/>

Semua Tentang Reni

February 28, 2008

PUISI-PUISI KANG GIBSON

Filed under: Curahan Kalbu

MENUNGGU BULAN

Dalam jarak angan, bulan begitu dekat
Dalam jarak jangkau, bulan begitu jauh ku sentuh
Tak pernah bosan, tak pernah lelah ku menunggu.

Bulan purnama akhirnya menjelang…. datang
begitu dekat dalam angan dan jangkauan
namun…. bulan tetap bertengger di batas langit

Haruskah ku katakan, bahwa penantian itu sia-sia..?

 

 dissapear

ketika rasa mengambang di lautan awan….
tak ada pijakan yang kukuh…
tak ada kepastian.

Diri hanya mungkin bertenger dalam angan
hanya sebuah kemungkinan,
tapi memang yang ada hanyalah sebuah kemungkinan
itu yang selalu kupegang

Angin bertiup kencang….
awan pun bergerak,
dan bentuknya pun terus berubah
pecah,
menipis,
dan akhirnya hilang
entah ke mana….

angan melayang tak lagi berpijak.

24 Februari 2008

 

 hening mengiris pedih

Sorot mata menatap tajam,
namun tak ada tautan di batas pandangan

sepi, tak ada sapa yang hadir di lubuk hati
diri terhenyak dalam senyap
keheningan pun tak lagi berbisik ramah

ada desir jauh di lubuk hati..
dingin mengiris nadi
lenggang namun mengimpit
pedih.

SENDIRI 

dalam pelukan angin dingin….,
daun-daun kering rontok,
berjatuhan……..
menyisakan cerita lama berwarna pelangi

dalam bayang-bayang bintik hujan:
ada bisikan dalam nada sumbang,
ada pula rayuan,
mungkin juga kemarahan.

kemana kakiku harus kulangkahkan?
sementara jalan pun belum kulihat…
kecuali tapak-tapak masa lalu yang kuinjak
dan bayang-bayang kelam di sekitarku.

kemana sudut mataku mesti kulirikkan?
padahal, matahari pun enggan kutemui….

di kegelapan itu……
dalam larik cahaya sudut mata terdalam
kutemui matahari di sana….
namun, ia hanya mengulum senyum sendu…
di sana kulihat lambaian tangan: "sampai jumpa.."
entah tangan siapa……

 TATAPANKOE

Aku duduk mematung,
Namun,  Tatapku berlarian
mengejar kupu-kupu
memapaki burung pipit
menari diantara dedaunan
ketika tanganku menggapai
wuusss… semuanya lenyap tanpa bekas.

 ISTANA PASIR
Aku ini hanyalah layangan yang tidak pasti….,
bayang-bayang matahari yang ada dalam mimpi,
hujan di musim kemarau yang tak mungkin ditunggu.

wujud dari "entah" yang paling sejati,
tapi tak memiliki setitik pun kemungkinan…

Kini aku meradang,
tak sejumput pun kata mampu kuucap,
karena sangka selalu mendahului kata,
makna dan kata pun tak lagi bersapa.

Kini ‘ku meradang
Kini ‘ku melayang
…………. hilang dalam gelap malam entah.
…………. tertutup diselimuti sangka
…………. kerlip cahaya ditelan duga.

 

February 22, 2008

SEBUAH CATATAN SAJA

Filed under: Curahan Kalbu

Terinpirasi oleh tulisan Kang Gibson di Lidah Angin yang mengupas tentang adanya hubungan yang signifikan antara kepercayaan dan cinta. Si Akang mengupas kalau kepercayaanlah yang menjadi landasan adanya cinta. Tanpa kepercayaan cinta tak akan mungkin tertata. Si akang mengambil contoh dari data empiris tentang pernikahan para orang tua dahulu yang pada umumnya tidak dilandasi cinta, ternyata bisa berjalan langgeng. Hal itu terjadi karena adanya kepercayaan di antara keduanya.

Bila kita renungkan, hal itu memang logis dan sangat realistis. Cinta akan goyah  bahkan bisa berubah menjadi kebencian bila sudah tidak ada lagi kepercayaan. Aku jadi tergelitik untuk mengupas hal itu namun bukan diambil dari data empiris orang tua kita dulu melainkan dari rumah tangga masa kini. Apakah cinta dan kepercayaan itu masih berlaku? Berikut adalah deskripsinya.

