ALHAMDULILLAH
Hari Sabtu Gita, anakku mengeluh ada benjolan di leher. Hari Minggunya benjolan itu bertambah lagi satu. Dia kesakitan dan demam. Kuberi dia teh bunga rosella merah, dua sendok makan madu dan satu gelas susu hangat dicampur jahe ginseng.
Hari Minggu selepas solat isya, kami berbincang di ruang tv. Gita khawatir ada masalah serius dengan benjolan itu. Dia cerita sudah lima orang temannya mulai dari teman di SD, SMP dan SMA yang meninggal karena benjolan di leher dengan gejala yang sama seperti yang dia rasakan.
Aku hanya tersenyum mendengarnya, kukatakan kalau teman-temnnya itu bukan meninggal karena benjolan tapi karena memang sudah waktunya. Kita jangan takut mati karena pasti terjadi. Tak ada seorang pun yang bisa menolaknya, kita hanya tinggal menunggu waktu. Justru yang harus kita pikirkan adalah kehidupan setelah kita mati.
Kehidupan setelah mati, itulah kehidupan yang sesungguhnya. Bila kita merasa penyakit itu akan menjadi jalan menuju kematian ya obatnya adalah sabar. Sabar bukan berarti diam dan menerima tapi dalam sabar tersimpan makna ihtiar dan taqwa kepada Sang Maha Pencipta. Kita pun harus yakin dalam setiap penyakit yang diberikan Tuhan pasti ada obatnya dan tidak semata-mata Tuhan memberikan cobaan kecuali untuk membersihkan dosa-dosa kita. Jadi bila kita ikhlas menerima semua ketentuannya, mati pun siapa takut? Surga menunggu kita di sana. Alam kubur tak perlu ditakuti karena kubur bagi umat yang taat ibarat hangatnya pelukan ibu.
Setegar itukah hatiku menghadapinya? Tentu saja tidak. Begitu Gita masuk ke kamarnya, aku pun masuk ke kamarku. Hatiku cemas luar biasa. Ibu mana yang tidak cemas melihat anaknya sakit apalagi masalah benjolan di jaman sekarang ini tak bisa dianggap sepele. Dua orang tetangga samping rumah meninggal karena benjolan di leher. Apakah anakku mengidap penyakit yang sama dengan mereka? Bila ya, adakah yang salah dengan caraku mengurus dia ya Allah? seingatku, kuberi dia tiga hal mendasar untuk pengembangan kepribadiannya di masa depan, tiga hal itu adalah agama, kesehatan dan pendidikan yang terbaik untuknya.
Penasaran, kubuka kembali dokumen kesehatan sejak dia bayi sampai dewasa. Aku memang sudah terbiasa menyimpan dokumen kesehatan anak-anakku. Di sana tercatat sejak usia gita 3 tahun, kalau demam sering terjadi pembengkakan pada lehernya. Menurut catatan dokter spesialis anak, itu hanya pembengkakan kelenjar biasa saja, waktu itu dokternya adalah dokter Tisna dari RS. Asadira. Hal itu sering terjadi sampai gita berusia 17 tahun. Sekarang usianya 19 tahun, benjolan itu muncul lagi ditambah berta badan yang menurun. Aku jadi khawatir.
Entah kenapa, badanku terasa lemas. Pikiran buruk pun mulai menggoda. Terbayang anakku terbaring di ruang ICU dengan berbagai peralatan yang ditempelkan ke seluruh tubuhnya. Ya.. Tuhan… jangan siksa anakku. Aku tahu, anak-anakku bukan milikku, mereka hanya titipanMu yang bisa Kau ambil kapan saja namun bila boleh aku meminta, biarlah aku saja yang menggantikannya.
Malamnya aku tersungkur di sajadahku, memohon kesehatan untuk anakku. Sampai tiba hari Senin aku mebawanya ke RSHS. Tiga hari bolak balik ke RS. Ke bagian spesialis penyakit dalam wanita, terus ke radiologi dan lab farmasi. Diperiksa jantung, limpa, hati , paru-paru dan darah. waktu di bagian radiologi kukatakan padanya kalau jangan suka foto box saja, sekali-kali bagian dalam tubuh kita pun harus bergaya di depan foto ronsen. Dia pun tertawa.
Hari Rabu adalah hari yang sangat menegangkan karena pada hari itu hasil chek up anakku dibuka. Waktu kuserahkan hasil dalam amplop tertutup kepada dokter, tanganku bergetar. Dokter mengamatinya dengan cermat. Tiba-tiba wajahnya cerah. " Ibu anak ibu sangat sehat, tak ada gejala klinis yang menghawatirkan, malah kekebalan tubuhnya sangat baik, itu hanya pembengkakan kelenjar biasa klarena kecapaian atau bisa saja stress karena banyak tugas kuliah" Alhamdulillah…itu adalah kalimat terindah yang pernah kudengar. Terimakasih Ya Allah, doaku telah Kau dengar.Kupeluk anakku yang sedang menangis bahagia " Mama, aku ingin hidup seribu tahun lagi" katanya.

