/>

Semua Tentang Reni

February 21, 2009

HANYA SEBUAH INTERMEZO

Filed under: Curahan Kalbu

 Temanku seorang dokter spesialis kejiwaan pernah bercerita padaku, waktu secara tak sengaja kami bertemu dalam sebuah seminar. Dia mengatakan kalau di dunia ini tidak ada teman atau musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Pertemanan paling tulus hanya kita dapatkan ketika kita masih di SD. Selepas itu hanyalah persaingan dan persaingan yang kita temukan.Persaingan akan semakin terbuka ketika kita memasuki dunia kerja. Dalam kondisi seperti itu satu hal yang harus kita lakukan adalah menunjukkan kemampuan. Maka kita akan menjadi pemenang.

Ya sebuah pernyataan yang logis dan realistis. Aku pernah mengalami semua itu dan di dunia kerja semua makin terasa jelas. Ketika usiaku belum genap 22 tahun, aku sudah diangkat menjadi CPNS di sebuah SMP negri di Sukabumi. Entah alasan apa, baru satu tahun ditugaskan, Kepsek mengangkatku menjadi pembantu kepala sekolah bidang kurikulum. Aku yang masih polos dan lugu serta asing dengan lingkungan baru, betul-betul belum memahami kalau hal itu akan memicu kecemburuan yang lain khususnya guru-guru senior.

Benar saja, seorang guru senior yang sering dipanggil ‘ Shopia Loren ‘ oleh anak-anak, langsung berubah sikap bila bertemu denganku. pandangannya sins, kata-katanya tajam menusuk dan puncaknya ketika dalam rapat pleno secara terang-terangan menentang kebijakan Kepsek dengan menolak aku menjadi PKS  hanya karena aku guru baru. Sikapnya itu diembeli pula dengan kata-kata yang tak bisa kulupakan sampai saat ini. " Coba lihat Pak, pantaskah seorang PKS membawa-bawa anak ke sekolah? Memalukan!"

Sakit sekali hatiku. Saat itu aku memang punya bayi yang masih berusia 13 bulan, aku tidak bisa menitipkannya pada pembantu karena bayi seusia itu sedang butuh pengawasan ibu. Maka tiap hari anakku dan pembantu kubawa ke sekolah. Ah bisa dibayangkan, aku dipermalukan di depan teman-teman guru dalam sebuah rapat pleno. Harga diriku terasa diinjak-injak.Aku ingin menangis tapi tak bisa. Dadaku sakit dan nafasku sesak. Beberapa teman guru memelukku dan membawaku ke ruangan lain. Di sanalah dalam pelukan mereka aku menangis.

Esok paginya aku datang ke ruang Kepsek untuk meninjau kembali hak prerogatifnya sekaligus  ingin mengundurkan diri  dari jabatanku. Namun dengan tenang Kepsek menjawab, " Tak ada yang bisa mengubah keputusan saya. Ibulah orang yang tepat untuk jabatan kurikulum. Hapus air mata itu! Tunjukka kalau ibu mampu!"

Kata-kata itu, mengandung kepercayaan penuh yang secara tidak langsung menumbuhkan rasa percaya diri padaku. Akhirnya dengan ucapan Bismillah, kuterima tugas itu. Aku bekerja dengan tetap membawa anak ke sekolah. Aku sering melihat anakku bermain-main dengan Kepsek saat aku sedang mengajar. Pernah suatu kali anakku mengambil globe milik guru IPS lalu ditendang-tendang di halaman kelas. Dengan manis kepsek menggantinya dengan bola. Keduanya lalu bermain bola di halaman sekolah. Coba adakah Kepsek saat ini yang bersikap seperti itu kepada gurunya?

Dukungan dan kepercayaan Kepsek padaku membuatku merasa nyaman dan semangat dalam bekerja. Aku tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan walaupun beban mengajarku waktu itu cukup banyak. Aku tidak hanya memegang pelajaran Bahasa Indonesia tapi memegang pula seni rupa, bahasa Sunda dan ekstra kurikuler renang. Jumlah jam mengajarku 36 jam.

Kutunjukkan prestasiku dengan mengharumkan nama sekolah di berbagai even. Seperti menjuarai berbagai kompetisi siswa dalam berbagai lomba di tingkat kota maupun tingkat provinsi, khususnya dalam uji keterampilan bahasa Indonesia. Pameran tunggal karya seni anak-anak di Gedung Juang yang disponsori langsung oleh walikota Sukabumi. Memasukkan anak-anak menjadi team inti atlet renang kota Sukabumi setelah  terlebih dahulu mereka meraih berbagai kejuaraan dalam Porseni atau Popda.

Sayangnya semua itu harus berakhir karena atas desakan kedua orang tua dan suami, aku harus pindah ke Bandung. Aku tahu semua teman-teman di Sukabumi merasa kehilangan, termasuk Ibu Shopia Loren yang berulang kali memeluk dan menangis di pelukanku.

Thn 1985, aku mutasi ke SMPN 25 Bandung tapi anehnya diterima di SMPN 4 cimahi.  Baru dua tahun aku bisa merasakan kalau keadaan sepertinya lebih rumit dari pertama aku datang ke Sukabumi. Di sini manajemen sekolah sangat tertutup. Terkesan ada sindikat antara Kepsek, wakasek dan para pembantunya. Aku yang dididik ketransparanan oleh Kepsek di Sukabumi, jelas merasa terbelenggu. Aku merasakan adanya pembunuhan karakter dengan adanya penekanan yang tidak sehat pada guru-guru. Aku tak mau jadi bagian dari semua itu. Maka jadilah aku guru yang dianggap vokal  karena paling rajin mengeritik kebijakan Kepsek dan para pembantunya.

