NAMAKU DIMAS
Cerpen Karya Syifa Nauval Muftia Kelas 9A
Namaku Dimas. Lengkapnya Dimas Setiaji. Bagus kan? Ibuku yang memberikan nama itu padaku. Arti
dari Dimas yaitu orang yang dihormati dan disayangi orang. Sedangkan Setiaji adalah nama belakang Embahku. Bulan ini aku baru saja masuk SD. Sedangkan Bapakku sudah meninggal.
Orang-orang bilang ibu adalah wanita malam. Ada juga yang menyebut ibu kupu-kupu malam, tentu saja aku tak heran sebab ibu bekerja saat malam hari. Bahkan Teh NIning tetangga sebelah rumah kontrakanku bilang, kalau ibu adalah seorang perek. Aku sendiri tak tahu apa artinya perek. Aku belum sempat bertanya pada ibu.
Sebenarnya, pekerjaan ibu tidak berat. Ibu hanya cukup duduk di dalam cafe bersama-sama teman ibu. Namun teman-teman ibu tersebut semuanya lelaki. Selain itu, seringkali ibu membawa teman ibu ke rumah untuk menginap. Itu saja, tetapi setiap tamu ibu datang, aku pasti harus tidur ditemani Mak Sarah, pemilik rumah kontrakan. Huh, bencinya!
Siang itu sehabis pulang sekolah aku main ke rumah Teh Nining.Aku bertanya, " Teh, kalau perek apa artinya sih?" Teh NIning terperanjat. Aku melihat ekspresinya," Kenapa Teh? Dimas nanya yang aneh gitu?" tanyaku polos. " Engga…. bukan. Teteh nggak apa-apa".
Terus artinya perek apa dong Teh?" Teh Nining tercenung, kemudian menjawab, " Dimas, sebaiknya Dimas jangan nanya-nanya hal seperti itu. Maafkan Teteh juga ya,pernah menyebut ibu Dimas perek" jawab Teh Nining pelan. Aku terdiam. Penasaran, Kenapa Teh Nining nggak mau jawab?
" Ibu, orang - orang bilang, ibu perek, perek itu apaan sih?" tanyaku pada ibu sepulang dari rumah Teh Nining. Ibu menatapku tajam " Tahu dari mana kata perek itu?" " Dari Teh Nining, memangnya kenapa Bu?" balasku. Sama seperti Teh Nining Ibu terdiam sejenak, lalu menjawab, " Dimas, Dimas sayang ibu kan? Nah sekarang Dimas jangan dengarkan apa kata orang! Dimas percaya deh sama ibu, ucap ibu penuh harap. " Iya Bu, Dimas juga sayang ibu.."
Malam yang gelap. Hujan dan guntur tak henti-hentinya ikut menghiasi kelamnya malam. Uugh aku takut! Ibu belum pulang, padahal sudah jam setengah sepuluh. Di rumah aku hanya ditemani Mak Sarah. Aku ngantuk, juga takut……
Beberapa saat kemudian, ibu datang, tapi dengan seorang tamu laki-laki. Huh tamu lagi, tamu lagi. Aku benci pada tamu-tamu ibu! Kulihat Ibu sedang mengeringkan bajunya yang basah saat aku menghampiri ibu. " Ibu..Ibu.. Dimas ingin tidur dengan Ibu sekarang. Dimas takut, Dimas bosan tidur dengan Mak Sarah terus…" ujarku
" Dimas, malam ini Dimas tidur dengan Mak Sarah lagi yaa…., Ibu ada tamu" jawab Ibu lembut. " Tapi kenapa kita tidak tidur bertiga saja seperti dengan bapak dulu?" jawabku kesal. " Sayang…tidak bisa malam ini.." jawab ibu. " Tapi Bu…" " Ayo..tidur! Jangan membantah Ibu! Ayo cepat tidur!" setengah membentak. Aku kecewa. " Ibu jahat! Ibu tak sayang lagi sama Dimas! Dimas benci Ibu" jeritku seraya berlari ke kamar. Air mataku tumpah. Aku kecewa. Mengapa ibu lebih mementingkan tamunya dari pada aku? Aku menangis di tempat tidur. Mak Sarah menghiburku. Aku menangis di pangkuan Mak hingga tertidur.
