/>

Semua Tentang Reni

October 31, 2009

TOGETHER…….

Filed under: Curahan Kalbu


“ Ini untukmu Iner!”  seru  Riani  sahabat lamaku , sambil menyerahkan bungkusan yang dari tadi dipegangnya. Riani…Riani, kedatangannya di pagi hari yang tiba-tiba itu, membuat  hatiku mengharu biru..Ia tetap seperti dulu, cantik dan selalu memanggilku dengan nama terbalik. Katanya karena nama kami hampir sama jadi dia lebih suka memanggilku dengan nama  Iner!

“ Alhamdulilah…rupanya rejekiku datang di pagi hari ya…., Eh apa ini?” tanyaku ingin tahu…

“ Bawel amat, buka saja! “ katanya sambil menyeruput  teh tubruk kesukaannya

“ Haahhh, lingerie? Nggak salah nih?”

“ Udaaahhh ambil aja, aku dah capek mikirnya ! Mau dikasihin siapa itu, untung saja aku teringat kamu, ya udah aku kasihkan ke kamu , anggap aja itu hadiah ultahmu “

“ Semprul, jadi diberikan padaku merupakan hasil pemikiran terakhir? Emang aku ini tong sampah , maen lempar aja seenak udelmu!”

“ Pikiranmu tuh bawaannya ngeres aja! Maksudku ngasih itu karena  dari semua temen deket kita, hanya kamu lah yang masih pantas memakainya. Ukuran tubuhmu masih ideal, yang lain dah kayak gulungan kasur semua!”

“ Gila kamu kalau udah ngeledekin orang! Eh.,stelan wajahmu  kok nggak kayak dermawan? Kamu nggak rela ya ngasih ke aku?”

“Bukannya nggak rela tapi aku sebenarnya suka banget sama gaun itu. Kamu masih ingat kan, waktu dulu kita mabal  dari sekolah gara-gara nggak bikin PR matematika? Trus kita jalan-jalan ke Tamblong, keluar masuk  toko yang berjejer sepanjang Jalan Braga. Kita melihat lingerie yang terpasang dengan anggun  di manekin, ingat nggak Ner?”

(Gila, kacau abis nih sahabat pake nyuruh aku  memutar ulang rekaman masa remajaku yang telah usang)

Yup tentu saja  aku ingat…aku ingat…Waktu itu kami  ke luar masuk toko-toko yang ada di Jalan Braga. Lalu berhenti di sebuah counter pakaian dalam wanita. Sehelai lingerie terpasang anggun di tubuh manekin yang cantik. Lingerie, gaun tidur transparan, Riani begitu mengaguminya. Dia belai-belai lingerie itu lalu berbisik padaku “  Ner, kalau aku menikah nanti, aku mau minta dibelikan ini pada suamiku”

“ Alaahhh, pakai nunggu menikah segala, beli aja sekarang!” kataku acuh tak acuh karena ada pemandangan lain yang lebih indah di sudut toko, seseorang berjaket biru  ganteng,sedang berdiri dan melihat kepadaku  dengan senyum di bibirnya. Bagiku itu jauh lebih menarik dari sehelai lingerie.

“ Ah ngapain beli sekarang, mau diperlihatkan sama siapa? Paling Cuma dilihat bantal dan guling! Nggak seru!”

“ Emang harusnya dilihat sama siapa?” kataku polos

“ Dasar Iner bego! Otakmu tuh lelet abis dan kamu jadi perempuan nggak ada romantis-romantisnya!Kamu tahu nggak? Laki-laki  suka pada perempuan yang berpakaian seksi. Kamu bisa bayangkan nggak dalam sinar lampu temaram, di kamar yang wangi, kasur yang empuk. Kita menyambut suami dengan lingerie yang melekat di tubuh kita? Bisa bayangkan nggak Ner?”  ucap Riani setengah berbisik..

“ Oohh, yang kayak di film- film itu yah? Ah sepertinya jauh lebih seru membayangkan Muhamad Ali melawan Inoki!”

“ Udah ah, nggak guna ngomong sama kamu. Pokoknya  suatu hari nanti aku harus memiliki lingerie itu!”

Lamunanku pun buyar sampai di situ karena tersapu oleh derai tawa kami yang mengingat lembar kenangan masa remaja yang terindah. Ah dalam urusan selera, aku dan dia memang tidak pernah nyambung tapi kami tetap bersahabat.

“ Puluhan tahun aku memimpikan lingerie itu tapi baru bulan kemarin aku mendapatkannya. Itu pun aku memaksa beli karena dapat gaji ke tiga belas. Ya..mumpung ada sedikit sisa uang.. Ner”

“ Lho..dulu kamu bilang mau minta ma suami, kok jadinya beli sendiri?”

“Ha..ha..ha…itulah masalahnya…aku ternyata ga berani minta itu pada suami, dia itu terlalu selektif dalam membelanjakan uangnya, dari pada sakit hati ditolak ya lebih baik nunggu dia ngerti tapi ternyata sampai aku setua ini dia belum ngerti juga kalau aku sangat menginginkan gaun itu! Ya udah beli aja pakai uang sendiri!”

“ Trus…saat kamu memilikinya..kenapa dikasih ke aku? “

“ Aku kecewa  pada reaksi suamiku waktu kupakai gaun itu…” wajah Riani terlihat sedih…

“ Apa katanya? “ tiba-tiba saja sebuah perasaan kesal  pada suaminya muncul dihatiku

“ Pakaian macam apa itu Ma? Nggak takut kalau asmamu kambuh lagi?” Itu kata suamiku..Ner.

“ Owalaahh…suamimu kok tega banget ngomong gitu…kenapa dia sejahat itu Rian?”

“ Tidak Ner, dia tidak jahat dia mengatakan semua itu dengan sorot mata penuh kekhawatiran, dia sangat sayang padaku. Memang benar asmaku sering kambuh sekarang, apalagi bila cuaca dingin, ah nasibku emang tragis banget.., mau tampil romantis di ultah pernikahan eh malah … takut asmaku kambuh…Ya udah..kulupakan saja lingerie itu.., makanya rawat dia baik-baik ya Ner! Itu bukan bekas lho..lihat aja merk dan harganya masih nempel…” ucap Riani sambil tertawa manis  sekali, diciumnya pipiku..lalu pamit pulang……Ner, kamu pasti cantik pakai lingerie itu..jangan lupa cerita padaku ya..apa reaksi suamimu…Ok..happy week end!”

Dunia memang aneh! Aku tidak pernah memimpikan lingerie ternyata datang sendiri, bingung jadinya harus diapakan? Tidak dipakai berarti aku tidak menghargai pemberian teman, dipakai..aku tak biasa dengan gaun tidur seperti itu..lagi pula pantaskah aku memakainya? Ih jadi pikiran juga akhirnya….

