/>

Semua Tentang Reni

October 31, 2009

TOGETHER…….

Filed under: Curahan Kalbu


“ Ini untukmu Iner!”  seru  Riani  sahabat lamaku , sambil menyerahkan bungkusan yang dari tadi dipegangnya. Riani…Riani, kedatangannya di pagi hari yang tiba-tiba itu, membuat  hatiku mengharu biru..Ia tetap seperti dulu, cantik dan selalu memanggilku dengan nama terbalik. Katanya karena nama kami hampir sama jadi dia lebih suka memanggilku dengan nama  Iner!

“ Alhamdulilah…rupanya rejekiku datang di pagi hari ya…., Eh apa ini?” tanyaku ingin tahu…

“ Bawel amat, buka saja! “ katanya sambil menyeruput  teh tubruk kesukaannya

“ Haahhh, lingerie? Nggak salah nih?”

“ Udaaahhh ambil aja, aku dah capek mikirnya ! Mau dikasihin siapa itu, untung saja aku teringat kamu, ya udah aku kasihkan ke kamu , anggap aja itu hadiah ultahmu “

“ Semprul, jadi diberikan padaku merupakan hasil pemikiran terakhir? Emang aku ini tong sampah , maen lempar aja seenak udelmu!”

“ Pikiranmu tuh bawaannya ngeres aja! Maksudku ngasih itu karena  dari semua temen deket kita, hanya kamu lah yang masih pantas memakainya. Ukuran tubuhmu masih ideal, yang lain dah kayak gulungan kasur semua!”

“ Gila kamu kalau udah ngeledekin orang! Eh.,stelan wajahmu  kok nggak kayak dermawan? Kamu nggak rela ya ngasih ke aku?”

“Bukannya nggak rela tapi aku sebenarnya suka banget sama gaun itu. Kamu masih ingat kan, waktu dulu kita mabal  dari sekolah gara-gara nggak bikin PR matematika? Trus kita jalan-jalan ke Tamblong, keluar masuk  toko yang berjejer sepanjang Jalan Braga. Kita melihat lingerie yang terpasang dengan anggun  di manekin, ingat nggak Ner?”

(Gila, kacau abis nih sahabat pake nyuruh aku  memutar ulang rekaman masa remajaku yang telah usang)

Yup tentu saja  aku ingat…aku ingat…Waktu itu kami  ke luar masuk toko-toko yang ada di Jalan Braga. Lalu berhenti di sebuah counter pakaian dalam wanita. Sehelai lingerie terpasang anggun di tubuh manekin yang cantik. Lingerie, gaun tidur transparan, Riani begitu mengaguminya. Dia belai-belai lingerie itu lalu berbisik padaku “  Ner, kalau aku menikah nanti, aku mau minta dibelikan ini pada suamiku”

“ Alaahhh, pakai nunggu menikah segala, beli aja sekarang!” kataku acuh tak acuh karena ada pemandangan lain yang lebih indah di sudut toko, seseorang berjaket biru  ganteng,sedang berdiri dan melihat kepadaku  dengan senyum di bibirnya. Bagiku itu jauh lebih menarik dari sehelai lingerie.

“ Ah ngapain beli sekarang, mau diperlihatkan sama siapa? Paling Cuma dilihat bantal dan guling! Nggak seru!”

“ Emang harusnya dilihat sama siapa?” kataku polos

“ Dasar Iner bego! Otakmu tuh lelet abis dan kamu jadi perempuan nggak ada romantis-romantisnya!Kamu tahu nggak? Laki-laki  suka pada perempuan yang berpakaian seksi. Kamu bisa bayangkan nggak dalam sinar lampu temaram, di kamar yang wangi, kasur yang empuk. Kita menyambut suami dengan lingerie yang melekat di tubuh kita? Bisa bayangkan nggak Ner?”  ucap Riani setengah berbisik..