Entah jam berapa sekarang. Di luar masih gelap dan hujan. Aku melirik jam 11.46 malam. Uuh.. entah mengapa aku terbangun. Kulihat Mak Sarah tertidur pulas di sampingku. Iseng…, aku ingin melihat ibu di kamarnya. Aku ingin tidur dengan ibu.
Sayup-sayup aku mendengar deburan air dari kamar mandi yang ada di sebelah kamar ibu. Seperti orang sedang mandi, batinku. Kuintip kamar ibu. Pintu terbuka lebar. Kulihat lelaki tamu ibu sedang tertidur pulas dengan celana pendek tanpa atasan. Kalau tak salah laki-laki itu sudah tiga kali ikut menginap di kamar ibu. Kutatap lekat-lekat wajahnya. Tiba-tiba saja timbul rasa benci yang menggelegak dalam dadaku. Rasa benci pada semua tamu-tamu ibu. Mereka telah merebut kehangatan, peluk cium Ibu dariku.
Tanpa suara, kuambil pisau dapur yang terselip di dinding dapur. Dengan nafas memburu, aku segera kembali dan menghampiri pria yangsedang tidur tersebut. Tanpa berpikir dua kali, dengan rasa benci yang memuncak, kutikamkan pisau itu ke dadanya, berkali-kali. Darah menyembur membasahi seprai, lantai, dan jari-jariku. Darah segar itu meleleh di antara jari-jariku. Aku sangat membencinya! Setelah tubuh lelaki itu tidak bergerak lagi, kuletakkan pisau itu. Aku tersenyum puas. Sekarang tak ada lagi yang akan menghalangi ibu dariku. Siapa yang berani mendekati ibu, aku harus bunuh juga!
Dengan senyum yang masih tersungging di bibirku, aku berlari lurus menuju pintu, menerobos lebatnya hujan. Aku bahagia. Seperti namaku, Dimas Setiaji. Aku harus disayangi dan dihormati. Dulu almarhum bapak pernah menasehatiku, lawanlah musuh dan kejahatan selagi aku bisa. Sekarang aku telah berhasil mengalahkan musuhku!
Namaku Dimas Setiaji. Sambil menerobos pekatnya malam, aku teringat Bi Isah, adik ibuku yang tinggal di Tangerang. Aku akan ke Tangerang. Aku benci ibu. Benar apa kata orang-orang, ibu bukanlah orang yang baik. Aku akan mencari Bi Isah karena aku tahu Bi Isah sayang padaku. Aku yakin Bi Isah pasti mau menyekolahkanku. Tapi di mana Tangerang itu? Aku termangu di tengan derasnya hujan dan badai di malam itu……

Aduh bagus ceritanya, saya kira cerita ini the true story, abis kaya yang betul cara menuliskannya. Dapat ilham dari mana nih? mungkin karena ibu guru bhs Indonesia nya bisa cara memberikan pelajaran menulis, jadi muridnya juga pinter menulis,,good luck.
Comment by uwa Fz — November 10, 2007 @ 11:40 am
Ihhh, atuh siapa dulu gurunya he..he..he…, terimakasih fz atas comennya untuk murid saya, semoga komenter fz akan jadi pemicu semangat bagi Syifa.
Comment by reni — November 13, 2007 @ 3:03 am
Menjali hidup, mengaguringi kehidupan memang tidak selalu sesuai dengan keinginan dan angan-angan. Hidup memang sebuah kepastian, akan tetapi dalam menjalaninya senantiasa berada dalam tarikan antara kehendak dan kemestian-kemestian, antara imanensi dan transendensi, antara kebebasan untuk memilih dan kemestian untuk memilih. Disitulah kehidupan manusia menemukan maknanya.
Saya pernah menulis, tentang kehidupan dan kehendak….:
“Wanci Isuk hirup ngan ngungudag kalangkang, tengah poe nincak kalangkang, pasosore ditutur-tutur kalangkang…. reup peuting satungkebing diri ditutup ku kalangkang.
Keur ngora ngungudag kahayang, tengah tuwuh numpakkan kahayang, geus kolot ditutur-tutur kahayang. Rup ku taneuh bereum….. kakarara ngarasakeun balukar tina kahayang.
