/>

Semua Tentang Reni

November 6, 2008

Catatan Harian Seorang Guru

Filed under: Curahan Kalbu

 upacara

Kerja..kerja mari kita kerja, aahhh libur hari raya selama 20 hari membuatku jadi lebih betah tinggal di rumah, yah back to nature, kembali ke habitat jadi ibu rumah tangga yang manis. Waktu libur kuhabiskan bersama keluarga secara total, menyenangkan sekali. Aku bisa tidur siang, baca buku, ke bioskop bersama anak dan suami, mamasak makanan kesukaan keluarga, mengajari anakku yang bungsu memasak dan membuat kue, menata rumah, berenang, luluran dan banyak lagi, satu hal saja yang tidak kulakukan yaitu, menyentuh komputer.

Tanggal 13 Oktober, semua harus kembali seperti biasa, kembali memulai berpacu dengan waktu. setumpuk kegiatan di sekolah menungguku. Menyusun RKAS2, musyawarah dan pembentukan panitia karyawisata siswa, pekan apresiasi sastra dalam rangka memperingati bulan  bahasa, even lomba tahunan yang harus disiapkan dari sekarang, dan seabrek pekerjaan lainnya di luar tugas mengajar tentunya.

Nah, pada hari Senin tgl 20 Oktober, ada sedikit waktu luang, aku punya rencana setelah selesai mengajar akan membalas beberapa email dari teman-teman dan bersilaturahmi dengan teman-teman maya. namun baru saja keluar, beberapa teman guru yang menjadi wali kelas menemuiku. semuanya punya masalah tentang anak yang tidak mau sekolah. Mereka sebagai wali kelas sudah mencoba untuk mengatasinya namun hasilnya belum ada, maka urusannya sekarang tinggal denganku. Bila aku pun tak berhasil juga maka keputusan akhir ada pada Kepsek. Bila masalah sudah sampai kepada Kepsek maka hasil ahirnya adalah " pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku…"

Menulis email tidak jadi karena aku harus menangani tiga kasus. kasus pertama seorang anak kelas 9, kita sebut saja namanya B. menurut catatan wali kelasnya, anak ini sering tidak masuk sekolah, senang mengganggu ketertiban belajar dan kurang ajar kepada wali kelas. selebihnya dari itu sejak kelas dua anak ini sudah masuk ke dalam catatan siswa bermasalah. bahkan hanya diberi kesempatan bersekolah hanya sampai akhir bulan Oktober ini tapi belum sampai bulan ini berakhir dia sudah bermasalah lagi, jadi secara formal dia berhak di PHS(pemutusan hubungan sekolah he..he..he..) sayangnya tak semudah itu karena orang tuanya bukan termasuk orang tua yang mampu. Ternyata dari studi kasus, kali ini si anak tidak mau sekolah karena tidak juga dibelikan motor oleh kedua orang tuanya.

 

Keputusan pun jadi mudah dibuat. Bila B masih ingin tetap sekolah maka syaratnya dia harus melaksanakan aturan sekolah secara konsekuen dan tidak boleh dibelikan motor. Kalau ketahuan dibelikan motor oleh orang tuanya maka sama dengan mengundurkan diri dari sekolah. sederhana bukan? Ya karena kebijakan sekolah menerima dia kembali didasari oleh kondisi orang tuanya yang tidak sanggup menyediakan uang mutasi buat dia. kesepakatan antara B, orang tuanya, wali kelas,BK dan wakasek urusan kesiswaan pun disepakati bersama di atas surat perjanjian bermaterai. Alhamdulillah sampai hari ini si anak sudah kembali rajin ke sekolah. Mudah-mudahan untuk selamanya.

Dua kasus lagi menunggu untuk segera diselesaikan, Ya Tuhan beri aku kekuatan untuk menyelesaikan semua urusanku. Duh blog maafkan aku bila selama ini dirimu  kutelantarkan…..

