AKU DAN PROFESIKU
Menjadi guru pada awalnya bukan cita-citaku tapi cita-cita kedua orang tuaku, khususnya ayah yang sangat berharap anak perempuan satu-satunya menjadi guru meneruskan perjuangannya. Aku sendiri waktu itu bercita-cita jadi insinyur pertanian. Namun ayah yang pada waktu itu sebagai Kadisdik dan ibuku Kepsek, sama sekali tidak setuju. Alasannya sangat sederhana, ayah khawatir aku yang tomboy akan semakin kacau bila aku masuk ke SPMA karena di sekolah itu kebanyakan muridnya laki-laki. Ayahku ingin aku menjadi perempuan sesuai kodratku.
Alhasil aku dipaksa masuk ke sekolah guru yaitu SPG. Di SPG, kubiarkan hidupku mengalir seperti banjir, menyusahkan banyak orang termasuk ayah dan guru-guru. Aku sangat sering membuat ulah sebagai bentuk protes atas ketidak setujuanku sekolah di sana. Kesabaran ayah, guru-guru dan kasih sayang serta persahabatan teman-teman lah yang akhirnya meluluhkan hatiku dan pada akhirnya pasrah untuk terus menuntut ilmu di sekolah itu. Luar biasa, Ya mereka semua adalah orang-orang luar biasa yang sangat perhatian padaku. Itulah SPG!
SPG, benar-benar mencetak para muridnya menjadi guru. Aku masih ingat tahun pertama semester satu kami diberi teori tentang didaktik, metodik dan psikologi anak. Semester dua melakukan kegiatan membuat resume kegiatan pembelajaran ke SD terdekat. Dalam kegiatan ini kami ditugaskan untuk mengamati dan menilai guru-guru SD atau senior kami yang sedang mengajar di kelas. Tahun kedua atau pada semester tiga, kami dilatih untuk mengembangkan kurikulum beserta perangkatnya, semacam program semester, satuan pelajaran dan yang berkaitan dengan itu. Semester empat, diberi tugas untuk praktek mengajar setiap bulan selama setahun. Tahun ketiga semester lima kami wajib melaksanakan praktek mengajar dua kali seminggu di SD yang ditunjuk. Semester enam kami diwajibkan mengikuti OCT ( Off campus Teaching ) yaitu mengabdi menjadi guru di desa terpencil yang berada jauh dari luar kampus dan selama empat bulan penuh kami memegang kelas. Tak hanya itu, kami pun diharuskan mengikuti kegiatan kemasyarakatan seperti bekerja sama dengan aparat desa membantu warga melaksanakan kerja bakti, perayaan hari kemerdekaan, porseni desa dan tidak hanya itu, kita pun dituntut pula untuk merancang acara kenaikan kelas di sekolah tempat kita mengajar. Bisa dibayangkan betapa sibuknya para siswa SPG di akhir tahun pembelajaran. Semua kegiatan itu diakhiri oleh ujian dan yang paling berat ujiannya adalah ujian praktek mengajar di bawah bimbingan dan penilaian guru-guru senior kami yang profesional, idealis, berdedikasi dan tidak mengenal kata kompromi.
Alhamdulillah, tamat SPG aku meraih sepuluh besar murid terbaik, itu semua berkat kerja keras yang dipicu keinginan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Ya karena aturan pada waktu itu, siswa dari sekolah kejuruan tidak dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi negri sebelum memiliki masa kerja minimal dua tahun, kecuali bagi siswa berprestasi. Aku termasuk siswa yang beruntung karena masuk ke peringkat sepuluh besar. Dengan begitu aku boleh melanjutkan ke perguruan tinggi negri tanpa testing. PT yang bisa menerimaku saat itu adalah :IKIP, IAIN, dan UNPAD. Aku sendiri heran bagaimana guru-guru menentukan kriteria itu untukku sebab jujur saja di sekolah, aku paling banyak bermasalah walaupun nilai-nilaiku tak pernah buruk, bahkan nilai ujian akhir hampir semuanya di atas 7, sementara di kelasku saja lebih dari enam orang tidak lulus.
