/>

Semua Tentang Reni

June 28, 2008

AKHIRNYA DATANG JUA

Filed under: Curahan Kalbu

Saat yang dinanti akhirnya datang jua. Hari sabtu tanggal 21 kemarin merupakan hari yang bersejarah bagi semua siswa kelas 9. Hari itu merupakan penentuan akhir dari sebuah perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Penentuan yang ditentukan oleh sebuah kata berhasil atau belum berhasil.

Pukul 7 pagi aku sudah berada di sekolah yang masih terlihat sepi karena pengumuman kelulusan kepada para orang tua siswa dimulai pada pukul 9 pagi. aku langsung saja menuju ruanganku. Tak disangka di dalam sudah ada seorang teman guru yang sedang menangis. Ada apa?  Salah seorang siswa asuhannya tidak lulus. Aku ikut prihatin dan mencoba menenangkannya." Kenapa harus dia? Dia anak yang baik dan rajin" kalimat itulah yang diucapkannya berulang-ulang padaku di sela isak tangisnya.

Cerita sendu yang selalu berulang dari tahun ke tahun. Selalu saja ada anak yang baik yang tidak lulus. Sementara  anak yang seharusnya tidak lulus malah berhasil, padahal di sekolah, kami sudah menerapkan sistem seselektif mungkin, ditunjang oleh sikap guru-guru yang idealismenya tinggi. Tak boleh ada sedikitpun kecurangan dalam Ujian Nasional. Namun selalu saja ada hal yang tidak sesuai dengan hati nurani. Apakah itu karena nasib?Sistem? Atau teknis? Walallahualam, yang jelas sejak UN diberlakukan sebagai syarat kelulusan, cerita tentang kelulusan di sekolahku khususnya selalu saja tidak pernah berakhir dengan happy ending.

Aku beralih pada data kelulusan global.Wah dari 393 siswa ada 8 orang siswa yang belum berhasil, tepatnya 5 orang karena tiga siswa lainnya sudah keluar sebelum ujian dilaksanakan. Hanya namanya sudah tanggung terdaftar di US1 jadi mempengaruhi persentase kelulusan pada akhirnya. Berlanjut kemudian pada mata pelajaran. Alhamdulillah dari empat mata pelajaran yang di UN kan yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan Matematika, sekolah kami mendapat predikat A. Setelah itu barulah aku melihat tiga kelas yang menjadi tanggung jawabku khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Satu demi satu kulihat, 132 siswa semuanya lulus dengan nilai terendah 6,20 dan tertinggi 9,10 dan nilai rata-rata kelas 8,10.

Tak terasa air mata tertumpah di pipi. Terimakasih Ya Allah Engkau telah mengabulkan doa kami.Terbayang dibenakku perjuangan mereka dalam lelah, dalam malas, dalam perut kelaparan, mereka mengikuti kegiatan tambahan pelajaran selepas pulang sekolah. Di saat orang lain lelap tidur siang, mereka harus mengasah otak untuk sebuah kelulusan. Tak heran bila di kelas ada yang tidur, ada yang bermain-main sambil usil, ada pula canda dan tawa yang membahana. Semua berpadu dalam satu tujuan mulia.

Teringat pula saat-saat pertama aku bertemu dengan mereka di kelas di awal kegiatan pembelajaran ketika pertama mereka naik ke kelas 9. Kami bersama merancang kontrak belajar yang didalamnya terdapat visi, misi, strategi dan target yang harus dicapai oleh siswa dan guru, sekaligus pula prediksi kendala yang harus dihadapi termasuk solusi apa bila semua itu gagal. Ah mirip strategi perang saja yaa… memang saat itu kami sedang merencanakan perang melawan kebodohan, kemalasan dan ketidak berhasilan. Waktu itu kukatakan pada mereka " Malu kiita jadi bangsa Indonesia bila nilai UN Bahasa Indonesia harus di bawah 6, siapkah kalian melawan nilai di bawah 6?" Anak-anak serempak menjawab " Siap!"

Kini semua itu hanya tinggal kenangan, besok di akhir kegiatan mereka di sekolah ini, kami akan melepas mereka dalam acara ‘ Paturay Tineung ‘. Besok akan kukembalikan apa yang telah mereka tulis setahun lalu,esok mereka akan tahu apakah targetnya tercapai atau tidak. Ah sudah kubayangkan wajah ceria di mata mereka. selamat anak-anakku! Kalian pantas menjadi anak-anak Indonesia.