 Seorang teman mengeluh tentang istrinya yang sudah tidak menarik lagi padahal anak mereka baru dua orang, masih kecil  dan usia sang istri masih di bawah 30 tahun. Teman yang lain beda lagi ceritanya.Istrinya memakai kerudung dengan model yang sama dengan yang dipakai oleh wanita lain. Namun mengapa yang lain terlihat cantik sedangkan istrinya seperti nenek-nenek. Satu lagi Cerita seorang sahabat, . Dia sudah lama kenal dengan seseorang yang sangat dia kagumi karena karakteristik kepribadian dan wibawanya. Suatu hari dia diperkenalkan dengan istri sang teman. oalaa…sahabatku mengatakan ternyata si istri sang teman kondisinya sangat memprihatinkan. mengertilah ia, kenapa sang teman sangat perhatian padanya.

Tiga contoh di atas, mengandung pengertian bahwa di belahan dunia mana pun yang namanya mahluk laki-laki selalu saja merasa kalau ada yang kurang dari istrinya. apakah dalam hal ini mengandung arti kepercayaan sudah berkurang atau ada faktor lain? Nah, apakah dalam pasangan sumi istri saat ini faktor lain itu lebih dominan dari kepercayaan atau tidak ya? Sepertinya harus kita cari studi kasus tentang masalah ini?

 

February 15, 2008

ALHAMDULILLAH

Filed under: All About M3

Hari Sabtu Gita, anakku mengeluh ada benjolan di leher. Hari Minggunya benjolan itu bertambah lagi satu. Dia kesakitan dan demam. Kuberi dia teh bunga rosella merah, dua sendok makan madu dan satu gelas susu hangat dicampur jahe ginseng.

Hari Minggu selepas solat isya, kami berbincang di ruang tv. Gita khawatir ada masalah serius dengan benjolan itu. Dia cerita sudah lima orang temannya mulai dari teman di SD, SMP dan SMA yang meninggal karena benjolan di leher dengan gejala yang sama seperti yang dia rasakan.

Aku hanya tersenyum mendengarnya, kukatakan kalau teman-temnnya itu bukan meninggal karena benjolan tapi karena memang sudah waktunya. Kita jangan takut mati karena pasti terjadi. Tak ada seorang pun yang bisa menolaknya, kita hanya tinggal menunggu waktu. Justru yang harus kita pikirkan adalah kehidupan setelah kita mati.

Kehidupan setelah mati, itulah kehidupan yang sesungguhnya. Bila kita merasa penyakit itu akan menjadi jalan menuju kematian ya obatnya adalah sabar. Sabar bukan berarti diam dan menerima tapi dalam sabar tersimpan makna ihtiar dan taqwa kepada Sang Maha Pencipta. Kita pun harus yakin dalam setiap penyakit yang diberikan Tuhan pasti ada obatnya dan tidak semata-mata Tuhan memberikan cobaan kecuali untuk membersihkan dosa-dosa kita. Jadi bila kita ikhlas menerima semua ketentuannya, mati pun siapa takut? Surga menunggu kita di sana. Alam kubur tak perlu ditakuti karena kubur bagi umat yang taat ibarat hangatnya pelukan ibu.

Kecemasan kulihat telah hilang dari wajah Gita, berganti dengan senyuman. Kami pun jadi asyik bercanda dan tertawa sampai akhirnya Gita setuju dibawa ke rumah sakit besar untuk diperiksa.Ya aku berencana akan membawanya ke rumah sakit.

Setegar itukah hatiku menghadapinya? Tentu saja tidak. Begitu Gita masuk ke kamarnya, aku pun masuk ke kamarku. Hatiku cemas luar biasa. Ibu mana yang tidak cemas melihat anaknya sakit apalagi masalah benjolan di jaman sekarang ini tak bisa dianggap sepele. Dua orang tetangga samping rumah meninggal karena benjolan di leher. Apakah anakku mengidap penyakit yang sama dengan mereka? Bila ya, adakah yang salah dengan caraku mengurus dia ya Allah? seingatku, kuberi dia tiga hal mendasar untuk pengembangan kepribadiannya di masa depan, tiga hal itu adalah agama, kesehatan dan pendidikan yang terbaik untuknya.