“ Oohh, yang kayak di film- film itu yah? Ah sepertinya jauh lebih seru membayangkan Muhamad Ali melawan Inoki!”

“ Udah ah, nggak guna ngomong sama kamu. Pokoknya  suatu hari nanti aku harus memiliki lingerie itu!”

Lamunanku pun buyar sampai di situ karena tersapu oleh derai tawa kami yang mengingat lembar kenangan masa remaja yang terindah. Ah dalam urusan selera, aku dan dia memang tidak pernah nyambung tapi kami tetap bersahabat.

“ Puluhan tahun aku memimpikan lingerie itu tapi baru bulan kemarin aku mendapatkannya. Itu pun aku memaksa beli karena dapat gaji ke tiga belas. Ya..mumpung ada sedikit sisa uang.. Ner”

“ Lho..dulu kamu bilang mau minta ma suami, kok jadinya beli sendiri?”

“Ha..ha..ha…itulah masalahnya…aku ternyata ga berani minta itu pada suami, dia itu terlalu selektif dalam membelanjakan uangnya, dari pada sakit hati ditolak ya lebih baik nunggu dia ngerti tapi ternyata sampai aku setua ini dia belum ngerti juga kalau aku sangat menginginkan gaun itu! Ya udah beli aja pakai uang sendiri!”

“ Trus…saat kamu memilikinya..kenapa dikasih ke aku? “

“ Aku kecewa  pada reaksi suamiku waktu kupakai gaun itu…” wajah Riani terlihat sedih…

“ Apa katanya? “ tiba-tiba saja sebuah perasaan kesal  pada suaminya muncul dihatiku

“ Pakaian macam apa itu Ma? Nggak takut kalau asmamu kambuh lagi?” Itu kata suamiku..Ner.

“ Owalaahh…suamimu kok tega banget ngomong gitu…kenapa dia sejahat itu Rian?”

“ Tidak Ner, dia tidak jahat dia mengatakan semua itu dengan sorot mata penuh kekhawatiran, dia sangat sayang padaku. Memang benar asmaku sering kambuh sekarang, apalagi bila cuaca dingin, ah nasibku emang tragis banget.., mau tampil romantis di ultah pernikahan eh malah … takut asmaku kambuh…Ya udah..kulupakan saja lingerie itu.., makanya rawat dia baik-baik ya Ner! Itu bukan bekas lho..lihat aja merk dan harganya masih nempel…” ucap Riani sambil tertawa manis  sekali, diciumnya pipiku..lalu pamit pulang……Ner, kamu pasti cantik pakai lingerie itu..jangan lupa cerita padaku ya..apa reaksi suamimu…Ok..happy week end!”

Dunia memang aneh! Aku tidak pernah memimpikan lingerie ternyata datang sendiri, bingung jadinya harus diapakan? Tidak dipakai berarti aku tidak menghargai pemberian teman, dipakai..aku tak biasa dengan gaun tidur seperti itu..lagi pula pantaskah aku memakainya? Ih jadi pikiran juga akhirnya….

Pukul 9 malam suami dan anak-anak masih asyik nonton TV. Aku sibuk sendiri di kamarku, membersihkan wajah, menyikat rambut dan mengoles lotion ke tubuhku lalu kucoba lingerie itu..tentu saja dengan kecemasan luar biasa. Lagu Alda seakan berkumandang   di kepalaku …Aku tak biasa…

Satu jam kemudian kudengar langkah suami menuju kamar..Duh apa yang akan dikatakannya ya…, Ya Tuhan kuatkan hatiku untuk menerima semua komentarnya yang mungkin saja akan melukai hatiku karena aku tak biasa……

Klik! Handel pintu ditekan , pintu  kamar pun terbuka. Suamiku berdiri disana, menatap bengong padaku, kucoba untuk tenang dan tersenyum semanis mungkin…….menanti  reaksi apa selanjutnya yang akan dia lakukan…

“ Kamu tidur dengan pakaian seperti itu?….Nanti malaikat rahmat tak akan datang ke kamar kita… dan tanpa itu pun..kamu  sudah cantik kok…”

GUBRAK! BENAR KATA RIANI KALAU DUNIA INI PENUH DENGAN PARA SUAMI YANG TIDAK MAU MENGERTI…………………………

 

October 29, 2009

HAI GADIS….

