WANITA …OH..WANITA…
Diciptakan alam pria dan wanita
Dua insan dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bila pria berkuasa
sedangkan wanita lemah lembut manja
Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
namun ada kala pria tak berdaya
tekuk lutut di sudut kerling wanita…….
Sumpah sampai ke ubun-ubun, aku tidak menyukai lagu itu tapi sengaja kutulis untuk mengawali catatan ini. Aku merasa terinpirasi oleh isinya. Lagu itu menurutku sama sekali tidak menggambarkan eksistensi wanita malah terkesan melecehkan. Namun di satu sisi patut kuacungkan jempol pada penggubahnya karena di dalamnya terkandung aspirasi murni penulisnya yang secara jujur melukiskan sebuah realita yang terjadi pada wanita di berbagai belahan dunia.
Wanita oh wanita , sejak jaman Cleopatra sampai Manohara selalu jadi cerita. Sayangnya berjuta cerita tentang wanita tak satu pun yang bisa mengungkap fakta, mengapa wanita kadang menyakiti sesama wanita hanya karena seorang pria dengan alasan cinta. Apakah karena pria berkuasa atau wanita pura-pura buta?
Masalah itulah yang menjadi bibit pertengkaran antara aku dan sahabatku dua tahun lalu ketika dia meminta pendapatku untuk menikah lagi dengan pria beristri.
" lemah-lembut manja jangan kau jadikan senjata untuk memikat hati pria Hanung! Tak bijaksana rasanya bertahta di atas hati sesama wanita karena sama sekali tak akan pernah mendapatkan sebuah piala selain nista" kataku waktu itu…
" Aku tidak memikat dia Iner! Aku yang terpikat oleh dia sejak di SMA dulu! Kini dia menyayangiku apa salah kalau aku menerimanya?’
" Ya jelas salah, karena dia bukan yang dulu lagi… Hanya wanita gila yang mau menikah dengan pria beristri!"
" Dia tidak mencintai istrinya, dulu dia dijodohin ma orang tuanya dan dia tuh sudah sayang padaku sejak dulu!"
" Alaahhh…alasan klasik yang basi! Pokoknya tak peduli mau dijohin ma ortu, ma jin sekalipun yang penting dia sudah beristri dan tak pantas jadi suamimu! Bisakah kamu bayangkan perasaan istrinya?"
" Ini dilema Iner! Tak ada satu pun wanita di dunia ini yang mau jadi nomer dua atau tiga. Semua ingin jadi yang utama namun nasib, nasib Iner yang membuat wanita harus rela menjadi nomer dua dan aku telah siap untuk itu, karena itulah cerita ini ada."
" Betul kawan, tapi bukan berarti kita harus menyerah pada nasib! Jangan butakan hatimu oleh sebuah fatamorgana! hari ini hati istrinya yang terluka, besok hatimu dan lusa sejuta wanita akan jadi santapan buayamu itu!"" Dia bukan buaya Iner!"
" Bagus, kebutaan hatimu telah mengubah buaya menjadi domba. Kamu harus tahu ya, bila seorang pria beristri ingin menikahi wanita lain tanpa alasan yang jelas itu berarti bukan lelaki, dia hanya pejantan yang tak pantas dijadikan imam!’
" Tutup mulutmu Iner! kamu sudah terlalu jauh memasuki privacyku, mentang-mentang dapat mandat dari almarhum suamiku untuk mengawasiku!" itu kata-kata terakhir darinya sebelum menghilang dua tahun lalu.
Kemarin..tepat dua puluh empat purnama, dia datang lagi dengan mata sembab, wajah kusam berkata padaku dengan sendu…
" Iner….aku terhempas, aku kandas…Mas Win tinggalkan aku…" tuh kan! Ujung-ujungnya selalu berakhir dengan air mata…Hanung….Hanung..apa yang harus kulakukan untukmu?