Cerita sastra yang merujuk pada kehidupan nyata, yang bukan sekedar hayalan murni, tentunya bukan sekedar permainan imajinasi sang pengarang, akan tetapi juga refresentasi dari fakta kehidupan konkrit; Namun demikian, juga merupakan refresentasi dari cara berpikir sang tokoh yang sesuai dengan “usia” dan berbagai aspek dari sang tokoh….
Kreasi sastra, merupakan hasil dari tawar-menawar (dialog) antara gejolak dan dinamika serta liarnya imajinasi sang pengarang dengan tuntutan “kontekstualisasi” dari alur dan setting cerita. Disinilah diperlukannya kekayaan pengetahuan dan pengalaman sang pengarang mengenai hidup dan kehidupan. Dengan demikian, upaya terus menerus tanpa henti dari sang Pengarang untuk selalu merenungkan, menghayati dan mempelajari hidup dan kehidupan mutlak adanya…..
By the way…. I should say: “congratulations, nice story… and so imaginatif”
Comment by Gibson — November 16, 2007 @ 9:30 pm
Horeeee rame euyy aplaus buat syifa.Terus berkarya vini vidi vici coy.
Comment by aniarlina yourteacher — November 21, 2007 @ 8:41 am
Itulah dampak dari banyak membaca (ANNIDA maybe dan novel) .Karena banyak membaca teks dan nonteks (lingkungan sekitar, peristiwa,gestur &mimik) hingga menghasilkan olah rasa hingga lahirlah cerpen. Buatlah beberapa cerpen sejenis dengan sudut pandang berbeda.Oh ya suruh Dimas datang ke jalan Alamanda9-4.sms dengan telepati ditengah gemuruh hujan lebat.Untuk dijadikan adik asuh jika dia ga ketemu Bi Isah.
Comment by aniarlina yourteacher — November 21, 2007 @ 8:53 am
analisis cerpen oleh kelompok :Shelly Aldila,Siti suryati,Tria andini,Novia Oktaviani
Judul cerpen : Namaku Dimas S
1. Tema
Kehidupan seorang anak laki-laki bernama Dimas,yang tak lain
adalah putra dari seorang wanita malam.
2. Penokohan
- Dimas : mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi , pemberani,
polos
- Ibunya Dimas : penyayang ,banyak menghabiskan waktu diluar
rumah,
sibuk dengan pekerjaannya,kurang memperhatikan
Dimas.
- Mak saroh : Baik hati,penyayang
- Teh Nining : baik,penyayang,tidak bisa menjaga omongan
3. Latar
Disebuah kontrakan milik mak saroh
4. Amanat
- Jangan berbicara sembarangan/menggunakan kata-kata kotor
kepada
anak kecil yang tidak tau apa-apa.
- Kewajiban seorang ibu harus memberikan kasih sayang pada
anaknya.
5. Sudut Pandang
Cerita tersebut diangkat dari kasus-kasus yang terjadi di
kehidupan masyarakat/sosial
(RANGKAIAN ALUR)
1. Eksposisi
Seorang anak laki-laki yang bernama Dimas Satiaji.Dia memiliki
karakter antara lain : punya rasa ingin tahu yang
tinggi,pemberani,dan polos.Ia adalah seorang putra dari wanita malam.
2. Konflik
Dimas merasa kesepian dan tidak lagi mendapatkan kasih sayang
dari ibunya yang sibuk dengan pekerjaannya.
3. Klimaks
Dimas harus tidur ditemani oleh mak saroh karena ibunya harus
melayani tamu yang akan menghasilkan uang.
4. Resolusi
Dengan keberanian yang besar dimas membunuh pria yang menemani
tidur ibunya karena ia menganggap bahwa pria itulah yang menyebabkan
ia kehilangan kasih sayang dari ibunya.
Comment by siti suryati — November 29, 2007 @ 6:15 am
Analisis cerpen
1. Tema
Kehidupan seorang anak laki-laki bernama Dimas,yang tak lain
adalah putra dari seorang wanita malam hidup dengan penuh rasa ingin tahu.
2. Penokohan
- Dimas : mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi , pemberani,
polos
- Ibunya Dimas : penyayang ,banyak menghabiskan waktu diluar
rumah,
sibuk dengan pekerjaannya,kurang memperhatikan
Dimas.
