<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Catatan Harian Seorang Guru</title>
	<link>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 01:13:27 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: reni</title>
		<link>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-302</link>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 03:15:49 +0000</pubDate>
		<guid>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-302</guid>
					<description>Aduuuhhhhh, baku si Ayi mah ari tos muji teh, meni kitu. Sok ararisin abdi mah. Nu pinter mah sanes abdi atuh neng tapi nu nyiptakeun abdi, he..he..he... hatur nuhun ah kana komentarna</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Aduuuhhhhh, baku si Ayi mah ari tos muji teh, meni kitu. Sok ararisin abdi mah. Nu pinter mah sanes abdi atuh neng tapi nu nyiptakeun abdi, he..he..he&#8230; hatur nuhun ah kana komentarna
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Si Ayi</title>
		<link>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-297</link>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 03:11:39 +0000</pubDate>
		<guid>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-297</guid>
					<description>Bravo lah ka SMP N 4 yg tetap berusaha mendidik anak2 nu balangor tanpa mengeluarkan mereka dari sekolah, dan percaya walau sekolah Diskotik tapi sarat dengan berbagai prestasi, bagaimana tidak gurunya aja begitu palinter dan bijaksana mungkin banyak sekolah2 TOP yang belum tentu punya guru seperti beliau ini, punten sanes muji dan pan terang ALHAMDULILLAH ..ieu mah saayana be ah..permiosss....</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Bravo lah ka SMP N 4 yg tetap berusaha mendidik anak2 nu balangor tanpa mengeluarkan mereka dari sekolah, dan percaya walau sekolah Diskotik tapi sarat dengan berbagai prestasi, bagaimana tidak gurunya aja begitu palinter dan bijaksana mungkin banyak sekolah2 TOP yang belum tentu punya guru seperti beliau ini, punten sanes muji dan pan terang ALHAMDULILLAH ..ieu mah saayana be ah..permiosss&#8230;.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: reni</title>
		<link>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-296</link>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 03:25:04 +0000</pubDate>
		<guid>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-296</guid>
					<description>Larangan memakai motor ke sekolah sudah diberlakukan sejak sekolah ini berdiri bahkan sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian. Hal itu dimaksudkan untuk mengantisipasi siswa terlibat genk motor yang saat ini semakin marak kita dengar. Namun tetap saja para siswa secara sembunyi-sembunyi memakai motor ke sekolah. Mereka biasanya menitipkan motor di rumah-rumah komplek sekitar sekolah yang jaraknya sekitar  satu kilometer dari sekolah, maklum sekolah kami berdekatan dengan komplek perumahan penduduk.

Atas dasar itulah sulit bagi sekolah untuk menerapkan aturan bila permasalahannya berda di luar lingkungan sekolah, makanya cara yang paling efektif adalah bekerjasama dengan orang tua.

Bis sekolah mungkin baru sebatas impian untuk sekolah kami, mudah-mudahan saja ke depan bisa seperti itu......he..he..he...asyik ya kalau punya bis sekolah. 

Nuhun Kang, komentarna..</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Larangan memakai motor ke sekolah sudah diberlakukan sejak sekolah ini berdiri bahkan sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian. Hal itu dimaksudkan untuk mengantisipasi siswa terlibat genk motor yang saat ini semakin marak kita dengar. Namun tetap saja para siswa secara sembunyi-sembunyi memakai motor ke sekolah. Mereka biasanya menitipkan motor di rumah-rumah komplek sekitar sekolah yang jaraknya sekitar  satu kilometer dari sekolah, maklum sekolah kami berdekatan dengan komplek perumahan penduduk.</p>
	<p>Atas dasar itulah sulit bagi sekolah untuk menerapkan aturan bila permasalahannya berda di luar lingkungan sekolah, makanya cara yang paling efektif adalah bekerjasama dengan orang tua.</p>
	<p>Bis sekolah mungkin baru sebatas impian untuk sekolah kami, mudah-mudahan saja ke depan bisa seperti itu&#8230;&#8230;he..he..he&#8230;asyik ya kalau punya bis sekolah. </p>
	<p>Nuhun Kang, komentarna..
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Gibson</title>
		<link>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-295</link>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 10:44:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-295</guid>
					<description>Logika &quot;hukum&quot; (aturan sekolah) yang menarik...., pengen motor penyelesaiannya dg regulasi &quot;dilarang beli/punya motor&quot;. Sebenarnya ada logika antisipatif, yaitu larangan terhadap semua siswa untuk menggunakan motor ke sekolah&quot; supaya tidak muncul &quot;kecemburuan&quot; dari siswa yang orang tuanya tidak mampu membeli motor terhadap siswa yang memakai motor karena ortunya mampu membelikannya motor. Jangan mimpi, kalau ada siswa yang memiliki motor sebagai hasil keringan sendiri, sejuta banding satu, kalau pun ada.

