AKHIRNYA…SELESAI JUGA
Alhamdulilah, usai sudah Ujian Nasional yang dilaksanakan selama 4 hari dari hari Senin kemarin sampai hari Kamis. Inilah resumenya, hari pertama satu jam sebelum ujian dimulai kami kumpulkan anak-anak di lapangan basket untuk berdoa bersama, memotivasi dan mengingatkan kembali agar mereka mengerjakan soal dengan hati-hati, tenang, penuh percaya diri, cermat dan cerdas.
Hari kedua ada insiden kecil dengan tim independen(TPI ) karena pengawas ruangan lupa memasukan daftar hadir dan berita acara pada amplop. Kami ingin amplop dibuka saja untuk memasukan dokumen tersebut namun TPI menolaknya dan mengusulkan agar dokumen tersebut ditempel saja di luar amplop. Tentu saja kami menolak karena khawatir tercecer. Kami jelaskan pada TPI kalau anak-anak kami sudah belajar selama 3 tahun namun keberhasilan mereka ditentukan dalam 4 hari oleh 4 mata pelajaran. Tolong jangan diperparah lagi dengan kecerobohan pengawas dan ketidakbijakan TPI. Alhamdulilah dia mau mengerti. Di depan TPI kami membuka dua amplop untuk memasukan dokumen yang tertinggal itu. Hari ketiga dan keempat tak ada kejadian berarti. Selain kesan dan harapan semoga anak-anak lulus semua.
Ada tanya yang tersisa dan mungkin seperti yang sudah-sudah pertanyaan itu akan tetap dijawab sama. Walau begitu takan pernah bosan hal itu kami sampaikan khususnya pada para penentu kebijakan di negri ini. Sampai kapankah UN akan tetap dijadikan sebagai syarat kriteria kelulusan?
Sampai hari ini tidak ada satu pun penelitian yang membuktikan kalau hasil UN merupakan ukuran kualitas pendidikan di negri ini. Apalagi sering kita dengar berbagai kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaannya ditambah lagi sarana dan prasarana yang belum merata di seluruh sekolah, demikian pula dengan SDM nya. Wah…sulit dimengerti apa yang mendasari pemikiran pemerintah untuk tetap menjadikan UN sebagai syarat kelulusan, lebih jauhnya lagi sebagai ukuran keberhasilan pendidikan.
Aku merasa ada ketidakadilan dalam UN. Kita semua tahu kalau kecerdasan anak itu terbagi kedalam 9 kecerdasan. Diantaranya kecerdasan linguistik, logika, emosi, sosial, kinetik, seni, budaya,religius dan lain sebagainya. UN hanya menguji dua kecerdasan saja yaitu kecerdasan logika dan linguistik. Jadi bagaimana dengan anak-anak yang memiliki 7 kecerdasan lainnya? Apakah mereka tetap dipaksa untuk melakukan hal yang sama sekali tidak mereka sukai?
Sementara menurut hasil penelitian pakar pendidikan ternyata 80% keberhasilan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosi. Bukan kecerdasan intelektual. Ini ironis! Kecerdasan emosi lebih ditentukan oleh pembentukan ahlak dan kepribadian. Dua hal ini adanya dalam mata pelajaran agama dan budi pekerti. Sementara dari jumlah beban belajar sebanyak 32 jam perminggu, pelajaran agama hanya ada 2 jam dan sama sekali tidak ada pelajaran budi pekerti. Jadi bagaimana mungkin anak-anak kita akan berhasil dan bisa membangun bangsanya di masa depan? Yup ini PR bagi para guru, pemerintah, masyarakat dan para orang tua.

UN teh memang wajib nya? untuk menentukan ijazah SMP???? Jadi kalau yang nggak lulus tapi tamat SMPna nggak punya ijazah SMP yah?. Disana SMP, SMA nggak ada UN mereka yang menamatkan SMP atau SMA semua dapat ijazah. Cuma UN itu hanya untuk siswa2 yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi untuk menentukan point ke jurusan mana mereka bisa melanjutkan. seperti kalau kedokteran harus 99 point, hukum kalau tidak salah 90, untuk computer kalau tidak salah 80 begitulah. Jadi nilai di ijazah SMP, SMA diambil dari kegiatan dan kepandaian anak2 se-hari2. Karena sistim pelajaran juga anak2 yang memilih mata pelajaran bukan di tentukan sama sekolah, cuma Matematik dan bahasa Inggris itulah yg wajib. Tiap, semester hanya 6 mata pelajaran, jadi tiap semester anak2 bisa ganti2 mata pelajarannya sebagaimana mereka pilih. Dan disana anak2 lah yg mencari kelas bukan guru. jadi penilaian mata pelajaran yg di ijazah itu mata2 pelajaran yang mereka ambil.
Comment by urang ozi — May 2, 2009 @ 5:28 am
Begitulah di Indonesia. Makanya banyak pihak mengusulkan agar UN tidak dijadikan sebagai salah satu syarat kelulusan karena tidak logis! Betul yang menentukan lulus tidaknya seorang anak itu adalah aktifitas dan kemampuannya bukan Ujian yang hanya dilaksanakan hanya dalam empat hari dan oleh empat mata pelajaran.
Comment by reni — May 6, 2009 @ 3:55 am