/>

Semua Tentang Reni

December 25, 2008

SINDASARI SEMOGA ABADI DI HATI

Filed under: Curahan Kalbu

Aku tidak menyangka kalau hari Sabtu 15 November lalu merupakan awal pertemuanku di dunia nyata dengan teman mayaku  Sinda Sari alias Tika( Tini Kartini ) yang selama ini hanya kukenal di dunia maya.

Berawal dari obrolan kami di PM, aku bercerita tentang keindahan Pantai Sayang Heulang di Pameungpeuk Garut dan rencanaku pergi ke sana melihat Si Ijun dan Si Inov sapiku yang sudah cukup umur untuk dikurbankan tahun ini. Aku mengajak tika untuk ikut bersamaku ke sana. Eh tak kusangka dia antusias sekali karena dia juga berencana ingin membeli sapi dan bertemu dengan Ma Toah. Dia tertarik pada salah satu artikelku yang ditulis di blog Sunda. Artikel itu bercerita tentang Ma Toah pengurus kebun sekaligus penunggu gubukku. Rencana semula, selain dengan Tika aku pun mengajak pula salah seorang teman guru yang kebetulan memiliki kebun di sana. sayangnya pada hari yang ditentukan Sang Teman tidak bisa ikut karena ayahnya meninggal dunia.

Esoknya pagi-pagi sekali aku dan suami terlebih dahulu melayat dulu ke rumah duka di Banjaran, pulangnya langsung menuju Garut dengan terlebih dahulu sms Tika agar bersiap-siap karena aku akan menjemputnya pada pukul 12.30 di gerbang tol Kopo sesuai kesepakatan. Waktu mobilku akan memasuki gerbang tol, suamiku bertanya, " Ma, serius mengajak teman mayamu? Sudah tahu kah wajahnya? Pribadinya? Terus bagaimana bisa tahu kalau itu temanmu kan belum pernah jumpa dan belum pernah melihatnya?" Aku hanya menjawab, " Kita lihat saja nanti!"

Ya, aku sendiri juga bingung saat itu, kami dekat hanya melalui komunikasi tertulis saja lewat PM. Tanpa pernah melihat pic  apalagi web cam. Aneh ya? Namun kami merasa begitu dekat. Suamiku juga hanya tersenyum, ia sangat tahu kalau aku sering melakukan  hal yang menurut orang lain mungkin konyol. Bagaimana tidak disebut konyol, berjanji dengan seseorang yang sama sekali belum pernah bertatap muka, belum tahu secara jelas bagaimana pribadinya. Namun bagiku semua itu tidak konyol, dari komunikasi kami selama ini aku yakin Tika orang yang baik, hangat, bersahabat dan menyenangkan walau kadang sedikit narsis he..he..he.. tapi itu nggak aneh, itu kan penyakit chater! Dalam chat aku selalu melibatkan hati kecilku dalam menilai orang dan dari bahasa yang disampaikan lewat tulisan di screen, aku tahu mana teman yang benar-benar ingin bersahabat, ingin menggoda, ingin menjadi saudara atau hanya sekedar iseng. Satu lagi, aku selalu melibatkan suami dalam berinteraksi di dunia maya maupun nyata karena prinsip kami adalah temanku temannya juga atau sebaliknya,dengan moto cinta kasih kami adalah jangan ada dusta diantara kita…  Itulah kenapa 26 tahun pernikahan nyaris tak pernah ada masalah berarti…….ceileeee. 

Kita teruskan lagi ya…, hujan yang turun dengan deras, saat mobilku memasuki gerbang tol, membuat pandangan jadi kabur. Aku minta suamiku memperlambat laju mobil sementara mataku menyapu pinggir kiri jalan dengan jejeran warung-warungnya. Tiba-tiba seseorang berdiri dan keluar dari salah satu warung, tersenyum dan melambaikan tangannya padaku, hatiku berkata itu pasti Tika!

Benar saja, dia sudah 15 menit menungguku di sana bersama suami dan seorang anaknya. Pertemuan yang manis, aku segera turun menghampirinya, kami berpelukan lalu kuajak masuk ke mobil. Aku minta suaminya duduk di depan di samping suamiku sementara aku dan Tika di jok tengah dan Rizki anaknya duduk di jok belakang.