Pukul 9 malam suami dan anak-anak masih asyik nonton TV. Aku sibuk sendiri di kamarku, membersihkan wajah, menyikat rambut dan mengoles lotion ke tubuhku lalu kucoba lingerie itu..tentu saja dengan kecemasan luar biasa. Lagu Alda seakan berkumandang   di kepalaku …Aku tak biasa…

Satu jam kemudian kudengar langkah suami menuju kamar..Duh apa yang akan dikatakannya ya…, Ya Tuhan kuatkan hatiku untuk menerima semua komentarnya yang mungkin saja akan melukai hatiku karena aku tak biasa……

Klik! Handel pintu ditekan , pintu  kamar pun terbuka. Suamiku berdiri disana, menatap bengong padaku, kucoba untuk tenang dan tersenyum semanis mungkin…….menanti  reaksi apa selanjutnya yang akan dia lakukan…

“ Kamu tidur dengan pakaian seperti itu?….Nanti malaikat rahmat tak akan datang ke kamar kita… dan tanpa itu pun..kamu  sudah cantik kok…”

GUBRAK! BENAR KATA RIANI KALAU DUNIA INI PENUH DENGAN PARA SUAMI YANG TIDAK MAU MENGERTI…………………………

 

October 29, 2009

HAI GADIS….

Filed under: Curahan Kalbu


Hai gadis anakku ayu…bahagianya seumurmu

Kau cantik lincah dan lugu, senyum tawa menangispun engkau lucu

Hai gadis kau pasti tau, dilambangkan kuncup bunga

Dan nanti di suatu masa bunga mekar indah…….

Sudah kah kau siap siaga, membekali diri dan berkarya..

Kelak engkau kan jadi wanita dan  kau butuh kawan pria……

Lagu itu untukmu gadis…dan aku mendengarkannya sambil asyik menyaksikan tayangan dialog interaktif di sebuah TV swasta dengan tema acara  ‘ Selaput Dara Buatan ‘. Acara itu lebih menarik lagi karena ada nara sumber, seorang dokter idola yaitu Dr. Boyke Adam. Dokter cerdas yang gaul abis…

Eiitt…jangan salah, yang akan kita bahas di sini bukan tentang dokternya yang macho itu tapi pandangan Pak Dokter tentang maraknya penjualan selaput dara buatan yang akhir-akhir ini banyak beredar di internet! Konon laku keras bak cireng isi keju yang dijual Bu Ahmad di kantin sekolah kita itu lho!

Dengan harga Rp.700 ribu per paket, si pembeli harus rela ‘waiting liss’ selama satu atau dua bulan untuk bisa mendapatkannya, itu karena peminatnya yang membludak..Wualaahh….Pak Boyke benar-benar merasa prihatin dengan kondisi itu. Secara medis Pak Dokter berasumsi kalau penjualan selaput dara buatan secara illegal dikhawatirkan akan menambah maraknya sex bebas di kalangan remaja sehingga penyakit kanker servix, HIV dan Aids akan lebih susah dikendalikan! Ngeri juga ya…

Gadis, selama ini kita hanya mendengar kalau operasi selaput dara itu hanya bisa dilakukan oleh dokter untuk hal-hal yang bisa dipertanggungjawabkan. Salah satu di antaranya adalah akibat perkosaan. Lalu apa itu selaput dara? Menurut Pak Dokter selaput dara itu semacam lapisan tipis yang ada di dalam ‘miss virgin’  bersifat elastis namun ada juga yang rapuh dan robek  bila terkena benturan atau tekanan benda keras. Selaput dara sering dijadikan ukuran kesucian seorang gadis. Bahkan jaman dahulu di negri Cina, setiap malam pertama pasangan pengantin ,selalu disaksikan oleh orang tua si pengantin pria. Mereka ingin tau kalau menantunya itu, masih gadis atau tidak? Lalu apa cirinya kalau masih gadis? Tandanya akan terlihat bercak darah warna merah muda di sprei.(Padahal itu nggak selalu )

Kini malah muncul selaput dara buatan dan siapapun bisa mendapatkannya dengan bebas yang penting ada uang! Membludaknya pembeli  menjadi bukti betapa banyaknya para gadis yang sudah tak gadis lagi. Duuhh… jadi teringat sebuah survei tahun 2006 yang dilakukan pada sebuah SMA disebuah kota kecil di Pulau Jawa. Hasilnya 3 dari 5 siswi sudah tidak gadis lagi. Itu di kota kecil, bagaimana dikota besar ya…Lebih sedih lagi baru-baru ini ada survey bagi  siswi SMP dan SMA, hasilnya 2 dari 3 siswi SMP sudah tidak gadis lagi dan  3 dari 5 siswi SMA sudah pernah menggugurkan kandungan. Itu baru di SMP dan SMA, bagaimana dengan perguruan tinggi?

O..Gadis, kalau sudah begitu apalagi yang bisa kaubanggakan? Mengapa bisa terjadi seperti itu? Ada apa denganmu? Mengapa kau rela menggadaikan kesucian hanya demi cinta yang semu atau gemerlapnya dunia?

Ini Indonesia sayang, bukan Amerika! Memang benar sebagian orang yang sok moderen banyak yang beranggapan free sex adalah masalah biasa di era globalisasi ini. Bahkan mereka menyebutnya sebagai hak azasi manusia, apabila dilakukan atas dasar suka sama suka. Audzubilahimindzalik….

Silakan mereka berpendapat begitu, itu hak mereka tapi kita tetaplah dengan jati diri kita sebagai bagian dari bangsa yang berbudaya dan beretika.Memang saat ini peluang untuk berbuat maksiat semakin terbuka lebar di hadapanmu. Sex telah dieksploitasi sebebas-bebasnya di berbagai media, banyak pula yang terang-terangan menawarkan dirinya bahkan diantarkan ke depanmu melalui ponsel atau media elektronik lainnya. Semua itu diperparah lagi dengan sikap masyarakat, guru bahkan orang tua yang tak peduli karena tidak mau ikut campur urusan orang lain!

Gadisku… sayang! Semoga kau bukan bagian dari mereka yang tidak peduli lagi pada moral, etika dan ahlak. Zaman boleh berubah, masa boleh bertukar dan waktupun boleh berganti tapi kehormatan diri sampai kapan pun harus tetap dijunjung tinggi. Ingatlah kata Tuhanmu ‘ Dan janganlah kau dekati zina sesungguhnya zina adalah perbuatan yang keji dan suatu cara yang buruk ( Al-Isra 32 )

Gadis, selaput dara yang terjaga bukanlah ciri virginitas semata tapi lebih jauh dari itu adalah sebagai lambang kesucian yang menunjukkan betapa luhurnya budimu.Betapa mulianya ahlakmu. Jangan main-main dengan yang satu itu! Ingatlah kata pepatah, sekali pria ternoda dunia masih bisa tertawa tapi sekali wanita ternoda, dunia menangis sepanjang masa. Pria bisa melakukan apa pun tanpa cinta… namun umumnya  wanita menyerahkan segalanya karena cinta! Jelas ujung-ujungnya wanita yang dirugikan!

Untuk itu kita tidak perlu takut dikatakan kuper atau ditinggalkan  sang pacar hanya karena kita bertahan pada norma dan agama. Biarkan orang mau ngomong apa sampai mulutnya berbusa, yang penting ingatlah janji Allah untukmu “ laki-laki baik-baik untuk wanita baik-baik dan laki-laki pezina untuk wanita pezina..

Gadis, suatu saat nanti akan datang kepadamu seseorang yang layak dan halal bagimu.Dialah laki-laki pilihan yang Allah ciptakan untukmu, hanya untukmu, khusus untukmu!

