/>

Semua Tentang Reni

March 19, 2008

BUAT RENI DI SEBERANG

Filed under: Curahan Kalbu

Ketika telapak kaki menyentuh pasirmu
Semilir angin laut pekat hitam
Lidah ombak putih bergulung-gulung
Memecah kesunyian malam
Nanar mata lahir menatap kegelapan
Menjalar merambati
Mengusik mata batin
Menerawang lembar-lembar usang
Masa kecil dalam belaian tutur putri duyung
Menanti nasib cintanya pada manusia bangsawan
 

 Helaan nafas terdalam
Coba kubur mimpi-mimpi kelabu
Senantiasa menghantui hati risau
Tak terasa banyak kisah tertuang
Dalam perjalanan bersamamu
Tak terasa ada temali yang coba tautkan
Aliran batin kita
Karena di dekatmu banyak derai tawa renyah
Berlomba dengan deru ombak samudra di selatan
 

Malam terus saja merayap naik ke pusarannya
Menjulang ke angkas
Bintang-bintang bermain mata
Merayu bersama lampu-lampu petromak kaum nelayan
Duh gundah memeluk
Sulit tuk terpejam dalam lelap
Kusangka lelah ini permudah rebah
Asing terasa membelit sanubari
Melingkar dalam gemuruh
Akh….sudahlah
Ingin kujemput fajar dengan kaki telanjang
Meniti hamparan karang yang tergenang

 

Tuhan,
Biarkan aku sejenak
Tenang menikmati mimpi
Rizki bagi batinku
Kini…
 

Pameungpeuk berada pada 01.02
Berarti, Ahad 2 Maret 2008
ILDAWATI 

 

March 14, 2008

KIRIMAN SEORANG TEMAN

Filed under: Curahan Kalbu

Artikel ini aku dapatkan dari seorang teman yang mengirimnya lewat email. Dengan beberapa perbaikan dalam bahasanya yang terkesan abg, artkel ini sengaja kumuat di sini, mudah-mudahan saja banyak manfaatnya bagi para bloger. Inilah tulisan lengkapnya. Selamat membaca!

Dua hari yang lalu aku bertemu dengan salah seorang AFI ( Akademi Fantasi Indosiar) Selain lepas kangen, aku juga dapat cerita seru dari kehidupan mereka. Di balik image mereka yang gemerlap saat manggung atau ketika muncul di tV, kehidupan artis AFI sangat memprihatinkan, banyak di antara mereka yang hidup terlilit utang ratusan juta rupiah. Pasalnya orang tua mereka ngutang ke sana sini buat menggenjot SMS putera-puteri mereka. Bisa dipastikan tidak ada satu pun kemenangan AFI itu yang berasal dari pilihan publik. Kemenangan mereka ditentukan oleh seberapa besar orang tua mereka sanggup menghabiskan uang untuk SMS. Orang tua Alfin dan Bojes habis 1M namun itu bukan masalah karena mereka orang kaya.

Yang kasihan, mereka yang tidak punya uang, Fibri ( AFI 2005 ) tereliminasi di minggu-minggu awal, kini punya utang 250 juta. Dia sekarang hidup di sebuah kos sederhana di depan indosiar. Kos sedikit mahal seharga 500.000 rupiah per bulan yang dipilih karena perhitungan hemat ongkos. Tempatnya sangat sederhana, masih bagusan tempat kos ku. Kamar mandinya di luar, makan sekali se hari, bisa makan dua kali merupakan hal yang mewah bagi Fibri. Tidak ada dugem dan kehidupan glamor, makan saja susah. Senasib dengan Fibri sebut saja : Intan, Nana, Yuke, eki, dll.

