/>

Semua Tentang Reni

October 2, 2009

AKU BUKAN PENULIS

Filed under: Curahan Kalbu

Hidup ini terlalu indah , sayang kalau harus kulewatkan begitu saja. Susah senang, sedih gembira, bahagia kecewa semua silih berganti menghiasi hidupku yang penuh warna. Kadang senyum menghiasi bibirku tapi tak jarang pula air mata membasahi pipiku…Ya Rab..betapa indahnya dinamika hidupku. Untuk itulah tak cukup hanya dengan kamera kurekam semuanya tapi akan lebih bermakna kalau semua kuabadikan dalam bentuk tulisan. Yup..aku harus menulis semua yang terjadi dalam hidupku sebelum tangan ini susah untuk digerakkan, sebelum pikiran ini beku untuk dikemukakan,aku harus menulis …menulis dan menulis….

Seorang teman pernah berkata padaku: “ Jangan sembarangan memosting tulisan di media yang banyak dibaca orang, kita harus memerhatikan kualitas tulisan kita baik dari segi struktur bahasa maupun diksinya.” Wuaahh…..sampai hari ini saran temanku itu tak pernah kudengar…Ha..ha..ha.. seandainya aku mendengar apa yang dia katakan, aku yakin tak satupun tulisanku yang akan jadi. Yup sebab kalau berbicara masalah kualitas…jujur saja aku bisa kalah sebelum berperang! Betapa banyak penulis handal yang bertebaran di media masa, aku hanyalah butir pasir di lautan…bisa-bisa aku mati karena minder! Makanya aku tidak peduli tulisanku bagus atau tidak yang penting aku harus menulis dan menulis.

Sejak kapan aku suka menulis? Wah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab sebab aku sendiri pun tak tahu sejak kapan aku suka menulis. Hanya ada satu peristiwa dalam hidupku ketika aku mengikuti ujian akhir SPG ( setingkat SMA ) waktu itu ada ujian menulis dalam bentuk essay dan karangan fiksi. Aku yang sama sekali tidak menyukai pelajaran bahasa Indonesia jelas kelabakan. Badanku panas dingin ketika tahu teman-teman hampir selesai menulis, sementara aku belum satu kalimat pun kutulis.

Waktu tinggal sepuluh menit lagi, pengawas mengancamku kalau aku masih meminta kertas folio lagi maka aku akan dinyatakan gagal. Di bawah mejaku berserakan kertas folio yang sudah kuremas-remas. Aku ingin menangis karena putus asa, akhirnya seluruh keputus asaan dan kekesalanku pada pengawas sialan itu kutumpahkan pada tulisan. Sepuluh menit waktuku untuk menulis dan aku sendiri tidak percaya kalau curahan kekesalanku itu sampai dua lembar folio. Selanjutnya tanpa dibaca kembali tulisan itu kukumpulkan.

Sebulan kemudian Bu Mien guruku memanggilku lalu menyerahkan sebuah majalah remaja dan selembar wesel pos. Aku bingung, ternyata Bu Mien menganggap tulisan yang kubuat waktu ujian itu, bagus lalu dikirimnya ke redaksi majalah remaja dan di muat, honornya lumayan bisa nraktir teman sebanyak sepuluh orang. Wah tak terkirakan senangnya hatiku waktu itu….serasa jadi selebritis ketika melihat namaku tertulis di majalah remaja terkenal saat itu…sejak itu aku jadi suka menulis diary..

Kebiasaan menulis diary terbawa sampai kuliah apalagi waktu dii kampus ada dua dosen idola yang sangat kukagumi. Prof. DR. Henry Guntur Tarigan dan Prof. DR. Ahmad Slamet, keduanya dosen membaca yang aktif juga sebagai penulis buku. Aku kagum pada Pak Henry, daya bacanya hebat sekali, salah satu gayanya yang kusuka adalah bila berjalan selalu sambil membaca Bibel, kitab sucinya. Aku sering berbincang dengannya dan ada kata-kata nya yang selalu kuingat “ Ren! Tunjukkan padaku lemari bukumu, baru aku tahu siapa kamu!”.

Lain Pak Tarigan lain pula Pak Slamet, kata teman-teman di kampus aku adalah anak kesayangan Pak Slamet..(he..he..he..biasa pada ngiri) Aku sendiri tidak merasakan hal itu namun aku memang dekat dengan beliau karena beliau seorang dosen senior yang sangat kaya dengan ilmu. Beliau cerdas , ramah dan sangat sederhana. Beliau selalu berkata begini padaku “ Jangan pernah mengaku sebagai mahasiswaku kalau belum ada satu pun karyamu dalam bentuk buku!” Wah…kata-kata dua dosen itu selalu memicuku untuk bisa menulis dan rajin membaca. Sampai pada akhirnya kegiatan menulis dan membaca tidak bisa lepas dari hidupku .