Penasaran, kubuka kembali dokumen kesehatan sejak dia bayi sampai dewasa. Aku memang sudah terbiasa menyimpan dokumen kesehatan anak-anakku. Di sana tercatat sejak usia gita 3 tahun, kalau demam sering terjadi pembengkakan pada lehernya. Menurut catatan dokter spesialis anak, itu hanya pembengkakan kelenjar biasa saja, waktu itu dokternya adalah dokter Tisna dari RS. Asadira. Hal itu sering terjadi sampai gita berusia 17 tahun. Sekarang usianya 19 tahun, benjolan itu muncul lagi ditambah berta badan yang menurun. Aku jadi khawatir.

Entah kenapa, badanku terasa lemas. Pikiran buruk pun mulai menggoda. Terbayang anakku terbaring di ruang ICU dengan berbagai peralatan yang ditempelkan ke seluruh tubuhnya. Ya.. Tuhan… jangan siksa anakku. Aku tahu, anak-anakku bukan milikku, mereka hanya titipanMu yang bisa Kau ambil kapan saja namun bila boleh aku meminta, biarlah aku saja yang menggantikannya.

Malamnya aku tersungkur di sajadahku, memohon kesehatan untuk anakku. Sampai tiba hari Senin aku mebawanya ke RSHS. Tiga hari bolak balik ke RS. Ke bagian spesialis penyakit dalam wanita, terus ke radiologi dan lab farmasi. Diperiksa jantung, limpa, hati , paru-paru dan darah. waktu di bagian radiologi kukatakan padanya kalau jangan suka foto box saja, sekali-kali bagian dalam tubuh kita pun harus bergaya di depan foto ronsen. Dia pun tertawa.

Hari Rabu adalah hari yang sangat menegangkan karena pada hari itu hasil chek up anakku dibuka. Waktu kuserahkan hasil dalam amplop tertutup kepada dokter, tanganku bergetar. Dokter mengamatinya dengan cermat. Tiba-tiba wajahnya cerah. " Ibu anak ibu sangat sehat, tak ada gejala klinis yang menghawatirkan, malah kekebalan tubuhnya sangat baik, itu hanya pembengkakan kelenjar biasa klarena kecapaian atau bisa saja stress karena banyak tugas kuliah" Alhamdulillah…itu adalah kalimat terindah yang pernah kudengar. Terimakasih Ya Allah, doaku telah Kau dengar.Kupeluk anakku yang sedang menangis bahagia " Mama, aku ingin hidup seribu tahun lagi" katanya. 

February 7, 2008

MASTER OF CEREMONY

Filed under: Curahan Kalbu

Entah sejak kapan istilah itu menjadi akrab denganku. Ya selain sebagai guru dan penulis, teman-teman mengenalku sebagai MC. Memang profesi itu sudah lama kujalani. Banyak suka selama menjadi MC. bermula dari aktivitas sebagai ketua PKK yang selalu berbicara di depan ibu-ibu, selanjutnya sering diminta  untuk menjadi pemandu acara  dalam berbagai kegiatan RW dan masjid. Lama-lama banyak para tetangga yang meminta untuk menjadi pemandu acara dalam acara pernikahan atau pertunangan. Dilanjukan kemudian dengan diajak gabung dengan salon Dewi Erita dan Salon Shafira, maka jadilah aku MC dengan jam tayang lumayan banyak.

Berbekal pengalaman, aku ikut pelatihan MC Profesional yang diselenggarakan oleh Yayasan Tati Indah. Di bawah bimbingan Kang Aji Esa Putra dan Teh Ana Anggraeni dari TVRI Bandung, aku pun semakin memantapkan langkah untuk memilih MC sebagai profesi sampinganku. Di yayasan itu ternyata tak hanya dilatih menjadi MC tapi lengkap dengan berbagai pendukung untuk menjadi MC profesional. Iya seperti kepribadian dari John Robert Power, tata rias wajah dibimbing langsung oleh Bu Tati Indah, tata busana, tata suara, dance, vokal sampai tabel mener oleh manajer hotel Panghegar. Pokoknya semua lengkap. 

Alhamdulillah pelatihan itu sangat berguna bagiku, semua terjadi karena kuasaNya, dengan berbagai kemampuan yang kumiliki, aku diberi kekuatan untuk bisa membantu suami menyekolahkan ketiga anak-anakku sampai ke perguruan tinggi, ditambah dengan menyekolahkan enam anak asuh yang sekarang sedang belajar di SMP dan SMA.