Filed under: Curahan Kalbu


Hai gadis anakku ayu…bahagianya seumurmu

Kau cantik lincah dan lugu, senyum tawa menangispun engkau lucu

Hai gadis kau pasti tau, dilambangkan kuncup bunga

Dan nanti di suatu masa bunga mekar indah…….

Sudah kah kau siap siaga, membekali diri dan berkarya..

Kelak engkau kan jadi wanita dan  kau butuh kawan pria……

Lagu itu untukmu gadis…dan aku mendengarkannya sambil asyik menyaksikan tayangan dialog interaktif di sebuah TV swasta dengan tema acara  ‘ Selaput Dara Buatan ‘. Acara itu lebih menarik lagi karena ada nara sumber, seorang dokter idola yaitu Dr. Boyke Adam. Dokter cerdas yang gaul abis…

Eiitt…jangan salah, yang akan kita bahas di sini bukan tentang dokternya yang macho itu tapi pandangan Pak Dokter tentang maraknya penjualan selaput dara buatan yang akhir-akhir ini banyak beredar di internet! Konon laku keras bak cireng isi keju yang dijual Bu Ahmad di kantin sekolah kita itu lho!

Dengan harga Rp.700 ribu per paket, si pembeli harus rela ‘waiting liss’ selama satu atau dua bulan untuk bisa mendapatkannya, itu karena peminatnya yang membludak..Wualaahh….Pak Boyke benar-benar merasa prihatin dengan kondisi itu. Secara medis Pak Dokter berasumsi kalau penjualan selaput dara buatan secara illegal dikhawatirkan akan menambah maraknya sex bebas di kalangan remaja sehingga penyakit kanker servix, HIV dan Aids akan lebih susah dikendalikan! Ngeri juga ya…

Gadis, selama ini kita hanya mendengar kalau operasi selaput dara itu hanya bisa dilakukan oleh dokter untuk hal-hal yang bisa dipertanggungjawabkan. Salah satu di antaranya adalah akibat perkosaan. Lalu apa itu selaput dara? Menurut Pak Dokter selaput dara itu semacam lapisan tipis yang ada di dalam ‘miss virgin’  bersifat elastis namun ada juga yang rapuh dan robek  bila terkena benturan atau tekanan benda keras. Selaput dara sering dijadikan ukuran kesucian seorang gadis. Bahkan jaman dahulu di negri Cina, setiap malam pertama pasangan pengantin ,selalu disaksikan oleh orang tua si pengantin pria. Mereka ingin tau kalau menantunya itu, masih gadis atau tidak? Lalu apa cirinya kalau masih gadis? Tandanya akan terlihat bercak darah warna merah muda di sprei.(Padahal itu nggak selalu )

Kini malah muncul selaput dara buatan dan siapapun bisa mendapatkannya dengan bebas yang penting ada uang! Membludaknya pembeli  menjadi bukti betapa banyaknya para gadis yang sudah tak gadis lagi. Duuhh… jadi teringat sebuah survei tahun 2006 yang dilakukan pada sebuah SMA disebuah kota kecil di Pulau Jawa. Hasilnya 3 dari 5 siswi sudah tidak gadis lagi. Itu di kota kecil, bagaimana dikota besar ya…Lebih sedih lagi baru-baru ini ada survey bagi  siswi SMP dan SMA, hasilnya 2 dari 3 siswi SMP sudah tidak gadis lagi dan  3 dari 5 siswi SMA sudah pernah menggugurkan kandungan. Itu baru di SMP dan SMA, bagaimana dengan perguruan tinggi?

