/>

Semua Tentang Reni

October 3, 2009

UJANG GEMBOL

Filed under: Curahan Kalbu

   Entah bagaimana awalnya dia disebut Ujang Gembol, mungkin karena ke mana-mana selalu membawa “gembolan “. Badannya agak gemuk dan sedikit bungkuk, tubuhnya kotor tak pernah berbaju . Usianya kira-kira 30 tahunan. Tatapan matanya kosong, rambutnya hitam sedikit ikal tapi tidak gimbal dan tentu saja pikirannya tak waras! Setiap hari dia bergelandang keliling rumah tetangga atau pos ronda. Kadang ada di halaman kantor kelurahan, lain waktu di depan kantor kecamatan dan akhir-akhir ini senang tidur di teras rumahku tepatnya di bawah jendela kamarku!

Suamiku sering jengkel bila melihat Si Ujang Gembol tidur di teras rumah. Biasanya yang diomel anak-anak karena mereka sering lupa menutup pintu gerbang rumah. Hal itu membuat Si ujang leluasa masuk Dia memang tidak berbahaya karena belum pernah mengamuk hanya tidak enak dilihat saja kalau dia sudah tidur di teras karena selain tidur dia juga sering mengeluarkan semua isi gembolannya lalu dijejerkan di teras. Jelas hal itu sangat merusak pemandangan. Kalau sudah begitu sangat sulit untuk diusir kecuali kita bisa membujuknya dengan uang dan makanan.

Lucunya, yang bisa membujuk hanya aku. Bila dia ada biasanya terdengar bunyi krasak-kresek, kubuka jendela kamar langsung kepala Si ujang terlihat, matanya tajam memandangku lalu tersenyum dan ketika kututup lagi jendela , dia berdesis seperti ular.Hanya itu saja yang dia lakukan. Aku pun keluar sambil membawa uang ribuan dan makanan lalu kuberikan padanya sambil berkata “ Jang, jangan tidur disini ya..ni ambil uang dan nasi, makan nya di pos ronda aja ya?” Tanpa bicara dia mengambilnya kemudian pergi sambil membawa gembolan.

Hari-hari sibuk menjelang lebaran membuat seisi rumah terlibat pada persiapan lebaran. Si sulung dan nomer dua bertugas membersihkan rumah, Si Bungsu membuat kue, suami menyerpis dan tune up mobil kemudian mengurus para muzaki di masjid. Aku sendiri memasak masakan special lebaran yaitu ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang, tumis cabai hijau, goreng emping dan semur daging bumbu kecap. Satu hari menjelang hari fitri tiba, semua sudah beres. Rumah sudah rapi, kue-kue lezat buatan Si Bungsu sudah tertata di toples. Masakan pun tinggal disajikan.

Gladiol putih berpadu dengan krisan mungil putih dan melati sudah kurangkai sebagai hiasan meja yang indah. Selamat datang hari kemenangan bisikku,….namun anakku berteriak dari luar…

“ Eiiiittttt…belum siap Ma, satu lagi yang harus dirapikan ! “ kata Si Bungsu

“ Apa? “

“ Si Ujang Gembol! Tuh lihat dari siang tadi dia tidur di bawah jendela kamar mama, kalau Si Papap tahu pasti kita semua diomeli lagi!”

Cepat kubuka jendela kamarku, benar saja dia sudah ada lagi di sana. Aku segera keluar sambil membawa uang dan makanan. Kuhampiri dia yang sedang asyik membuka gembolannya. Ada sendok piring, botol-botol, sikat gigi dan banyak lagi. Namun ada yang menarik hatiku, dia menimang-nimang baju dan sarung baru yang masih terbungkus plastik transparan. Ditatap dan dielus-elusnya dua barang itu. Aku tidak tahu dari siapa dia mendapatkan dua barang itu.

“ Waahh..Ujang lebaran juga ya, bagus sekali baju dan sarungnya, sekarang pulang ya mandi dulu. Nih ambil uang dan makanannya” sapaku sambil mendekatinya Aneh! Kali ini dia tidak mau mendengarnya. Dia asyik dengan sarung dan baju baru nya. Uang dan makanan yang kuberikan dilemparkannya. Ini tak biasa! Kucoba membujuknya tapi tetap dia tak mau pergi. Mendengar aku membujuk-bujuk Si Ujang, ayahku yang kebetulan berada di ruang baca pun keluar. Langsung menghampiri dan menghardik Si Ujang agar pergi tapi cepat kucegah, aku tak tega bila dia dibentak-bentak.

“ Sepertinya dia tidak gila Ni, dia hanya stress saja “ kata ayahku

“ Ah ayah sok tahu, emang ayah kenal dia? “

“ Ya iya, semua orang sini tahu dia. Dia kan tetangga kita dulu waktu rumah kita di depan, di jendral Sudirman. Kamu masih ingat Bi Uni dan Mang Uken yang rumahnya di belakang rumah kita? Nah..Si Ujang itu anak mereka!”

Kata-kata ayahku membuatku bagai disengat kalajengking. Bagaimana tidak, aku tak menyangka kalau Si ujang itu anaknya Bi Uni. Ah siapa yang tidak kenal Bi Uni. Dia wanita perkasa yang dengan gigih memperjuangkan hidupnya dengan kerja pontang panting sementara suaminya Mang Uken kerja sebagai kuli angkut kadang jadi kenek angkot . Bi Uni pun kadang di suruh mami bantu-bantu di rumah kalau kebetulan Si Mbok pembantu rumah sedang pulang kampung. Ya Alloh, masih hangat dalam ingatan, Bi Uni yang sekian lama tidak punya anak begitu suka citanya ketika dia melahirkan Si Ujang. Makin hari Si Ujang makin besar, Bi Uni dan mang Uken memanjakannya dengan segenap kasih sayang, aku sering melihat keduanya menimang anak itu dengan penuh kebahagiaan, terutama Bi Uni yang sangat memanjakan anak semata wayangnya itu.