 

Hai gadis hidup ini indah, cari ilmu pantang lelah..

Yang pasti hormati dirimu agar pria lebih hormat padamu

Gadis hai gadis hidup ini indah…Gadis hai gadis  engkau lebih indah…..

October 21, 2009

MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT???

Filed under: Curahan Kalbu


Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.


Sebuah perenungan, Buat para suami baca ya……… istri & calon istri juga boleh…

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata "Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. .. bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu".

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2 "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian"..

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2nya."Anak2ku ………… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah….. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian..
Sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun..

Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak
yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.."
Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno….dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita."Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya.
Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"

Artikel kiriman dari seorang teman….

__._,_.___


October 3, 2009

UJANG GEMBOL

Filed under: Curahan Kalbu

   Entah bagaimana awalnya dia disebut Ujang Gembol, mungkin karena ke mana-mana selalu membawa “gembolan “. Badannya agak gemuk dan sedikit bungkuk, tubuhnya kotor tak pernah berbaju . Usianya kira-kira 30 tahunan. Tatapan matanya kosong, rambutnya hitam sedikit ikal tapi tidak gimbal dan tentu saja pikirannya tak waras! Setiap hari dia bergelandang keliling rumah tetangga atau pos ronda. Kadang ada di halaman kantor kelurahan, lain waktu di depan kantor kecamatan dan akhir-akhir ini senang tidur di teras rumahku tepatnya di bawah jendela kamarku!

Suamiku sering jengkel bila melihat Si Ujang Gembol tidur di teras rumah. Biasanya yang diomel anak-anak karena mereka sering lupa menutup pintu gerbang rumah. Hal itu membuat Si ujang leluasa masuk Dia memang tidak berbahaya karena belum pernah mengamuk hanya tidak enak dilihat saja kalau dia sudah tidur di teras karena selain tidur dia juga sering mengeluarkan semua isi gembolannya lalu dijejerkan di teras. Jelas hal itu sangat merusak pemandangan. Kalau sudah begitu sangat sulit untuk diusir kecuali kita bisa membujuknya dengan uang dan makanan.

Lucunya, yang bisa membujuk hanya aku. Bila dia ada biasanya terdengar bunyi krasak-kresek, kubuka jendela kamar langsung kepala Si ujang terlihat, matanya tajam memandangku lalu tersenyum dan ketika kututup lagi jendela , dia berdesis seperti ular.Hanya itu saja yang dia lakukan. Aku pun keluar sambil membawa uang ribuan dan makanan lalu kuberikan padanya sambil berkata “ Jang, jangan tidur disini ya..ni ambil uang dan nasi, makan nya di pos ronda aja ya?” Tanpa bicara dia mengambilnya kemudian pergi sambil membawa gembolan.

Hari-hari sibuk menjelang lebaran membuat seisi rumah terlibat pada persiapan lebaran. Si sulung dan nomer dua bertugas membersihkan rumah, Si Bungsu membuat kue, suami menyerpis dan tune up mobil kemudian mengurus para muzaki di masjid. Aku sendiri memasak masakan special lebaran yaitu ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang, tumis cabai hijau, goreng emping dan semur daging bumbu kecap. Satu hari menjelang hari fitri tiba, semua sudah beres. Rumah sudah rapi, kue-kue lezat buatan Si Bungsu sudah tertata di toples. Masakan pun tinggal disajikan.

Gladiol putih berpadu dengan krisan mungil putih dan melati sudah kurangkai sebagai hiasan meja yang indah. Selamat datang hari kemenangan bisikku,….namun anakku berteriak dari luar…

“ Eiiiittttt…belum siap Ma, satu lagi yang harus dirapikan ! “ kata Si Bungsu

“ Apa? “

“ Si Ujang Gembol! Tuh lihat dari siang tadi dia tidur di bawah jendela kamar mama, kalau Si Papap tahu pasti kita semua diomeli lagi!”

Cepat kubuka jendela kamarku, benar saja dia sudah ada lagi di sana. Aku segera keluar sambil membawa uang dan makanan. Kuhampiri dia yang sedang asyik membuka gembolannya. Ada sendok piring, botol-botol, sikat gigi dan banyak lagi. Namun ada yang menarik hatiku, dia menimang-nimang baju dan sarung baru yang masih terbungkus plastik transparan. Ditatap dan dielus-elusnya dua barang itu. Aku tidak tahu dari siapa dia mendapatkan dua barang itu.

“ Waahh..Ujang lebaran juga ya, bagus sekali baju dan sarungnya, sekarang pulang ya mandi dulu. Nih ambil uang dan makanannya” sapaku sambil mendekatinya Aneh! Kali ini dia tidak mau mendengarnya. Dia asyik dengan sarung dan baju baru nya. Uang dan makanan yang kuberikan dilemparkannya. Ini tak biasa! Kucoba membujuknya tapi tetap dia tak mau pergi. Mendengar aku membujuk-bujuk Si Ujang, ayahku yang kebetulan berada di ruang baca pun keluar. Langsung menghampiri dan menghardik Si Ujang agar pergi tapi cepat kucegah, aku tak tega bila dia dibentak-bentak.

“ Sepertinya dia tidak gila Ni, dia hanya stress saja “ kata ayahku

“ Ah ayah sok tahu, emang ayah kenal dia? “

“ Ya iya, semua orang sini tahu dia. Dia kan tetangga kita dulu waktu rumah kita di depan, di jendral Sudirman. Kamu masih ingat Bi Uni dan Mang Uken yang rumahnya di belakang rumah kita? Nah..Si Ujang itu anak mereka!”

Kata-kata ayahku membuatku bagai disengat kalajengking. Bagaimana tidak, aku tak menyangka kalau Si ujang itu anaknya Bi Uni. Ah siapa yang tidak kenal Bi Uni. Dia wanita perkasa yang dengan gigih memperjuangkan hidupnya dengan kerja pontang panting sementara suaminya Mang Uken kerja sebagai kuli angkut kadang jadi kenek angkot . Bi Uni pun kadang di suruh mami bantu-bantu di rumah kalau kebetulan Si Mbok pembantu rumah sedang pulang kampung. Ya Alloh, masih hangat dalam ingatan, Bi Uni yang sekian lama tidak punya anak begitu suka citanya ketika dia melahirkan Si Ujang. Makin hari Si Ujang makin besar, Bi Uni dan mang Uken memanjakannya dengan segenap kasih sayang, aku sering melihat keduanya menimang anak itu dengan penuh kebahagiaan, terutama Bi Uni yang sangat memanjakan anak semata wayangnya itu.

Si Ujang langsung dikenal dengan sebutan Ujang Bi Uni. Ah aku masih ingat ketika usia nya 7 tahun Bi Uni menyekolahkannya di SD terdekat. Dia bercerita padaku kalau Si Ujang sangat pintar di kelasnya. Dia pun dengan suka cita menerima kue, susu dan pakaian bekas adikku serta buku-buku yang kuberikan untuk Si Ujang. Aku pun masih ingat apa yang dikatakan Bi Uni padaku, “ Neng Ren, doakan Si Ujang ya agar sudah besar nanti bisa sekolah di sekolah guru seperti Eneng, dan kelak dapat istri cantik yang sayang pada Bibi dan Mang Uken , Bibi dan Mang Uken kan sebatang kara jadi harapan Bibi hanya Si Ujang…” Aku hanya mengangguk.

