/>

Semua Tentang Reni

June 16, 2009

EDELWEIS…….

Filed under: Puisi Ku

Waktu Tuhan memintamu membungkus bulan

Ada rindu yang ikut kau sisipkan.

dari Puncak Gunung salak dan Pangrango

sang rindu kau titipkan pada cemara kemudian tersangkut di pucuk pinus

Lalu angin mengantarkannya padaku

" Ini " katanya…" genggamlah, di sini tersimpan cinta untukmu

yang bersemi sepanjang waktu

Namun ketika Tuhan memintamu mengusung matahari

Aku melihat tanganmu melambai di gerbang surga

( Ahhh, di tengah padang bunga dan gerombol cemara, aku bersimpuh

membelai dirimu dengan bunga dan air mata )

Tujuh purnama lamanya…….

Hatiku terluka…..

 

Dari Antalogi Puisi Pribadi

Karya : Reni K Asmara

September 17, 2008

TUHAN SEMBILAN SENTI

Filed under: Puisi Ku

 

Karya : TAUFIK ISMAIL

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok

Tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tek merokok

Di sawah petani merokok Di pabrik pekerja merokok

Di kantor pegawai merokok

Di kabinet menteri merokok

Di reses parlemen anggota DPR merokok

Di Mahkamah Agung para hakim yang bergaun toga merokok

Hansip-bintara-perwira nongkrong merokok

Di perahu nelayan penjaring ikan merokok

Di pabrik petasan pemilik modalnya merokok

Di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok

 

Indonesia adalah semacam firdaus- jannatu-naim

Sangat ramah bagi perokok, tapi siksa kubur hidup-hidup

Bagi orang yang tak merokok

Di balik pagar SMP murid-murid mencuri-curi merokok

Di ruang kepala sekolah ada guru merokok

Di kampus mahasiswa merokok

Di ruang kuliah dosen merokok

Di rapat POMG orang tua murid merokok

Di perpustakaan kecamatan ada siwa bertanya

Apakah ada buku tuntunan cara merokok?

 

Di angkot Kijang penumpang merokok

Di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk

Orang bertanding merokok

Di loket penjualan karcis orang merokok

Di kereta api penuh sesak orang festival merokok

Di kapal penyebrangan antarpulau penumpang merokok

Di andong Yogya kusirnya merokok

Sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok

 

Negeri kita ini sungguh nirwana

Kayangan para dewa-dewa bagi perokok

Tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru Diam-diam menguasai kita Di pasar orang merokok Di warung tegal pengunjung merokok Di restoran, di toko buku orang merokok Di kafe, di diskotik para pengunjung merokok Bercakap-cakap kita jarak setengah meter Tak tertahankan asap rokok Bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun Menderita di kamar tidur Ketika melayani para suami Yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok

Duduk kita di tepi tempat tidur bekas dua orang bergumul Saling menularkan HIV-AIDS sesamanya Tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita di sebelah orang yang dengan cueknya Mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus Kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin Paling subur di dunia Dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun Asap tembakau itu bisa ketularan kena Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok Di apotek yang antri obat merokok Di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok Dan ada juga dokter-dokter merokok Istirahat main tennis orang merokok Di pinggir lapangan voli orang merokok Menyandang raket badminton orang merokok Pemain bola persib sembunyi-sembunyi merokok Panitia pertandingan balap mobil Pertandingan bulu tangkis, Turnamen sepak bola mengemis-ngemis. Mencium kaki sponsor perusahaan rokok

Di kamar kecil 12 meter kubik sambil ‘ek-ek’ orang goblok merokok. Di dalam lift gedung 15 tingkat Dengan tak acuh orang goblok merokok. Di ruang siding ber-ac penuh Dengan cueknya pakai dasi Orang-orang goblok merokok Indonesia adalah semacam firdaus jannatun naim Sangat ramah bagi orang perokok Tapi tempat siksa kubur hidup-hidup Bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru Diam-diam menguasai kita Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, Duduk sejumlah ulama terhormat Merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa Mereka ulama ahli hisap.

Hassaba, yuhaasibu, hisaaban

Bukan ahli hisab ilmu falak

Tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka Terselip berhala-berjala kecil, Sembilan senti panjangnya, putih warnanya Ke mana-mana dibawa dengan setia Satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya, Mengintip kita dari balik jendela ruang siding Tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, Cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.

Mamnuu’ut tadkhiin, ya ustadz.

Permisi Kyai Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz…jangan meroko di sini, Kyai

Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.

