/>

Semua Tentang Reni

March 10, 2008

MASA KECILKU

Filed under: Curahan Kalbu

Pagi yang dingin di hari Kamis 7 Februari, rasanya lebih nyaman berada di dalam selimut tebal sambil mendengarkan lagu-lagu dari radio kesayangan. Tiba-tiba terdengar lagu mandarin. wah ini mungkin dalam rangka imlek. Asyik juga menyimaknya, membuatku merasa dibawa ke masa lalu, masa kecilku yang indah.

Setiap anak pasti menyukai hari raya, demikian pula halnya aku. Hanya masa kecilku ( 7 s.d 12 tahun ) lebih akrab dengan hari raya umat lain. Ya seperti Cap Go Me, Imlek atau Natal. Kenapa demikian? Yup karena orang tuaku tinggal di Jln. Jendral Sudirman. rumah kami tepat di pinggir jalan, berderet sejajar dengan rumah para pemilik toko,yang semuanya orang Cina. Jadi sudah bisa dipastikan semua teman kecilku pasti orang cina. Eh ada satu tetangga di samping rumah yang bukan cina,  dia seorang kolonel beranak banyak, salah satunya adalah musuh besarku. Dia anak laki-laki sebayaku yang tak suka bermain dengan cina. Dia satu sekolah denganku di SD Negri Cibeureum !

Image Hosted by ImageShack.us
" />

 

Aku masih ingat nama- nama teman cinaku : Lie Mey, Fu Hau, Kim Siu, Lieng Hua, Chin Fang, Chin Yen, Sui  Lan, Bun Hau  dan banyak lagi. Mereka semua sangat akrab denganku. Kami sering bermain di rumah. umumnya rumah mereka itu toko dan gudang. Tapi di dalamnya ada ruangan husus untuk kumpul keluarga,bahkan mereka memiliki halaman belakang yang luas untuk bermain. Kami semua aman bermain di dalamnya karena sekeliling rumah dibenteng. Orang tuaku tak pernah melarang aku bermain dengan mereka, asal aku tidak makan di rumah mereka. Itu saja pesannya dan pesan itu selalu kuturuti dengan baik.

Ada yang menarik dari kehidupan mereka. sejak kecil mereka dibiasakan hidup mandiri. Mereka juga dibiasakan memiliki kesibukan seperti anak yang masih SD bertugas untuk membereskan rumah, yang SMP jaga toko, yang SMA memasak dan yang dewasa mengatur keuangan keluarga serta berbelanja untuk isi toko. Semua tidak ada yang diam. Bila semua tugas sudah beres, mereka baru boleh bermain. Satu hal lagi, mereka dibiasakan untuk mengembangkan bakatnya. Banyak di antara teman-temanku yang memelihara binatang seperti anjing, kucing, burung, ikan, monyet, tikus putih dan banyak lagi. Ini tak kulihat dalam kehidupan anak-anak bangsa kita. Mereka umumnya tak mau tahu dengan urusan seperti itu. Memang di rumah mereka banyak yang memelihara ayam, burung atau kambing tapi orang tuanya lah yang mengurusnya bukan anak-anak.

Setiap Imlek atau Natal tiba, aku ikut ribut pada ayahku, minta dibelikan baju. Ayah sering marah dengan tingkahku itu tapi ibu dan bude selalu membelaku katanya biar saja Si Ni pake baju baru di hari  natal atau imlek,yang penting tidak ikut-ikutan ritualnya. Ibuku salah besar, justru aku sering ikut mereka ke kelenteng, ke kuil atau ke gereja. Di sana aku senang bermain-main, apalagi bila ada peringatan paskah pasti aku ikutan mencari telur dan bila imlek maka ang pau yang kudapat dari meme-meme temanku he..he..he… asyik kan?

Sikap hidup teman-teman cinaku secara tidak langsung ikut mempengaruhi kehidupanku. Aku suka membaca, menghitung uang, berbelanja, mengurus rumah sampai menyayangi binatang. yaaa aku masih ingat, waktu itu pulang sekolah. Di jalan ada seekor anak ayam mencicit mencari induknya. Kuelus kepalanya eh dia malah mengikutiku. Aku berlari dia juga berlari akhirnya si ayam mengikutiku sampai ke rumah. Si Mbok pengasuhku bingung melihatnya, dia membawa anak ayam itu ke belakang rumah untuk diberikan pada tetangga, dikiranya itu anak ayam milik tetangga.

