/>

Semua Tentang Reni

March 10, 2006

TAUZIAH DARI SAHABATKU FZ

Filed under: Pelita Hati

DETIK-DETIK RASULLAH SAW MENJELANG SAKRATUL MAUT

Ada kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya.
Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasan Allah and cinta kasih-Nya.. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Alquran. Barang siapa mecintai sunnahku,berarti mencitai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam..
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hamper usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir disana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya, “Maafkan, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah. Siapakah itu wahai anaku?” “Tak tahulah ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Raulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu2nya bagian wajah seolah hendak di kneang. “Ketahuilah dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut.” Kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malakal maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa jibril tak ikut menyertai.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelum nya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Raasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatangan mu,” kata Jibril. Tapi itu tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan hawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
„Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhmmad telah berada didalamnya.“ Kata Jibril. Detik-detik semakim dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. „Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.“ Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. „Jijiklah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?“ tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
„Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,“ kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. „Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.“ Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibir bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. „Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu.“
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. „Ummatii, ummattii, ummatti?“ – „ Umatku, umatku, umatku“ Dan pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli ‚ ala Muhammad wa baarik wasalim ‚alaihi.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com