Seiring waktu, aku pun membawa nasibku dan kini setelah berpuluh tahun berlalu aku dipertemukan kembali dengan Si ujang sudah dalam kondisi seperti ini.

“ Jang..Ujang…ini Teh Reni, masih ingat nggak Jang? Dulu kamu sering kuajak main layangan masih ingat nggak? Di Mana Bi Uni dan mang Uken sekarang Jang? Kataku tak sadar kalau Si Ujang bukan Ujang yang dulu!

“ Keduanya sudah meninggal beberapa tahun lalu Ni, sejak kedua orang tuanya meninggal itu lah Si Ujang jadi begini. Dia stress berat kehilangan kedua orang tuanya mungkin tak ada tempat baginya untuk berlindung. Makanya benar kata Rosul kita, jangan meninggalkan keturunan yang lemah dan buta pada agama dan jangan sekali-kali memanjakan anak.” Ayahku menjawab panjang lebar, sementara Si Ujang asyik saja dengan sarung dan baju barunya.

Kupandangi wajahnya, dia reflek memandangku..iya baru kini aku memandangnya dengan jelas dari jarak yang begitu dekat hanya sekitar setengah meter, aku tak sadar kalau dia tak waras. Ah matanya, mulutnya, hidungnya, keningnya adalah milik Bi Uni . Rambut ikalnya milik Mang Uken, aku seolah melihat lukisan keduanya tergambar kembali di wajah Si Ujang Gembol.

“ Jang, Bi Uni pasti senang kalau besok ujang pakai baju dan sarung itu. Sekarang pulang ya..tuh ambil kembali uang dan makanannya” kataku dengan lemah-lembut.

Ujang menggaruk-garuk kepalanya lalu menunduk membereskan semua barang yang dikeluarkannya dan memasukkannya dalam gembolan, termasuk uang dan makanan pemberianku yang tadi dilemparkannya. Mulutnya tak henti mendesis seperti ular….Dia pun berdiri dan melangkah pergi.

“ Minal aidzin wal faidzin Jang…..gumamku dalam hati sambil menyeka air mata yang tanpa permisi mengalir di pipi. Aku seolah melihat sosok Bi Uni, berdiri dengan air mata berlinang pula….

October 2, 2009

AKU BUKAN PENULIS

Filed under: Curahan Kalbu

Hidup ini terlalu indah , sayang kalau harus kulewatkan begitu saja. Susah senang, sedih gembira, bahagia kecewa semua silih berganti menghiasi hidupku yang penuh warna. Kadang senyum menghiasi bibirku tapi tak jarang pula air mata membasahi pipiku…Ya Rab..betapa indahnya dinamika hidupku. Untuk itulah tak cukup hanya dengan kamera kurekam semuanya tapi akan lebih bermakna kalau semua kuabadikan dalam bentuk tulisan. Yup..aku harus menulis semua yang terjadi dalam hidupku sebelum tangan ini susah untuk digerakkan, sebelum pikiran ini beku untuk dikemukakan,aku harus menulis …menulis dan menulis….

Seorang teman pernah berkata padaku: “ Jangan sembarangan memosting tulisan di media yang banyak dibaca orang, kita harus memerhatikan kualitas tulisan kita baik dari segi struktur bahasa maupun diksinya.” Wuaahh…..sampai hari ini saran temanku itu tak pernah kudengar…Ha..ha..ha.. seandainya aku mendengar apa yang dia katakan, aku yakin tak satupun tulisanku yang akan jadi. Yup sebab kalau berbicara masalah kualitas…jujur saja aku bisa kalah sebelum berperang! Betapa banyak penulis handal yang bertebaran di media masa, aku hanyalah butir pasir di lautan…bisa-bisa aku mati karena minder! Makanya aku tidak peduli tulisanku bagus atau tidak yang penting aku harus menulis dan menulis.

Sejak kapan aku suka menulis? Wah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab sebab aku sendiri pun tak tahu sejak kapan aku suka menulis. Hanya ada satu peristiwa dalam hidupku ketika aku mengikuti ujian akhir SPG ( setingkat SMA ) waktu itu ada ujian menulis dalam bentuk essay dan karangan fiksi. Aku yang sama sekali tidak menyukai pelajaran bahasa Indonesia jelas kelabakan. Badanku panas dingin ketika tahu teman-teman hampir selesai menulis, sementara aku belum satu kalimat pun kutulis.

Waktu tinggal sepuluh menit lagi, pengawas mengancamku kalau aku masih meminta kertas folio lagi maka aku akan dinyatakan gagal. Di bawah mejaku berserakan kertas folio yang sudah kuremas-remas. Aku ingin menangis karena putus asa, akhirnya seluruh keputus asaan dan kekesalanku pada pengawas sialan itu kutumpahkan pada tulisan. Sepuluh menit waktuku untuk menulis dan aku sendiri tidak percaya kalau curahan kekesalanku itu sampai dua lembar folio. Selanjutnya tanpa dibaca kembali tulisan itu kukumpulkan.

Sebulan kemudian Bu Mien guruku memanggilku lalu menyerahkan sebuah majalah remaja dan selembar wesel pos. Aku bingung, ternyata Bu Mien menganggap tulisan yang kubuat waktu ujian itu, bagus lalu dikirimnya ke redaksi majalah remaja dan di muat, honornya lumayan bisa nraktir teman sebanyak sepuluh orang. Wah tak terkirakan senangnya hatiku waktu itu….serasa jadi selebritis ketika melihat namaku tertulis di majalah remaja terkenal saat itu…sejak itu aku jadi suka menulis diary..

Kebiasaan menulis diary terbawa sampai kuliah apalagi waktu dii kampus ada dua dosen idola yang sangat kukagumi. Prof. DR. Henry Guntur Tarigan dan Prof. DR. Ahmad Slamet, keduanya dosen membaca yang aktif juga sebagai penulis buku. Aku kagum pada Pak Henry, daya bacanya hebat sekali, salah satu gayanya yang kusuka adalah bila berjalan selalu sambil membaca Bibel, kitab sucinya. Aku sering berbincang dengannya dan ada kata-kata nya yang selalu kuingat “ Ren! Tunjukkan padaku lemari bukumu, baru aku tahu siapa kamu!”.

Lain Pak Tarigan lain pula Pak Slamet, kata teman-teman di kampus aku adalah anak kesayangan Pak Slamet..(he..he..he..biasa pada ngiri) Aku sendiri tidak merasakan hal itu namun aku memang dekat dengan beliau karena beliau seorang dosen senior yang sangat kaya dengan ilmu. Beliau cerdas , ramah dan sangat sederhana. Beliau selalu berkata begini padaku “ Jangan pernah mengaku sebagai mahasiswaku kalau belum ada satu pun karyamu dalam bentuk buku!” Wah…kata-kata dua dosen itu selalu memicuku untuk bisa menulis dan rajin membaca. Sampai pada akhirnya kegiatan menulis dan membaca tidak bisa lepas dari hidupku .

