CERITA HARI INI
Waktu bangun pagi tadi, badan terasa kurang nyaman. Namun kewajiban sholat subuh ya tetap harus dilaksanakan. Selesai solat bukannya langsung mandi tapi malah bermalas-malasan di tempat tidur. Sekilas melihat jadwal mengajar, hati bersorak, alhamdulillah ngajar mulai jam ke 7 berarti mulai pukul 11.20 s.d 13.00, namun siangnya ada tambahan pelajaran buat anak-anak, yaaahhh sampai jam 4 sore. Ya sudah aku putuskan saja untuk berangkat siang nanti. Jadi aku bisa bermalas-malasan sampai pukul 6 pagi, setelah itu beres-beres rumah dan masak, biarlah sehari nggak datang pagi-pagi ke sekolah, kan lagi malas.
Dasar lagi malas, pukul 10 baru beres cuci piring dan masak, mentai belum setrika belum, untunglah si bungsu kuliahnya siang jam 2, jadi dia saja yang mengerjakannya. Yaahh beginilah kalau tidak punya pembantu, semuanya musti diurus sendiri. Sejak mami tidak ada, pembantu dan suster memang dipulangkan. Masalahnya sudah tidak ada yang diurus lagi. Waktu mami masih ada, kan aku yang ngurus mami, suster yang menungguinya kalau aku sedang di sekolah, sementara pembantu membereskan rumah. Sekarang mami tidak ada jadi mereka tidak dibutuhkan lagi.
Pukul 10.30, aku sudah siap berangkat ke sekolah naik angkot. Pukul 11.20 tepat sudah berada di dalam kelas, tenggelam dalam keasyikan mengajar. Pukul 13 mengajar selesai, badan terasa lelah lagi padahal di dalam kelas tadi terasa nyaman, bisa bercanda dengan anak-anak.
Pukul 13.30 Syifa kelas 9A memanggilku untuk hadir di kelas pemantapan. Suaranya yang bawel langsung memberodongi aku dengan pertanyaan. " Ibu, kok belum masuk sih, anak-anak sudah menunggu". " Lho, kan mulainya jam 2!" kataku " Lebih cepat kan lebih baik Bu" jawabnya sok ngatur. " Alaaahh sok tahu kamu! sana duluan, bawa tuh lembar soal di meja ibu, trus bagikan! Ibu menyusul nanti!"
Syifa pergi ke kelas, aku pun mengikutinya, benar saja anak-anak sudah menunggu. Aku melihat wajah- wajah lelah. Ya bagaimana tidak lelah, hari ini mereka belajar selama 8 jam dari pukul 7.00 s.d 13.00 dilanjutkan dengan belajar tambahan dari pukul 13.30 s.d 16.00. Kebayang ya capenya. Ini semua gara-gara ujian nasional itu.
Hal yang pertama kutanyakan adalah, apakah mereka sudah makan siang dan sudah solat. Setelah itu baru membagikan soal latihan dan membahasnya. Waktu latihan anak-anak tak mau diam, mereka terus bercanda dan ngobrol. Ada yang tertawa-tawa. Aku mulai tak nyaman kalau sudah begini, dengan stel wajah serius aku berkata, " Yang masih ingin bercanda dan tertawa, silakan di luar dulu, kasihan teman lain di kelas ini yang mau belajar." Kelas pun hening. Aku pura-pura tidak senang. Tak ada senyum dibibirku. Pukul 14.00 aku keluar, anak-anak mengira aku marah padahal aku mau ke mushola,kan belum solat duhur. ( he..he..he… ke murid bisa aja ngomong ya )
Pukul 14.10 aku sudah berada di kelas lagi, langsung membahas soal. Masalah yang dibahas tentang kalimat. Entah bagaimana mulanya, materi jadi membicarakan tentang masalah tingkatan,ya kan ada kalimat majemuk bertingkat, jadi membicarakan masalah bertingkatnya itu jadi ke urusan rumah. Aku katakan kalau punya rumah tiga tingkat, tingkat pertama buat ayam, kedua buat kita dan ketiga buat tikus. Anak-anak tertawa riuh. Aku tanya kenapa merek tertawa? Ah ternyata itu katanya rumah Ricky. Ricky tersipu malu. Aku hampiri dia dan kukatakan kalau rumah seperti itulah rumah teraman di jaman sekarang. Pasti bebas gempa dan sangat segar karena udara bisa lebih leluasa masuk. Aku ingin punya rumah seperti itu. Ricky bersorak gembira. Semua juga tertawa. Syifa lain lagi, dia protes kalau rumah seperti itu tidak bisa dibilang nyaman, itu rumah kampungan katanya. Anak-anak terdiam. Syifa memang sangat berbeda selain dia itu cerdas, dia juga selalu berani mengemukakan pendapatnya. Disambung pula oleh anak-anak lain yang sependapat dengan dia. Ricky kulihat sedih.
" Kalian semua betul, namun ada yang harus kalian ketahui tentang rumah terindah. Mau tahu? " Aku mencoba mengubah suasana tegang itu. " Ya, tolong katakan bagaimana rumah yang indah itu Bu " tanya mereka serempak. " Anak-anak, ketahui dan ingatlah selalu apa yang ibu katakan ini, kelak bila kalian dewasa, kalian akan membangun sebuah rumah. Dan rumah yang terindah adalah rumah yang berlantai cinta kasih, bertiang agama, berdinding kasih sayang dan beratap kesabaran serta diterangi ayat- ayat alquran yang selalu dibacakan tiap petang menjelang senja, tiap subuh menjelang siang"
Anak-anak terdiam semua, akhirnya sorak pun berkumandang di kelas. Pembahasan soal latihan sudah selesai. Semua bersiap pulang. Satu persatu anak-anak mencium tanganku. Wajah Ricky kulihat ceria. Semua bergembira siang itu. Dari kelas aku ke ruang guru dan menulis pegalamanku hari ini di blog kesayanganku.

Ah ibu nggak berterus terang, menurut peneropongan hati dan perasaan aku, setelah ibu selesai mengajar anak2 di kelas. ibu tidak langsung mengetik tok…betul nggak?. menurut perasaan dan peneropongan hatiku, ibu chatting dulu bukan dgn seorang sahabat ibu yg nun jauh disana,,,ha ha ha ha, betul kan bu?….ayo ngaku bu……nggak apa2 bu chatting itu obat stress….dont worry…be happy….
Comment by si kunyang — February 6, 2008 @ 10:46 am
Taahhh kelihatan Si Kunyang nggak tahu hebatnya benda yang namanya komputer dengan net work nya niihhh, kan sambil nulis bisa sambil chatt juga atuh ceng! He..he..he… kumaha si akang teh
Comment by putri mantili — February 7, 2008 @ 3:05 am