Mereka terikat kontrak eksklusif dengan manajemen indosiar. Jadi tidak bisa mencari job di luar indosiar.Bayaran di indosiar sangat kecil lagi pula pembagian job sangat tidak adil. beberapa artis AFI seperti  Jovita dan Pasya kebanjiran job, sementara yang lain tidak dapat atau sangat kurang. Maklum artisnya sudah kebanyakan. Temanku malah sering dijadikan tempat buat minjem uang. Pinjamnya paling 100 ribu, mereka tidak berani meminjam banyak, takut tidak bisa membayar.

Ini benar-benar proyek yang tidak manusiawi. Para orang tua dan anak Indonesia dijanjikan ketenaran dan kekayaan lewat sebuah ajang adu bakat di televisi. Mereka dikontrak eksklusif selamadua tahun oleh Indosiar. Namun tidak ada jaminan hidup sama sekali. Mereka dibayar kalau ada manggung. Itu pun kecil sekali dan tidak menentu. Buruh pabrik yang gajinya hanya 900.000 jauh lebih sejahtera dari pada mereka.

Nah, acara ini dan acara sejenis masih banyak. Pildacil juga begitu. Kasihan orang tua dan anak yang rela antre berjam-jam untuk sebuah penipuan seperti ini. Seorang anak pernah menangis tersedu-sedu saat tidak lolos dalam audisi AFI. Padahal dia beruntung, kalau dia sampai masuk, bisa dibayangkan betapa dia akan membuat orang tuanya punya utang yang melilit pinggang dan tidak akan terbayar sampai kontraknya habis. Hal ini menjadi penting untuk kita renungkan, agar anak-anak dan orang tua di Indonesia tidak tertipu lebih banyak lagi. Untuk lebih jelasnya berikut adalah pemaparan tentang maraknya bisnis judi SMS di Indonesia yang banyak melibatkan staasiun TV swasta.

Tiapstasiun televisi di Indonesia mempunyai acara kontes-kontesan.Tengok sajamisalnya AFI, Indonesian Idol, Penghuni Terakhir, KDI, PutriCantrik,dsb.Sejatinya, tujuan dari acara ini bukan mencari bibit penyanyiterbaik.Acara ini hanya sebagai kedok. Bisnis sebenarnya adalah SMS premium.

Indonesia coba anda hitung, dari 100 orang kawan anda, berapa yang punya handphone?Saya yakin lebih dari 40%), maka bandar ini bisa meraup uang sebanyakRp 80.000.000.000 (baca: Delapan puluh milyarrupiah)..Jika hadiah yang diiming-imingkan adalah ? rumah senilai 1 milyar, ituartinya bandar hanya perlu menyisihkan 1,25% dari keuntungan yang diraupnyasebagai "biaya promosi"!Dan ingat, satu orang biasanya tidakmengirimkan SMS hanya sekali.Masyarakat diminta mengirimkan SMSsebanyak-banyaknya agar jagoannya tidaktersisih, dan "siapa tahu" mendapathadiah.Kata "siapa tahu" adalah untung-untungan, yang mempertaruhkanpulsahandphone.Pulsa ini dibeli pakai uang.Artinya : Kuis SMS adalah100% judi.

Kondisi ini sudah sangat menyedihkan.Bahkan sangat gawat.Lebih parah daripada zaman Porkas atau SDSB.Jika dulu, orang untuk bisa berjudi harus mendatangi agen, jika dulu zaman jahiliyah orang berjudi dengan anak panah, sekarang orang bisa berjudi,hanya dengan beberapa ketukan jari di pesawat handphone!. Jadi apa yang harus kita lakukan dalam mengatasi maraknya judi SMS ini? Hal yang perlu kita tafakuri yaa….

March 10, 2008

MASA KECILKU

Filed under: Curahan Kalbu

Pagi yang dingin di hari Kamis 7 Februari, rasanya lebih nyaman berada di dalam selimut tebal sambil mendengarkan lagu-lagu dari radio kesayangan. Tiba-tiba terdengar lagu mandarin. wah ini mungkin dalam rangka imlek. Asyik juga menyimaknya, membuatku merasa dibawa ke masa lalu, masa kecilku yang indah.