Tapi, aturan larang memakai motor itu harus diimbangi oleh alternatif pengganti motor. Karena, tentunya fungsi dasar siswa ke sekolah memakai motor dimaksudkan untuk efesiensi waktu. Fungsi lainnya, seperti prestise, standar klas sosial, dll., justru merupakan hal yang perlu diminimalisir.

Alternatif yang umumnya diambil adalah penyediaan bis sekolah. Semua siswa yang jaraknya relatif jauh dari sekolah disarankan menggunakan bis sekolah itu (kecuali mau jalan kaki, hehehe).

Tapi, dengan dana pendidikan yang serba minim, mungkinkah..?? teuing..... hehehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Logika &#8220;hukum&#8221; (aturan sekolah) yang menarik&#8230;., pengen motor penyelesaiannya dg regulasi &#8220;dilarang beli/punya motor&#8221;. Sebenarnya ada logika antisipatif, yaitu larangan terhadap semua siswa untuk menggunakan motor ke sekolah&#8221; supaya tidak muncul &#8220;kecemburuan&#8221; dari siswa yang orang tuanya tidak mampu membeli motor terhadap siswa yang memakai motor karena ortunya mampu membelikannya motor. Jangan mimpi, kalau ada siswa yang memiliki motor sebagai hasil keringan sendiri, sejuta banding satu, kalau pun ada.</p>
	<p>Tapi, aturan larang memakai motor itu harus diimbangi oleh alternatif pengganti motor. Karena, tentunya fungsi dasar siswa ke sekolah memakai motor dimaksudkan untuk efesiensi waktu. Fungsi lainnya, seperti prestise, standar klas sosial, dll., justru merupakan hal yang perlu diminimalisir.</p>
	<p>Alternatif yang umumnya diambil adalah penyediaan bis sekolah. Semua siswa yang jaraknya relatif jauh dari sekolah disarankan menggunakan bis sekolah itu (kecuali mau jalan kaki, hehehe).</p>
	<p>Tapi, dengan dana pendidikan yang serba minim, mungkinkah..?? teuing&#8230;.. hehehe
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: reni</title>
		<link>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-286</link>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 05:08:59 +0000</pubDate>
		<guid>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-286</guid>
					<description>Tos aya nu ngalereskeun gening Wa, terimakasih atas perhatian Uwa. Biar saja Wa justru saya sangat senang kalau dikritik itu tandanya orang sayang pada kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Tos aya nu ngalereskeun gening Wa, terimakasih atas perhatian Uwa. Biar saja Wa justru saya sangat senang kalau dikritik itu tandanya orang sayang pada kita.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: renik</title>
		<link>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-285</link>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 03:53:28 +0000</pubDate>
		<guid>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-285</guid>
					<description>Betul, sekolah kami bukan sekolah ngetop apalagi faforit,sekolah kami adalah sekolah diskotik alias di sisi kota saeutik tapi bukan berarti tidak punya aturan atau sekolah asal jadi. Di sinilah dilematiknya sebuah sekolah diskotik yang para siswanya mayoritas dari keluarga tidak mampu.