- Mak saroh : Baik hati,penyayang
- Teh Nining : baik,penyayang,tidak bisa menjaga omongan
3. Latar
Disebuah kontrakan milik mak saroh
4. Amanat
- Jangan berbicara sembarangan/menggunakan kata-kata kotor
kepada
anak kecil yang tidak tau apa-apa.
- Kewajiban seorang ibu harus memberikan kasih sayang pada
anaknya.
5. Sudut Pandang
Cerita tersebut diangkat dari kasus-kasus yang terjadi di
kehidupan masyarakat/sosial
(RANGKAIAN ALUR)
1. Eksposisi
Seorang anak laki-laki yang bernama Dimas Satiaji.Dia memiliki
karakter antara lain : punya rasa ingin tahu yang
tinggi,pemberani,dan polos.Ia adalah seorang putra dari wanita malam.
2. Konflik
Dimas merasa kesepian dan tidak lagi mendapatkan kasih sayang
dari ibunya yang sibuk dengan pekerjaannya.
3. Klimaks
Dimas harus tidur ditemani oleh mak saroh karena ibunya harus
melayani tamu yang akan menghasilkan uang.
4. Resolusi
Dengan keberanian yang besar dimas membunuh pria yang menemani
tidur ibunya karena ia menganggap bahwa pria itulah yang menyebabkan
ia kehilangan kasih sayang dari ibunya.
Comment by Restu putra 9a — December 1, 2007 @ 5:43 am
analisis cerpen oleh kelompok :Shelly Aldila,Siti suryati,Tria andini,Novia Oktaviani
Judul cerpen : Namaku Dimas S
1. Tema
Kehidupan seorang anak laki-laki bernama Dimas,yang tak lain
adalah putra dari seorang wanita malam.
2. Penokohan
- Dimas : mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi , pemberani,
polos
- Ibunya Dimas : penyayang ,banyak menghabiskan waktu diluar
rumah,
sibuk dengan pekerjaannya,kurang memperhatikan
Dimas.
- Mak saroh : Baik hati,penyayang
- Teh Nining : baik,penyayang,tidak bisa menjaga omongan
3. Latar
Disebuah kontrakan milik mak saroh
4. Amanat
- Jangan berbicara sembarangan/menggunakan kata-kata kotor
kepada
anak kecil yang tidak tau apa-apa.
- Kewajiban seorang ibu harus memberikan kasih sayang pada
anaknya.
5. Sudut Pandang
Cerita tersebut diangkat dari kasus-kasus yang terjadi di
kehidupan masyarakat/sosial
(RANGKAIAN ALUR)
1. Eksposisi
Seorang anak laki-laki yang bernama Dimas Satiaji.Dia memiliki
karakter antara lain : punya rasa ingin tahu yang
tinggi,pemberani,dan polos.Ia adalah seorang putra dari wanita malam.
2. Konflik
Dimas merasa kesepian dan tidak lagi mendapatkan kasih sayang
dari ibunya yang sibuk dengan pekerjaannya.
3. Klimaks
Dimas harus tidur ditemani oleh mak saroh karena ibunya harus
melayani tamu yang akan menghasilkan uang.
4. Resolusi
Dengan keberanian yang besar dimas membunuh pria yang menemani
tidur ibunya karena ia menganggap bahwa pria itulah yang menyebabkan
ia kehilangan kasih sayang dari ibunya.
Comment by nabila,reny,gita,siska — December 1, 2007 @ 12:11 pm
analisis cerpen oleh kelompok : Sheli.a, tria.a, siti suryati, dan novia.o
judul cerpen : namaku Dimas
1.Tema:kehidupan anak laki” yg mempunyai seorang ibu yang bekerja sebagai wanita malam.
2. penokohan :
Dimas :nekat, pemberani, ceroboh, rasa ingin tahu yang tinggi.
ibu Dimas : penyayang namun tidak perhatian pada anak, wanita malam.
teh Nining: baik,ceroboh dalam berkata.
Mak Saroh : penyayang, baik hati.
3.Latar:
Di kontrakan
4.Amanat :
berfikir 2 kali jika akan melakukan atau berbicara sesuatu pada semua orang apalagi pada anak kecil.
5.Sudut pandang:
sebuah cerita yang seakan-akan memberi tahu kita tentang kehidupan masyarakat di Indonesia yang ternyata keras.