Setiap anak pasti menyukai hari raya, demikian pula halnya aku. Hanya masa kecilku ( 7 s.d 12 tahun ) lebih akrab dengan hari raya umat lain. Ya seperti Cap Go Me, Imlek atau Natal. Kenapa demikian? Yup karena orang tuaku tinggal di Jln. Jendral Sudirman. rumah kami tepat di pinggir jalan, berderet sejajar dengan rumah para pemilik toko,yang semuanya orang Cina. Jadi sudah bisa dipastikan semua teman kecilku pasti orang cina. Eh ada satu tetangga di samping rumah yang bukan cina,  dia seorang kolonel beranak banyak, salah satunya adalah musuh besarku. Dia anak laki-laki sebayaku yang tak suka bermain dengan cina. Dia satu sekolah denganku di SD Negri Cibeureum !

Image Hosted by ImageShack.us
" />

 

Aku masih ingat nama- nama teman cinaku : Lie Mey, Fu Hau, Kim Siu, Lieng Hua, Chin Fang, Chin Yen, Sui  Lan, Bun Hau  dan banyak lagi. Mereka semua sangat akrab denganku. Kami sering bermain di rumah. umumnya rumah mereka itu toko dan gudang. Tapi di dalamnya ada ruangan husus untuk kumpul keluarga,bahkan mereka memiliki halaman belakang yang luas untuk bermain. Kami semua aman bermain di dalamnya karena sekeliling rumah dibenteng. Orang tuaku tak pernah melarang aku bermain dengan mereka, asal aku tidak makan di rumah mereka. Itu saja pesannya dan pesan itu selalu kuturuti dengan baik.

Ada yang menarik dari kehidupan mereka. sejak kecil mereka dibiasakan hidup mandiri. Mereka juga dibiasakan memiliki kesibukan seperti anak yang masih SD bertugas untuk membereskan rumah, yang SMP jaga toko, yang SMA memasak dan yang dewasa mengatur keuangan keluarga serta berbelanja untuk isi toko. Semua tidak ada yang diam. Bila semua tugas sudah beres, mereka baru boleh bermain. Satu hal lagi, mereka dibiasakan untuk mengembangkan bakatnya. Banyak di antara teman-temanku yang memelihara binatang seperti anjing, kucing, burung, ikan, monyet, tikus putih dan banyak lagi. Ini tak kulihat dalam kehidupan anak-anak bangsa kita. Mereka umumnya tak mau tahu dengan urusan seperti itu. Memang di rumah mereka banyak yang memelihara ayam, burung atau kambing tapi orang tuanya lah yang mengurusnya bukan anak-anak.

Setiap Imlek atau Natal tiba, aku ikut ribut pada ayahku, minta dibelikan baju. Ayah sering marah dengan tingkahku itu tapi ibu dan bude selalu membelaku katanya biar saja Si Ni pake baju baru di hari  natal atau imlek,yang penting tidak ikut-ikutan ritualnya. Ibuku salah besar, justru aku sering ikut mereka ke kelenteng, ke kuil atau ke gereja. Di sana aku senang bermain-main, apalagi bila ada peringatan paskah pasti aku ikutan mencari telur dan bila imlek maka ang pau yang kudapat dari meme-meme temanku he..he..he… asyik kan?

Sikap hidup teman-teman cinaku secara tidak langsung ikut mempengaruhi kehidupanku. Aku suka membaca, menghitung uang, berbelanja, mengurus rumah sampai menyayangi binatang. yaaa aku masih ingat, waktu itu pulang sekolah. Di jalan ada seekor anak ayam mencicit mencari induknya. Kuelus kepalanya eh dia malah mengikutiku. Aku berlari dia juga berlari akhirnya si ayam mengikutiku sampai ke rumah. Si Mbok pengasuhku bingung melihatnya, dia membawa anak ayam itu ke belakang rumah untuk diberikan pada tetangga, dikiranya itu anak ayam milik tetangga.

