/>

Semua Tentang Reni

July 30, 2008

THE LETTER FOR SOME BODY IN CYBER….

Filed under: Curahan Kalbu

Telah kuterima, suratmu itu

Penuh sanjungan kata merayu

Syair dan pantun  tersusun rapi, kawan

Bagaikan fatwa para pujangga

 

Telah kusimpan suratmu itu

Bak pusaka, yang sangat berharga

Walau kita tak pernah berjumpa, kawan

Cukup sudah tandamu setia……. 

Heu…heu…heu….siapa dirimu ya, yang selalu setia mengirimi aku surat tanpa tahu di mana dan ke mana balasannya harus kualamatkan. Aneh….dunia cyber memang aneh…….walau begitu terimakasih atas semuanya semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu. Terimakasih pula atas ucapan selamat ultahnya juga kadonya. Hanya Allah lah yang bisa membalasnya karena saya tidak tahu ke mana balasannya harus dialamatkan.

July 20, 2008

AKU MERINDUKANMU IPIN

Filed under: Curahan Kalbu

Siang itu aku dan sahabatku Yoshephin ( Ipin ), asyik berbincang-bincang di atas pohon jambu. Aku bercerita padanya tentang kebahagianku menjadi pemenang lomba panjat dinding jembatan di Batas Kota  yang baru saja selesai dibangun. Tinggi dinding itu kira-kira 6 meter dari permukaan sungai.

Ya bagaimana tidak bangga, peserta panjat dinding jembatan kebanyakan laki-laki, hanya aku dan Tatat perempuannya. Teknik permainannya adalah, semua peserta berlomba untuk lebih dahulu sampai di atas, hanya dengan cara berpijak pada tepian dinding yang licin. Sementara teman-teman di atas menyorakinya sambil berjoget diiringi lagu" Eleketek jambe ngora…, eleketek jambe ngora" riuh sekali, kadang ditambah dengan memukul kaleng. Tak heran bila acara itu sering jadi tontonan orang-orang yang lalu lalang di jalan raya. Mereka ikut-ikutan memberi semangat pada para peserta. Wajar kan bila aku bangga menjadi juaranya? Perjuangannya kan sulit sekali dan sangat berbahaya kalau jatuh, bisa bonyok kepala.

Anehnya Ipin tidak tertarik pada ceritaku, dia lebih tertarik bercerita tentang laki-laki. Aneh! Usia kami baru 14 tahun saat itu, kok dia sudah bercerita tentang laki-laki? Aku masih ingat apa yang dia katakan padaku  waktu itu.

" Ren, bila dewasa nanti, kamu ingin menikah dengan siapa?" katanya serius sekali. Aku langsung terdiam. Aku tidak menyangka dia akan bertanya seperti itu, ya karena sedikit pun tidak terbayang olehku aku akan menikah dengan siapa? Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Apalagi saat itu aku hanya memandang kalau laki-laki itu hanyalah spesies aneh yang kehadirannya di dunia ini tak lebih dari sebuah gulma atau parasit. Kadang bisa bersifat simbiosis mutualisme hanya dalam hal tertentu saja. Makanya aku bingung sekali ditanya seperti itu.

" Kalau kamu?" aku malah balik bertanya pada Ipin

" Siang malam aku berdoa  agar kelak aku menikah dengan Husen Gumbira" katanya mantap. Husen Gumbira itu salah seorang Kakak kelas sekaligus teman bermain kami.

" Si Husen yang selalu melempari ayamku? Yang selalu memborbardir sarang burungku? Ah, mendingan kamu kawin sama kambingnya Mang Uli aja..dari pada sama dia". protesku

" Gila kamu Ren, masa Si Husen disamakan dengan kambing? Dia itu baik. cakep, pinter, bapaknya juga kolonel!" Ipin sewot.

" Kalau gitu ya udah, kamu kawin aja sama bapaknya"

" Hai Cinut! Aku serius! Kamu kelak mau menikah dengan siapa?" Ipin kembali bertanya tentang hal yang sama sekali tak kusukai.

" Aduuhhh..Ipin, aku tak tahu. Aku sama sekali lom kepikiran"

" Harus kamu pikirkan dari sekarang! Setahun lagi kita lulus SMP!" egoisme Ipin mulai muncul. Aku benar-benar bingung. Saat itu aku sama sekali tidak tertarik pada laki-laki, ini malah ditanya mau menikah dengan siapa. Mengerikan sekali.Ipin terus memaksa, Ia mulai menyebutkan nama-nama teman laki-laki dan menghitung dengan jari tangannya.