 

June 6, 2008

AKU DAN PROFESIKU

Filed under: Curahan Kalbu

Menjadi guru pada awalnya bukan cita-citaku tapi cita-cita kedua orang tuaku, khususnya ayah yang sangat berharap anak perempuan satu-satunya menjadi guru meneruskan perjuangannya. Aku sendiri waktu itu bercita-cita jadi insinyur pertanian. Namun ayah yang pada waktu itu sebagai Kadisdik dan ibuku Kepsek, sama sekali tidak setuju. Alasannya sangat sederhana, ayah khawatir aku yang tomboy akan semakin kacau bila aku masuk ke SPMA karena di sekolah itu kebanyakan muridnya laki-laki. Ayahku ingin aku menjadi perempuan sesuai kodratku.

Alhasil aku dipaksa masuk ke sekolah guru yaitu SPG. Di SPG, kubiarkan hidupku mengalir seperti banjir, menyusahkan banyak orang termasuk ayah dan guru-guru. Aku sangat sering membuat ulah sebagai bentuk protes atas ketidak setujuanku sekolah di sana. Kesabaran ayah, guru-guru dan kasih sayang serta persahabatan teman-teman lah yang akhirnya meluluhkan hatiku dan pada akhirnya pasrah untuk terus menuntut ilmu di sekolah itu. Luar biasa, Ya mereka semua adalah orang-orang luar biasa yang sangat perhatian padaku. Itulah SPG!

SPG, benar-benar mencetak para muridnya menjadi guru. Aku masih ingat  tahun pertama semester satu kami diberi teori tentang didaktik, metodik dan psikologi anak. Semester dua melakukan kegiatan membuat resume kegiatan pembelajaran ke SD terdekat. Dalam kegiatan ini kami ditugaskan untuk mengamati dan menilai guru-guru SD atau senior kami yang sedang mengajar di kelas. Tahun kedua atau pada semester tiga, kami dilatih untuk mengembangkan kurikulum beserta perangkatnya, semacam program semester, satuan pelajaran dan yang berkaitan dengan itu. Semester empat, diberi tugas untuk praktek mengajar setiap bulan selama setahun. Tahun ketiga semester lima kami wajib melaksanakan praktek mengajar dua kali seminggu di SD yang ditunjuk. Semester enam kami diwajibkan mengikuti OCT ( Off campus Teaching ) yaitu mengabdi menjadi guru di desa terpencil yang berada jauh dari luar kampus dan selama empat bulan penuh kami memegang kelas. Tak hanya itu, kami pun diharuskan mengikuti kegiatan kemasyarakatan seperti bekerja sama dengan aparat desa membantu warga melaksanakan kerja bakti, perayaan hari kemerdekaan, porseni desa dan tidak hanya itu, kita pun dituntut pula untuk merancang acara kenaikan kelas di sekolah tempat kita mengajar. Bisa dibayangkan betapa sibuknya para siswa SPG di akhir tahun pembelajaran. Semua kegiatan itu diakhiri oleh ujian dan yang paling berat ujiannya adalah ujian praktek mengajar di bawah bimbingan dan penilaian guru-guru senior  kami yang profesional, idealis, berdedikasi dan tidak mengenal kata kompromi.

Alhamdulillah, tamat SPG aku meraih sepuluh besar murid terbaik, itu semua berkat kerja keras yang dipicu keinginan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Ya karena aturan pada waktu itu, siswa dari sekolah kejuruan tidak dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi negri sebelum memiliki masa kerja minimal dua tahun, kecuali bagi siswa berprestasi. Aku termasuk siswa yang beruntung karena masuk ke peringkat sepuluh besar. Dengan begitu aku boleh melanjutkan ke perguruan tinggi negri tanpa testing. PT yang bisa menerimaku saat itu adalah :IKIP, IAIN, dan UNPAD. Aku sendiri heran bagaimana guru-guru menentukan kriteria itu untukku sebab jujur saja di sekolah, aku paling banyak bermasalah walaupun nilai-nilaiku tak pernah buruk, bahkan nilai ujian akhir hampir semuanya di atas 7, sementara di kelasku saja lebih dari enam orang tidak lulus.