O..Gadis, kalau sudah begitu apalagi yang bisa kaubanggakan? Mengapa bisa terjadi seperti itu? Ada apa denganmu? Mengapa kau rela menggadaikan kesucian hanya demi cinta yang semu atau gemerlapnya dunia?

Ini Indonesia sayang, bukan Amerika! Memang benar sebagian orang yang sok moderen banyak yang beranggapan free sex adalah masalah biasa di era globalisasi ini. Bahkan mereka menyebutnya sebagai hak azasi manusia, apabila dilakukan atas dasar suka sama suka. Audzubilahimindzalik….

Silakan mereka berpendapat begitu, itu hak mereka tapi kita tetaplah dengan jati diri kita sebagai bagian dari bangsa yang berbudaya dan beretika.Memang saat ini peluang untuk berbuat maksiat semakin terbuka lebar di hadapanmu. Sex telah dieksploitasi sebebas-bebasnya di berbagai media, banyak pula yang terang-terangan menawarkan dirinya bahkan diantarkan ke depanmu melalui ponsel atau media elektronik lainnya. Semua itu diperparah lagi dengan sikap masyarakat, guru bahkan orang tua yang tak peduli karena tidak mau ikut campur urusan orang lain!

Gadisku… sayang! Semoga kau bukan bagian dari mereka yang tidak peduli lagi pada moral, etika dan ahlak. Zaman boleh berubah, masa boleh bertukar dan waktupun boleh berganti tapi kehormatan diri sampai kapan pun harus tetap dijunjung tinggi. Ingatlah kata Tuhanmu ‘ Dan janganlah kau dekati zina sesungguhnya zina adalah perbuatan yang keji dan suatu cara yang buruk ( Al-Isra 32 )

Gadis, selaput dara yang terjaga bukanlah ciri virginitas semata tapi lebih jauh dari itu adalah sebagai lambang kesucian yang menunjukkan betapa luhurnya budimu.Betapa mulianya ahlakmu. Jangan main-main dengan yang satu itu! Ingatlah kata pepatah, sekali pria ternoda dunia masih bisa tertawa tapi sekali wanita ternoda, dunia menangis sepanjang masa. Pria bisa melakukan apa pun tanpa cinta… namun umumnya  wanita menyerahkan segalanya karena cinta! Jelas ujung-ujungnya wanita yang dirugikan!

Untuk itu kita tidak perlu takut dikatakan kuper atau ditinggalkan  sang pacar hanya karena kita bertahan pada norma dan agama. Biarkan orang mau ngomong apa sampai mulutnya berbusa, yang penting ingatlah janji Allah untukmu “ laki-laki baik-baik untuk wanita baik-baik dan laki-laki pezina untuk wanita pezina..

Gadis, suatu saat nanti akan datang kepadamu seseorang yang layak dan halal bagimu.Dialah laki-laki pilihan yang Allah ciptakan untukmu, hanya untukmu, khusus untukmu!

 

Hai gadis hidup ini indah, cari ilmu pantang lelah..

Yang pasti hormati dirimu agar pria lebih hormat padamu

Gadis hai gadis hidup ini indah…Gadis hai gadis  engkau lebih indah…..

October 21, 2009

MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT???

Filed under: Curahan Kalbu


Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.


Sebuah perenungan, Buat para suami baca ya……… istri & calon istri juga boleh…

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata "Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. .. bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu".

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2 "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian"..

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2nya."Anak2ku ………… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah….. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian..
Sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun..

Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak
yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.."
Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno….dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita."Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya.
Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"

Artikel kiriman dari seorang teman….

