HANYA SEBUAH INTERMEZO
Temanku seorang dokter spesialis kejiwaan pernah bercerita padaku, waktu secara tak sengaja kami bertemu dalam sebuah seminar. Dia mengatakan kalau di dunia ini tidak ada teman atau musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Pertemanan paling tulus hanya kita dapatkan ketika kita masih di SD. Selepas itu hanyalah persaingan dan persaingan yang kita temukan.Persaingan akan semakin terbuka ketika kita memasuki dunia kerja. Dalam kondisi seperti itu satu hal yang harus kita lakukan adalah menunjukkan kemampuan. Maka kita akan menjadi pemenang.
Ya sebuah pernyataan yang logis dan realistis. Aku pernah mengalami semua itu dan di dunia kerja semua makin terasa jelas. Ketika usiaku belum genap 22 tahun, aku sudah diangkat menjadi CPNS di sebuah SMP negri di Sukabumi. Entah alasan apa, baru satu tahun ditugaskan, Kepsek mengangkatku menjadi pembantu kepala sekolah bidang kurikulum. Aku yang masih polos dan lugu serta asing dengan lingkungan baru, betul-betul belum memahami kalau hal itu akan memicu kecemburuan yang lain khususnya guru-guru senior.
Benar saja, seorang guru senior yang sering dipanggil ‘ Shopia Loren ‘ oleh anak-anak, langsung berubah sikap bila bertemu denganku. pandangannya sins, kata-katanya tajam menusuk dan puncaknya ketika dalam rapat pleno secara terang-terangan menentang kebijakan Kepsek dengan menolak aku menjadi PKS hanya karena aku guru baru. Sikapnya itu diembeli pula dengan kata-kata yang tak bisa kulupakan sampai saat ini. " Coba lihat Pak, pantaskah seorang PKS membawa-bawa anak ke sekolah? Memalukan!"
Sakit sekali hatiku. Saat itu aku memang punya bayi yang masih berusia 13 bulan, aku tidak bisa menitipkannya pada pembantu karena bayi seusia itu sedang butuh pengawasan ibu. Maka tiap hari anakku dan pembantu kubawa ke sekolah. Ah bisa dibayangkan, aku dipermalukan di depan teman-teman guru dalam sebuah rapat pleno. Harga diriku terasa diinjak-injak.Aku ingin menangis tapi tak bisa. Dadaku sakit dan nafasku sesak. Beberapa teman guru memelukku dan membawaku ke ruangan lain. Di sanalah dalam pelukan mereka aku menangis.
Esok paginya aku datang ke ruang Kepsek untuk meninjau kembali hak prerogatifnya sekaligus ingin mengundurkan diri dari jabatanku. Namun dengan tenang Kepsek menjawab, " Tak ada yang bisa mengubah keputusan saya. Ibulah orang yang tepat untuk jabatan kurikulum. Hapus air mata itu! Tunjukka kalau ibu mampu!"
Kata-kata itu, mengandung kepercayaan penuh yang secara tidak langsung menumbuhkan rasa percaya diri padaku. Akhirnya dengan ucapan Bismillah, kuterima tugas itu. Aku bekerja dengan tetap membawa anak ke sekolah. Aku sering melihat anakku bermain-main dengan Kepsek saat aku sedang mengajar. Pernah suatu kali anakku mengambil globe milik guru IPS lalu ditendang-tendang di halaman kelas. Dengan manis kepsek menggantinya dengan bola. Keduanya lalu bermain bola di halaman sekolah. Coba adakah Kepsek saat ini yang bersikap seperti itu kepada gurunya?
Dukungan dan kepercayaan Kepsek padaku membuatku merasa nyaman dan semangat dalam bekerja. Aku tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan walaupun beban mengajarku waktu itu cukup banyak. Aku tidak hanya memegang pelajaran Bahasa Indonesia tapi memegang pula seni rupa, bahasa Sunda dan ekstra kurikuler renang. Jumlah jam mengajarku 36 jam.
Kutunjukkan prestasiku dengan mengharumkan nama sekolah di berbagai even. Seperti menjuarai berbagai kompetisi siswa dalam berbagai lomba di tingkat kota maupun tingkat provinsi, khususnya dalam uji keterampilan bahasa Indonesia. Pameran tunggal karya seni anak-anak di Gedung Juang yang disponsori langsung oleh walikota Sukabumi. Memasukkan anak-anak menjadi team inti atlet renang kota Sukabumi setelah terlebih dahulu mereka meraih berbagai kejuaraan dalam Porseni atau Popda.