Tika tak jauh dari bayanganku. Dia seorang yang manis, ramah dan bersahabat. Pribadinya tak berbeda dengan tulisannya. Kami langsung terlibat pembicaraan akrab layaknya sahabat lama. Sepanjang jalan tak henti bercerita tentang teman maya yang jadi sahabat kami atau tentang anak-anak kami dan apa saja yang biasa kami ceritakan di PM. 

Ada yang menarik dari dirinya yaitu cara dia mendidik anaknya Rizki. Aku dan suamiku jatuh cinta pada anak berusia 13 tahun itu. Anak yang cerdas, sopan, periang, supel dan sangat menyenangkan. Aku minta Iki memanggilku uwa tapi dia tetap memanggilku ibu karena aku guru katanya, sementara kepada suamiku dia memanggil Pak Arab. Itu karena suamiku mirip orang Arab. Dasar Iki.

Sepanjang jalan Iki tak henti bercerita tentang sekolah,guru, teman-teman dan cerita lucu yang dialaminya. Sifatnya itu mengingatkan aku pada Ninoy, anakku yang nomor 2.Sewaktu kecil Ninoy sangat lucu dan hiper aktif seperti Iki. Satu lagi yang membuat aku kagum adalah kedekatan Iki dengan ayahnya, yang kukira itu ayah kandungnya tapi ternyata ayah tiri. Aku tak percaya ini kalau Tika tidak menceritakannya padaku. Apalagi sepintas tak ada yang menyangka kalau itu bukan ayahnya karena ada kemiripan dari keduanya. Wajah mirip ibunya sementara kulit ke ayahnya. Aku kagum pada Tika. Dia ibu yang bijak dan cerdas dalam memilih pengganti ayah untuk anaknya.

Pukul tiga sore mobil berhenti di sebuah warung di Cikajang. Kami beristirahat sambil makan mie rebus,ada juga yang makan nasi dan karedok karena Tika membawa banyak makanan. Cuaca yang dingin pun terasa menjadi hangat dengan ditemani secangkir kopi dan canda tawa kami sekeluarga. waktu sedang makan terlihat ada dua orang gadis manis, usianya sekitar 2 tahun di atas Iki. Dengan tingkahnya yang supel Iki berkenalan dengan mereka. sebentar saja sudah terlibat pembicaraan yang akrab di antara ketiganya. Mulai dari main tebak-tebakan sampai ke nyanyi lagu terbaru. Aku dan Tika asyik makan karedok, begitu juga dengan para suami asyik bercakap-cakap sambil minum kopi. tiba-tiba aku mendengar salah seorang gadis bertanya pada Iki

"Ki, kamu asli mana sih?"

" Coba aja tebak, aku dari mana?’ jawab Iki malah balik bertanya.

" Kalau dilihat dari kulitmu yang hitam, kamu pasti dari Ambon" jawab si gadis

" Haaaa…., benar sekali. Bapakku yang dari Ambon, tuh lihat kulitnya hitam kan?" jawab Iki stell yakin sambil menunjuk pada ayahnya. Sang ayah pun tersenyum.

" Ohhh, jadi ayahmu orang Ambon Ki?" kata si gadis tak lepas senyum.

" Betuulll, ayahku orang Ambon! Nggak percaya tanyakan saja pada guruku Bu Reni, iya kan Bu?" jawabnya sambil mengedipkan matanya padaku. Aku tersenyum tapi tidak mengiyakan karena aku tahu persis Mas Ton suami Tika bukan orang Ambon tapi asli dari Jawa.

Yaaa…..jadi Ambon maniseeee doooong! canda kedua gadis serempak.

" Bukan, ayahku bukan Ambon manise tapi Ambon pahiteee" ayahnya yang sedang minum kopi hampir saja tersedak dan membelalakan matanya pada Iki, tapi Iki hanya tertawa terpingkal-pingkal, kami semua juga tertawa.

" Awas ya Ki…!" kata ayahnya sambil mencubit sayang.

Ah, Iki….Iki, dengan hadirnya kamu perjalanan jadi lebih menyenangkan.  Kopdar pertama yang menyenangkan. Terimakasih Tuhan yang telah menambahkan seorang sahabat dalam hidupku. Semoga tali silaturahmi yang terjalin lewat dunia maya ini akan terus abadi di hati.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com