Esok paginya anak ayam itu datang lagi ke rumahku. Aku menggendongnya dan memberinya makan. Aku menyimpannya di dalam kardus dan kuberi nama Si  Nuk-Nuk. Sejak itu aku punya teman baru seekor anak ayam. Semakin hari Nuk-Nuk makin besar dan makin mengerti kalau aku sangat menyayanginya. Setiap hari kalau aku pulang sekolah, Nuk-Nuk selalu menantikanku di depan pintu. Nuk-Nuk sudah tidak mau lagi dimasukkan ke dalam kardus, dia lebih suka tinggal di pohon jambu air depan rumah.

Suatu hari aku tidak mendapatkan Nuk-Nuk, aku mencari ke sana kemari. Ternyata dia bermain di belakang rumah bersama seekor ayam jantan milik musuh besarku. Aku panggil dia. Tiba-tiba musuh besarku datang dan memanggil ayamnya. Aku juga memanggil Nuk-Nuk, sialnya kedua ayam tak mau mendengar mereka malah berlari.Ujung-ujungnya, malah aku dan dia yang ribut dan berkelahi, aku mendorong dia ke tepi kali. Malamnya aku diomeli ayah dan dihukum tidak menerima uang jajan selama seminggu. Sedihnya aku dan kebencianku pada si musuh besar semakin memuncak saja.

Suatu hari aku melihat Si Nuk-nuk sibuk mencari sesuatu, ternyata dia minta dibuatkan sarang, sepertinya  mau bertelur. Aku minta ayah membuatkan kandang. Nuk-Nuk pun punya rumah mungil hasil karya ayahku. Setiap hari Nuk-Nuk bertelur, setiap hari pula ayah mengambil telurnya dan setiap kali ayah mengambil telur aku protes. Ayah tak mau Nuk-Nuk menetaskan telur-telurnya karena nanti akan sangat merepotkan. Aku sebaliknya, aku ingin Nuk-nuk banyak temannya. Aku memaksa ayah untuk tidak lagi mengambil telur. Akhirnya tersisa 12 butir telur. Semua dierami dan menetas 10 butir. 

Bangganya aku memiliki 10 anak ayam yang cantik dan sehat, semua berbulu putih. Ini yang aneh. Nuk-nuk berbulu hitam bintik-bintik putih tapi semua anaknya berbulu putih semua. Mungkin ayam jantan yang menghamilinya  berbulu putih. He..he..he.. jadi anaknya putih semua. Makin hari anak ayam itu makin besar, kandang mungil yang dibuatkan ayah sudah tidak muat lagi. Akhirnya mereka semua dibawa pindah oleh Nuk-Nuk ke pohon jambu air. Jadi setiap sore hari menjelang senja pohon jambu airku dipenuhi oleh ayam. Lama- lama anak-anak ayam itu makin besar dan punya pacar, kebetulannya anak-anak ayam itu betina semua. Waktu tiba masanya bertelur, seisi rumah jadi repot karena ayah harus memperbesar kandang ayam.

Kandang diperbesar, ayam pun semakin banyak dan benar saja jadi merepotkan semua orang. Aku yang paling sibuk karena waktu bermainku tersita oleh urusan mengurus ayam. Ayah tidak mau menyuruh orang untuk mengurusnya. Ayah memintaku bertanggungjawab pada ayam-ayamku. Jadilah aku  juragan ayam.  Ayamku lebih dari seratus ekor. Setiap minggu ibu memotongnya untuk dijadikan lauk.

Ah kenangan itu begitu indah, tak akan kulupakan. Kini berpuluh tahun berlalu, aku sudah menjadi seorang ibu tapi tentu saja bukan ibu ayam he..he..he…hanya yang pasti aku tak kan pernah bisa melupakan sahabat sahabatku, terutama sekali sahabat kecilku Nuk-Nuk yang manis yang telah begitu lembut mengucapkan terimakasihnya  dengan memberiku anak-anak ayam yang banyak. 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com