Nah, adakah di antara teman-teman ada yang berminat jadi MC? tulisan ini mudah-mudahan bisa sedikit membantu. MC adalah pemandu acara bukan pembaca susunan acara, hal itu yang pertama harus dipahami. Sukses tidaknya sebuah acara ada di tangan MC. Maka sebagai seorang MC wajib bersikap profesional. Siapa pun yang mengundang kita di kampung atau di kota kita harus bersikap profesional. Jangan pernah merusak acara karena orang yang mengundang kita sudah mempersiapkannya selama puluhan tahun. Prinsip itulah yang harus kita pegang sebagai MC.

Kang Aji Esa Putra, mengatakan kalau untuk menjadi seorang MC profesional kita harus mampu melakukan tiga hal pokok yaitu : 

1. Identifikasi emosi, dalam hal ini seorang MC harus pandai memahami audien dan mampu membangkitkan emosi audien dalam berbagai situasi.
2. Identifikasi Imajinasi, seorang MC harus memiliki pola pikir intuitif sehingga dalam menata acara hal-hal yang harus dilakukan harus tergambar dengan jelas.
3. Identifikasi optik, seorang MC harus enak dipandang karena waktu membawakan acara semua mata tertuju padanya. Untuk itu penampilan berbusana, berbicara, bersikap, berjalan harus benar-benar diperhatikan dengan baik.

Selain tiga hal di atas, hal lain yang tak kalah penting adalah …
1. Yakinkan diri kita kalau kita bisa tampil sebaik-baiknya.
2. Kekuatan dan modal MC ada pada suara. Jagalah suara kita dengan rajin olah vokal dan membiasakan diri selalu minum air putih dicampur bunga melati, jangan minum es atau makanan panas dan pedas. tu akan berakibat buruk pada pita suara.
3.Dua hari sebelum pelaksanaan seorang MC harus berkomunikasi langsung dengan penanggung jawab kegiatan.
4.Datanglah satu jam sebelum acara dimulai.
5.Seorang MC hanya menerima intruksi dari penanggung jawab kegiatan
6. Terima segala kritikan dengan lapang dada, tersenyumlah sebagai tanda ucapan terimakasih pada orang yang mengritik kita.
7. Siapkan hal-hal kecil sebagai sarana pendukung penampilan seperti : mini paper, ball point, permen, make up kit mini, tissue, ponsel, simpan semua dalam tas kita. 

 

February 6, 2008

CERITA HARI INI

Filed under: Curahan Kalbu

Waktu bangun pagi tadi, badan terasa kurang nyaman. Namun kewajiban sholat subuh ya tetap harus dilaksanakan. Selesai solat bukannya langsung mandi tapi malah bermalas-malasan di tempat tidur. Sekilas melihat jadwal mengajar, hati bersorak, alhamdulillah ngajar mulai jam ke 7 berarti mulai pukul 11.20 s.d 13.00, namun siangnya ada tambahan pelajaran buat anak-anak, yaaahhh sampai jam 4 sore. Ya sudah aku putuskan saja untuk berangkat siang nanti. Jadi aku bisa bermalas-malasan sampai pukul 6 pagi, setelah itu beres-beres rumah dan masak, biarlah sehari nggak datang pagi-pagi ke sekolah, kan lagi malas.

Dasar lagi malas, pukul 10 baru beres cuci piring dan masak, mentai belum setrika belum, untunglah si bungsu kuliahnya siang jam 2, jadi dia saja yang mengerjakannya. Yaahh beginilah kalau tidak punya pembantu, semuanya musti diurus sendiri. Sejak mami tidak ada, pembantu dan suster memang dipulangkan. Masalahnya sudah tidak ada yang diurus lagi. Waktu mami masih ada, kan aku yang ngurus mami, suster yang menungguinya kalau aku sedang di sekolah, sementara pembantu membereskan rumah. Sekarang mami tidak ada jadi mereka tidak dibutuhkan lagi.

Pukul 10.30, aku sudah siap berangkat ke sekolah naik angkot. Pukul 11.20 tepat sudah berada di dalam kelas, tenggelam dalam keasyikan mengajar.  Pukul 13 mengajar selesai, badan terasa lelah lagi padahal di dalam kelas tadi terasa nyaman, bisa bercanda dengan anak-anak.

