NEGERIKU…..NEGERIKU
Wajah negeriku kembali merona karena ulah beberapa kelompok manusia yang kita sendiri tidak tahu apa maunya. Tugu Monas yang berdiri tegar menjadi saksi bisu siang itu tanggal 1 Juni 2008. Sang tugu, kaku tersenyum malu melihat tingkah polah anak bangsa yang seiring berjalannya waktu semakin terlihat tidak bisa bersikap dewasa.
Dua kubu bertikai, persis dua anak kecil yang berebut permen. Memalukan! Ada yang luka ada yang teraniaya. Sesama saudara bertengkar, sungguh semua itu mengoyak hati ibu pertiwi. Di manakah hati nurani? Di manakah logika berpikir mereka? Tak sadarkah mereka kalau semua itu adalah alat untuk mengalihkan perhatian dunia pada bangsa yang saat ini sedang terpuruk menghadapi krisis ekonomi, yang terasa semakin memberatkan. Kelakuan mereka membungkam semua aspirasi yang sedang hangat didengungkan yaitu gencarnya KPK membongkar kasus korupsi, maraknya aksi mahasiswa menolak kenaikan BBM, ketidak efektifan BLT dan tentu saja tingginya harga sembilan bahan pokok yang saat ini sudah sulit dijangkau oleh masyarakat kecil.
Politik negriku! Sungguh sangat menyakitkan. Di saat seperti ini masih saja dibicarakan tentang agama dan kepercayaan. Coba lihatlah lebih jauh, ada yang lebih penting dari semua itu. Anak-anak yang kelaparan dan kekurangan gizi, pengangguran yang semakin menumpuk, tuna wisma yang semakin marak,anak-anak putus sekolah yang semakin banyak jumlahnya. Itu semua lebih penting untuk diperjuangkan.
Satu kelompok ditangkap karena dianggap telah melakukan kekerasan, semua menghujat bahkan tidak sedikit yang meminta agar kelompok itu dibubarkan saja.Lucu! Sebuah dagelan basi yang ceritanya terus sambung menyambung di negeri ini, apalagi saat ini menjelang pelaksanaan pemilu. Bisa kita pastikan, setelah cerita ini berlalu pastilah muncul para orator-orator profesional yang akan meneriakan tentang pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan gratis, pembukaan lapangan kerja. Yah dari tahun ke tahun dan sudah berlangsung puluhan tahun hal semacam itu seolah menjadi icon politik negri ini yang tidak pernah ada realisasinya.
Kemiskinan, kebodohan seolah hal yang harus abadi di negri ini karena itu merupakan iklan yang paling bermutu untuk pemilu. Tak sadarkah mereka? Ada hal yang lebih dari hanya sekedar kekerasan yang dikukan FPI di negri kita tercinta ini. Coba tengok kolusi, korupsi yang sulit diberantas dalangnya, itu jauh lebih jahat. Ratusan juta rakyat Indonesia dibuat menderita dan mati secara perlahan-lahan. ratusan jiwa mengalami stabilitas emosi yang labil. pernahkah kawan berkunjung ke rumah-rumah sakit jiwa lalu mencoba mendata siapa saja yang paling banyak menghuni tempat itu? Sungguh sangat mencengangkan karena pasien yang dirawat di sana kebanyakan berada dalam usia produktif! Mereka para generasi muda yang menghabiskan waktunya dalam karantina RSJ yang muram, kusam dan sunyi.
Anehnya semua mulut seakan terkunci untuk semua itu.
Kita di sini berjuang untuk hidup secara layak. Beruntung bagi kita yang memiliki pekerjaan tetap walaupun kecil masih ada harapan yang bisa kita nantikan di akhir bulan. Bagaimana dengan pedagang asongan, penarik becak, sopir angkot, penjual gorengan di pinggir jalan dan banyak lagi profesi lain yang hidupnya dari mengundi nasib dan rizki dari Allah SWT.
Ah, negri ini harus bangkit! Kita butuh seorang pemimpin sekelas Abu Bakar Asyidik. Adakah hal itu akan terjadi? Walalahu alam bissawab!