__._,_.___


October 3, 2009

UJANG GEMBOL

Filed under: Curahan Kalbu

   Entah bagaimana awalnya dia disebut Ujang Gembol, mungkin karena ke mana-mana selalu membawa “gembolan “. Badannya agak gemuk dan sedikit bungkuk, tubuhnya kotor tak pernah berbaju . Usianya kira-kira 30 tahunan. Tatapan matanya kosong, rambutnya hitam sedikit ikal tapi tidak gimbal dan tentu saja pikirannya tak waras! Setiap hari dia bergelandang keliling rumah tetangga atau pos ronda. Kadang ada di halaman kantor kelurahan, lain waktu di depan kantor kecamatan dan akhir-akhir ini senang tidur di teras rumahku tepatnya di bawah jendela kamarku!

Suamiku sering jengkel bila melihat Si Ujang Gembol tidur di teras rumah. Biasanya yang diomel anak-anak karena mereka sering lupa menutup pintu gerbang rumah. Hal itu membuat Si ujang leluasa masuk Dia memang tidak berbahaya karena belum pernah mengamuk hanya tidak enak dilihat saja kalau dia sudah tidur di teras karena selain tidur dia juga sering mengeluarkan semua isi gembolannya lalu dijejerkan di teras. Jelas hal itu sangat merusak pemandangan. Kalau sudah begitu sangat sulit untuk diusir kecuali kita bisa membujuknya dengan uang dan makanan.

Lucunya, yang bisa membujuk hanya aku. Bila dia ada biasanya terdengar bunyi krasak-kresek, kubuka jendela kamar langsung kepala Si ujang terlihat, matanya tajam memandangku lalu tersenyum dan ketika kututup lagi jendela , dia berdesis seperti ular.Hanya itu saja yang dia lakukan. Aku pun keluar sambil membawa uang ribuan dan makanan lalu kuberikan padanya sambil berkata “ Jang, jangan tidur disini ya..ni ambil uang dan nasi, makan nya di pos ronda aja ya?” Tanpa bicara dia mengambilnya kemudian pergi sambil membawa gembolan.

Hari-hari sibuk menjelang lebaran membuat seisi rumah terlibat pada persiapan lebaran. Si sulung dan nomer dua bertugas membersihkan rumah, Si Bungsu membuat kue, suami menyerpis dan tune up mobil kemudian mengurus para muzaki di masjid. Aku sendiri memasak masakan special lebaran yaitu ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang, tumis cabai hijau, goreng emping dan semur daging bumbu kecap. Satu hari menjelang hari fitri tiba, semua sudah beres. Rumah sudah rapi, kue-kue lezat buatan Si Bungsu sudah tertata di toples. Masakan pun tinggal disajikan.

Gladiol putih berpadu dengan krisan mungil putih dan melati sudah kurangkai sebagai hiasan meja yang indah. Selamat datang hari kemenangan bisikku,….namun anakku berteriak dari luar…

“ Eiiiittttt…belum siap Ma, satu lagi yang harus dirapikan ! “ kata Si Bungsu

“ Apa? “

“ Si Ujang Gembol! Tuh lihat dari siang tadi dia tidur di bawah jendela kamar mama, kalau Si Papap tahu pasti kita semua diomeli lagi!”

Cepat kubuka jendela kamarku, benar saja dia sudah ada lagi di sana. Aku segera keluar sambil membawa uang dan makanan. Kuhampiri dia yang sedang asyik membuka gembolannya. Ada sendok piring, botol-botol, sikat gigi dan banyak lagi. Namun ada yang menarik hatiku, dia menimang-nimang baju dan sarung baru yang masih terbungkus plastik transparan. Ditatap dan dielus-elusnya dua barang itu. Aku tidak tahu dari siapa dia mendapatkan dua barang itu.