Akibatnya, aku dihambat dalam segala hal khususnya dalam peningkatan profesi seperti tidak pernah diikutkan dalam berbagai pelatihan, penataran. Diperlambat dalam kenaikan tingkat dan ditutup rapat-rapat aktifitas di luar sekolah yang berkaitan dengan profesiku seperti kegiatan MGMP, Sanggar Bahasa dan lain sebagainya. Itu berlangsung lebih dari sepuluh tahun.

Semua itu tak berarti bagiku. Aku berprinsip seperti air, ditutup di satu tempat namun akan mengalir ke tempat lain, maka tahun 1990 aku nekad kuliah lagi di IKIP Bandung. Kusibukkan diriku di kampus dengan aktif mengikuti kegiatan perkuliahan. Tahun 1992 aku  diminta menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Penelitian Pendidikan. Di tahun itu pula aku lulus seleksi tutor PGSD swadaya yang diselenggarakan oleh Dinas Kota bertempat di SMA Santa Maria. Selain itu  aktif pula mengajar di SMA Al Istiqomah Cijerah Bandung.

Bila ada waktu senggang, kusempatkan untuk menulis buku. Tahun 1995 buku pertamaku berjudul ‘ Belajar Bahasa Indonesia ‘ diterbitkan oleh penerbit Inti Media Jakarta. Tahun itu pula aku ditawari bea siswa S2  oleh IKIP untuk kuliah di Gajah Mada, sayang sekali suamiku tak mengijinkan karena waktu itu anakku Gita masih berusia 3 tahun tak mungkin pengawasannya diserahkan kepada pembantu.

Tahun 1998 ada penggagntian pimpinan sekolah. Aku ditugaskan menjadi pembina Paskibra, dan tahun 2000 ditugaskan  menjadi wakasek urusan kesiswaan. Di tahun itu pula untuk pertama kalinya aku dikirim pelatihan guru  SMP seprovinsi di Garut, alhamdulillah jadi peserta terbaik. tahun 2001 dikirim lagi ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan guru tingkat nasional dan pada tahun 2002 mendapat predikat guru telatan eh salah, maksudku guru teladan 1 tingkat kota namun sekaligus pula diwarnai kisah duka karena adanya permainan money politik dan jegal menjegal dalam urusan pemilihan calon Kepsek.  Mungkin karena itulah aku harus kalah dalam kompetisi di tingkat provinsi atau memang aku tak pantas meraih predikat GT di tingkat provinsi, he..he..he.. walahualam bisawab. (Hal ini sudah kuceritakan dalam artikel ‘ Cerita Buat Dika ‘ )

Tahun 2003 terjadi revolusi besar-besaran di sekolahku. Kritikan-kritikan mulai didengar seiring dengan bergulirnya era reformasi dan perubahan sikap guru-guru yang lain yang mulai berani berpendapat. Ditunjang pula oleh hadirya Kepsek baru  yang berpikir maju dan demokratis yaitu Ibu Dra. Hj. Tati Artati Andaya. Beliaulah figur wanita berhati baja yang penuh perjuangan. Situasi sekolah yang kurang kondusif, dengan tenang dapat diselesaikannya.Bagai tangan seorang ibu yang bijak, semua guru diraih dan dihargai. Beliau pula lah yang selalu menjadi inpirasi bagiku untuk selalu berkarya dan berkarya. hingga tahun 2005 terbit bukuku yang kedua berjudul ‘ Dimensi Pemebelajaran Bahasa Indonesia’ diterbitkan oleh Sinergi, sayang buku itu gagal mendapat predikat terbaik di tingkat nasional. Menyusul kemudian bukuku yang ketiga ‘ Cerdas Berbahasa Indonesia’ diterbitkan oleh Sigap pada tahun 2006. Buku itu khusus kutulis untuk beliau yang purna bakti pada tahun itu. Kedudukan beliau digantikan oleh Bapak Drs. H. Tonton Rustono sampai saat ini. Beliau tidak jauh berbeda dengan Ibu Tati. Misinya yang ingin memajukan sekolah dengan  mengubah pola pikir dan pola tindak seluruh komponen sekolah mendapat dukungan penuh dari semua kmponen sekolah.

Kini tak terasa, 24 tahun sudah aku bertugas di sekolah ini. sebuah waktu yang cukup lama namun ibarat matahari yang perlahan akan tenggelam, aku harus siap kembali keharibaan malam. hanya sebelum saatnya datang aku harus berusaha menyalakan lilin-lili kecil yang kelak menjelma menjadi matahari. Tak ingin kuikuti jejak langkah para seniorku terdahulu karena  menurutku jabatan tertinggi di sekolah adalah guru dan penilai sejati adalah para siswa. hal itulah yang selalu menjadi motivasiku untuk maju dan terus mencari ilmu, sampai batas akhir pengabdianku.

Tulisan ini tak bermaksud menepuk dada sendiri tapi sesuai dengan judulnya, ini hanyalah sebuah intermezo yang pernah ada dalam hidupku. Mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi adik-adik guru di bawahku yang kini sedang meniti karir menjadi guru-guru profesional.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com