Siang itu aku dan sahabatku Yoshephin ( Ipin ), asyik berbincang-bincang di atas pohon jambu. Aku bercerita padanya tentang kebahagianku menjadi pemenang lomba panjat dinding jembatan di Batas Kota yang baru saja selesai dibangun. Tinggi dinding itu kira-kira 6 meter dari permukaan sungai.
Ya bagaimana tidak bangga, peserta panjat dinding jembatan kebanyakan laki-laki, hanya aku dan Tatat perempuannya. Teknik permainannya adalah, semua peserta berlomba untuk lebih dahulu sampai di atas, hanya dengan cara berpijak pada tepian dinding yang licin. Sementara teman-teman di atas menyorakinya sambil berjoget diiringi lagu" Eleketek jambe ngora…, eleketek jambe ngora" riuh sekali, kadang ditambah dengan memukul kaleng. Tak heran bila acara itu sering jadi tontonan orang-orang yang lalu lalang di jalan raya. Mereka ikut-ikutan memberi semangat pada para peserta. Wajar kan bila aku bangga menjadi juaranya? Perjuangannya kan sulit sekali dan sangat berbahaya kalau jatuh, bisa bonyok kepala.
Anehnya Ipin tidak tertarik pada ceritaku, dia lebih tertarik bercerita tentang laki-laki. Aneh! Usia kami baru 14 tahun saat itu, kok dia sudah bercerita tentang laki-laki? Aku masih ingat apa yang dia katakan padaku waktu itu.
" Ren, bila dewasa nanti, kamu ingin menikah dengan siapa?" katanya serius sekali. Aku langsung terdiam. Aku tidak menyangka dia akan bertanya seperti itu, ya karena sedikit pun tidak terbayang olehku aku akan menikah dengan siapa? Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Apalagi saat itu aku hanya memandang kalau laki-laki itu hanyalah spesies aneh yang kehadirannya di dunia ini tak lebih dari sebuah gulma atau parasit. Kadang bisa bersifat simbiosis mutualisme hanya dalam hal tertentu saja. Makanya aku bingung sekali ditanya seperti itu.
" Kalau kamu?" aku malah balik bertanya pada Ipin
" Siang malam aku berdoa agar kelak aku menikah dengan Husen Gumbira" katanya mantap. Husen Gumbira itu salah seorang Kakak kelas sekaligus teman bermain kami.
" Si Husen yang selalu melempari ayamku? Yang selalu memborbardir sarang burungku? Ah, mendingan kamu kawin sama kambingnya Mang Uli aja..dari pada sama dia". protesku
" Gila kamu Ren, masa Si Husen disamakan dengan kambing? Dia itu baik. cakep, pinter, bapaknya juga kolonel!" Ipin sewot.
" Kalau gitu ya udah, kamu kawin aja sama bapaknya"
" Hai Cinut! Aku serius! Kamu kelak mau menikah dengan siapa?" Ipin kembali bertanya tentang hal yang sama sekali tak kusukai.
" Aduuhhh..Ipin, aku tak tahu. Aku sama sekali lom kepikiran"
" Harus kamu pikirkan dari sekarang! Setahun lagi kita lulus SMP!" egoisme Ipin mulai muncul. Aku benar-benar bingung. Saat itu aku sama sekali tidak tertarik pada laki-laki, ini malah ditanya mau menikah dengan siapa. Mengerikan sekali.Ipin terus memaksa, Ia mulai menyebutkan nama-nama teman laki-laki dan menghitung dengan jari tangannya.
" Ada lebih dari dua puluh anak laki-laki teman kita, mana yang akan kamu pilih Ren? Ayo jangan malu sebutkan saja" pintanya
" Tidak! Tak ada satu pun di antara mereka yang akan menikah denganku!" jawabku pasti.