Dalam keadaan hatiku yang kacau dan tak menentu ini, aku membaca ceritamu tentang anakmu, tak terasa air mataku membasahi pipiku. aku menangis, menangis yang datang dari lubuk hatiku, entah kenapa?? jangan ragu engkau adalah wanita yg soleha, engkau ibu yang baik, yg mendidik anak2 di jalan yg di ridoi Allah. Karena Allah sayang sama engkau, makanya Allah memberi test dgn kejadian penyakit anakmu, supaya kamu tetap dekat denganNYA. Mungkin aku juga dalam saat ini sedang di beri test yang sangat berat yg menimpa diriku. semoga Allah dapat menguatkan hatiku untuk menerimanya dengan kesabaran.Marilah kita berdoa: Ya Allah berilah kami kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi segala macam cobaan, dan mudahkanlah kami dapat mensyukurinya kalau mendapat angurah dariMU. Amiinnnnn.
Comment by fz — February 15, 2008 @ 8:41 pm
Terimakasih sahabat atas doa dan perhatianmu, ya apa pun yang diberikan Alloh untuk kita pastilah itu yang terbaik. Kita tahu Tuhan sangat menyayangi umatnya dan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Sayang sekali kadang manusia melupakan hal itu.
Comment by renik — February 16, 2008 @ 1:49 am
pertama tama q sampaikan selamat atas kesehatan putrimu, dalam semoga Yang diatas selalu melimpahakan rrahmatNya berupa kesehatan untuk keluarga u dan kita semua, kita harus bersyukur akan kesehatan yang telah kita nikmati krn tanpa kesehatan kita akan tiada artinya bagi kehidupan ini. yang sungguh mulianya engaku sebagai seorang ibu yang baik dan solehkah, dimana dimata anak telah engkau gambarkan yang terbaik sehingga anaktidak mendapat beban dan membuat motivasi yang tinggi walaupun dalam akhirnya kekawatiran tidak bisaterlepas dari seorang ibu tanpa tiada henti kita mecium sajadah untuk mohon pertolaonganNYA hanyakepadaNYa semua diserahkan. hal itu lah yang seharusnya dimiliki oleh semua orang tua khususnya ibu yang dengan penuh pengertian dan kebiasaan nya.
masalah kematian dan kehidupan itu semuanya kan sudah ada yang mengatur, kita tidak usah takut akan kematian yangpasti aka nsemua akan menjalani tapi kita tidak boleh mencari kematian,krn hal ini jelas dialarang.
kata pepatah semakin tinggi pohon itu akan semakin kencang tiupan karena anginnya, ya itu mungkin yang sedang terjadi tapi tentunya u sudah dapat mengatasi dg baik. sekali lagi kita tidak lupa selalu mengucapkan puji syukur hanya karen ridhoNYA semua yang terjadi akan terjadi.amiiin
salam buat kelauarga ya.
(maaf bila ada perkataan q yg tidak berkenan ya)
from. agus “dado” subagyo
jl. mugas dalam XII no. 7 Semarang
024-8412495 / 081 566 899 72
Comment by agus'dado'subagyo — February 19, 2008 @ 2:57 am
Terimkasih Do, kamu telah mengisi comen diblogku. tuh kan tulisanmu bagus. Terimakasih pula atas doa dan dukunganmu dan salammu untuk keluargaku. semoga kamu dan keluarga pun selalu ada dalam lindunganNya.Yup, sukses selalu untukmu dan keluarga.
Comment by reni — February 20, 2008 @ 6:04 am
Tak terasa… titik air mata menetes dari pelupuk mataku ketika membaca postingan ini.
Aku memang cenderung mudah meneteskan air mata ketika mendengar, melihat atau membaca hal yang menyedihkan yang dialami orang lain.
Dan lebih seringnya… tetes air mata tambah deras bila membaca ending cerita yang membahagiakan seperti ini….
Teteh…al-hamdulillah…wilujeng. Allah masih mempercayakan pengasuhan Gita pada teteh…. wilujeng.
Comment by Gibson — February 20, 2008 @ 6:08 pm
Allhamdulillah geningan si akang sehat, meni asa lami teu tepang. Hatur nuhun kang comenna. Semoga akang sekeluarga juga selalu ada dalam lindunganNya.
Comment by reni — February 21, 2008 @ 6:25 am