[RANGKAIAN ALUR]
1.eksposisi :
seorang yatim,anak laki-laki berumur sekitar 7 tahun yang memiliki ibu seorang wanita malam.
2.konflik :
Beberapa saat kemudian, ibu datang, tapi dengan seorang tamu laki-laki. Huh tamu lagi, tamu lagi. Aku benci pada tamu-tamu ibu! Kulihat Ibu sedang mengeringkan bajunya yang basah saat aku menghampiri ibu. ” Ibu..Ibu.. Dimas ingin tidur dengan Ibu sekarang. Dimas takut, Dimas bosan tidur dengan Mak Sarah terus…” ujarku
3.klimaks:
Dimas, malam ini Dimas tidur dengan Mak Sarah lagi yaa…., Ibu ada tamu” jawab Ibu lembut. ” Tapi kenapa kita tidak tidur bertiga saja seperti dengan bapak dulu?” jawabku kesal. ” Sayang…tidak bisa malam ini..” jawab ibu. ” Tapi Bu…” ” Ayo..tidur! Jangan membantah Ibu! Ayo cepat tidur!” setengah membentak. Aku kecewa. ” Ibu jahat! Ibu tak sayang lagi sama Dimas! Dimas benci Ibu” jeritku seraya berlari ke kamar. Air mataku tumpah. Aku kecewa. Mengapa ibu lebih mementingkan tamunya dari pada aku? Aku menangis di tempat tidur. Mak Sarah menghiburku. Aku menangis di pangkuan Mak hingga tertidur.
4.Rasolusi :
Tanpa suara, kuambil pisau dapur yang terselip di dinding dapur. Dengan nafas memburu, aku segera kembali dan menghampiri pria yangsedang tidur tersebut. Tanpa berpikir dua kali, dengan rasa benci yang memuncak, kutikamkan pisau itu ke dadanya, berkali-kali. Darah menyembur membasahi seprai, lantai, dan jari-jariku. Darah segar itu meleleh di antara jari-jariku. Aku sangat membencinya! Setelah tubuh lelaki itu tidak bergerak lagi, kuletakkan pisau itu. Aku tersenyum puas. Sekarang tak ada lagi yang akan menghalangi ibu dariku. Siapa yang berani mendekati ibu, aku harus bunuh juga!
Comment by shely aldila 9b — December 3, 2007 @ 3:05 am
1. Tema
Kehidupan seorang anak laki-laki bernama Dimas,yang tak lain
adalah putra dari seorang wanita malam hidup dengan penuh rasa ingin tahu.
2. Penokohan
- Dimas : mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi , pemberani,
polos
- Ibunya Dimas : penyayang ,banyak menghabiskan waktu diluar
rumah,
sibuk dengan pekerjaannya,kurang memperhatikan
Dimas.
- Mak saroh : Baik hati,penyayang
- Teh Nining : baik,penyayang,tidak bisa menjaga omongan
3. Latar
Disebuah kontrakan milik mak saroh
4. Amanat
- Jangan berbicara sembarangan/menggunakan kata-kata kotor
kepada
anak kecil yang tidak tau apa-apa.
- Kewajiban seorang ibu harus memberikan kasih sayang pada
anaknya.
5. Sudut Pandang
Cerita tersebut diangkat dari kasus-kasus yang terjadi di
kehidupan masyarakat/sosial
(RANGKAIAN ALUR)
1. Eksposisi
Seorang anak laki-laki yang bernama Dimas Satiaji.Dia memiliki
karakter antara lain : punya rasa ingin tahu yang
tinggi,pemberani,dan polos.Ia adalah seorang putra dari wanita malam.
2. Konflik
Dimas merasa kesepian dan tidak lagi mendapatkan kasih sayang
dari ibunya yang sibuk dengan pekerjaannya.
3. Klimaks
Dimas harus tidur ditemani oleh mak saroh karena ibunya harus
melayani tamu yang akan menghasilkan uang.
4. Resolusi
Dengan keberanian yang besar dimas membunuh pria yang menemani
tidur ibunya karena ia menganggap bahwa pria itulah yang menyebabkan
ia kehilangan kasih sayang dari ibunya.
Comment by Ginanjar, Andika, Anton, M.Saepulah, 9c — December 20, 2007 @ 11:50 am
crIta’nA bguX bgD ….
Comment by vaVa — June 1, 2008 @ 7:25 am