Menulis bagiku adalah ungkapan rasa dan jiwa yang ingin kusalurkan sebagai pengobat lara atau hati yang gundah, jadi sama sekali tidak ada niatan ingin terkenal, dapat duit banyak atau sok narsis. Memang ada tiga bukuku yang telah terbit dan beberapa tulisanku yang dimuat dibeberapa media masa namun itu sebetulnya hanya kebetulan saja, kebetulan ada orang yang suka pada tulisanku dan ingin menerbitkannya. Seperti saat ini aku sedang menyelesaikan garapan novelku yang berjudul “ Senandung Cinta Buat Arini “ sebuah novel munggaranku yang tak kunjung beres karena aku bingung menentukan endingnya…he..he..he…malum sang sumber inpirasinya entah kabur ke mana…tergeser oleh kesibukanku membuat PTK( Penelitian Tindakan Kelas )…yang juga tak kunjung selesai…wuiihh….kok sulit ya kalau menulis diwajibkan seperti itu….

Yah…jadi jelas kalau aku bukan penulis…Aku hanyalah seorang guru Bahasa Indonesia yang senang menulis….dengan obyek yang kutulis adalah apa yang kulihat, kualami, kuamati, kukerjakan atau kurasakan.Itu bisa dalam bentuk essay, prosa atau puisi….maka dari itu mohon maaf pada teman-teman pembaca bila tulisanku hanyalah sebuah catatan pengganggu saja…he..he..he…walau begitu terimakasih kepada semua teman yang selalu mengomentari tulisanku semoga Allo S.W.T memberikan pahala yang berlipat ganda karena membaca dan menilai serta mengomentari tulisan seseorang ,menurutku termasuk bagian dari ibadah pula….he..he..he….sok tahu.. ya…, Ok..selamat membaca semua tulisanku…..

August 28, 2009

WANITA …OH..WANITA…

Filed under: Curahan Kalbu

Diciptakan alam pria dan wanita

Dua insan dalam asuhan dewata

Ditakdirkan bila pria berkuasa

sedangkan wanita lemah lembut manja

Wanita dijajah pria sejak dulu

Dijadikan perhiasan sangkar madu

namun ada kala pria tak berdaya

tekuk lutut di sudut kerling wanita…….

 

Sumpah sampai ke ubun-ubun, aku tidak menyukai lagu itu tapi sengaja kutulis untuk mengawali catatan ini. Aku merasa terinpirasi oleh isinya. Lagu itu menurutku sama sekali tidak menggambarkan eksistensi wanita malah terkesan melecehkan. Namun di satu sisi patut kuacungkan jempol pada penggubahnya karena di dalamnya terkandung aspirasi murni penulisnya yang secara jujur melukiskan sebuah realita yang terjadi pada wanita di berbagai belahan dunia.

Wanita oh wanita , sejak jaman Cleopatra sampai Manohara selalu jadi cerita. Sayangnya berjuta cerita tentang wanita tak satu pun yang bisa mengungkap fakta, mengapa wanita kadang menyakiti sesama wanita hanya karena seorang pria dengan alasan cinta. Apakah karena pria berkuasa atau wanita pura-pura buta?

Masalah itulah yang menjadi bibit pertengkaran antara aku dan sahabatku dua tahun lalu ketika dia meminta pendapatku untuk menikah lagi dengan pria beristri.

" lemah-lembut manja jangan kau jadikan senjata untuk memikat hati pria Hanung! Tak bijaksana rasanya bertahta di atas hati sesama wanita karena sama sekali tak akan pernah mendapatkan sebuah piala selain nista" kataku waktu itu…

 " Aku tidak memikat dia Iner! Aku yang terpikat oleh dia sejak di SMA dulu! Kini dia menyayangiku apa salah kalau aku menerimanya?’

 " Ya jelas salah, karena dia bukan yang dulu lagi… Hanya wanita gila yang mau menikah dengan pria beristri!"

 " Dia tidak mencintai istrinya, dulu dia dijodohin ma orang tuanya dan  dia tuh sudah sayang padaku sejak dulu!"

 " Alaahhh…alasan klasik yang basi! Pokoknya  tak peduli mau dijohin ma ortu, ma jin sekalipun yang penting dia sudah beristri dan tak pantas jadi suamimu! Bisakah kamu bayangkan perasaan istrinya?"

" Ini dilema Iner! Tak ada satu pun wanita di dunia ini yang mau jadi nomer dua atau tiga. Semua ingin jadi yang utama namun nasib, nasib Iner yang membuat wanita harus rela menjadi nomer dua dan aku telah siap untuk itu, karena itulah cerita ini ada."

" Betul kawan, tapi bukan berarti kita harus menyerah pada nasib! Jangan butakan hatimu oleh sebuah fatamorgana! hari ini hati istrinya yang terluka, besok hatimu dan lusa sejuta wanita akan jadi santapan buayamu itu!"

" Dia bukan buaya Iner!"

" Bagus, kebutaan hatimu telah mengubah buaya menjadi domba. Kamu harus tahu ya, bila  seorang pria beristri  ingin menikahi wanita lain tanpa alasan yang jelas itu berarti bukan lelaki, dia hanya pejantan yang tak pantas dijadikan imam!’

" Tutup mulutmu Iner! kamu sudah terlalu jauh memasuki privacyku, mentang-mentang dapat mandat dari almarhum suamiku untuk mengawasiku!" itu kata-kata terakhir darinya sebelum menghilang dua tahun lalu.

Kemarin..tepat dua puluh empat purnama, dia datang lagi dengan mata sembab, wajah kusam berkata padaku dengan sendu…

" Iner….aku terhempas, aku kandas…Mas Win  tinggalkan aku…" tuh kan! Ujung-ujungnya selalu berakhir dengan air mata…Hanung….Hanung..apa yang harus kulakukan untukmu?

July 30, 2009

KEMBALI KE KELAS…YU….

Filed under: Curahan Kalbu

Awal-awal Kegiatan Belajar Mengajar di dalam kelas, seperti biasa kumulai dengan mengajak para siswa menentukan target dan kontrak belajar. Target belajar berisi tentang harapan dan hasil yang ingin diraih di akhir pemebelajaran nanti disertai dengan kendala yang kemungkinan dihadapi dan usaha mengatasi kendala itu. sedangkan kontrak belajar merupakan komitmen bersama antara aku dan para siswa selama KBM. Ini berisi  aturan dan sanksi yang disepakati bersama ketika mengikuti KBM. Misal kalau siswa terlambat atau aku sendiri yang terlambat, apa sanksinya. Siswa tidak mengerjakan tugas atau aku sendiri yang tidak hadir di kelas tanpa alasan yang jelas, semuanya ada sanksinya, ah pokoknya seru!

Selanjutnya, sebelum melangkah pada pemetaan  dan materi dalam silabus, aku mengajak para siswa untuk mengetahui hakekat pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia. dalam hal ini para siswa dituntut untuk mengetahui tentang makna, fungsi dan tujuan belajar bahasa. Hasil dari kegiatan kesepakatan tentang makna bahasa adalah ungkapan pikiran dan perasaan yang disampaikan secara  lisan, tulisan atau isyarat. Fungsi bahasa secara umum untuk berkomunikasi  dan tujuan memepelajari bahasa secara umum, tentu saja agar dapat berkomunikasi dengan baik sedangkan secara khususnya agar terampil berbahasa.Keterampilan berbahasa meliputi : menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Itulah hakekat pembelajaran bahasa di SMP, sederhana sekali bukan?