" Ada lebih dari dua puluh anak laki-laki teman kita, mana yang akan kamu pilih Ren? Ayo jangan malu sebutkan saja" pintanya

" Tidak! Tak ada satu pun di antara mereka yang akan menikah denganku!" jawabku pasti.

" Oooo, jadi kambing Mang Uli sepertinya lebih menarik hatimu ya? Kamu nggak takut jadi perawan tua Reni?" Ipin makin serius dan pembicaraannya makin tak kumengerti. Aku sungguh tak tahu, apa yang ada dalam kepalanya saat itu. Tak biasanya dia begitu. Biasanya Ipin paling suka berbicara tentang lukisan. Ia kan jago melukis. Sekarang kok laki-laki yang jadi pokok pembicaraannya. Apa sih menariknya membicarakan laki-laki? Atau jangan-jangan Ipin sedang jatuh cinta. Cinta? Apa itu cinta?

" Pin, coba kamu lihat burung yang terbang di atas awan itu, berlatarlangit biru bening, sepertinya indah ya kalau dilukis?" kataku mengalihkan pembicaraan.

" Saat ini aku hanya ingin melukis wajah Husen Gumbira di hatiku! Namun aku ingin tahu dulu apa yang ada dalam hatimu tentang siapa yang akan kau pilih untuk menikah denganmu kelak!" ia kembali mengajukan pertanyaan konyolnya. 

" Ipin, apa sih gunanya kamu tanyakan itu? Kenapa kamu memaksaku untuk menjawab sesuatu yang tak kutahu bahkan tak kumengerti!" aku mulai kesal.

" Baiklah, kalau tak mau menjawab, aku mau turun!" Ipin mengancamku dan aku pun akhirnya menyerah, semua demi menjaga perasaannya dan persahabatan kami.

" Baiklah kalau begitu. Ipin, bila kelak aku dewasa, aku ingin menikah dengan siapa saja asal dia harus lebih segalanya dariku. Bila aku jadi perawat, aku harus menikah dengan dokter, bila aku jadi sekretaris aku harus menikah dengan direktur. Naahh bila aku jadi guru SD, aku harus menikah dengan guru SMP, bila aku jadi guru SMP maka tentu saja aku harus menikah dengan guru SMA" jawabku pasti.

" Ha…ha…ha.., apa? Kudengar kamu mau jadi guru? Guru apa? Guru main gundu? Guru ngejar layangan? Guru pencak silat? Guru berkelahi?atau guru panjat dinding? Ya sebab langit akan runtuh bila kamu menjadi guru seperti Bu Aminah guru kita itu" Ipin menertawakanku.

"Aku tidak mau jadi guru! Itu kan hanya misal! Ngerti nggak sih kamu?  dijawab malah ngejek!"jawabku tak enak. 

" Ooo iya, maaf, terus gimana lagi?"

" Aku ingin punya anak tiga, punya rumah mungil yang halamannya kutanami bunga-bunga dan buah-buahan." kataku sok yakin. Ipin hanya tersenyum dan memelukku.

Cerita di atas terjadi 33 tahun yang lalu. Ipin, kini aku duduk sendiri di atas perahu,di tepi pantai indah Pangandaran, bukan di atas pohon jambu di depan rumahku seperti dulu. Memandang jauh ke langit biru, mencoba mencarimu, adakah dirimu di sebrang sana Ipin?"

Selepas SMP kau pergi tak tentu rimbanya. Kata orang kau kembali ke tanah kelahiranmu Palembang. Benarkah Engkau di sana?  Ah betapa banyak cerita yang ingin aku sampaikan. Tentang pujaan hatimu Ir.Husen Gumbira yang telah meninggal dunia karena sakit. Tentang aku yang kini menjadi guru SMP bersuami guru SMA. Tentang rumah mungilku yang penuh cinta. Penuh bunga dan selalu hangat oleh canda dan tawa ketiga anak-anakku. Aku pun selalu berdoa setiap hari agar langit tidak runtuh karena aku menjadi guru. Ah Ipin aku ingin ceritakan semua itu padamu. Di sini di atas perahuku.

Namun Ipin, di mana dirimu kini? Adakah sampai salamku untukmu yang selalu kukirim lewat angin yang berlalu? Atau kutitipkan lewat derai daun bambu yang selalu setia menemani kita mandi di sungai tempo dulu. Aku merindukanmu Ipin. Sungguh! 

July 12, 2008

BU ELIS…..BU ELIS

Filed under: Curahan Kalbu

 

 Naaahhh, di atas itu adalah kelompok guru-guru IPA, yang tak berkerudung itulah Bu Elis.