11 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/trackback/

  1. Membaca artikel diatas, katanya anak nggak mau sekolah karena tidak dibelikan motor, terus di sisi lain saya membaca katanya si ortu anak itu tidak mampu. Bagimana sih ini anak, apakah tidak sayang ama ortu? Kalau tahu ortu tidak mampu, kenapa minta dibelikan motor. Coba cari pekerjaan sendiri sambil sekolah, kan itu bisa membantu keadaan ortu. anak2 disana kalau liburan itu pada bekerja, tidak peduli ortunya kaya atau miskin, mereka kerja apa saja, seperti cuci piring di restoran, pelayan toko cleaning service, apa aja. Apakah disini bisa ditrapkan soal kerja apa saja. tanpa harus menjangga gengsi?.

    Comment by uwa fz — November 6, 2008 @ 4:20 am

  2. Itulah Wa, gambaran di Indonesia yang sampai saat ini masih menjadi pemikiran semua pihak termasuk guru sebagai pendidik.Ya kita dituntut untuk bisa mengubah pola pikir dan berusaha untuk bisa menanamkan kerja keras dan menghilangkan budaya senang meminta. Begitu pula bagi para orang tua agar tidak ‘Nyaah Dulang’

    Comment by renik — November 6, 2008 @ 5:55 am

  3. Setelah membaca tulisan di atas, kayanya Sekolah Ibu sistemnya belum berjalan dan tidak konsekwen soalnya anak tersebut kan sudah diberi peringatan dan divonis keluar bila tidak ada perubahan dari sikap maupun dari akademik. Apakah sekolah ibu itu Negeri atau Swasta kalau swasta pasti sekolah yang ngak ngetop dan kalau negeri pasti sekolah ibu sekolah serabutan yang ngak punya aturan, asal sekolah aja..kayanya…

    Comment by screet admiror — November 6, 2008 @ 7:13 am

  4. ke …ke ….ke….kok komen urutan nomor 4. saya tidak mengerti….yg menulis komennya atas nama renik, yang nulis artikel itu renik terus kok komen nya mengeritik tulisan nya sendiri gimana sih. wah jangan2…….

    Comment by uwa — November 6, 2008 @ 9:42 am

  5. wah udah diganti euy jadi saya sekarang yg nomor 4……wah….berabe jadi komentator teh….he he he…..untuk screet admiror (secret admirer)…kalau ngritik harus ngritik membangun dong. biar yang nulis semangat.

    Comment by seseorang — November 7, 2008 @ 1:58 am

  6. Betul, sekolah kami bukan sekolah ngetop apalagi faforit,sekolah kami adalah sekolah diskotik alias di sisi kota saeutik tapi bukan berarti tidak punya aturan atau sekolah asal jadi. Di sinilah dilematiknya sebuah sekolah diskotik yang para siswanya mayoritas dari keluarga tidak mampu.

    Berdasarkan studi analisis, kebanyakan orang tua siswa di sekolah kami adalah buruh bangunan,buruh pabrik, tukang beca dan masyarakat kelas bawah lainnya. Semuanya hampir 40 persen dari jumlah siswa. Mereka layaknya semua orang tua di dunia ini, menginginkan anaknya sekolah, maka dalam hal ini segala aturan dan komitmen sekolah kadang berubah kebijakan bila dihadapkan pada masalah yang berkaitan dengan ekonomi siswa yang nantinya akan berimbas pada masa depan siswa itu sendiri. Dalam artian bila siswa itu dikeluarkan sesuai dengan perjanjian awal, maka apa yang akan terjadi pada siswa itu nantinya? Dipindahkan tidak mungkin karena orang tuanya tidak mampu membiayai,dibiarkan tidak sekolah mungkin akan menambah jumlah kenakalan remaja.

    Akhirnya sekolah sebagai wawasan wyata mandala mencoba mengambil kebijakan dengan memberi kesempatan kedua kepada anak itu untuk dididik lagi menjadi anak yang baik. Bukankah tugas sekolah tidak hanya memberikan pelajaran saja? Tugas sekolah yang utama adalah membina siswa menjadi manusia seutuhnya dan para guru dituntut kesabaran, pengertian serta keihlasan yang tinggi untuk bisa mendidik siswanya.