Langkah berikutnya adalah pembentukan kelompok belajar di  kelas. Setiap kelompok menamai kelompoknya dengan nama yang disepakati bersama oleh anggota kelompok dan tentu saja disertai dengan penciptaan yel-yel kelompok untuk memotivasi semangat belajar. Naahh…yang terakhir barulah kegiatan pembelajaran dimulai, setiap kelompok beradu argumen dalam dialog interaktif tentang topik yang mereka kemukakan. Yel-yel pun berkumandang di kelas bila ada kelompok yang unggul dan bisa memepertanggungjawabkan argumennya dengan bahasa yang baik dan benar. Aku cukup mengamati saja sambil terus memberikan suport agar yang lain termotivasi ( mirip pemandu acara kuis di TV, he..he..he…)

Subhanallah……betapa menyenangkannya belajar bersama para siswaku di kelas. Terimakasih ya Allah….Engkau telah menjadikanku sebagai guru! Terimakasih….

May 1, 2009

AKHIRNYA…SELESAI JUGA

Filed under: Curahan Kalbu

Alhamdulilah, usai sudah Ujian Nasional yang dilaksanakan selama 4 hari dari hari Senin kemarin sampai hari Kamis. Inilah resumenya, hari pertama  satu jam sebelum ujian dimulai kami kumpulkan anak-anak di lapangan basket untuk berdoa bersama, memotivasi dan mengingatkan kembali agar mereka mengerjakan soal dengan hati-hati, tenang, penuh percaya diri, cermat dan cerdas.

Hari kedua ada insiden kecil dengan tim independen(TPI )  karena pengawas ruangan lupa memasukan daftar hadir dan berita acara pada amplop. Kami ingin amplop dibuka saja untuk memasukan dokumen tersebut namun TPI menolaknya dan mengusulkan agar dokumen tersebut ditempel saja di luar amplop. Tentu saja kami menolak karena khawatir tercecer. Kami jelaskan pada TPI kalau anak-anak kami sudah belajar selama 3 tahun namun keberhasilan mereka ditentukan dalam 4 hari oleh 4 mata pelajaran. Tolong jangan diperparah lagi dengan kecerobohan pengawas dan ketidakbijakan TPI. Alhamdulilah dia mau mengerti. Di depan TPI kami  membuka dua amplop untuk memasukan dokumen yang tertinggal itu. Hari ketiga dan keempat tak ada kejadian berarti. Selain kesan dan harapan semoga anak-anak lulus semua.

Ada tanya yang tersisa dan mungkin seperti yang sudah-sudah pertanyaan itu akan tetap dijawab sama. Walau begitu takan pernah bosan hal itu kami sampaikan khususnya pada para penentu kebijakan di negri ini. Sampai kapankah UN akan tetap dijadikan sebagai syarat kriteria kelulusan?

Sampai hari ini tidak ada satu pun penelitian yang membuktikan kalau hasil UN merupakan ukuran kualitas pendidikan di negri ini. Apalagi sering kita dengar berbagai kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaannya ditambah lagi sarana dan prasarana yang belum merata di seluruh sekolah, demikian pula dengan SDM nya. Wah…sulit dimengerti apa yang mendasari pemikiran pemerintah untuk tetap menjadikan UN sebagai syarat kelulusan, lebih jauhnya lagi sebagai ukuran keberhasilan pendidikan.

Aku merasa ada ketidakadilan dalam UN. Kita semua tahu kalau kecerdasan anak itu terbagi kedalam 9 kecerdasan. Diantaranya kecerdasan linguistik, logika, emosi, sosial, kinetik, seni, budaya,religius dan lain sebagainya. UN hanya menguji dua kecerdasan saja yaitu kecerdasan logika dan linguistik. Jadi bagaimana dengan anak-anak yang memiliki 7 kecerdasan lainnya? Apakah mereka tetap dipaksa untuk melakukan hal yang sama sekali tidak mereka sukai?

Sementara menurut hasil penelitian pakar pendidikan ternyata 80% keberhasilan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosi. Bukan kecerdasan intelektual. Ini ironis! Kecerdasan emosi lebih ditentukan oleh pembentukan ahlak dan kepribadian. Dua hal ini adanya dalam mata pelajaran agama dan budi pekerti. Sementara dari jumlah beban belajar sebanyak 32 jam perminggu, pelajaran agama hanya ada 2 jam dan sama sekali tidak ada pelajaran budi pekerti. Jadi bagaimana mungkin anak-anak kita akan berhasil dan bisa membangun bangsanya di masa depan? Yup ini PR bagi para guru, pemerintah, masyarakat dan para orang tua.

February 21, 2009

HANYA SEBUAH INTERMEZO

Filed under: Curahan Kalbu

 Temanku seorang dokter spesialis kejiwaan pernah bercerita padaku, waktu secara tak sengaja kami bertemu dalam sebuah seminar. Dia mengatakan kalau di dunia ini tidak ada teman atau musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Pertemanan paling tulus hanya kita dapatkan ketika kita masih di SD. Selepas itu hanyalah persaingan dan persaingan yang kita temukan.Persaingan akan semakin terbuka ketika kita memasuki dunia kerja. Dalam kondisi seperti itu satu hal yang harus kita lakukan adalah menunjukkan kemampuan. Maka kita akan menjadi pemenang.

Ya sebuah pernyataan yang logis dan realistis. Aku pernah mengalami semua itu dan di dunia kerja semua makin terasa jelas. Ketika usiaku belum genap 22 tahun, aku sudah diangkat menjadi CPNS di sebuah SMP negri di Sukabumi. Entah alasan apa, baru satu tahun ditugaskan, Kepsek mengangkatku menjadi pembantu kepala sekolah bidang kurikulum. Aku yang masih polos dan lugu serta asing dengan lingkungan baru, betul-betul belum memahami kalau hal itu akan memicu kecemburuan yang lain khususnya guru-guru senior.

Benar saja, seorang guru senior yang sering dipanggil ‘ Shopia Loren ‘ oleh anak-anak, langsung berubah sikap bila bertemu denganku. pandangannya sins, kata-katanya tajam menusuk dan puncaknya ketika dalam rapat pleno secara terang-terangan menentang kebijakan Kepsek dengan menolak aku menjadi PKS  hanya karena aku guru baru. Sikapnya itu diembeli pula dengan kata-kata yang tak bisa kulupakan sampai saat ini. " Coba lihat Pak, pantaskah seorang PKS membawa-bawa anak ke sekolah? Memalukan!"

Sakit sekali hatiku. Saat itu aku memang punya bayi yang masih berusia 13 bulan, aku tidak bisa menitipkannya pada pembantu karena bayi seusia itu sedang butuh pengawasan ibu. Maka tiap hari anakku dan pembantu kubawa ke sekolah. Ah bisa dibayangkan, aku dipermalukan di depan teman-teman guru dalam sebuah rapat pleno. Harga diriku terasa diinjak-injak.Aku ingin menangis tapi tak bisa. Dadaku sakit dan nafasku sesak. Beberapa teman guru memelukku dan membawaku ke ruangan lain. Di sanalah dalam pelukan mereka aku menangis.

