PERSAHABATAN BAGAI KEPOMPONG…
Nama aslinya siapa ya? Ah ada ajaa dan itu tak penting karena aku sendiri kadang merasa asing dengan nama aslinya. Aku lebih suka memanggilnya ‘ DIKA’ sesuai dengan nama pada ID nya. Aneh juga ya dan aku pun tak pernah ingin tahu kenapa dia memilih nama itu untuk ID nya bukan dengan namanya sendiri seperti halnya aku.
He..he..he.. biarlah itu menjadi bagian cerita dalam dirinya yang tak perlu kutahu. Yang jelas ayah dari tiga jagoan kelahiran Jakarta ini sangat menyukai musik, puisi, dan otomotif ( walau bisanya cuma nyetir mobil miliknya doang he..he..he..)
Stillnya dalam poto ,menurut teman-teman, seperti play boy tapi kalau sudah bertemu dan chat dengannya, kesan itu sangat jauh. Ia seorang yang tenang, sopan, lembut, cerdas dan sangat bersahabat. Figur sebagai seorang ayah yang baik itulah yang menonjol. Hal itu sesuai dengan prinsip hidupnya tentang sukses yang pernah kami bicarakan. Sukses baginya adalah bila dia dapat memenuhi kebutuhan lahir batin keluarganya. Sukses baginya bila anak dan istrinya merasa nyaman dan aman berada dalam tanggung jawabnya. Hal itulah yang membuat pribadinya jadi menarik di mataku.
He..he…he…, itu sisi positifnya, sisi jeleknya adalah dia kadang jutek! Bila kejutekannya itu kambuh disaat emosiku sedang kurang stabil, maka pastilah akan terjadi pertengkaran yang seru di antara kami. Disitulah uniknya bersahabat dengan dia. Aku merasa menjadi diriku sendiri. Aku bisa marah, bisa tenang, bisa bertengkar atau apa saja sesuai topik yang menjadi pembicaraan kami. Semuanya pasti nyambung. Dia pun merasakan hal yang sama pula.
Suatu hari dia mengatakan kalau aku adalah aset yang sangat berharga baginya. Sayangnya aku tidak suka disebut aset karena konotasi aset menurutku adalah barang berharga yang berkaitan dengan usaha bukan dengan persahabatan. Aku tidak suka diibaratkan barang. Dia menyangkal dan mengatakan kalau persepsiku salah besar. Justru aset baginya adalah sesuatu yang berharga, contohnya anak adalah aset. Jadi aku merupakan salah satu bagian yang berharga dalam hidupnya.
Namun aku tetap bertahan pada persepsiku dan itu membuat dia jadi tersinggung lalu berbalik memarahiku. Dia kecewa atas sikapku yang tidak pernah mau mengerti. Ujung-ujungnya dia menuduhku kalau aku telah menganggapnya memanfaatkanku. Dia berkata ," Jadi begitulah aku dalam pandanganmu selama ini? Aku sungguh kecewa Reni! Persahabatanku yang tulus bagimu tidak berarti. Coba jawab! Telah berbuat apa aku padamu selama ini? Pernahkah aku meminta sesuatu darimu? Aku lebih baik jadi gembel dari pada harus meminta!"
Aku baru tersadar kalau sikapku salah. Aku menyesal dan cepat meminta maaf tapi dia hanya menulis dua kata saja di screen " Aku balik!" Aku tahu dia marah padaku. Untuk meredakan kemarahannya, aku sengaja menghindar dengan menahan diri tidak chat untuk beberapa lama sampai suatu hari aku OL dia menyapaku dengan hangat dan penuh persahabatan. Ah senangnya hatiku karena sahabatku telah kembali.
Percakapan panjang pun berlanjut lagi dengan topik yang selalu ada saja untuk jadi bahan pembicaraan. Ya tentang politik, ekonomi, budaya, seni, pendidikan, keluarga, masa remaja, agama, kebijakan pemerintah, olah raga, otomotif atau apa saja semuanya membuat hari-hari sibuk kami terasa menyenangkan. Walau semua itu hanya lewat layar komputer.
Waktu terus berlalu tak terasa tiga tahun sudah kami bersahabat. Suatu hari dia mengeluh padaku tentang tugasnya yang dipindah ke bagian kurikulum dan itu membuatnya sangat sibuk. Dia bimbang untuk meneruskan tugas itu. Dia ingin menikmati hidup tanpa direcoki oleh tugas-tugas yang membuatnya stress apalagi hal itu membuat beberapa orang rekan kerjanya merasa kurang senang atas kepercayaan yang diberikan atasan padanya.
Aku katakan padanya, jangan sia-siakan masa mudamu! Kepercayaan atasan jangan diabaikan karena kesempatan tidak akan datang dua kali. Itu jalan terbaik untuk meningkatkan karir. Tak perlu melihat lirikan iri orang lain di sekitarmu karena hidup adalah persaingan. Jadilah orang terdepan dan berusahalah untuk menikmati dan mensyukuri apa pun yang diberikan Tuhan padamu. Atur waktumu dengan baik agar kamu bisa bersikap bijak kepada karir dan keluarga yang kamu cintai. Aku yakin anak dan istrimu akan bangga padamu.
Beberapa hari kemudian dia mengatakan kalau dia sudah bisa menerima tugas itu. Dia berterimakasih padaku atas motivasi dan dukungan yang kuberikan. Ya setulus hati aku mendukungnya walau untuk itu aku harus membayarnya dengan mahal yaitu kehilangannya. Tugasnya di bidang kurikulum akan sangat menyita seluruh waktu kerjanya dan tentu saja kami tak mungkin lagi bisa sering berkomunikasi. Aku tahu bagaimana repotnya orang-orang di kurikulum karena aku pun pernah bertugas dibagian itu. Apalagi Jakarta yang mengharuskan seluruh administrasi dikerjakan secara On Line.
Benar saja, kini aku dan dia jarang sekali on line karena kami sama-sama disibukkan oleh pekerjaan kami masing-masing. Saat ini aku juga disibukkan oleh tugasku di kesiswaan dan team inti pengembang sekolah rintisan SSN yang banyak menyita waktuku. Namun begitu apa pun masalahnya, dia dan keluarganya akan tetap menjadi sahabatku sampai kapanpun.