Pukul 13.30 Syifa kelas 9A memanggilku untuk hadir di kelas pemantapan. Suaranya yang bawel langsung memberodongi aku dengan pertanyaan. " Ibu, kok belum masuk sih, anak-anak sudah menunggu". " Lho, kan mulainya jam 2!" kataku    " Lebih cepat kan lebih baik Bu" jawabnya sok ngatur.  " Alaaahh sok tahu kamu! sana duluan, bawa tuh lembar soal di meja ibu, trus bagikan! Ibu menyusul nanti!"

Syifa pergi ke kelas, aku pun mengikutinya, benar saja anak-anak sudah menunggu. Aku melihat wajah- wajah lelah. Ya bagaimana tidak lelah, hari ini mereka belajar selama 8 jam dari pukul 7.00 s.d 13.00 dilanjutkan dengan belajar tambahan  dari pukul 13.30 s.d 16.00. Kebayang ya capenya. Ini semua gara-gara ujian nasional itu.

Hal yang pertama kutanyakan adalah, apakah mereka sudah makan siang dan sudah solat. Setelah itu baru membagikan soal latihan dan membahasnya. Waktu latihan anak-anak tak mau diam, mereka terus bercanda dan ngobrol. Ada yang tertawa-tawa. Aku mulai tak nyaman kalau sudah begini, dengan stel wajah serius aku berkata, " Yang masih ingin bercanda dan tertawa, silakan di luar dulu, kasihan teman lain di kelas ini yang mau belajar." Kelas pun hening. Aku pura-pura tidak senang. Tak ada senyum dibibirku. Pukul 14.00 aku keluar, anak-anak mengira aku marah padahal aku mau ke mushola,kan belum solat duhur. ( he..he..he… ke murid bisa aja ngomong ya  )

Pukul 14.10 aku sudah berada di kelas lagi, langsung membahas soal. Masalah yang dibahas tentang kalimat. Entah bagaimana mulanya, materi jadi membicarakan tentang masalah tingkatan,ya kan ada kalimat majemuk bertingkat, jadi membicarakan masalah bertingkatnya itu jadi ke urusan rumah. Aku katakan kalau punya rumah tiga tingkat, tingkat pertama buat ayam, kedua buat kita dan ketiga buat tikus. Anak-anak tertawa riuh. Aku tanya kenapa merek tertawa? Ah ternyata itu katanya rumah Ricky. Ricky tersipu malu. Aku hampiri dia dan kukatakan kalau rumah seperti itulah rumah teraman di jaman sekarang. Pasti bebas gempa dan sangat segar karena udara bisa lebih leluasa masuk. Aku ingin punya rumah seperti itu. Ricky bersorak gembira. Semua juga tertawa. Syifa lain lagi, dia protes kalau rumah seperti itu tidak bisa dibilang nyaman, itu rumah kampungan katanya. Anak-anak terdiam. Syifa memang sangat berbeda  selain dia itu cerdas, dia juga selalu berani mengemukakan pendapatnya. Disambung pula oleh anak-anak lain yang sependapat dengan dia. Ricky kulihat sedih.

" Kalian semua betul, namun ada yang harus kalian ketahui tentang rumah terindah. Mau tahu? " Aku mencoba mengubah suasana tegang itu.  " Ya, tolong katakan bagaimana rumah yang indah itu Bu " tanya mereka serempak. " Anak-anak, ketahui dan ingatlah selalu apa yang ibu katakan ini, kelak bila kalian dewasa, kalian akan membangun sebuah rumah. Dan rumah yang terindah adalah rumah yang berlantai cinta kasih, bertiang agama, berdinding kasih sayang dan beratap kesabaran serta diterangi ayat- ayat alquran yang selalu dibacakan tiap petang menjelang senja, tiap subuh menjelang siang"

Anak-anak terdiam semua, akhirnya sorak pun berkumandang di kelas. Pembahasan soal latihan sudah selesai. Semua bersiap pulang. Satu persatu anak-anak mencium tanganku.  Wajah Ricky kulihat ceria. Semua bergembira siang itu. Dari kelas aku ke ruang guru dan menulis pegalamanku hari ini di blog kesayanganku.

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com