Berdasarkan studi analisis, kebanyakan orang tua siswa di sekolah kami adalah buruh bangunan,buruh pabrik, tukang beca dan masyarakat kelas bawah lainnya. Semuanya hampir 40 persen dari jumlah siswa. Mereka layaknya semua orang tua di dunia ini, menginginkan anaknya sekolah, maka dalam hal ini segala aturan dan komitmen sekolah kadang berubah kebijakan bila dihadapkan pada masalah yang berkaitan dengan ekonomi siswa yang nantinya akan berimbas pada masa depan siswa itu sendiri. Dalam artian bila siswa itu dikeluarkan sesuai dengan perjanjian awal, maka apa yang akan terjadi pada siswa itu nantinya? Dipindahkan tidak mungkin karena orang tuanya tidak mampu membiayai,dibiarkan tidak sekolah mungkin akan menambah jumlah kenakalan remaja.

 Akhirnya sekolah sebagai wawasan wyata mandala mencoba mengambil kebijakan dengan memberi kesempatan kedua kepada anak itu untuk dididik lagi menjadi anak yang baik. Bukankah tugas sekolah tidak hanya memberikan pelajaran saja? Tugas sekolah yang utama adalah membina siswa menjadi manusia seutuhnya dan para guru dituntut kesabaran, pengertian serta keihlasan yang tinggi untuk bisa mendidik siswanya.