Sayangnya semua itu harus berakhir karena atas desakan kedua orang tua dan suami, aku harus pindah ke Bandung. Aku tahu semua teman-teman di Sukabumi merasa kehilangan, termasuk Ibu Shopia Loren yang berulang kali memeluk dan menangis di pelukanku.
Thn 1985, aku mutasi ke SMPN 25 Bandung tapi anehnya diterima di SMPN 4 cimahi. Baru dua tahun aku bisa merasakan kalau keadaan sepertinya lebih rumit dari pertama aku datang ke Sukabumi. Di sini manajemen sekolah sangat tertutup. Terkesan ada sindikat antara Kepsek, wakasek dan para pembantunya. Aku yang dididik ketransparanan oleh Kepsek di Sukabumi, jelas merasa terbelenggu. Aku merasakan adanya pembunuhan karakter dengan adanya penekanan yang tidak sehat pada guru-guru. Aku tak mau jadi bagian dari semua itu. Maka jadilah aku guru yang dianggap vokal karena paling rajin mengeritik kebijakan Kepsek dan para pembantunya.
Akibatnya, aku dihambat dalam segala hal khususnya dalam peningkatan profesi seperti tidak pernah diikutkan dalam berbagai pelatihan, penataran. Diperlambat dalam kenaikan tingkat dan ditutup rapat-rapat aktifitas di luar sekolah yang berkaitan dengan profesiku seperti kegiatan MGMP, Sanggar Bahasa dan lain sebagainya. Itu berlangsung lebih dari sepuluh tahun.
Semua itu tak berarti bagiku. Aku berprinsip seperti air, ditutup di satu tempat namun akan mengalir ke tempat lain, maka tahun 1990 aku nekad kuliah lagi di IKIP Bandung. Kusibukkan diriku di kampus dengan aktif mengikuti kegiatan perkuliahan. Tahun 1992 aku diminta menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Penelitian Pendidikan. Di tahun itu pula aku lulus seleksi tutor PGSD swadaya yang diselenggarakan oleh Dinas Kota bertempat di SMA Santa Maria. Selain itu aktif pula mengajar di SMA Al Istiqomah Cijerah Bandung.
Bila ada waktu senggang, kusempatkan untuk menulis buku. Tahun 1995 buku pertamaku berjudul ‘ Belajar Bahasa Indonesia ‘ diterbitkan oleh penerbit Inti Media Jakarta. Tahun itu pula aku ditawari bea siswa S2 oleh IKIP untuk kuliah di Gajah Mada, sayang sekali suamiku tak mengijinkan karena waktu itu anakku Gita masih berusia 3 tahun tak mungkin pengawasannya diserahkan kepada pembantu.
Tahun 1998 ada penggagntian pimpinan sekolah. Aku ditugaskan menjadi pembina Paskibra, dan tahun 2000 ditugaskan menjadi wakasek urusan kesiswaan. Di tahun itu pula untuk pertama kalinya aku dikirim pelatihan guru SMP seprovinsi di Garut, alhamdulillah jadi peserta terbaik. tahun 2001 dikirim lagi ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan guru tingkat nasional dan pada tahun 2002 mendapat predikat guru telatan eh salah, maksudku guru teladan 1 tingkat kota namun sekaligus pula diwarnai kisah duka karena adanya permainan money politik dan jegal menjegal dalam urusan pemilihan calon Kepsek. Mungkin karena itulah aku harus kalah dalam kompetisi di tingkat provinsi atau memang aku tak pantas meraih predikat GT di tingkat provinsi, he..he..he.. walahualam bisawab. (Hal ini sudah kuceritakan dalam artikel ‘ Cerita Buat Dika ‘ )
Tahun 2003 terjadi revolusi besar-besaran di sekolahku. Kritikan-kritikan mulai didengar seiring dengan bergulirnya era reformasi dan perubahan sikap guru-guru yang lain yang mulai berani berpendapat. Ditunjang pula oleh hadirya Kepsek baru yang berpikir maju dan demokratis yaitu Ibu Dra. Hj. Tati Artati Andaya. Beliaulah figur wanita berhati baja yang penuh perjuangan. Situasi sekolah yang kurang kondusif, dengan tenang dapat diselesaikannya.Bagai tangan seorang ibu yang bijak, semua guru diraih dan dihargai. Beliau pula lah yang selalu menjadi inpirasi bagiku untuk selalu berkarya dan berkarya. hingga tahun 2005 terbit bukuku yang kedua berjudul ‘ Dimensi Pemebelajaran Bahasa Indonesia’ diterbitkan oleh Sinergi, sayang buku itu gagal mendapat predikat terbaik di tingkat nasional. Menyusul kemudian bukuku yang ketiga ‘ Cerdas Berbahasa Indonesia’ diterbitkan oleh Sigap pada tahun 2006. Buku itu khusus kutulis untuk beliau yang purna bakti pada tahun itu. Kedudukan beliau digantikan oleh Bapak Drs. H. Tonton Rustono sampai saat ini. Beliau tidak jauh berbeda dengan Ibu Tati. Misinya yang ingin memajukan sekolah dengan mengubah pola pikir dan pola tindak seluruh komponen sekolah mendapat dukungan penuh dari semua kmponen sekolah.