“ Waahh..Ujang lebaran juga ya, bagus sekali baju dan sarungnya, sekarang pulang ya mandi dulu. Nih ambil uang dan makanannya” sapaku sambil mendekatinya Aneh! Kali ini dia tidak mau mendengarnya. Dia asyik dengan sarung dan baju baru nya. Uang dan makanan yang kuberikan dilemparkannya. Ini tak biasa! Kucoba membujuknya tapi tetap dia tak mau pergi. Mendengar aku membujuk-bujuk Si Ujang, ayahku yang kebetulan berada di ruang baca pun keluar. Langsung menghampiri dan menghardik Si Ujang agar pergi tapi cepat kucegah, aku tak tega bila dia dibentak-bentak.

“ Sepertinya dia tidak gila Ni, dia hanya stress saja “ kata ayahku

“ Ah ayah sok tahu, emang ayah kenal dia? “

“ Ya iya, semua orang sini tahu dia. Dia kan tetangga kita dulu waktu rumah kita di depan, di jendral Sudirman. Kamu masih ingat Bi Uni dan Mang Uken yang rumahnya di belakang rumah kita? Nah..Si Ujang itu anak mereka!”

Kata-kata ayahku membuatku bagai disengat kalajengking. Bagaimana tidak, aku tak menyangka kalau Si ujang itu anaknya Bi Uni. Ah siapa yang tidak kenal Bi Uni. Dia wanita perkasa yang dengan gigih memperjuangkan hidupnya dengan kerja pontang panting sementara suaminya Mang Uken kerja sebagai kuli angkut kadang jadi kenek angkot . Bi Uni pun kadang di suruh mami bantu-bantu di rumah kalau kebetulan Si Mbok pembantu rumah sedang pulang kampung. Ya Alloh, masih hangat dalam ingatan, Bi Uni yang sekian lama tidak punya anak begitu suka citanya ketika dia melahirkan Si Ujang. Makin hari Si Ujang makin besar, Bi Uni dan mang Uken memanjakannya dengan segenap kasih sayang, aku sering melihat keduanya menimang anak itu dengan penuh kebahagiaan, terutama Bi Uni yang sangat memanjakan anak semata wayangnya itu.

Si Ujang langsung dikenal dengan sebutan Ujang Bi Uni. Ah aku masih ingat ketika usia nya 7 tahun Bi Uni menyekolahkannya di SD terdekat. Dia bercerita padaku kalau Si Ujang sangat pintar di kelasnya. Dia pun dengan suka cita menerima kue, susu dan pakaian bekas adikku serta buku-buku yang kuberikan untuk Si Ujang. Aku pun masih ingat apa yang dikatakan Bi Uni padaku, “ Neng Ren, doakan Si Ujang ya agar sudah besar nanti bisa sekolah di sekolah guru seperti Eneng, dan kelak dapat istri cantik yang sayang pada Bibi dan Mang Uken , Bibi dan Mang Uken kan sebatang kara jadi harapan Bibi hanya Si Ujang…” Aku hanya mengangguk.

Seiring waktu, aku pun membawa nasibku dan kini setelah berpuluh tahun berlalu aku dipertemukan kembali dengan Si ujang sudah dalam kondisi seperti ini.

“ Jang..Ujang…ini Teh Reni, masih ingat nggak Jang? Dulu kamu sering kuajak main layangan masih ingat nggak? Di Mana Bi Uni dan mang Uken sekarang Jang? Kataku tak sadar kalau Si Ujang bukan Ujang yang dulu!

“ Keduanya sudah meninggal beberapa tahun lalu Ni, sejak kedua orang tuanya meninggal itu lah Si Ujang jadi begini. Dia stress berat kehilangan kedua orang tuanya mungkin tak ada tempat baginya untuk berlindung. Makanya benar kata Rosul kita, jangan meninggalkan keturunan yang lemah dan buta pada agama dan jangan sekali-kali memanjakan anak.” Ayahku menjawab panjang lebar, sementara Si Ujang asyik saja dengan sarung dan baju barunya.