Aku memilih Unpad jurusan biologi, sayang sekali di Unpad hanya boleh memilih fakultas sastra. Aku tidak tertarik. Selanjutnya pergi ke IKIP, di sana pun aku memilih jurusan biologi. Ternyata IKIP juga menerapkan sistem yang sama, bagi siswa kejuruan yang masuk melalui jalur prestasi hanya disediakan dua fakultas yaitu fakultas pendidikan dan bahasa. Menyedihkan sekali, dua fakultas itu sama sekali bukan fakultas impianku. Tak ada pilihan di sana. Aku tidak menyukai bahasa, sastra apalagi yang berkaitan dengan metodik, didaktik dan psikologi. Akhirnya, ya sudah aku masuk ke jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia padahal mata pelajaran itu, salah satu dari tiga mata pelajaran yang tidak kusukai setelah Olah Raga dan Bahasa Inggris. Ironis ya. Namun itulah kehidupan, semua berjalan bukan atas suka atau tidaknya kita.

Menimba ilmu di SPG dilanjutkan kemudian ke IKIP, sedikit banyak mulai mengubah kepribadianku. Namun sebenarnya ada hal penting yang membuatku mengubah sikap.Itu tiada lain adalah muridku!

Murid pertama yang menjadikanku guru idola adalah Lili. Lili murid kelas 2 SD yang kukenal waktu aku melaksanakan praktek mengajar. Lili anak keturunan Tionghoa, matanya sipit, tubuhnya gemuk namun senyumnya manis sekali. Sayangnya di kelas, dia termasuk anak yang minder karena selalu diejek teman-temannya  dengan sebutan anak gajah.

Suatu hari, aku memberikan pelajaran bercerita. Cerita yang kusampaikan, aku ambil dari sebuah majalah anak-anak. Cerita itu berjudul " Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang". Anak-anak di kelas sangat tertarik dengan cerita itu, mungkin karena aku memvisualisasikannya dalam bentuk gambar-gambar yang menarik yang kubuat sendiri ditambah lagi dengan kemampuanku bercerita dan menirukan suara-suara binatang. Dalam cerita itu, aku mengisahkan kebaikan hati Bona.

Tak kusangka, efeknya begitu kuat. Cerita itu melekat dalam hati anak-anak dan lebih dari itu, sikap mereka pada Lili jadi berubah. Mereka jadi menyukai Lili. Mungkin di benak mereka ada kesamaan antara Lili yang sering dipanggil gajah kecil dengan tokoh Bona sebagai gajah kecil yang baik hati dan heroik.

Lili pun berubah menjadi anak yang penuh percaya diri dan sejak itu dia tidak bisa lepas dariku. Dia juga minta guru lesnya diganti olehku. jadilah aku guru les di usia 17 tahun. Murid berikutnya adalah Yuyu, anak kelas 4 SD. Aku mengenalnya ketika OCT  di desa terpencil Cikalong Wetan. Kedekatanku dengan Yuyu dimulai ketika dia kuajari membuat roti sarikaya. Ternyata dia anak yang cerdas, cantik, aktif dan kreatif. Dia sangat berbeda dengan anak-anak lainnya. Salah satu kecerdasannya adalah ketika aku memberikan pelajaran tentang singkong dengan metode unit. Dialah yang paling cemerlang nilainya.

Sebulan menjelang tugasku berakhir, Yuyu minta ijin pada ayah ibunya untuktinggal bersamaku di rumah Pak Lurah. Setiap akhir minggu aku pulang ke bandung, Yuyu selalu kuajak. Kubawa dia jalan-jalan ke kebun binatang atau ke taman lalu lintas. Yuyu sangat senang.

Waktu OCT berakhir, Yuyu memegang erat tanganku, matanya bengkak karena tak mau kutinggalkan.Dia mengikutiku menuju mobil jemputan. Di sana telah menunggu pula kedua orang tuanya yang menyerahkan begitu banyak bingkisan dan makanan serta buah-buahan untukku diperjalanan. Mereka memelukku bergantian, terakhir YUyu yang terus menangis di pelukanku.

Aku pulang ke Bandung dengan membawa begitu banyak kenangan. Tiga minggu lamanya mataku bengkak karena selalu menangisi perpisahan dengan semua muridku terutama Yuyu. Yuyu dan Lili adalah dua orang murid yang selalu menjadi sumber inspirasiku sebagai guru sampai saat ini. Merekalah yang menyadarkanku kalau jiwa, darah dan ragaku adalah guru. Mereka juga yang membuatku memaafkan ayah atas dosanya memasukkan aku ke sekolah guru.