hidup seperti juga kematian adalah sebuah kepastian dan kehadirannya given (anugrah). sementara itu menjalani kehidupan adalah sebuah pilihan. sebagai sebuah pilihan, menjalani kehidupan pada dasarnya berangkat dari ketidaktahuan, atau dari pengetahuan yang serba sedikit tentang kehidupan. cara menjalani kehidupan dipelajari sambil dijalani, bukannya dipelajari dalam jeda dari kehidupan dan baru dijalani setelah memahaminya; tidak begitu. Karena itu, bukan hal luar biasa bila TIDAK setiap pilihan yang kita hitung dan pertimbangkan sedemikian matang akan berujung pada kondisi dan hasil yang sesuai dengan perkiraan. Hal itu dikarenakan pijakan-pijakan asumsi yg kita gunakan tentulah tidak benar-benar lengkap, ada banyak hal yang luput dari amatan kita tentang item-item yang mempengaruhi kehidupan kita.
Tidak ada kata salah dan gagal dalam menentukan pilihan, kalau pun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kehidupan seorang individu manusia disadari atau tidak, diterima atu tidak akan selalu memiliki hubungan timbal balik yang sangat erat. Pilihan yang kita ambil, sangat sering kemulusannya ditentukan oleh putuan-putusan mereka dalam memilih jalan hidup yang dijalaninya. Konstruksi TAKDIR dari suatu pilihan yang kita ambil, bagaikan tumpukan bata, dan kita hanya salah satu bata diantara semuanya; bagaikan jalinan sarang laba-laba, dan kita hanya salah satu dari utas temali di dalamnya.
Hal yang unik, pilihan yang sama yang dilakukan oleh orang yang berbeda belum tentu menghasilkan akbibat/hasil yang sama. Ini membuktikan bahwa untuk menentukan tepat atau tidak tepatnya suaptu pilihan tidak bisa begitu saja menggunakan ukuran-ukuran orang lain (bersama), akan tetapi benar-benar harus didasarkan pada kondisi subjektif tiap individu. Advise atau saran orang lain yang masuk dalam pikiran kita hanya bisa digunakan sebagai pertimbangan untuk perbandingan belaka yang tidak memiliki jaminan penuh bahwa advise itu benar-benar cocok dan berlaku untuk kita dan juga yang lain.
Nah, apa yang dialami oleh sahabat téh Reni ini pun demikian. Tak ada nilai kesalahan maupun kegagalan dalam memilih, dia hanya gagal dalam menjalani pilihannya, bukan salah dalam memilih-nya. Dia sudag berhasil menentukan pilihan yg sebenarnya bukan hal mudah untuk mengambil keputusan seperti itu, tp dia berhasil untuk memilih dan meneguhkan pilihannya. Sedangkan kegagalan dalam menjalaninya adalah hal lain, krn hal itu tidak 100% ditentukan oleh dirinya, tapi juga ditentukan oleh yang lain, orang lain dan lingkungannya…
Selamat buat teman teh Reni yang memiliki keberanian tuk menentukan jalan hidupnya..!! Jangan sesalkan apa yang kemudian diperoleh karena hal itu tidak secara mutlak ditentukan oleh putusan/pilihan awal…. ada unsur-unsur luaran yang menentukan hasil akhir dari pilihan itu yang bila kondisinya tdk seperti yang kini terjadi, tentu hasilnya akan berbeda. “Kegagalan” kalau itu harus disebut kegagalan bukan terletak pada pilihannya, akan tetapi pada menjalani pilihannya…
Gibs.
Comment by Ahmad Gibson AB — September 12, 2009 @ 12:13 pm
Menyesali sesuatu yang telah terjadi sama dengan tidak bertanggung jawab pada pilihan hidup yag kita jalani. Memang perlu jiwa besar untuk bisa menerima sesuatu yang terjadi dalam hidup kita.
Comment by renik — October 3, 2009 @ 2:49 am