Aku memilih Unpad jurusan biologi, sayang sekali di Unpad hanya boleh memilih fakultas sastra. Aku tidak tertarik. Selanjutnya pergi ke IKIP, di sana pun aku memilih jurusan biologi. Ternyata IKIP juga menerapkan sistem yang sama, bagi siswa kejuruan yang masuk melalui jalur prestasi hanya disediakan dua fakultas yaitu fakultas pendidikan dan bahasa. Menyedihkan sekali, dua fakultas itu sama sekali bukan fakultas impianku. Tak ada pilihan di sana. Aku tidak menyukai bahasa, sastra apalagi yang berkaitan dengan metodik, didaktik dan psikologi. Akhirnya, ya sudah aku masuk ke jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia padahal mata pelajaran itu, salah satu dari tiga mata pelajaran yang tidak kusukai setelah Olah Raga dan Bahasa Inggris. Ironis ya. Namun itulah kehidupan, semua berjalan bukan atas suka atau tidaknya kita.
Menimba ilmu di SPG dilanjutkan kemudian ke IKIP, sedikit banyak mulai mengubah kepribadianku. Namun sebenarnya ada hal penting yang membuatku mengubah sikap.Itu tiada lain adalah muridku!
Murid pertama yang menjadikanku guru idola adalah Lili. Lili murid kelas 2 SD yang kukenal waktu aku melaksanakan praktek mengajar. Lili anak keturunan Tionghoa, matanya sipit, tubuhnya gemuk namun senyumnya manis sekali. Sayangnya di kelas, dia termasuk anak yang minder karena selalu diejek teman-temannya dengan sebutan anak gajah.
Suatu hari, aku memberikan pelajaran bercerita. Cerita yang kusampaikan, aku ambil dari sebuah majalah anak-anak. Cerita itu berjudul " Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang". Anak-anak di kelas sangat tertarik dengan cerita itu, mungkin karena aku memvisualisasikannya dalam bentuk gambar-gambar yang menarik yang kubuat sendiri ditambah lagi dengan kemampuanku bercerita dan menirukan suara-suara binatang. Dalam cerita itu, aku mengisahkan kebaikan hati Bona.
Tak kusangka, efeknya begitu kuat. Cerita itu melekat dalam hati anak-anak dan lebih dari itu, sikap mereka pada Lili jadi berubah. Mereka jadi menyukai Lili. Mungkin di benak mereka ada kesamaan antara Lili yang sering dipanggil gajah kecil dengan tokoh Bona sebagai gajah kecil yang baik hati dan heroik.
Lili pun berubah menjadi anak yang penuh percaya diri dan sejak itu dia tidak bisa lepas dariku. Dia juga minta guru lesnya diganti olehku. jadilah aku guru les di usia 17 tahun. Murid berikutnya adalah Yuyu, anak kelas 4 SD. Aku mengenalnya ketika OCT di desa terpencil Cikalong Wetan. Kedekatanku dengan Yuyu dimulai ketika dia kuajari membuat roti sarikaya. Ternyata dia anak yang cerdas, cantik, aktif dan kreatif. Dia sangat berbeda dengan anak-anak lainnya. Salah satu kecerdasannya adalah ketika aku memberikan pelajaran tentang singkong dengan metode unit. Dialah yang paling cemerlang nilainya.
Sebulan menjelang tugasku berakhir, Yuyu minta ijin pada ayah ibunya untuktinggal bersamaku di rumah Pak Lurah. Setiap akhir minggu aku pulang ke bandung, Yuyu selalu kuajak. Kubawa dia jalan-jalan ke kebun binatang atau ke taman lalu lintas. Yuyu sangat senang.
Waktu OCT berakhir, Yuyu memegang erat tanganku, matanya bengkak karena tak mau kutinggalkan.Dia mengikutiku menuju mobil jemputan. Di sana telah menunggu pula kedua orang tuanya yang menyerahkan begitu banyak bingkisan dan makanan serta buah-buahan untukku diperjalanan. Mereka memelukku bergantian, terakhir YUyu yang terus menangis di pelukanku.
Aku pulang ke Bandung dengan membawa begitu banyak kenangan. Tiga minggu lamanya mataku bengkak karena selalu menangisi perpisahan dengan semua muridku terutama Yuyu. Yuyu dan Lili adalah dua orang murid yang selalu menjadi sumber inspirasiku sebagai guru sampai saat ini. Merekalah yang menyadarkanku kalau jiwa, darah dan ragaku adalah guru. Mereka juga yang membuatku memaafkan ayah atas dosanya memasukkan aku ke sekolah guru.