Esok paginya aku datang ke ruang Kepsek untuk meninjau kembali hak prerogatifnya sekaligus  ingin mengundurkan diri  dari jabatanku. Namun dengan tenang Kepsek menjawab, " Tak ada yang bisa mengubah keputusan saya. Ibulah orang yang tepat untuk jabatan kurikulum. Hapus air mata itu! Tunjukka kalau ibu mampu!"

Kata-kata itu, mengandung kepercayaan penuh yang secara tidak langsung menumbuhkan rasa percaya diri padaku. Akhirnya dengan ucapan Bismillah, kuterima tugas itu. Aku bekerja dengan tetap membawa anak ke sekolah. Aku sering melihat anakku bermain-main dengan Kepsek saat aku sedang mengajar. Pernah suatu kali anakku mengambil globe milik guru IPS lalu ditendang-tendang di halaman kelas. Dengan manis kepsek menggantinya dengan bola. Keduanya lalu bermain bola di halaman sekolah. Coba adakah Kepsek saat ini yang bersikap seperti itu kepada gurunya?

Dukungan dan kepercayaan Kepsek padaku membuatku merasa nyaman dan semangat dalam bekerja. Aku tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan walaupun beban mengajarku waktu itu cukup banyak. Aku tidak hanya memegang pelajaran Bahasa Indonesia tapi memegang pula seni rupa, bahasa Sunda dan ekstra kurikuler renang. Jumlah jam mengajarku 36 jam.

Kutunjukkan prestasiku dengan mengharumkan nama sekolah di berbagai even. Seperti menjuarai berbagai kompetisi siswa dalam berbagai lomba di tingkat kota maupun tingkat provinsi, khususnya dalam uji keterampilan bahasa Indonesia. Pameran tunggal karya seni anak-anak di Gedung Juang yang disponsori langsung oleh walikota Sukabumi. Memasukkan anak-anak menjadi team inti atlet renang kota Sukabumi setelah  terlebih dahulu mereka meraih berbagai kejuaraan dalam Porseni atau Popda.

Sayangnya semua itu harus berakhir karena atas desakan kedua orang tua dan suami, aku harus pindah ke Bandung. Aku tahu semua teman-teman di Sukabumi merasa kehilangan, termasuk Ibu Shopia Loren yang berulang kali memeluk dan menangis di pelukanku.

Thn 1985, aku mutasi ke SMPN 25 Bandung tapi anehnya diterima di SMPN 4 cimahi.  Baru dua tahun aku bisa merasakan kalau keadaan sepertinya lebih rumit dari pertama aku datang ke Sukabumi. Di sini manajemen sekolah sangat tertutup. Terkesan ada sindikat antara Kepsek, wakasek dan para pembantunya. Aku yang dididik ketransparanan oleh Kepsek di Sukabumi, jelas merasa terbelenggu. Aku merasakan adanya pembunuhan karakter dengan adanya penekanan yang tidak sehat pada guru-guru. Aku tak mau jadi bagian dari semua itu. Maka jadilah aku guru yang dianggap vokal  karena paling rajin mengeritik kebijakan Kepsek dan para pembantunya.

Akibatnya, aku dihambat dalam segala hal khususnya dalam peningkatan profesi seperti tidak pernah diikutkan dalam berbagai pelatihan, penataran. Diperlambat dalam kenaikan tingkat dan ditutup rapat-rapat aktifitas di luar sekolah yang berkaitan dengan profesiku seperti kegiatan MGMP, Sanggar Bahasa dan lain sebagainya. Itu berlangsung lebih dari sepuluh tahun.

Semua itu tak berarti bagiku. Aku berprinsip seperti air, ditutup di satu tempat namun akan mengalir ke tempat lain, maka tahun 1990 aku nekad kuliah lagi di IKIP Bandung. Kusibukkan diriku di kampus dengan aktif mengikuti kegiatan perkuliahan. Tahun 1992 aku  diminta menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Penelitian Pendidikan. Di tahun itu pula aku lulus seleksi tutor PGSD swadaya yang diselenggarakan oleh Dinas Kota bertempat di SMA Santa Maria. Selain itu  aktif pula mengajar di SMA Al Istiqomah Cijerah Bandung.

Bila ada waktu senggang, kusempatkan untuk menulis buku. Tahun 1995 buku pertamaku berjudul ‘ Belajar Bahasa Indonesia ‘ diterbitkan oleh penerbit Inti Media Jakarta. Tahun itu pula aku ditawari bea siswa S2  oleh IKIP untuk kuliah di Gajah Mada, sayang sekali suamiku tak mengijinkan karena waktu itu anakku Gita masih berusia 3 tahun tak mungkin pengawasannya diserahkan kepada pembantu.

Tahun 1998 ada penggagntian pimpinan sekolah. Aku ditugaskan menjadi pembina Paskibra, dan tahun 2000 ditugaskan  menjadi wakasek urusan kesiswaan. Di tahun itu pula untuk pertama kalinya aku dikirim pelatihan guru  SMP seprovinsi di Garut, alhamdulillah jadi peserta terbaik. tahun 2001 dikirim lagi ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan guru tingkat nasional dan pada tahun 2002 mendapat predikat guru telatan eh salah, maksudku guru teladan 1 tingkat kota namun sekaligus pula diwarnai kisah duka karena adanya permainan money politik dan jegal menjegal dalam urusan pemilihan calon Kepsek.  Mungkin karena itulah aku harus kalah dalam kompetisi di tingkat provinsi atau memang aku tak pantas meraih predikat GT di tingkat provinsi, he..he..he.. walahualam bisawab. (Hal ini sudah kuceritakan dalam artikel ‘ Cerita Buat Dika ‘ )

Tahun 2003 terjadi revolusi besar-besaran di sekolahku. Kritikan-kritikan mulai didengar seiring dengan bergulirnya era reformasi dan perubahan sikap guru-guru yang lain yang mulai berani berpendapat. Ditunjang pula oleh hadirya Kepsek baru  yang berpikir maju dan demokratis yaitu Ibu Dra. Hj. Tati Artati Andaya. Beliaulah figur wanita berhati baja yang penuh perjuangan. Situasi sekolah yang kurang kondusif, dengan tenang dapat diselesaikannya.Bagai tangan seorang ibu yang bijak, semua guru diraih dan dihargai. Beliau pula lah yang selalu menjadi inpirasi bagiku untuk selalu berkarya dan berkarya. hingga tahun 2005 terbit bukuku yang kedua berjudul ‘ Dimensi Pemebelajaran Bahasa Indonesia’ diterbitkan oleh Sinergi, sayang buku itu gagal mendapat predikat terbaik di tingkat nasional. Menyusul kemudian bukuku yang ketiga ‘ Cerdas Berbahasa Indonesia’ diterbitkan oleh Sigap pada tahun 2006. Buku itu khusus kutulis untuk beliau yang purna bakti pada tahun itu. Kedudukan beliau digantikan oleh Bapak Drs. H. Tonton Rustono sampai saat ini. Beliau tidak jauh berbeda dengan Ibu Tati. Misinya yang ingin memajukan sekolah dengan  mengubah pola pikir dan pola tindak seluruh komponen sekolah mendapat dukungan penuh dari semua kmponen sekolah.