Menulis bagiku adalah ungkapan rasa dan jiwa yang ingin kusalurkan sebagai pengobat lara atau hati yang gundah, jadi sama sekali tidak ada niatan ingin terkenal, dapat duit banyak atau sok narsis. Memang ada tiga bukuku yang telah terbit dan beberapa tulisanku yang dimuat dibeberapa media masa namun itu sebetulnya hanya kebetulan saja, kebetulan ada orang yang suka pada tulisanku dan ingin menerbitkannya. Seperti saat ini aku sedang menyelesaikan garapan novelku yang berjudul “ Senandung Cinta Buat Arini “ sebuah novel munggaranku yang tak kunjung beres karena aku bingung menentukan endingnya…he..he..he…malum sang sumber inpirasinya entah kabur ke mana…tergeser oleh kesibukanku membuat PTK( Penelitian Tindakan Kelas )…yang juga tak kunjung selesai…wuiihh….kok sulit ya kalau menulis diwajibkan seperti itu….

Yah…jadi jelas kalau aku bukan penulis…Aku hanyalah seorang guru Bahasa Indonesia yang senang menulis….dengan obyek yang kutulis adalah apa yang kulihat, kualami, kuamati, kukerjakan atau kurasakan.Itu bisa dalam bentuk essay, prosa atau puisi….maka dari itu mohon maaf pada teman-teman pembaca bila tulisanku hanyalah sebuah catatan pengganggu saja…he..he..he…walau begitu terimakasih kepada semua teman yang selalu mengomentari tulisanku semoga Allo S.W.T memberikan pahala yang berlipat ganda karena membaca dan menilai serta mengomentari tulisan seseorang ,menurutku termasuk bagian dari ibadah pula….he..he..he….sok tahu.. ya…, Ok..selamat membaca semua tulisanku…..

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://renik.blogsome.com/2009/10/02/aku-bukan-penulis/trackback/

  1. Yah guru pasti selalu bagus atuh apalagi guru bhs indonessia….saya mah buta sekali dalam menulis…pernah kau katakan padaku kalau nggak mau cepet pikun harus banyak membaca dan menulis, membaca sih seneng2 juga tapi menulis atau mengarang maah dari dulu juga nggak bisa…

    Comment by si uwa — October 2, 2009 @ 12:18 pm

  2. Terimakasih, semua orang bisa menulis Wa, asal ada kemauan..jadi yang tepat bukan nggak bisa namun belum bisa…karena belum terbiasa….bisa dicoba kan?

    Comment by renik — October 3, 2009 @ 2:58 am

  3. mambaca dan menulis tak lain dari cara, yang satu cara untuk mendengar sedang yang satunya lagi cara untuk bicara. diantara keduanya ada satu cara lagi, yaitu melihat. dengan melihat apa yang kita dengat akan tampak menjadi lebih lengkap, hidup dan penuh warna warni. mendengar adalah perumpamaan bagi membaca; bicara adalah perumpamaan bagi menulis; dan melihat adalah perumpamaan bagi berpikir, melakukan hipotesa dan analisa.
    untuk menulis, tidak cukup hanya membaca; seperti juga untuk menulis tidak cukup hanya membaca; untuk menulis kita harus melihat, harus melakukan hipotesa dan analisa. dengan berpikir kita akan mampu menciptakan bentuk lain, kenyataan lain, makna lain; dan itulah yang perlu kita tuliskan, bukan sekedar menggambarkan/mencerikatakan apa yang kita dengar, akan tetapi memaparkan bentuk-bentuk baru, kenyataan baru, dan makna-makna baru. orang menyebut, disitulah orisinalitas ditemukan…. orisinalitas pikiran yang akan melahirkan tulisan yang orisinil ketika dituliskan…
    punten ahhh… nyanyahoanan……
    hihihihhih…. punteeennnn….

    Comment by Ahmad Gibson — October 8, 2009 @ 4:29 pm

  4. Wuuaahhh….benar sekali…menulis itu memerlukan kinerja panca indra yang bersinergi antara satu dengan yang lainnya bahkan mungkin dengan indra keenam juga ya..he..he..he..itu sih buat seorang penulis handal kan aku bukan penulis Kang, aku hanya seorang yang senang menulis…he..he..he..terimakasih opininya bagus sekali…

    Comment by reni — October 17, 2009 @ 1:47 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com