Si Ujang langsung dikenal dengan sebutan Ujang Bi Uni. Ah aku masih ingat ketika usia nya 7 tahun Bi Uni menyekolahkannya di SD terdekat. Dia bercerita padaku kalau Si Ujang sangat pintar di kelasnya. Dia pun dengan suka cita menerima kue, susu dan pakaian bekas adikku serta buku-buku yang kuberikan untuk Si Ujang. Aku pun masih ingat apa yang dikatakan Bi Uni padaku, “ Neng Ren, doakan Si Ujang ya agar sudah besar nanti bisa sekolah di sekolah guru seperti Eneng, dan kelak dapat istri cantik yang sayang pada Bibi dan Mang Uken , Bibi dan Mang Uken kan sebatang kara jadi harapan Bibi hanya Si Ujang…” Aku hanya mengangguk.

Seiring waktu, aku pun membawa nasibku dan kini setelah berpuluh tahun berlalu aku dipertemukan kembali dengan Si ujang sudah dalam kondisi seperti ini.

“ Jang..Ujang…ini Teh Reni, masih ingat nggak Jang? Dulu kamu sering kuajak main layangan masih ingat nggak? Di Mana Bi Uni dan mang Uken sekarang Jang? Kataku tak sadar kalau Si Ujang bukan Ujang yang dulu!

“ Keduanya sudah meninggal beberapa tahun lalu Ni, sejak kedua orang tuanya meninggal itu lah Si Ujang jadi begini. Dia stress berat kehilangan kedua orang tuanya mungkin tak ada tempat baginya untuk berlindung. Makanya benar kata Rosul kita, jangan meninggalkan keturunan yang lemah dan buta pada agama dan jangan sekali-kali memanjakan anak.” Ayahku menjawab panjang lebar, sementara Si Ujang asyik saja dengan sarung dan baju barunya.

Kupandangi wajahnya, dia reflek memandangku..iya baru kini aku memandangnya dengan jelas dari jarak yang begitu dekat hanya sekitar setengah meter, aku tak sadar kalau dia tak waras. Ah matanya, mulutnya, hidungnya, keningnya adalah milik Bi Uni . Rambut ikalnya milik Mang Uken, aku seolah melihat lukisan keduanya tergambar kembali di wajah Si Ujang Gembol.

“ Jang, Bi Uni pasti senang kalau besok ujang pakai baju dan sarung itu. Sekarang pulang ya..tuh ambil kembali uang dan makanannya” kataku dengan lemah-lembut.

Ujang menggaruk-garuk kepalanya lalu menunduk membereskan semua barang yang dikeluarkannya dan memasukkannya dalam gembolan, termasuk uang dan makanan pemberianku yang tadi dilemparkannya. Mulutnya tak henti mendesis seperti ular….Dia pun berdiri dan melangkah pergi.

“ Minal aidzin wal faidzin Jang…..gumamku dalam hati sambil menyeka air mata yang tanpa permisi mengalir di pipi. Aku seolah melihat sosok Bi Uni, berdiri dengan air mata berlinang pula….

8 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://renik.blogsome.com/2009/10/03/ujang-gembol/trackback/

  1. Tuh nya taqdir dan qodar itu hanya Allah yang ngatur. tak menyangka anak yg di manja oleh orang tuanya jadi begini nasibnya….kesian..bener hanya keimanan yang dapat menjadi bekal untuk anak2 kita…jadi baju baru lebarannya itu dsri siapa?

    Comment by si uwa — October 3, 2009 @ 5:28 am

  2. Jangan-jangan si Ujang Gembol teh waktos alitna sok merhatoskeun Teteh, mangkana upami Teteh nu miarang angkat tina teras… nurut bae……… he he. wilujeng boboran oge

    Comment by rusmani — October 3, 2009 @ 6:04 am

  3. Betul Wa, hanya keimanan yang bisa emmbuat seseorang bertahan hidup di bumi yang penuh dengan cobaan dan rintangan ini…Nah masalah baju baru, itu entah dari siapa..yang jelas sudah ada di tanagn Ujang Gembol…

    Comment by reni — October 7, 2009 @ 6:32 am

  4. Kana kitu jigana mah Kang Rus….he..he..he…

    Comment by reni — October 7, 2009 @ 6:33 am

  5. Apakah benar Ujang Gembol itu gila karena kehendak Allah…?? masa sih?

    Comment by Ahmad Gibson — October 8, 2009 @ 4:40 pm

  6. Ujang Gembol gila mungkin karena dia tidak bisa menghadapi kondisi lingkungan baru yang membuatnya terasing, sepi dan menyendiri tanpa kedua orang tua yang biasa menyertainya…

    Comment by reni — October 10, 2009 @ 2:33 am

  7. Sunggung aku iri melihat kebaikan teteh..semoga Allah membalasnya dengan pahala yang besar..

    Comment by mansur — November 8, 2009 @ 2:38 am

  8. Amiinn..semoga kebaikanmu berkunjung ke blog teteh mendapat balasan yang setimpal pula dari Allah SWT

    Comment by reni — November 12, 2009 @ 10:26 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com