Esok paginya anak ayam itu datang lagi ke rumahku. Aku menggendongnya dan memberinya makan. Aku menyimpannya di dalam kardus dan kuberi nama Si  Nuk-Nuk. Sejak itu aku punya teman baru seekor anak ayam. Semakin hari Nuk-Nuk makin besar dan makin mengerti kalau aku sangat menyayanginya. Setiap hari kalau aku pulang sekolah, Nuk-Nuk selalu menantikanku di depan pintu. Nuk-Nuk sudah tidak mau lagi dimasukkan ke dalam kardus, dia lebih suka tinggal di pohon jambu air depan rumah.

Suatu hari aku tidak mendapatkan Nuk-Nuk, aku mencari ke sana kemari. Ternyata dia bermain di belakang rumah bersama seekor ayam jantan milik musuh besarku. Aku panggil dia. Tiba-tiba musuh besarku datang dan memanggil ayamnya. Aku juga memanggil Nuk-Nuk, sialnya kedua ayam tak mau mendengar mereka malah berlari.Ujung-ujungnya, malah aku dan dia yang ribut dan berkelahi, aku mendorong dia ke tepi kali. Malamnya aku diomeli ayah dan dihukum tidak menerima uang jajan selama seminggu. Sedihnya aku dan kebencianku pada si musuh besar semakin memuncak saja.

Suatu hari aku melihat Si Nuk-nuk sibuk mencari sesuatu, ternyata dia minta dibuatkan sarang, sepertinya  mau bertelur. Aku minta ayah membuatkan kandang. Nuk-Nuk pun punya rumah mungil hasil karya ayahku. Setiap hari Nuk-Nuk bertelur, setiap hari pula ayah mengambil telurnya dan setiap kali ayah mengambil telur aku protes. Ayah tak mau Nuk-Nuk menetaskan telur-telurnya karena nanti akan sangat merepotkan. Aku sebaliknya, aku ingin Nuk-nuk banyak temannya. Aku memaksa ayah untuk tidak lagi mengambil telur. Akhirnya tersisa 12 butir telur. Semua dierami dan menetas 10 butir. 

Bangganya aku memiliki 10 anak ayam yang cantik dan sehat, semua berbulu putih. Ini yang aneh. Nuk-nuk berbulu hitam bintik-bintik putih tapi semua anaknya berbulu putih semua. Mungkin ayam jantan yang menghamilinya  berbulu putih. He..he..he.. jadi anaknya putih semua. Makin hari anak ayam itu makin besar, kandang mungil yang dibuatkan ayah sudah tidak muat lagi. Akhirnya mereka semua dibawa pindah oleh Nuk-Nuk ke pohon jambu air. Jadi setiap sore hari menjelang senja pohon jambu airku dipenuhi oleh ayam. Lama- lama anak-anak ayam itu makin besar dan punya pacar, kebetulannya anak-anak ayam itu betina semua. Waktu tiba masanya bertelur, seisi rumah jadi repot karena ayah harus memperbesar kandang ayam.

Kandang diperbesar, ayam pun semakin banyak dan benar saja jadi merepotkan semua orang. Aku yang paling sibuk karena waktu bermainku tersita oleh urusan mengurus ayam. Ayah tidak mau menyuruh orang untuk mengurusnya. Ayah memintaku bertanggungjawab pada ayam-ayamku. Jadilah aku  juragan ayam.  Ayamku lebih dari seratus ekor. Setiap minggu ibu memotongnya untuk dijadikan lauk.

Ah kenangan itu begitu indah, tak akan kulupakan. Kini berpuluh tahun berlalu, aku sudah menjadi seorang ibu tapi tentu saja bukan ibu ayam he..he..he…hanya yang pasti aku tak kan pernah bisa melupakan sahabat sahabatku, terutama sekali sahabat kecilku Nuk-Nuk yang manis yang telah begitu lembut mengucapkan terimakasihnya  dengan memberiku anak-anak ayam yang banyak. 

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://renik.blogsome.com/2008/03/10/masa-kecilku/trackback/

  1. Pengalaman masa kecil yang menyenangi….geus bisa jadi bandar hayam nya leutik2…pinteran…..ehmmmm kayungyun….

    Comment by si kunyang — March 12, 2008 @ 8:11 am

  2. Muhun kiwari mah ngangon budak sakola nya teh?? sok arendogan tara…?? heuheuheu…..

    Comment by Kang Gibson — March 17, 2008 @ 8:30 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com