Di SMPN 4 Cimahi, siapa yang tidak kenal dengan Bu Elis? Dia asli orang Aceh. Satu-satunya guru biangusil, cerewet, gokil abis namun sangat baik hati dan paling ramah. Di matanya selalu ada saja yang harus dikomentari baik cara berpakaian, tingkah laku atau apa pun. Tidak pandang bulu mulai dari penjaga sekolah, karyawan, guru sampai kepada kepala sekolah bahkan ketua komite.

Bawaannya selalu kocak. Tertawanya ngakak, keras sekali. aku kadang berpikir waktu ibunya hamil dia, ngidam apa ya.  Lucunya bila musim karya wisata tiba, sudah bisa dipastikan se bis dengan Bu Elis pasti takan bisa tidur.Aku pernah dari Yogya ke bandung tak tidur sekejap pun di bis. Begitu turun pipi rasanya sakit karena terus menerus tertawa sepanjang perjalanan. Semua itu gara-gara Bu Elis. ah pokoknya selalu saja ada yang jadi bahan cerita bagi Bu Elis.

Kemarin misalnya, waktu acara perpisahan kelas 9, baru saja aku datang dan masuk ke ruang guru. Spontan dia menegur" Hei Ren, ngapain pake kebaya? Aturan kan hari ini nuansa batik. Kok kamu tuh salah kostum melulu!"

" Ah, kata siapa salah kostum, ke bawahnya kan batik! Emang di mana salahnya?"

" Allaaahhh susah banget ngomong sama guru bahasa Indonesia" katanya lagi dengan mimik yang lucu.

Aku ikut tersenyum, memang iya hari itu aku satu-satunya guru yang berkebaya, sementara yang lain memakai batik semuanya. Eh tiba-tiba saja datang Bu Lisbeth. lenggak-lenggok di depan kami. Berbaju merah marun, kainnya motif ulos. rambutnya digerai, bagian atas disasak sedikit, manis sekali. Semua orang memujinya dan mengatakan kalau Bu Lisbeth cantik sekali hari itu.

Sayangnya Bu Elis tidak sependapat, dia malah langsung ngakak keras sekali sambil berkata " Adduuuhhh Beeethh kau ini gimana sih? Kok keliatan banget Bataknya! Gila Kau, memangnya ini hajatan Amang Borumu?" kami semua kontan tertawa, Bu Lisbeth tampak bingung, aku langsung menggandeng lengannya dan kukatakan" Jangan dengarkan Bu Elis, biarkan saja. Aku juga pakai pakaian khas Sunda, Bu Lisbeth khas Batak, maching kan? Yu kita foto bareng!" ( he..he..he.. sayang fotonya belum di save) Wajah Bu Lisbeth pun kembali ceria penuh percaya diri.

Acara perpisahan pun berlangsung makin siang makin seru. hingar bingar parade band yang digelar anak-anak makin tak karuan lagunya. Maklum namanya juga pesta anak-anak. Tiba-tiba dari tengah penonton,ada teman guru berteriak, " Bu Reenn….ke sini!’ Aku langsung lari, tak sadar pakai kebaya dan selop tinggi tapi nggak masalah, bagiku itu dah biasa he.he..he..itulah keuntungan berbadan kecil, siap berlari dalam situasi apa pun. Sesampai di sana, ternyata ada anak berkelahi. Salah seorang siswa kami dipukuli oleh segerombolan anak dari luar. mereka semua dibawa ke ruang Wakasek Humas, aku langsung telepon polisi.

Ah.., hari itu rasanya cape sekali, terutama bapak-bapak guru yang semalaman tidak tidur karena mendekor panggung dan ruang acara, ehh sekarang malah ditambah acara berkelahi. Sudah begitu ada lagi yang nyeletuk " Wah, kurang profesional nih kinerjanya." Aku hanya tersenyum saja tapi bapa-bapa guru yang ada di sana langsung menjawab " Justru inilah kinerja profesional. inilah sukses yang sebenarnya. Di mana-mana juga kalau ada band, nggak ada perkelahian ya kurang afdol."

Belum selesai bapa-bapa itu bicara, entah dari mana datangnya tiba-tiba saja Bu Elis ikut nimbrung " Apa? Sukses? Sukses apaan! Baru berkelahi dibilang sukses! Yang disebut sukses itu bila ada yang tewas!"

Akhirnya kami semua jadi tertawa, ah dasar Bu Elis! Ada-ada saja!

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com