" Oooo, jadi kambing Mang Uli sepertinya lebih menarik hatimu ya? Kamu nggak takut jadi perawan tua Reni?" Ipin makin serius dan pembicaraannya makin tak kumengerti. Aku sungguh tak tahu, apa yang ada dalam kepalanya saat itu. Tak biasanya dia begitu. Biasanya Ipin paling suka berbicara tentang lukisan. Ia kan jago melukis. Sekarang kok laki-laki yang jadi pokok pembicaraannya. Apa sih menariknya membicarakan laki-laki? Atau jangan-jangan Ipin sedang jatuh cinta. Cinta? Apa itu cinta?
" Pin, coba kamu lihat burung yang terbang di atas awan itu, berlatarlangit biru bening, sepertinya indah ya kalau dilukis?" kataku mengalihkan pembicaraan.
" Saat ini aku hanya ingin melukis wajah Husen Gumbira di hatiku! Namun aku ingin tahu dulu apa yang ada dalam hatimu tentang siapa yang akan kau pilih untuk menikah denganmu kelak!" ia kembali mengajukan pertanyaan konyolnya.
" Ipin, apa sih gunanya kamu tanyakan itu? Kenapa kamu memaksaku untuk menjawab sesuatu yang tak kutahu bahkan tak kumengerti!" aku mulai kesal.
" Baiklah, kalau tak mau menjawab, aku mau turun!" Ipin mengancamku dan aku pun akhirnya menyerah, semua demi menjaga perasaannya dan persahabatan kami.
" Baiklah kalau begitu. Ipin, bila kelak aku dewasa, aku ingin menikah dengan siapa saja asal dia harus lebih segalanya dariku. Bila aku jadi perawat, aku harus menikah dengan dokter, bila aku jadi sekretaris aku harus menikah dengan direktur. Naahh bila aku jadi guru SD, aku harus menikah dengan guru SMP, bila aku jadi guru SMP maka tentu saja aku harus menikah dengan guru SMA" jawabku pasti.
" Ha…ha…ha.., apa? Kudengar kamu mau jadi guru? Guru apa? Guru main gundu? Guru ngejar layangan? Guru pencak silat? Guru berkelahi?atau guru panjat dinding? Ya sebab langit akan runtuh bila kamu menjadi guru seperti Bu Aminah guru kita itu" Ipin menertawakanku.
"Aku tidak mau jadi guru! Itu kan hanya misal! Ngerti nggak sih kamu? dijawab malah ngejek!"jawabku tak enak.
" Ooo iya, maaf, terus gimana lagi?"
" Aku ingin punya anak tiga, punya rumah mungil yang halamannya kutanami bunga-bunga dan buah-buahan." kataku sok yakin. Ipin hanya tersenyum dan memelukku.
Cerita di atas terjadi 33 tahun yang lalu. Ipin, kini aku duduk sendiri di atas perahu,di tepi pantai indah Pangandaran, bukan di atas pohon jambu di depan rumahku seperti dulu. Memandang jauh ke langit biru, mencoba mencarimu, adakah dirimu di sebrang sana Ipin?"
Selepas SMP kau pergi tak tentu rimbanya. Kata orang kau kembali ke tanah kelahiranmu Palembang. Benarkah Engkau di sana? Ah betapa banyak cerita yang ingin aku sampaikan. Tentang pujaan hatimu Ir.Husen Gumbira yang telah meninggal dunia karena sakit. Tentang aku yang kini menjadi guru SMP bersuami guru SMA. Tentang rumah mungilku yang penuh cinta. Penuh bunga dan selalu hangat oleh canda dan tawa ketiga anak-anakku. Aku pun selalu berdoa setiap hari agar langit tidak runtuh karena aku menjadi guru. Ah Ipin aku ingin ceritakan semua itu padamu. Di sini di atas perahuku.
Namun Ipin, di mana dirimu kini? Adakah sampai salamku untukmu yang selalu kukirim lewat angin yang berlalu? Atau kutitipkan lewat derai daun bambu yang selalu setia menemani kita mandi di sungai tempo dulu. Aku merindukanmu Ipin. Sungguh!