Kini tak terasa, 24 tahun sudah aku bertugas di sekolah ini. sebuah waktu yang cukup lama namun ibarat matahari yang perlahan akan tenggelam, aku harus siap kembali keharibaan malam. hanya sebelum saatnya datang aku harus berusaha menyalakan lilin-lili kecil yang kelak menjelma menjadi matahari. Tak ingin kuikuti jejak langkah para seniorku terdahulu karena menurutku jabatan tertinggi di sekolah adalah guru dan penilai sejati adalah para siswa. hal itulah yang selalu menjadi motivasiku untuk maju dan terus mencari ilmu, sampai batas akhir pengabdianku.
Tulisan ini tak bermaksud menepuk dada sendiri tapi sesuai dengan judulnya, ini hanyalah sebuah intermezo yang pernah ada dalam hidupku. Mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi adik-adik guru di bawahku yang kini sedang meniti karir menjadi guru-guru profesional.

ehm hebat juga perjuangan ibu guru ini. Betul2 guru yang berbakti untuk kemajuan sekolah dan anak2 muridnya. wahai para pemimpin negara, kalau seandainya beliau2 hanya memikirkan untuk kemajuan dan kesejahtraan rakyatnya, Mungkin beliau2 tidak akan ada waktu untuk korupsi. Kejujuran, kerja keras. bersatu memikirkan kemajuan dan kesejahtraan rakyat, seperti ibu guru ini. Negara pasti akan tentram, sejahtera, aman, makmur dan bahagia.
Comment by urang sebrang — February 21, 2009 @ 9:40 am
Aduh jadi malu, jangan begitu ah…tulisan di atas kan hanya sebuah intermezo saja. Saya hanya guru biasa saja yang merasa bahagia karena tidak menjadi guru terbelenggu jiwanya he..he..he..terimakasih ya…
Comment by reni — February 24, 2009 @ 8:32 am
Teh da leres masalah siga teteh teh kajantenan di mana-mana, cacak di kantor siga abdi ge nu teu katingal persaingana.. lantaran benten bagian tapi aya be jalmi nu sok teu resep mun batur lebih punjul, mun batur rada luhur padahal manehna meureun lebih senior, kantos eta ge cenah da teu kahaja ngobrolna, ari rerencangan sobatlah kasebatna, ngiringan rapat ngawakilan karyawan, nah pas di forum aya sekdir deh jol celengkeng teh ngamasalahkeun kenaikan jabatan fungsional abdi, saurna naon cenah kok bisa2 na dia fungsionalna spesialis (dia jg spesialis pdahal), kulantaran terang saha abdi sobat teh da emang rada vokal, pangjawabkeun eta celengkengan teh.. kieu walerna “Mbak..kenapa mbak bisa bilang seperti itu sama dia (saya), karena menurut dan setahu saya, kepandaian dia lebih tinggi dibanding mbak, jadi wajar saja kalau dia fungsionalnya spesialis, mbak juga kan spesialis kan..” duka tah kumaha rarayna .. da manehna mah asa pang cekertariisna.. padahal nya kitu be.. aya artosan dipayunan teu aya mah EGP. abdi mah terserah nya dia mau berlaku kmaha sakahayangna, cuma herannya kenapa ngutik2 abdi nu padahal ka manehna teh boro2 ngabaeudan .. interaksi oge tiasa dietang jari dina saminggona teh. Tapi itulah manusia, disatu pihak ada yg kontra tapi dilain pihak ada yang pro, abdi mah bersyukurna teh, abdi teu tiasa ngalawan dan teu ngiring rapat eta, tapi Allah mengirimkan bantuan ngalangkungan rerencangan nu terang sareng simpati ka abdi. Abdi percanten ka tth mah.. da Iki ge jol cop be .. cenah mun kodya mah Iki mau pindah da ka SMPN 4 Cimahi
.