 Mengeleluarkan siswa sama sekali bukan sebuah solusi, kecuali bila kita sudah maksimal membinanya. Hal itu tentu saja harus ada kerja sama antara orang tua, wali kelas, guru, BK, kesiswaan dan kepsek. Itulah yang dilakukan di sekolah kami. Alhamdulillah dengan cara seperti itu tiap tahun sekolah kami menjadi juara dalam berbagai ajang kompetensi termasuk kompetensi guru dan siswa berprestasi. Terimakasih atas kritik membangunnya.Kami juga mohon doa, tahun ini sekolah kami sedang mengikuti program Sekolah Standar Nasional ( SSN ).</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Betul, sekolah kami bukan sekolah ngetop apalagi faforit,sekolah kami adalah sekolah diskotik alias di sisi kota saeutik tapi bukan berarti tidak punya aturan atau sekolah asal jadi. Di sinilah dilematiknya sebuah sekolah diskotik yang para siswanya mayoritas dari keluarga tidak mampu.</p>
	<p>Berdasarkan studi analisis, kebanyakan orang tua siswa di sekolah kami adalah buruh bangunan,buruh pabrik, tukang beca dan masyarakat kelas bawah lainnya. Semuanya hampir 40 persen dari jumlah siswa. Mereka layaknya semua orang tua di dunia ini, menginginkan anaknya sekolah, maka dalam hal ini segala aturan dan komitmen sekolah kadang berubah kebijakan bila dihadapkan pada masalah yang berkaitan dengan ekonomi siswa yang nantinya akan berimbas pada masa depan siswa itu sendiri. Dalam artian bila siswa itu dikeluarkan sesuai dengan perjanjian awal, maka apa yang akan terjadi pada siswa itu nantinya? Dipindahkan tidak mungkin karena orang tuanya tidak mampu membiayai,dibiarkan tidak sekolah mungkin akan menambah jumlah kenakalan remaja.</p>
	<p> Akhirnya sekolah sebagai wawasan wyata mandala mencoba mengambil kebijakan dengan memberi kesempatan kedua kepada anak itu untuk dididik lagi menjadi anak yang baik. Bukankah tugas sekolah tidak hanya memberikan pelajaran saja? Tugas sekolah yang utama adalah membina siswa menjadi manusia seutuhnya dan para guru dituntut kesabaran, pengertian serta keihlasan yang tinggi untuk bisa mendidik siswanya.</p>
	<p> Mengeleluarkan siswa sama sekali bukan sebuah solusi, kecuali bila kita sudah maksimal membinanya. Hal itu tentu saja harus ada kerja sama antara orang tua, wali kelas, guru, BK, kesiswaan dan kepsek. Itulah yang dilakukan di sekolah kami. Alhamdulillah dengan cara seperti itu tiap tahun sekolah kami menjadi juara dalam berbagai ajang kompetensi termasuk kompetensi guru dan siswa berprestasi. Terimakasih atas kritik membangunnya.Kami juga mohon doa, tahun ini sekolah kami sedang mengikuti program Sekolah Standar Nasional ( SSN ).
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: seseorang</title>
		<link>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-283</link>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 01:58:13 +0000</pubDate>
		<guid>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-283</guid>
					<description>wah udah diganti euy jadi saya sekarang yg nomor 4......wah....berabe jadi komentator teh....he he he.....untuk screet admiror (secret admirer)...kalau ngritik harus ngritik membangun dong. biar yang nulis semangat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>wah udah diganti euy jadi saya sekarang yg nomor 4&#8230;&#8230;wah&#8230;.berabe jadi komentator teh&#8230;.he he he&#8230;..untuk screet admiror (secret admirer)&#8230;kalau ngritik harus ngritik membangun dong. biar yang nulis semangat.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: uwa</title>
		<link>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-282</link>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 09:42:09 +0000</pubDate>
		<guid>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-282</guid>
					<description>ke ...ke ....ke....kok komen urutan nomor 4. saya tidak mengerti....yg menulis komennya atas nama renik, yang nulis artikel itu renik terus kok komen nya mengeritik tulisan nya sendiri gimana sih. wah jangan2.......</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>ke &#8230;ke &#8230;.ke&#8230;.kok komen urutan nomor 4. saya tidak mengerti&#8230;.yg menulis komennya atas nama renik, yang nulis artikel itu renik terus kok komen nya mengeritik tulisan nya sendiri gimana sih. wah jangan2&#8230;&#8230;.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: screet admiror</title>
		<link>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-281</link>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 07:13:16 +0000</pubDate>
		<guid>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-281</guid>
					<description>Setelah membaca tulisan di atas, kayanya Sekolah Ibu sistemnya belum berjalan dan tidak konsekwen soalnya anak tersebut kan sudah diberi peringatan dan divonis keluar bila tidak ada perubahan dari sikap maupun dari akademik. Apakah sekolah ibu itu Negeri atau Swasta kalau swasta pasti sekolah yang ngak ngetop dan kalau negeri pasti sekolah ibu sekolah serabutan yang ngak punya aturan, asal sekolah aja..kayanya...</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Setelah membaca tulisan di atas, kayanya Sekolah Ibu sistemnya belum berjalan dan tidak konsekwen soalnya anak tersebut kan sudah diberi peringatan dan divonis keluar bila tidak ada perubahan dari sikap maupun dari akademik. Apakah sekolah ibu itu Negeri atau Swasta kalau swasta pasti sekolah yang ngak ngetop dan kalau negeri pasti sekolah ibu sekolah serabutan yang ngak punya aturan, asal sekolah aja..kayanya&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: renik</title>
		<link>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-280</link>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 05:55:59 +0000</pubDate>
		<guid>http://renik.blogsome.com/2008/11/06/catatan-harian-seorang-guru/#comment-280</guid>
					<description>Itulah Wa, gambaran di Indonesia yang sampai saat ini masih menjadi pemikiran semua pihak termasuk guru sebagai pendidik.Ya kita dituntut untuk bisa mengubah pola pikir dan berusaha untuk bisa menanamkan kerja keras dan menghilangkan budaya senang meminta. Begitu pula bagi para orang tua agar tidak 'Nyaah Dulang'</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Itulah Wa, gambaran di Indonesia yang sampai saat ini masih menjadi pemikiran semua pihak termasuk guru sebagai pendidik.Ya kita dituntut untuk bisa mengubah pola pikir dan berusaha untuk bisa menanamkan kerja keras dan menghilangkan budaya senang meminta. Begitu pula bagi para orang tua agar tidak &#8216;Nyaah Dulang&#8217;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
