PUISI-PUISI KANG GIBSON
MENUNGGU BULAN
Dalam jarak angan, bulan begitu dekat
Dalam jarak jangkau, bulan begitu jauh ku sentuh
Tak pernah bosan, tak pernah lelah ku menunggu.
Bulan purnama akhirnya menjelang…. datang
begitu dekat dalam angan dan jangkauan
namun…. bulan tetap bertengger di batas langit
Haruskah ku katakan, bahwa penantian itu sia-sia..?
dissapear
ketika rasa mengambang di lautan awan….
tak ada pijakan yang kukuh…
tak ada kepastian.
Diri hanya mungkin bertenger dalam angan
hanya sebuah kemungkinan,
tapi memang yang ada hanyalah sebuah kemungkinan
itu yang selalu kupegang
Angin bertiup kencang….
awan pun bergerak,
dan bentuknya pun terus berubah
pecah,
menipis,
dan akhirnya hilang
entah ke mana….
angan melayang tak lagi berpijak.
24 Februari 2008
hening mengiris pedih
Sorot mata menatap tajam,
namun tak ada tautan di batas pandangan
sepi, tak ada sapa yang hadir di lubuk hati
diri terhenyak dalam senyap
keheningan pun tak lagi berbisik ramah
ada desir jauh di lubuk hati..
dingin mengiris nadi
lenggang namun mengimpit
pedih.
SENDIRI
dalam pelukan angin dingin….,
daun-daun kering rontok,
berjatuhan……..
menyisakan cerita lama berwarna pelangi
dalam bayang-bayang bintik hujan:
ada bisikan dalam nada sumbang,
ada pula rayuan,
mungkin juga kemarahan.
kemana kakiku harus kulangkahkan?
sementara jalan pun belum kulihat…
kecuali tapak-tapak masa lalu yang kuinjak
dan bayang-bayang kelam di sekitarku.
kemana sudut mataku mesti kulirikkan?
padahal, matahari pun enggan kutemui….
di kegelapan itu……
dalam larik cahaya sudut mata terdalam
kutemui matahari di sana….
namun, ia hanya mengulum senyum sendu…
di sana kulihat lambaian tangan: "sampai jumpa.."
entah tangan siapa……
TATAPANKOE
Aku duduk mematung,
Namun, Tatapku berlarian
mengejar kupu-kupu
memapaki burung pipit
menari diantara dedaunan
ketika tanganku menggapai
wuusss… semuanya lenyap tanpa bekas.
ISTANA PASIR
Aku ini hanyalah layangan yang tidak pasti….,
bayang-bayang matahari yang ada dalam mimpi,
hujan di musim kemarau yang tak mungkin ditunggu.
wujud dari "entah" yang paling sejati,
tapi tak memiliki setitik pun kemungkinan…
Kini aku meradang,
tak sejumput pun kata mampu kuucap,
karena sangka selalu mendahului kata,
makna dan kata pun tak lagi bersapa.
Kini ‘ku meradang
Kini ‘ku melayang
…………. hilang dalam gelap malam entah.
…………. tertutup diselimuti sangka
…………. kerlip cahaya ditelan duga.
