/>

Semua Tentang Reni

May 7, 2008

ADA APA YA?

Filed under: Curahan Kalbu

Hari Senin kemarin, aku ke sekolah pukul 10 siang. Yaahh hari itu agak santai karena tidak ada jam mengajar hanya ada janji dengan bagian tatalaksana untuk menyelesaikan usulan data siswa calon peserta beasiswa yang semuanya berjumlah 43 orang. Data itu harus segera diserahkan ke dinas pukul 12 siang ini. Setelah itu pada pukul 12 ada janji pula dengan seluruh perwakilan kelas 9 dan pengurus OSIS beserta MPK untuk mengadakan rapat OSIS, membicarakan masalah perpisahan kelas 9. Hasil dari musyawarah OSIS, MPK dan perwakilan kelas itu akan dibawa ke dalam rapat panitia perpisahan yang akan dilaksanakan pukul 14 hari ini juga.

Baru saja aku tiba di sekolah dan masuk ke ruang guru, seorang rekan kerja menyapaku dan mengatakan kalau tadi pagi pukul 8 ada tamu mencariku. Aku tanyakan siapa dari mana dan ada keperluan apa. Kata temanku tamu itu adalah guru SD, ingin bertemu denganku katanya sangat penting dan bukan urusan dinas namun urusan pribadi. Aku bingung, dan menerka-nerka siapa gerangan guru SD itu? Seingatku aku tidak punya urusan pribadi dengan siapa pun. Aku pun bertanya lagi dari SD mana?  Temanku mengatakan kalau guru itu dari SD SBI ( Sekolah Berstandar Internasional ) Wah itu lebih tidak kumengerti lagi. Ada urusan apa ya?

Untunglah sedang bingung begitu ada salah seorang sahabatku, dia ngajar siang namun kebetulan hari itu datang pagi. Dia aku tanya karena dia bendahara komite sekolah tersebut dan saat itu kebetulan akan berangkat ke sana. Aku pesan padanya, kalau kebetulan bertemu dengan guru-guru dari SD tersebut, tolong katakan siapa nama guru yang mencariku itu dan ada keperluan apa, kalau mau bertemu, aku sekarang ada di sekolah sampai pukul 4 sore. Aku tunggu. 

Setelah itu aku pun menemui petugas tatalaksana untuk membereskan data siswa yang harus segera dikirim ke dinas kota. Ditunggu sampai sore tamu itu tak juga datang. Pukul 4 sore aku pun pulang.

Pukul 7 malam telepon rumah berdering. Sahabatku yang menelepon ke rumah. Dia mengatakan kalau guru yang mencariku ke sekolah itu adalah salah seorang ibu guru sebut saja Bu Santi. Dia ingin bertemu aku karena ingin mengklearkan masalah yang saat ini menimpanya. Sahabatku juga mengatakan kalau aku harus menolong guru iru membersihkan namanya. Aku semakin bingung dan tak mengerti. Sungguh! Aku minta sahabatku menceritakan permasalahannya dengan jelas.

Akhirnya aku tahu masalahnya. Beberapa waktu yang lalu, aku ngobrol dengan sahabatku masalah manajemen sekolah, entah bagaimana obrolan jadi menukik ke masalah SBI, ya karena dia bercerita tentang sekolah yang sedang dikelolanya saat ini dengan penuh kebanggaan. Waktu dia berbicara begitu aku jadi teringat beberapa orang guru dari sekolah SBI yang mengeluh karena merasa terbebani oleh tugas-tugas yang berat demi mempertahankan reputasi sekolah. Misalnya saja dalam pembuatan soal-soal, untuk SBI tidak cukup hanya sampai pada tingkat pemahaman tapi harus sampai pada tingkat analisis. belum lagi tugas lainnya sementara kesejahteraan yang diterimanya tidak jauh berbeda dengan guru yang bukan dari SBI. Akhirnya mereka beranggapan kalau adanya SBI itu hanya ambisi pimpinan sekolahnya saja untuk mendapatkan proyek yang cukup besar jumlahnya, bukan didasari oleh tujuan meningkatkan kualitas anak didik dan kesejahteraan guru.

Saat itu aku merasa hal itu harus disampaikan kepada sahabatku. Bukan apa-apa tapi hanya sebagai masukan saja untuk dijadikan bahan evaluasi.Dia kan berkecimpung di dalamnya. Ternyata sahabatku membawa masalah itu dalam rapat komite yang dihadiri oleh Kepsek. Kepsek merasa tidak menerima lalu mendesak sahabatku untuk mengatakan dari mana sumber berita itu. Eh dasar kurang bijak, sahabatku mengatakan kalau berita itu datangnya dari aku. Entah dengan alasan apa tiba-tiba saja Kepsek dan beberapa orang guru yang ada di sana menuding kepada salah seorang guru yang dicurigai berbicara seperti itu padaku. Kontan saja guru itu merasa tidak nyaman dan merasa difitnah. Makanya tidak heran kalau si guru mencariku untuk menerima penjelasanku.

Aku katakan pada sahabatku kalau dia sudah melakukan kebodohan sebagai pengurus komite. Dia sama sekali tidak bisa bersikap profesional. Seharusnya pihak sekolah bukan mencari siapa yang menyampaikan berita itu tapi mencoba menganalisisnya dengan evaluasi kasus untuk mengetahui kebenaran berita. Misalnya saja dengan menyebar angket ke guru-guru, mengadakan dialog interakktif, atau studi kasus. Ini malah secara tidak etis menuduh salah seorang guru yang mengajar di sekolah itu sebagai penyebar berita. Aku jadi berkesimpulan kalau SDM di sekolah itu memang benar-benar belum siap untuk menjadi SBI. Terutama sekali pimpinan sekolahnya. Waahh gawat ya…, jangan-jangan isue itu benar adanya. Semoga hal ini bisa dijadikan cermin bagi kita semua. Ternyata jauh lebih mudah medirikan sekolah berstandar internasional dari pada bersikap secara profesional. Ner nggak?

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com