Kini tak terasa, 24 tahun sudah aku bertugas di sekolah ini. sebuah waktu yang cukup lama namun ibarat matahari yang perlahan akan tenggelam, aku harus siap kembali keharibaan malam. hanya sebelum saatnya datang aku harus berusaha menyalakan lilin-lili kecil yang kelak menjelma menjadi matahari. Tak ingin kuikuti jejak langkah para seniorku terdahulu karena  menurutku jabatan tertinggi di sekolah adalah guru dan penilai sejati adalah para siswa. hal itulah yang selalu menjadi motivasiku untuk maju dan terus mencari ilmu, sampai batas akhir pengabdianku.

Tulisan ini tak bermaksud menepuk dada sendiri tapi sesuai dengan judulnya, ini hanyalah sebuah intermezo yang pernah ada dalam hidupku. Mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi adik-adik guru di bawahku yang kini sedang meniti karir menjadi guru-guru profesional.

February 20, 2009

PERSAHABATAN BAGAI KEPOMPONG…

Filed under: Curahan Kalbu

Nama aslinya siapa ya? Ah ada ajaa dan itu tak penting karena aku sendiri kadang merasa asing dengan nama aslinya. Aku lebih suka memanggilnya ‘ DIKA’ sesuai dengan nama pada ID nya. Aneh juga ya dan aku pun tak pernah ingin tahu kenapa dia memilih nama itu untuk ID nya bukan dengan namanya sendiri seperti halnya aku.

He..he..he.. biarlah itu menjadi bagian cerita dalam dirinya yang tak perlu kutahu. Yang jelas ayah dari tiga jagoan kelahiran Jakarta ini sangat menyukai musik, puisi, dan otomotif ( walau bisanya cuma nyetir mobil miliknya doang he..he..he..)

Stillnya  dalam poto ,menurut teman-teman, seperti play boy tapi kalau sudah bertemu dan chat dengannya, kesan itu sangat jauh. Ia seorang yang tenang, sopan, lembut, cerdas dan sangat bersahabat. Figur sebagai seorang ayah yang baik itulah yang menonjol. Hal itu sesuai dengan prinsip hidupnya tentang sukses yang pernah kami bicarakan. Sukses baginya adalah bila dia dapat memenuhi kebutuhan lahir batin keluarganya. Sukses baginya bila anak dan istrinya merasa nyaman dan aman  berada dalam tanggung jawabnya. Hal itulah yang membuat pribadinya jadi menarik di mataku.

He..he…he…, itu sisi positifnya, sisi jeleknya adalah dia kadang jutek! Bila kejutekannya itu kambuh disaat emosiku sedang kurang stabil, maka pastilah akan terjadi pertengkaran yang seru di antara kami. Disitulah uniknya bersahabat dengan dia. Aku merasa menjadi diriku sendiri. Aku bisa marah, bisa tenang, bisa bertengkar atau apa saja sesuai topik yang menjadi pembicaraan kami. Semuanya pasti nyambung. Dia pun merasakan hal yang sama pula.

Suatu hari dia mengatakan kalau aku adalah aset yang sangat berharga baginya.  Sayangnya aku tidak suka disebut aset karena konotasi aset menurutku adalah barang berharga yang berkaitan dengan usaha bukan dengan persahabatan. Aku tidak suka diibaratkan barang. Dia menyangkal dan mengatakan kalau persepsiku salah besar. Justru aset baginya adalah sesuatu yang berharga, contohnya anak adalah aset. Jadi aku merupakan salah satu bagian yang berharga dalam hidupnya.

Namun aku tetap bertahan pada persepsiku dan itu membuat dia jadi tersinggung lalu berbalik memarahiku. Dia kecewa atas sikapku yang tidak pernah mau mengerti. Ujung-ujungnya dia menuduhku kalau aku telah menganggapnya memanfaatkanku. Dia berkata ," Jadi begitulah aku dalam pandanganmu selama ini? Aku sungguh kecewa Reni! Persahabatanku yang tulus bagimu tidak berarti. Coba jawab! Telah berbuat apa aku padamu selama ini? Pernahkah aku meminta sesuatu darimu? Aku lebih baik jadi gembel dari pada harus meminta!"

Aku baru tersadar kalau sikapku salah. Aku menyesal dan cepat meminta maaf tapi dia hanya menulis dua kata saja di screen " Aku balik!" Aku tahu dia marah padaku. Untuk meredakan kemarahannya, aku sengaja menghindar dengan menahan diri tidak chat untuk beberapa lama sampai suatu hari aku OL dia menyapaku dengan hangat dan penuh persahabatan. Ah senangnya hatiku karena sahabatku telah kembali.

Percakapan panjang pun berlanjut lagi dengan topik yang selalu ada saja untuk jadi bahan pembicaraan. Ya tentang politik, ekonomi, budaya, seni, pendidikan, keluarga, masa remaja, agama, kebijakan pemerintah, olah raga, otomotif atau apa saja  semuanya membuat hari-hari sibuk kami terasa menyenangkan. Walau semua itu hanya lewat layar komputer.

Waktu terus berlalu tak terasa tiga tahun sudah kami bersahabat. Suatu hari dia mengeluh padaku tentang tugasnya yang dipindah ke bagian kurikulum dan itu membuatnya sangat sibuk. Dia bimbang untuk meneruskan tugas itu. Dia ingin menikmati hidup tanpa direcoki oleh tugas-tugas yang membuatnya stress apalagi hal itu membuat beberapa orang rekan kerjanya merasa kurang senang atas kepercayaan yang diberikan atasan padanya.

Aku katakan padanya, jangan sia-siakan masa mudamu! Kepercayaan atasan jangan diabaikan karena kesempatan tidak akan datang dua kali. Itu jalan terbaik untuk meningkatkan karir. Tak perlu melihat lirikan iri orang lain di sekitarmu karena hidup adalah persaingan. Jadilah orang terdepan dan berusahalah untuk menikmati dan mensyukuri apa pun yang diberikan Tuhan padamu. Atur waktumu dengan baik agar kamu bisa bersikap bijak kepada karir dan keluarga yang kamu cintai. Aku yakin anak dan istrimu akan bangga padamu.

Beberapa hari kemudian dia mengatakan kalau dia sudah bisa menerima tugas itu. Dia berterimakasih padaku atas motivasi dan dukungan yang kuberikan. Ya setulus hati aku mendukungnya walau untuk itu aku harus membayarnya dengan mahal yaitu kehilangannya. Tugasnya di bidang kurikulum akan sangat menyita seluruh waktu kerjanya dan tentu saja kami tak mungkin lagi bisa sering berkomunikasi. Aku tahu bagaimana repotnya orang-orang di kurikulum karena aku pun pernah bertugas dibagian itu. Apalagi Jakarta yang mengharuskan seluruh administrasi dikerjakan secara On Line.

Benar saja, kini aku dan dia jarang sekali on line karena kami sama-sama disibukkan oleh pekerjaan kami masing-masing. Saat ini aku juga disibukkan oleh tugasku di kesiswaan dan  team inti pengembang sekolah rintisan SSN yang banyak menyita waktuku. Namun begitu apa pun masalahnya, dia  dan keluarganya akan tetap menjadi sahabatku sampai kapanpun.

 

 

 

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com