    Mengeleluarkan siswa sama sekali bukan sebuah solusi, kecuali bila kita sudah maksimal membinanya. Hal itu tentu saja harus ada kerja sama antara orang tua, wali kelas, guru, BK, kesiswaan dan kepsek. Itulah yang dilakukan di sekolah kami. Alhamdulillah dengan cara seperti itu tiap tahun sekolah kami menjadi juara dalam berbagai ajang kompetensi termasuk kompetensi guru dan siswa berprestasi. Terimakasih atas kritik membangunnya.Kami juga mohon doa, tahun ini sekolah kami sedang mengikuti program Sekolah Standar Nasional ( SSN ).

    Comment by renik — November 7, 2008 @ 3:53 am

  7. Tos aya nu ngalereskeun gening Wa, terimakasih atas perhatian Uwa. Biar saja Wa justru saya sangat senang kalau dikritik itu tandanya orang sayang pada kita.

    Comment by reni — November 7, 2008 @ 5:08 am

  8. Logika “hukum” (aturan sekolah) yang menarik…., pengen motor penyelesaiannya dg regulasi “dilarang beli/punya motor”. Sebenarnya ada logika antisipatif, yaitu larangan terhadap semua siswa untuk menggunakan motor ke sekolah” supaya tidak muncul “kecemburuan” dari siswa yang orang tuanya tidak mampu membeli motor terhadap siswa yang memakai motor karena ortunya mampu membelikannya motor. Jangan mimpi, kalau ada siswa yang memiliki motor sebagai hasil keringan sendiri, sejuta banding satu, kalau pun ada.

    Tapi, aturan larang memakai motor itu harus diimbangi oleh alternatif pengganti motor. Karena, tentunya fungsi dasar siswa ke sekolah memakai motor dimaksudkan untuk efesiensi waktu. Fungsi lainnya, seperti prestise, standar klas sosial, dll., justru merupakan hal yang perlu diminimalisir.

    Alternatif yang umumnya diambil adalah penyediaan bis sekolah. Semua siswa yang jaraknya relatif jauh dari sekolah disarankan menggunakan bis sekolah itu (kecuali mau jalan kaki, hehehe).

    Tapi, dengan dana pendidikan yang serba minim, mungkinkah..?? teuing….. hehehe

    Comment by Gibson — November 19, 2008 @ 10:44 am

  9. Larangan memakai motor ke sekolah sudah diberlakukan sejak sekolah ini berdiri bahkan sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian. Hal itu dimaksudkan untuk mengantisipasi siswa terlibat genk motor yang saat ini semakin marak kita dengar. Namun tetap saja para siswa secara sembunyi-sembunyi memakai motor ke sekolah. Mereka biasanya menitipkan motor di rumah-rumah komplek sekitar sekolah yang jaraknya sekitar satu kilometer dari sekolah, maklum sekolah kami berdekatan dengan komplek perumahan penduduk.

    Atas dasar itulah sulit bagi sekolah untuk menerapkan aturan bila permasalahannya berda di luar lingkungan sekolah, makanya cara yang paling efektif adalah bekerjasama dengan orang tua.

    Bis sekolah mungkin baru sebatas impian untuk sekolah kami, mudah-mudahan saja ke depan bisa seperti itu……he..he..he…asyik ya kalau punya bis sekolah.

    Nuhun Kang, komentarna..

    Comment by reni — November 20, 2008 @ 3:25 am

  10. Bravo lah ka SMP N 4 yg tetap berusaha mendidik anak2 nu balangor tanpa mengeluarkan mereka dari sekolah, dan percaya walau sekolah Diskotik tapi sarat dengan berbagai prestasi, bagaimana tidak gurunya aja begitu palinter dan bijaksana mungkin banyak sekolah2 TOP yang belum tentu punya guru seperti beliau ini, punten sanes muji dan pan terang ALHAMDULILLAH ..ieu mah saayana be ah..permiosss….

    Comment by Si Ayi — November 25, 2008 @ 3:11 am

  11. Aduuuhhhhh, baku si Ayi mah ari tos muji teh, meni kitu. Sok ararisin abdi mah. Nu pinter mah sanes abdi atuh neng tapi nu nyiptakeun abdi, he..he..he… hatur nuhun ah kana komentarna

    Comment by reni — November 29, 2008 @ 3:15 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com