/>

Semua Tentang Reni

September 27, 2008

DASAR NINOY

Filed under: Curahan Kalbu

Dua tahun lalu Ninoy anakku yang nomer dua terserang demam tinggi. Aku segera membawanya ke rumah sakit swasta terdekat dari rumahku. Hasil diagnosa dokter berdasarkan hasil tes laboratorium, anakku positif terkena demam berdarah. Trombositnya saja hanya 70.000, jadi dia harus segera dirawat. Mendengar itu anakku langsung berbicara pada dokter

“ Dok, yang benar saja, apa betul saya ini demam berdarah dan harus dirawat?”

“ Ya, jelas! Kalau tidak percaya lihat saja hasil lab nya! Memangnya kenapa? Tak percaya pada diagnosa saya?” Tanya dokter heran

“ Bukan begitu Dok, saya kan anak guru!”

“ Lho apa hubungannya?”

“ Waahh dokter tidak tahu ya, anak guru itu tidak boleh sakit!” dokter terlihat bingung

“ Maksudmu?” Tanya dokter lagi

“ Tak ada dananya untuk membayar biaya obat dan rumah sakit serta dokter yang mahal di rumah sakit swasta seperti ini. Paling juga pakai askes ke rumah sakit pemerintah yang pelayanannya asal-asalan. Jadi saya minta rawat jalan aja ya Dok, kasihan mama saya.”

Dokter tertawa, duh malunya aku saat itu. Aku sama sekali tidak menyangka anakku akan berbicara seperti itu. Dalam keadaan sakit masih saja bisa bercanda. Anakku yang satu ini memang mudah akrab dengan siapa saja.Hal itu membuat dia disenangi semua orang, termasuk saat itu. Sepertinya dokter tertarik pada anakku, mereka berdua terlibat pembicaraan yang akrab dari masalah penyakit dan cara pengobatannya kalau dirawat di rumah, sampai pada urusan ponsel terbaru, cara mendapatkan pulsa gratis, kuliah, dosen konyol dan banyak lagi. Mereka berdua tertawa lepas, seandainya tidak kuingatkan kalau pasen yang lain menunggu, mungkin mereka berdua takan berhenti bicara. Sebelum pulang, keduanya melakukan cas dua tangan laksana dua orang sahabat lama yang sekian tahun tidak berjumpa. Padahal keduanya baru kenal hari itu.

Selanjutnya tiga kali kontrol, anakku gratis periksa dokter. Dia pun diberi hak istimewa tidak usah ngantri karena sudah tercatat sebagai sahabat sang dokter padahal semua orang tahu, berapa harga tarif untuk dokter senior spesialis penyakit dalam di rumah sakit swasta terkenal itu. Ngantrinya pun minta ampun. Subhanallah Ninoy mendapatkan semua itu dengan mudah.

Naahh sebulan lalu, aku dikejutkan oleh telepon dari temannya yang mengatakan Ninoy berada di ruang emergensi. Dia kejang-kejang ketika sedang mengendarai motor, teman yang diboncengnya membawanya ke rumahsakit. Aku dan suami panik waktu itu, namun ketika tiba di rumah sakit, anakku sudah sadar kembali dan diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan. Kata dokter yang merawatnya anakku kecapaian.

Dua hari di rumah, dia bukan membaik malah mual-mual dan muntah, aku pun kembali membawanya ke rumah sakit swasta terdekat dan diperiksa oleh dokter yang dulu lagi. Baru saja ketemu, dokter itu menyapa anakku dengan panggilan sobat. Sejak awal aku sudah mengingatkan anakku agar tidak bicara macam-macam lagi dengan dokter itu. Dokter memeriksa anakku dengan cermat menggunakan USG. Hasil diagnosanya, anakku terserang angin duduk dan asam lambungnya tinggi. Itu akibat terlalu banyak aktifitas yang melelahkan dan menyita konsentrasi. Memang benar, selama lima bulan terakhir ini, anakku sibuk menyelesaikan album rekaman band nya, dilanjutkan kemudian dengan promosi album perdananya itu melalui pensi-pensi SMA se kota Bandung dan cimahi. Belum lagi harus mengikuti konser tunggal di beberapa kota. Sementara dia juga sedang menyusun skripsi.

Dokter pun memeriksanya lagi. Pemeriksaan dan obat menghabiskan biaya sebesar 800 ribu lebih. Sebuah jumlah yang cukup besar untuk kantong seorang guru sepertiku. Aku pun berbicara pada anakku, uang sebesar itu hanya untuk membayar ketidakpatuhannya pada orang tua yang selalu cerewet mengingatkan dia agar disiplin makan dan tidak memforsir tenaga untuk kegiatan yang begitu banyak. Dia hanya diam saja. Dua minggu kemudian dia kontrol lagi, kali ini diantar temannya. Aku memberinya uang dengan jumlah yang sama ketika pertama diperiksa.Namun pulangnya ia mengembalikan uang padaku sejumlah 700 ribu rupiah. Aku bingung dibuatnya. “ Kok uangnya masih banyak?” “ Iya Ma, beli obatnya kan murah hanya 20 ribu!” “ Kenapa bisa semurah itu? Kemarin kan sampai 600 ribu untuk obat saja” “ Kan aku bilang lagi pada dokternya, agar jangan ngasih obat yang mahal, nanti mama ngomel-ngomel lagi karena uangnya habis!” “ Yaaa….ampun Ninoy, kamu tuh suka malu-maluin mama ya? Trus apa obatnya bagus nggak?” “ Ma, kata dokter, itu obat generik. Insyaallah bagus. Tapi kan urusan sembuh bukan oleh obat atau dokter Ma, tapi Allah lah yang Mahapenyembuh” katanya penuh percaya diri. Benar kata anakku, alhamdulllah kini anakku sehat kembali.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com