/>

Semua Tentang Reni

November 8, 2007

NAMAKU DIMAS

Filed under: Cerpen

Cerpen  Karya Syifa Nauval Muftia Kelas 9A

Namaku Dimas. Lengkapnya Dimas Setiaji. Bagus kan? Ibuku yang memberikan nama itu padaku. Arti
dari Dimas yaitu orang yang dihormati dan disayangi orang. Sedangkan Setiaji adalah nama belakang Embahku. Bulan ini aku baru saja masuk SD. Sedangkan Bapakku sudah meninggal.

Orang-orang bilang ibu adalah wanita malam. Ada juga yang menyebut ibu kupu-kupu malam, tentu saja aku tak heran sebab ibu bekerja saat malam hari. Bahkan Teh NIning tetangga sebelah rumah kontrakanku bilang, kalau ibu adalah seorang perek. Aku sendiri tak tahu apa artinya perek. Aku belum sempat bertanya pada ibu.

Sebenarnya, pekerjaan ibu tidak berat. Ibu hanya cukup duduk di dalam cafe bersama-sama teman ibu. Namun teman-teman ibu tersebut semuanya lelaki. Selain itu, seringkali ibu membawa teman ibu ke rumah untuk menginap. Itu saja, tetapi setiap tamu ibu datang, aku pasti harus tidur ditemani Mak Sarah, pemilik rumah kontrakan. Huh, bencinya!

Siang itu sehabis pulang sekolah aku main ke rumah Teh Nining.Aku bertanya, " Teh, kalau perek apa artinya sih?" Teh NIning terperanjat. Aku melihat ekspresinya," Kenapa Teh? Dimas nanya yang aneh gitu?" tanyaku polos. " Engga…. bukan. Teteh nggak apa-apa".

Terus artinya perek apa dong Teh?" Teh Nining tercenung, kemudian menjawab, " Dimas, sebaiknya Dimas jangan nanya-nanya hal seperti itu. Maafkan Teteh juga ya,pernah menyebut ibu Dimas perek" jawab Teh Nining pelan. Aku terdiam. Penasaran, Kenapa  Teh Nining nggak mau jawab?

" Ibu, orang - orang bilang, ibu perek, perek itu apaan sih?" tanyaku pada ibu sepulang dari rumah Teh Nining. Ibu menatapku tajam " Tahu dari mana kata perek itu?" " Dari Teh Nining, memangnya kenapa Bu?" balasku. Sama seperti Teh Nining Ibu terdiam sejenak, lalu menjawab, " Dimas, Dimas sayang ibu kan? Nah sekarang Dimas jangan dengarkan apa kata orang! Dimas percaya deh sama ibu, ucap ibu penuh harap. " Iya Bu, Dimas juga sayang ibu.."

 Malam yang gelap. Hujan dan guntur tak henti-hentinya ikut menghiasi kelamnya malam. Uugh aku takut! Ibu belum pulang, padahal sudah jam setengah sepuluh. Di rumah aku hanya ditemani Mak Sarah. Aku ngantuk, juga takut……

Beberapa saat kemudian, ibu datang, tapi dengan seorang tamu laki-laki. Huh tamu lagi, tamu lagi. Aku benci pada tamu-tamu ibu! Kulihat Ibu sedang mengeringkan bajunya yang basah saat aku menghampiri ibu. " Ibu..Ibu.. Dimas ingin tidur dengan Ibu sekarang. Dimas takut, Dimas bosan tidur dengan Mak Sarah terus…" ujarku

" Dimas, malam ini Dimas tidur dengan Mak Sarah lagi yaa…., Ibu ada tamu" jawab Ibu lembut. " Tapi kenapa kita tidak tidur bertiga saja seperti dengan bapak dulu?" jawabku kesal. " Sayang…tidak bisa malam ini.." jawab ibu. " Tapi Bu…"       " Ayo..tidur! Jangan membantah Ibu! Ayo cepat tidur!" setengah membentak. Aku kecewa. " Ibu jahat! Ibu tak sayang lagi sama Dimas! Dimas benci Ibu" jeritku seraya berlari ke kamar. Air mataku tumpah. Aku kecewa. Mengapa ibu lebih mementingkan tamunya dari pada aku? Aku menangis di tempat tidur. Mak Sarah menghiburku. Aku menangis di pangkuan Mak hingga tertidur.

Entah jam berapa sekarang. Di luar masih gelap dan hujan. Aku melirik jam 11.46 malam. Uuh.. entah mengapa aku terbangun. Kulihat Mak Sarah tertidur pulas di sampingku. Iseng…, aku ingin melihat ibu di kamarnya. Aku ingin tidur dengan ibu.

Sayup-sayup aku mendengar deburan air dari kamar mandi yang ada di sebelah kamar ibu. Seperti orang sedang mandi, batinku. Kuintip kamar ibu. Pintu terbuka lebar. Kulihat lelaki tamu ibu sedang tertidur pulas dengan celana pendek tanpa atasan. Kalau tak salah laki-laki itu sudah tiga kali  ikut menginap di kamar ibu. Kutatap lekat-lekat wajahnya. Tiba-tiba saja timbul rasa benci yang menggelegak dalam dadaku. Rasa benci pada semua tamu-tamu ibu. Mereka telah merebut kehangatan, peluk cium Ibu dariku.

Tanpa suara, kuambil pisau dapur yang terselip di dinding dapur. Dengan nafas memburu, aku segera kembali dan menghampiri pria yangsedang tidur tersebut. Tanpa berpikir dua kali, dengan rasa benci yang memuncak, kutikamkan pisau itu ke dadanya, berkali-kali. Darah menyembur membasahi seprai, lantai, dan jari-jariku. Darah segar itu meleleh di antara jari-jariku. Aku sangat membencinya! Setelah tubuh lelaki itu tidak bergerak lagi, kuletakkan pisau itu. Aku tersenyum puas. Sekarang tak ada lagi yang akan menghalangi ibu dariku. Siapa yang berani mendekati ibu, aku harus bunuh juga!

Dengan senyum yang masih tersungging di bibirku, aku berlari lurus menuju pintu, menerobos lebatnya hujan. Aku bahagia. Seperti namaku, Dimas Setiaji. Aku harus disayangi dan dihormati. Dulu almarhum bapak pernah menasehatiku, lawanlah musuh dan kejahatan selagi aku bisa. Sekarang aku telah berhasil mengalahkan musuhku!

Namaku Dimas Setiaji. Sambil menerobos pekatnya malam, aku teringat Bi Isah, adik ibuku yang tinggal di Tangerang. Aku akan ke Tangerang. Aku benci ibu. Benar apa kata orang-orang, ibu bukanlah orang yang baik. Aku akan mencari Bi Isah karena aku tahu Bi Isah sayang padaku. Aku yakin Bi Isah pasti mau menyekolahkanku. Tapi di mana Tangerang itu? Aku termangu di tengan derasnya hujan dan badai di malam itu…… 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com