anehnya itu. Bila waktu sahur dia ikut bangun terus ribut minta makanan khusus untuknya sesudah makan dia tidur lagi dan bangun pukul 3 sore kemudian nonton TV. Demikian pula bila sedang solat tarawih, Miu duduk di samping kami sampai solat selesai. Sejak itu, setiap menjelang imsak suamiku selalu mengajari Miu berdoa dengan menggendongnya dan menengadahkan kedua tangan Miu, lucu sekali, semua tertawa melihat semua itu. Kini aku jadi bingung, buat lebaran nanti, pakaian apa yang cocok buat Miu ya he..he..he….