Haadzihi al ghurfati maallii’atun bi mukayyafi al hawwa’i

Nanti udarannya jadi jelek

Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum.

Jangan menyiksa diri sendiri

Min fadhlik, ya ustadz.

Permisi sekali, Kyai.

 

25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan

15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi) Daging khinzir diharamkan

4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok

Patutnya rokok diapakan?

 

Tak perlu dijawab sekarang ya ustadz.

Wa yuharrimu’alayhimul khabaaith.

Tak usah tergesa-gesa.

Mohon ini direnungkan Karena pada zaman Rasulullah dahulu Sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok Jadi ini PR untuk para ulama Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan. Jangan Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil Yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan siang hari ini,

Sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati.

Karena penyakit rokok

Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas. Lebih gawat ketimbang bencana banjir, Gempa bumi dan longsor. Cuma setingkat di bawah korban narkoba. Pada saat sajak ini dibacakan. Berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di Negara kita. Jutaan jumlahnya Bersembunyi di dalam kantong baju dan celana. Dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna. Diiklankan dengan indah dan cerdasnya . Tidak perlu wudhu atau tayamum menyucikan diri. Tidak perlu ruku dan sujud untuk taqarub pada tuhan-tuhan ini. Karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana,

Beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

September 16, 2008

PEGAWAI NEGERI

Filed under: Puisi Ku

 PUISI KARYA Taufik Ismail

Setiap kami menyaksikan berbagai penghargaan diberikan

Di istana negara, dalam macam-macam upacara

Satu saja yang tak tampak di layar kaca

Penyerahan medali dan selempang warna-warni pada

                 Pegawai     Negeri

                 Paling         Jujur

                 Tahun         Ini

Wakil dari mereka yang tek pernah kecukupan dalam rezeki

Wakil dari mereka yang sudah luluh dalam keluh

Anak-anak berlahiran juga, nafkah selalu payah

Dalam pemilihan umum selalu diancam macam-macam

Tak pandai ngobyek, tak disertakan dalam proyek

Dalam kalkulasi hidup mana pernah bisa cukup

Tapi ajaib tak sampai terdengar bergeletakan kelaparan

Ada saja jalan keluar yang meringankan beban

Anak-anak pun tahu diri orang tua pegawai negri

Susah payah sekolah, kuliah, dan kok ya jadi insinyur

dokter, pengacara, S-dua dan Pi-Eic-Di

Lumayanlah,walau tak sangat banyak barangkali

Apabila di dunia ada tujuh macam keajaiban

Maka fenomena pegawai negeri sini mesti yang kedelapan

Menurut teori mutakhir administrasi dan metode renumerasi

Mestinya di awal karir dulu  dari dunia sudah permisi

Memang ada yang terlibat proyek dan bersiram komisi

Tapi itu kan jumlahnya terbatas sekali, yakni

Mereka yang berekrumun di sekitar keran pembangunan

 

Selebihnya hidup rutin ya begitu itu

Dan pastilah ada juga yang jujur secara sejati

Yang membuat lentur tegang kakunya prosedur

, Bukan mempersukar-sukar, justru memudahkan urusan

Yang betul=betul melayani rakyat, bukan budak kekuasaan

Yang susah payah istikomah di dalam kehalalan rezeki

Yang menahankan pedihnya susah nafkah

Yang masih saja bisa bertahan dilanda arus materi

Mereka tak tampak oleh mata kami

Mereka bukan tipe mengeluh mengadu ke sana kemari

Mungkin karena maqamnya sudah mirip orang sufi

Siapa tahu mereka lah sebenar penyangga struktur ini

Yang begitu lapuk rayap dan roboh sudah mesti

Tapi sampai sekarang masih juga berdiri

Mereka sungguh kami hormati

Terutama para guru yang begitu sabar menyebar ilmu

dan semua yang berdedikasi sejati di struktur birokrasi

Masih tetap bertahan diterjang gelombang hidup serba materi

Kalian tidak nampak, karena memang merundukkan diri.

September 10, 2006

KENANGAN

Filed under: Puisi Ku

KENANGAN

Aku datang ke kotamu
Menyusuri jejak -jejak yang tertinggal
Dalam desau angin
Ingatan dan kenangan
Kembali menggayut dalam kabut biru langitku
Kembali pula kulihat kilau matamu
Menghunjam bagai ujung belati yang meneteskan darah bening
Setetes air menggantung dibulu mata
Di antara rindu, sesal dan kebencian
Sepotong maaf terlontar dari mulutku
Ah..sunyi telah membentangkan jarak yang menyakitkan
Yang kini kau simpan dalam harum bunga kemboja

KADO

Saputanga itu
adalah cinta sayang
Yang kusulam dengan benang kasih
kuhiasi dengan rindu
tapi bagimu hanya semu
terkutuklah kamu!