Kupandangi wajahnya, dia reflek memandangku..iya baru kini aku memandangnya dengan jelas dari jarak yang begitu dekat hanya sekitar setengah meter, aku tak sadar kalau dia tak waras. Ah matanya, mulutnya, hidungnya, keningnya adalah milik Bi Uni . Rambut ikalnya milik Mang Uken, aku seolah melihat lukisan keduanya tergambar kembali di wajah Si Ujang Gembol.

“ Jang, Bi Uni pasti senang kalau besok ujang pakai baju dan sarung itu. Sekarang pulang ya..tuh ambil kembali uang dan makanannya” kataku dengan lemah-lembut.

Ujang menggaruk-garuk kepalanya lalu menunduk membereskan semua barang yang dikeluarkannya dan memasukkannya dalam gembolan, termasuk uang dan makanan pemberianku yang tadi dilemparkannya. Mulutnya tak henti mendesis seperti ular….Dia pun berdiri dan melangkah pergi.

“ Minal aidzin wal faidzin Jang…..gumamku dalam hati sambil menyeka air mata yang tanpa permisi mengalir di pipi. Aku seolah melihat sosok Bi Uni, berdiri dengan air mata berlinang pula….

October 2, 2009

AKU BUKAN PENULIS

Filed under: Curahan Kalbu

Hidup ini terlalu indah , sayang kalau harus kulewatkan begitu saja. Susah senang, sedih gembira, bahagia kecewa semua silih berganti menghiasi hidupku yang penuh warna. Kadang senyum menghiasi bibirku tapi tak jarang pula air mata membasahi pipiku…Ya Rab..betapa indahnya dinamika hidupku. Untuk itulah tak cukup hanya dengan kamera kurekam semuanya tapi akan lebih bermakna kalau semua kuabadikan dalam bentuk tulisan. Yup..aku harus menulis semua yang terjadi dalam hidupku sebelum tangan ini susah untuk digerakkan, sebelum pikiran ini beku untuk dikemukakan,aku harus menulis …menulis dan menulis….

Seorang teman pernah berkata padaku: “ Jangan sembarangan memosting tulisan di media yang banyak dibaca orang, kita harus memerhatikan kualitas tulisan kita baik dari segi struktur bahasa maupun diksinya.” Wuaahh…..sampai hari ini saran temanku itu tak pernah kudengar…Ha..ha..ha.. seandainya aku mendengar apa yang dia katakan, aku yakin tak satupun tulisanku yang akan jadi. Yup sebab kalau berbicara masalah kualitas…jujur saja aku bisa kalah sebelum berperang! Betapa banyak penulis handal yang bertebaran di media masa, aku hanyalah butir pasir di lautan…bisa-bisa aku mati karena minder! Makanya aku tidak peduli tulisanku bagus atau tidak yang penting aku harus menulis dan menulis.

Sejak kapan aku suka menulis? Wah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab sebab aku sendiri pun tak tahu sejak kapan aku suka menulis. Hanya ada satu peristiwa dalam hidupku ketika aku mengikuti ujian akhir SPG ( setingkat SMA ) waktu itu ada ujian menulis dalam bentuk essay dan karangan fiksi. Aku yang sama sekali tidak menyukai pelajaran bahasa Indonesia jelas kelabakan. Badanku panas dingin ketika tahu teman-teman hampir selesai menulis, sementara aku belum satu kalimat pun kutulis.

Waktu tinggal sepuluh menit lagi, pengawas mengancamku kalau aku masih meminta kertas folio lagi maka aku akan dinyatakan gagal. Di bawah mejaku berserakan kertas folio yang sudah kuremas-remas. Aku ingin menangis karena putus asa, akhirnya seluruh keputus asaan dan kekesalanku pada pengawas sialan itu kutumpahkan pada tulisan. Sepuluh menit waktuku untuk menulis dan aku sendiri tidak percaya kalau curahan kekesalanku itu sampai dua lembar folio. Selanjutnya tanpa dibaca kembali tulisan itu kukumpulkan.

