SEBUAH CATATAN SAJA
Terinpirasi oleh tulisan Kang Gibson di Lidah Angin yang mengupas tentang adanya hubungan yang signifikan antara kepercayaan dan cinta. Si Akang mengupas kalau kepercayaanlah yang menjadi landasan adanya cinta. Tanpa kepercayaan cinta tak akan mungkin tertata. Si akang mengambil contoh dari data empiris tentang pernikahan para orang tua dahulu yang pada umumnya tidak dilandasi cinta, ternyata bisa berjalan langgeng. Hal itu terjadi karena adanya kepercayaan di antara keduanya.
Bila kita renungkan, hal itu memang logis dan sangat realistis. Cinta akan goyah bahkan bisa berubah menjadi kebencian bila sudah tidak ada lagi kepercayaan. Aku jadi tergelitik untuk mengupas hal itu namun bukan diambil dari data empiris orang tua kita dulu melainkan dari rumah tangga masa kini. Apakah cinta dan kepercayaan itu masih berlaku? Berikut adalah deskripsinya.
Seorang teman mengeluh tentang istrinya yang sudah tidak menarik lagi padahal anak mereka baru dua orang, masih kecil dan usia sang istri masih di bawah 30 tahun. Teman yang lain beda lagi ceritanya.Istrinya memakai kerudung dengan model yang sama dengan yang dipakai oleh wanita lain. Namun mengapa yang lain terlihat cantik sedangkan istrinya seperti nenek-nenek. Satu lagi Cerita seorang sahabat, . Dia sudah lama kenal dengan seseorang yang sangat dia kagumi karena karakteristik kepribadian dan wibawanya. Suatu hari dia diperkenalkan dengan istri sang teman. oalaa…sahabatku mengatakan ternyata si istri sang teman kondisinya sangat memprihatinkan. mengertilah ia, kenapa sang teman sangat perhatian padanya.
Tiga contoh di atas, mengandung pengertian bahwa di belahan dunia mana pun yang namanya mahluk laki-laki selalu saja merasa kalau ada yang kurang dari istrinya. apakah dalam hal ini mengandung arti kepercayaan sudah berkurang atau ada faktor lain? Nah, apakah dalam pasangan sumi istri saat ini faktor lain itu lebih dominan dari kepercayaan atau tidak ya? Sepertinya harus kita cari studi kasus tentang masalah ini?