 

NEGERIKU…..NEGERIKU

Filed under: Opini

Wajah negeriku kembali merona  karena ulah beberapa kelompok manusia yang kita sendiri tidak tahu apa maunya. Tugu Monas yang berdiri tegar menjadi saksi bisu siang itu tanggal 1 Juni 2008. Sang tugu, kaku tersenyum malu melihat tingkah polah anak bangsa yang seiring berjalannya waktu semakin terlihat tidak bisa bersikap dewasa.

Dua kubu bertikai, persis dua anak kecil yang berebut permen. Memalukan! Ada yang luka ada yang teraniaya. Sesama saudara bertengkar, sungguh semua itu mengoyak hati ibu pertiwi. Di manakah hati nurani? Di manakah logika berpikir mereka? Tak sadarkah mereka kalau semua itu adalah alat untuk mengalihkan perhatian dunia pada bangsa yang saat ini sedang terpuruk menghadapi krisis ekonomi, yang terasa semakin memberatkan. Kelakuan mereka membungkam semua aspirasi yang sedang hangat didengungkan yaitu gencarnya KPK membongkar kasus korupsi, maraknya aksi mahasiswa menolak kenaikan BBM, ketidak efektifan BLT dan tentu saja tingginya harga sembilan bahan pokok yang saat ini sudah sulit dijangkau oleh masyarakat kecil.

Politik negriku! Sungguh sangat menyakitkan. Di saat seperti ini masih saja dibicarakan tentang agama dan kepercayaan. Coba lihatlah lebih jauh, ada yang lebih penting dari semua itu. Anak-anak yang kelaparan dan kekurangan gizi, pengangguran yang semakin menumpuk, tuna wisma yang semakin marak,anak-anak putus sekolah yang semakin banyak jumlahnya. Itu semua lebih penting untuk diperjuangkan.

Satu kelompok ditangkap karena dianggap telah melakukan kekerasan, semua menghujat bahkan tidak sedikit yang meminta agar kelompok itu dibubarkan saja.Lucu! Sebuah dagelan basi yang ceritanya terus sambung menyambung di negeri ini, apalagi saat ini menjelang pelaksanaan pemilu. Bisa kita pastikan, setelah cerita ini berlalu pastilah muncul para orator-orator profesional yang akan meneriakan tentang pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan gratis, pembukaan lapangan kerja. Yah dari tahun ke tahun dan sudah berlangsung puluhan tahun hal semacam itu seolah menjadi icon politik negri ini yang tidak pernah ada realisasinya.

Kemiskinan, kebodohan seolah hal yang harus abadi di negri ini karena itu merupakan iklan yang paling bermutu untuk pemilu. Tak sadarkah mereka? Ada hal yang lebih dari hanya sekedar kekerasan yang dikukan FPI di negri kita tercinta ini. Coba tengok kolusi, korupsi yang sulit diberantas dalangnya, itu jauh lebih jahat. Ratusan juta rakyat Indonesia dibuat menderita dan mati secara perlahan-lahan. ratusan jiwa mengalami stabilitas emosi yang labil. pernahkah kawan berkunjung ke rumah-rumah sakit jiwa lalu mencoba mendata siapa saja yang paling banyak menghuni tempat itu? Sungguh sangat mencengangkan karena pasien yang dirawat di sana kebanyakan berada dalam usia produktif! Mereka para generasi muda yang menghabiskan waktunya dalam karantina RSJ yang muram, kusam dan sunyi.
Anehnya semua mulut seakan terkunci untuk semua itu.

 Kita di sini berjuang untuk hidup secara layak. Beruntung bagi kita yang memiliki pekerjaan tetap walaupun kecil masih ada harapan yang bisa kita nantikan di akhir bulan. Bagaimana dengan pedagang asongan, penarik becak, sopir angkot, penjual gorengan di pinggir jalan dan banyak lagi  profesi lain yang  hidupnya  dari mengundi nasib dan rizki dari Allah SWT.

Ah, negri ini harus bangkit! Kita butuh seorang pemimpin sekelas Abu Bakar Asyidik. Adakah hal itu akan terjadi? Walalahu alam bissawab! 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com