Sebulan kemudian Bu Mien guruku memanggilku lalu menyerahkan sebuah majalah remaja dan selembar wesel pos. Aku bingung, ternyata Bu Mien menganggap tulisan yang kubuat waktu ujian itu, bagus lalu dikirimnya ke redaksi majalah remaja dan di muat, honornya lumayan bisa nraktir teman sebanyak sepuluh orang. Wah tak terkirakan senangnya hatiku waktu itu….serasa jadi selebritis ketika melihat namaku tertulis di majalah remaja terkenal saat itu…sejak itu aku jadi suka menulis diary..

Kebiasaan menulis diary terbawa sampai kuliah apalagi waktu dii kampus ada dua dosen idola yang sangat kukagumi. Prof. DR. Henry Guntur Tarigan dan Prof. DR. Ahmad Slamet, keduanya dosen membaca yang aktif juga sebagai penulis buku. Aku kagum pada Pak Henry, daya bacanya hebat sekali, salah satu gayanya yang kusuka adalah bila berjalan selalu sambil membaca Bibel, kitab sucinya. Aku sering berbincang dengannya dan ada kata-kata nya yang selalu kuingat “ Ren! Tunjukkan padaku lemari bukumu, baru aku tahu siapa kamu!”.

Lain Pak Tarigan lain pula Pak Slamet, kata teman-teman di kampus aku adalah anak kesayangan Pak Slamet..(he..he..he..biasa pada ngiri) Aku sendiri tidak merasakan hal itu namun aku memang dekat dengan beliau karena beliau seorang dosen senior yang sangat kaya dengan ilmu. Beliau cerdas , ramah dan sangat sederhana. Beliau selalu berkata begini padaku “ Jangan pernah mengaku sebagai mahasiswaku kalau belum ada satu pun karyamu dalam bentuk buku!” Wah…kata-kata dua dosen itu selalu memicuku untuk bisa menulis dan rajin membaca. Sampai pada akhirnya kegiatan menulis dan membaca tidak bisa lepas dari hidupku .

Menulis bagiku adalah ungkapan rasa dan jiwa yang ingin kusalurkan sebagai pengobat lara atau hati yang gundah, jadi sama sekali tidak ada niatan ingin terkenal, dapat duit banyak atau sok narsis. Memang ada tiga bukuku yang telah terbit dan beberapa tulisanku yang dimuat dibeberapa media masa namun itu sebetulnya hanya kebetulan saja, kebetulan ada orang yang suka pada tulisanku dan ingin menerbitkannya. Seperti saat ini aku sedang menyelesaikan garapan novelku yang berjudul “ Senandung Cinta Buat Arini “ sebuah novel munggaranku yang tak kunjung beres karena aku bingung menentukan endingnya…he..he..he…malum sang sumber inpirasinya entah kabur ke mana…tergeser oleh kesibukanku membuat PTK( Penelitian Tindakan Kelas )…yang juga tak kunjung selesai…wuiihh….kok sulit ya kalau menulis diwajibkan seperti itu….

Yah…jadi jelas kalau aku bukan penulis…Aku hanyalah seorang guru Bahasa Indonesia yang senang menulis….dengan obyek yang kutulis adalah apa yang kulihat, kualami, kuamati, kukerjakan atau kurasakan.Itu bisa dalam bentuk essay, prosa atau puisi….maka dari itu mohon maaf pada teman-teman pembaca bila tulisanku hanyalah sebuah catatan pengganggu saja…he..he..he…walau begitu terimakasih kepada semua teman yang selalu mengomentari tulisanku semoga Allo S.W.T memberikan pahala yang berlipat ganda karena membaca dan menilai serta mengomentari tulisan seseorang ,menurutku termasuk bagian dari ibadah pula….he..he..he….sok tahu.. ya…, Ok..selamat membaca semua tulisanku…..

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com