Comment by Si Ayi — February 26, 2009 @ 7:59 am
Kutan kitu Yi? Leuh enya nya teu di mana teu di mendi namung keun we Yi, namina ge dinamika kehidupan da teu kitu mah dunya teh moal rame. Ngan peupeujeuh ti teteh, omat urang mah ulah ngewa ka batur sanajan batur ngewa ka urang. Atuh dina sagala kagiatan sanajan sifatna resmi urang niatan ku karana Allah. Insyaallah sagalana bakal lancar. Didoakeun ku teteh sing dipasihan kakiatan sareng kasabaran dina mayunan sagala rupi permsalahan dina padamelan boh dina hirup kumbuh urang adididnten. He..he..he.. pokona mah urang omat ulah dugi ka teu damang kulantaran mikiran pamolah batur, kajeun batur we nu gering ku urang nya Yi? he..he..he… lah mun si uwa maca ieu komen da pasti kana nyarekan, sabab si Uwa mah soleh tapi solehna solehudin, he..he..he…
Comment by reni — February 27, 2009 @ 3:20 am
Alhamdulillah cenah ceuk beja mun aya nu ngomongkeun urang ditukangeun kudu atoh, da eta cenah bakal ngurangan dosa. Alhamdulillah aya nu ngomongkeun euy ditukangeun. Mudah2an wae ah dosa si uwa ngurangan. Hatur nuhun…. jeung Alhamdulillah nya boga alo2 teh meni saroleha, gareulis jeung palinter kitu….uwa jadi era da uwa mah bodo….Je suis heureux….Mon amie Reni et Tika, elles sont intelligente…A bientot……
Comment by si uwa — February 27, 2009 @ 4:59 am
Amin3x ya robbal alamin..
Wa.. mun nyarioskeun nu awon nembe dikirangan dosanya ..pan ieu mah nu sarae… sok kumaha tah..naon nu ngirangan.. sigana kiloan nya hahaha… Wa.. eta mah mung nyarioskeun lalakon, abdi mah ngaraos jalmi laif..matak keun be ceuk batur kumaha2 ge asal ulah abdi nu kukumaha ka batur..ke ge capeeun.. da mun dicarioskeun naon kanyeri ku alatan resep ningal urang sangsara..wah tos pikanyerieun,komo waktos single mah..meni macem2 crita teh bari abdi teu rumasa jeung tara ririungan tapi eta duka terang timana infona.. diantep be ..eh liren nyalira. Da leres teh.. mending urang mah niatkeun damel teh rek ibadah, matak aya naon2 ge alhamdulillah..teu ngaregrogkeun abdi ti kawit lebet dugi ayeuna 25 th.. langkung 7 dinten. Da Allah mah moal lepat masihkeun rejeki nya.. di halang2 oge timana be bijilna.. ceuk tth mah siga cai tea, dipendet ti dieu kaluar tiditu.. da cenah abdi rada judes, tara daek ulubiung..ah wios, nu penting teu nyerikeun hate batur. Da kumaha deui tos kieu sifatna. Daripada ririungan tungtungna nyarioskeun batur tambih2 dosa nya, mending maca berita di internet.
Comment by Si Ayi — February 28, 2009 @ 8:50 am
Leres pisan Yi, he..he..he… mending browsing di internet. Namung ulah lepat urang ngajentul payuneun komputer oge ih da aya we nu usil pajarkeun teh keur mojok cenah. Ha..ha…ha… kitu salah kieu salah, mun urang sagala ngadangu naon ceuk batur walaahhhh kana TBC. He..he..he.. matak nyantai aja…
Comment by reni — March 3, 2009 @ 3:58 am
apa benar ini ibu reni?ibu mengajar di madrasah aliyah al istiqomah cijerah bandung mata pelajaran bahasa indonesia?benar kan ini ibu reni?saya pernah jadi murid ibu disana, ibu pernah jadi wali kelas saya dl di kelas 3..
ibu pasti ingat saya, saya murid ibu yg bandel dl, bersama alm. firdan dan anton saya pernah bikin repot ibu, mohon maaf bu segala kesalahan yg pernah saya perbuat dahulu..
Waktu pengumuman nem ingin rasanya saya bertemu sama ibu dan mengucapkan terimakasih saya sama ibu karena sudah sabar mendidik kami, tp sayang waktu itu saya harus pulang ke malang karena terbentur jadwal ujian masuk di kampus saya yg baru..
ibu sekarang masih aktif mengajar di istiqomah kan bu?
Comment by eko yulianto — July 26, 2009 @ 6:41 pm
Benar eko ini ibu…waahh….nggak nyangka kita ketemu di sini..ya..
Comment by reni — August 28, 2009 @ 3:17 am