KIDUNG PAGI

Pagi tersenyum
Semilir angin meruapkan bau tanah
Embun menggayut di pucuk daun
Kidung pagi mulai mengalun
Lewat kicau burung-burung

June 10, 2006

ISLAM IS

Filed under: Puisi Ku

Tell me complete thing about Islam
Asked a young man to his teacher

His teacher said:
Islam is a way of life, try it
Islam is a gift, accept it
Islam is ajourney, complete it
Islam is a struggle. Fight for it

Islam is a goal, achieve it
Islam is an opportunity, take it
Islam is not for sinners, overcome it
Islam is not a game, don’t play with it
Islam is not a mystery, behold it

Islam is not for cowards, face it
Islam is not for the dead, live it
Islam is promise, fulfill it
Islam is a duty, ferform it

Islam is a treasure ( the prayer), pray it
Islam ia a beautiful way of life, see it
Islam has a message for you, hear it
Islam is love, love it

March 10, 2006

PUISI-PUISI TERBAIK KARYA MURIDKU

Filed under: Puisi Ku

LAGU Karya: Rahmat Ramdani

Pada malam perpisahan
Pada kerinduan perjumpaan
Pernah kunyanyikan sebuah lagu
Khusus bagimu

Pada hari sepi menjelang
Pada kerlipan bintang
Pernah kupetik gitar
Senandung hati bergetar
Membunuh waktu
Atau mungkin pula
Mencari nada untuk masa silam

Pada arus riak gelombang dalam kejaran waktu yang memburu
Pada lagu lama dan baru (more…)

February 21, 2006

Lepas

Filed under: Puisi Ku

Yang terhempas dan kandas
Yang terkikis dan habis
Semua hilang terbang
Asa pun melayang dalam diam

Kupeluk malam tanpa bintang
Luluh lantak dalam kenangan
Selamat tinggal bayangan
Biar kuhitung hari-hariku
dan kusimpan dalam kabut biru langitku

Apa Itu Cinta

Filed under: Puisi Ku

Minami
Kau katakan cinta itu universal
Tak terbatas agama, budaya, bangsa dan usia
Itu benar
tapi menurutku
Cinta tak boleh lepas dari logika dan etika
Cinta tak boleh menghalalkan segala cara
Satu nama terpatri di hati
Tetap saja sebuah penghianatan
Apa pun wujudnya itu
Ah sudahlah jangan berdiskusi tentang cinta
Karena pandangan kita berbeda
Biar kita simpan saja semua cerita kita
Di batas cakrawala

February 20, 2006

Untuk Minami

Filed under: Puisi Ku

KAU DAN AKU BUKAN KITA

Minami
Biarkan mereka berbicara tentang cinta dan masa depan
Bukan kita
Karena kau adalah kau, aku adalah aku
Bukan kita dan tak akan menjadi kita
Aku tahu
Pada bulan di atas apartemenmu, kamu bertanya
Dimanakah aku berada?
Pada angin yang berhembus dikaca jendelamu, kamu berpesan
Sampaikan salam rinduku
Pada burung yang bertengger di dahan bunga sakuramu
Kamu berkata
Sampaikan peluk ciumku
Di sini aku, di sana kamu, bukan kita
Tidak ada kita antara kau dan aku
Aku ingin menjadi burung di langit Osaka
Dan katakan semua ini padamu
Tapi apa katamu, ketika hal itu kusampaikan?
“ Baguslah kan kujadikan kamu santapan makan malamku”
Dasar kamu! Keras kepala!
Tapi baguslah, kan kututup saja catatan tentang kamu dihatiku!

February 15, 2006

Bumi Yang Luka

Filed under: Puisi Ku

BUMI YANG LUKA

Bulan di atas sana
tersenyum nyinyir melihat kita
bumi pun tampak kusam berjelaga

Bulan di atas sana
lelah membaca cerita tentang kita
lelah berharap ada lembar kasih yang tersisa
tetapi yang ada, hanya torehan luka berbalut dusta

Bulan di atas sana
mendekap bumi yang luka
pilu menangis di langit malam

Kerlip bintang memandangnya dengan iba
dengan sinarnya ia mencoba
bercerita tentang cinta
tapi bumi yang luka, bumi yang duka
hanya diam seribu bahasa

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com